Jalan Anyer-Panarukan, yang dibangun antara tahun 1808 hingga 1811, merupakan proyek ambisius yang diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Pembangunan jalan ini dikenal dengan De Groote Postweg. Dengan tujuan untuk memperkuat pertahanan dan memperlancar transportasi di Pulau Jawa, jalan ini menghubungkan Anyer di Banten dengan Panarukan di Jawa Timur. Pembangunan jalan ini melibatkan kerja paksa dari penduduk setempat, yang sering kali tidak dibayar dengan baik dan menghadapi kondisi kerja yang berat. Jalan Anyer-Panarukan tidak hanya menjadi jalur transportasi penting, tetapi juga simbol modernisasi di era kolonial, mengubah dinamika ekonomi dan sosial di Jawa. Dengan fungsinya yang strategis, jalan ini memainkan peran krusial dalam memperkuat kontrol Belanda di wilayah tersebut dan menjadi salah satu warisan sejarah yang masih dikenang hingga kini.
Tugu titik Nol km Anyer - Panarukan
The Monument of 1000 km of Anyer-PanarukanÂ
Pelabuhan Panarukan merupakan salah satu pelabuhan yang signifikan di bagian utara timur Pulau Jawa dan dikenal sebagai pelabuhan internasional pada masa lalu. Pada abad ke-19, pelabuhan ini mulai berfungsi sebagai lokasi transit bagi kapal-kapal yang mengangkut sumber daya alam milik Belanda. Inilah yang menjadi dasar sebutan Pelabuhan Internasional untuk Panarukan. Pelabuhan ini digunakan sebagai pusat pengumpulan komoditas ekspor, termasuk hasil alam seperti kakao, kopi, dan gula, yang kemudian dikirim ke luar Indonesia. Komoditas tersebut berasal dari daerah sekitar Panarukan, seperti Bondowoso dan Jember.
Pelabuhan Panarukan saat ini
Bekas gudang penyimpanan komoditi di pelabuhan Panarukan
Bekas gudang penyimpanan komoditi di pelabuhan Panarukan