Tumbuhan yang masih kecil, belum lama muncul dari biji, dan masih hidup dari persediaan makanan yang terdapat di dalam biji, dinamakan kecambah (plantula). Kecambah memperlihatkan bagian-bagian seperti telah diuraikan mengenai lembaga karena memang kecambah itu berasal dari lembaga. Hanya pada kecambah bagian-bagian tadi sudah lebih jelas dan mempunyai ukuran yang lebih besar. Pada saat biji mulai berkecambah, ia mengalami serangkaian proses yang memungkinkan tumbuhan baru tumbuh dan berkembang. Proses ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti air, suhu, dan oksigen, tetapi juga oleh struktur internal biji itu sendiri, yang menyediakan cadangan makanan untuk mendukung perkecambahan.
Biji, sebagai unit reproduksi tumbuhan, memiliki berbagai macam struktur yang menyimpan cadangan makanan yang akan digunakan selama perkecambahan. Ada dua jenis biji yang sering dibedakan berdasarkan keberadaan cadangan makanan ini, yaitu biji albuminous dan biji eks albuminous.
1. Albuminous, merupakan biji yang memiliki cadangan makanan berupa albumin (zat protein) yang terletak di luar embrio. Albumin berfungsi untuk menyediakan energi dan nutrisi bagi perkecambahan biji. Pada biji albuminous, albumin ini tetap ada setelah biji berkecambah dan menyediakan cadangan makanan sampai tanaman dapat melakukan fotosintesis secara mandiri.
2. Eks Albuminous, merupakan biji yang tidak memiliki cadangan makanan berupa albumin, karena cadangan makanannya berada di dalam embrio, biasanya dalam bentuk endosperma yang diserap oleh kotiledon (daun lembaga). Pada biji eks albuminous, cadangan makanan sudah terserap sepenuhnya sebelum biji berkecambah.
Perkecambahan biji dapat dibedakan dalam dua macam:
1. Perkecambahan di Atas Tanah (epigeal), yaitu jika pada perkecambahan, karena pembentangan ruas batang di bawah daun lembaga, daun lembaganya lalu terangkat ke atas, muncul di atas tanah, misalnya pada kacang hijau (Phaseolus radiatus L.), daun lembaganya lalu berubah warnanya menjadi hijau, dapat digunakan untuk asimilasi, tetapi umurnya tidak panjang. Daun lembaga itu kemudian gugur, dan sementara itu pada kecambah sudah terbentuk daun-daun normal yang dapat melakukan tugas asimilasi.
Perkecambahan jenis epigeal terjadi melalui mekanisme apabila terjadi pembentengan ruas batang bawah daun lembaga (hipokotil). Sehingga menyebabkan hipokotil dan kotiledon menjauhi permukaan tanah (bergerak ke atas). Misalnya perkecambahan yang terjadi pada Tanam Kacang Hijau (Phseolus radiates). Karakteristik perkecambahan epigeal:
A. Radikula yang muncul pertama kali membentuk hipokotil
B. Plamula adalah bagian yang terakhir berkembang yakni setelah muncul dipermukaan
C. Hipokotil awalnya membentuk sebuah loop lalu kemudian memanjang membawa kotiledon kepermukaan tanah
D. Kotiledon yang telah muncul kepermukaan akan membentuk daun pertama diikuti oleh perkembangan plumula (pucuk)
Pada jenis perkecambahan epigeal, kotiledon (daun lembaga) akan terangkat ke atas permukaan tanah. Dalam perkecambahan epigeal, biasanya biji yang mengandung cadangan makanan dalam kotiledon (ex albuminous) akan lebih sering ditemukan. Pada proses ini, kotiledon akan memanfaatkan cadangan makanan yang ada pada biji untuk tumbuh dan berkembang, hingga daun sejati pertama muncul dan fotosintesis bisa berlangsung.
2. Perkecambahan di Bawah Tanah (hypogeal), bila daun lembaga tetap tinggal di dalam kulit biji dan tetap di dalam tanah, seperti terdapat misalnya pada biji kacang kapri (Pisum sativum, L.).
Berbeda dengan perkecambahn tipe epigeal, hypogeal merupakan perkecambahan terbentuk melalui mekanisme pembentangan ruas batang atas (epikotil), yang menyebabkan daun lembaga bergerak keatas tanah, sedangkan hipokotil tetap terbenam di dalam tanah. Perkecambahan hipokotil dapat ditemukan pada tanaman Biji Kacang Kapri (Pisum sativum). Karakteristik perkecambahan hypogeal:
A. Kotiledon tetap berada dalam tanah
B. Radikula muncul dan berkembang membentuk perakaran
C. Epikotil yang akan memanjang bersama plumula sampai muncul dipermukaaan tanah.
Biji yang mengalami perkecambahan hipogeal memiliki cadangan makanan yang disiapkan untuk mendukung perkembangan biji sebelum kotiledon berkembang. Pada jenis perkecambahan hipogeal, endosperma (ex-albumin) merupakan sumber utama energi sampai tanaman dapat memanfaatkan cahaya. Namun kotiledon pada benih hypogeal tidak dapat berfotosintesis atau disebut cryptocotylar. Tanaman dengan perkecambahan hypogeal antara lain: Lauraceae, kebanyakan Moroceae, hampir semua Fagaceae dan sebagainya.
QR Code 3D Model (Augmented Reality/AR) perkecambahan epigeal kacang hijau (Vigna radiata):
QR Code 3D Model (Augmented Reality/AR) perkecambahan hipogeal kacang kapri (Pisum sativum, L.):