Pulau Sumatra terbentuk akibat tumbukan kerak benua Sundaland dengan kerak Samudra Indo-Australia (Gambar 6). Laju dari tumbukan tersebut membentuk arah kemiringan 60° dengan jalur tepi Barat kerak Sundaland. Tumbukan ini mengakibatkan terbentuknya Cekungan (Basin) Sunda di sebelah barat Pulau Sumatra, dan cekungan cekungan sedimentasi di daratan Sumatra termasuk Cekungan Sumatra Selatan. Tumbukan atau subduksi ini juga memicu terjadinya jalur busur depan (sebelah barat), magmatik (tengah), dan busur belakang (timur), lihat gambar 7.
Gambar 6. Lempeng Tektonik di Indonesia
Sumber : ijisae.org
Gambar 7. Pembagian wilayah Pulau Sumatra berdasarkan proses geologi
Sumber : ResearchGate
Sesar adalah hasil dari pergerakan batuan akibat gaya endogen di batas lempeng, yang umumnya terjadi pada batuan dengan lapisan seperti sedimen dan beku. Salah satu contoh sesar yang terjadi adalah sesar Semangko di Pulau Sumatera.
Sesar Semangko, yang juga dikenal sebagai sesar Sumatera, merupakan sesar yang membentang dari utara ke selatan Pulau Sumatera (klik di sini). Proses pembentukannya bermula dari tabrakan antara Lempeng Hindia Australia dan Sumatera, menjadikannya sesar yang sangat aktif di daratan Sumatera dan sering memicu gempa bumi besar, lihat gambar 8.
Gambar 8. Peta Sesar Semangko
Sumber : Dokumentasi Pribadi
Sesar Semangko memotong Pulau Sumatera dari ujung barat di Aceh hingga Lampung, membentang sepanjang sisi barat dengan panjang total mencapai 1.900 kilometer. Sesar ini terdiri dari sekitar 20 segmen, yang juga dikenal sebagai sesar minor, sehingga gempa bumi hanya terjadi di daerah yang lebih pendek daripada panjang total sesar. Salah satu segmen yang sangat aktif adalah Sesar Tarahan, yang sebagian besar berada di Provinsi Lampung. Usia sesar Semangko terbilang muda dan terlihat dari bentukan geologis seperti wilayah Lembah Anai dan Ngarai Sianok di Bukittinggi, yang membentuk Pegunungan Barisan di bagian barat Sumatera.
Jutaan tahun lalu, sesar Semangko mulai terbentuk. Berawal dari Samudera Hindia, Australia melanda wilayah barat Pulau Sumatera secara miring pada saat pulau tersebut masih menjadi bagian dari Benua Eurasia. Ada dua komponen gaya yang dihasilkan dari hantaman ini. Gaya tegak lurus yang menarik ujung Lempeng Hindia ke Lempeng Sumatera merupakan unsur pertama. Sedangkan patahan memanjang yang sejajar dengan batas lempeng disebabkan oleh adanya gaya horizontal yang menarik Pulau Sumatera ke arah barat laut. Sesar Besar Sumatera adalah nama yang diberikan untuk hal ini.
Karena melintasi kawasan padat penduduk, Sesar Semangko yang cukup aktif menimbulkan bahaya seismik. Sesar Semangko merupakan sesar bertipe strike-slip atau strike-slip karena mempunyai orientasi geser ke kanan di bawah Pegunungan Bukit Barisan. Sesar mendatar adalah salah satu dari tiga jenis sesar yang berbeda. Sesar ini dicirikan oleh pergerakan yang relatif horizontal dan dapat ke kiri atau ke kanan. Sesar aktif ini bergerak dengan kecepatan relatif 6 hingga 7 milimeter setiap tahun, menurut laporan Kementerian Energi, Sumber Daya, dan Mineral (ESDM). Selat Sunda yang memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa menjadi titik fokus migrasi ini. Wilayah ini berfungsi sebagai daerah peralihan ketika Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menunjam dengan kecepatan dan arah yang berbeda.