Bayangkan, anda sedang berdiri di sekitar Danau Ranau. Posisikan anda sebagai wisatawan yang menikmati keindahan alam di sana. Kemudian, bayangkan jika anda menyusuri ruang waktu dan kembali ke 60 juta tahun yang lalu di zaman tersier. Apakah Danau Ranau yang sedang anda lihat saat ini sama dengan 60 Juta Tahun yang lalu? Tentu tidak.
Inilah keajaiban waktu.
Proses pembentukan Danau Ranau telah dimulai sejak sekitar 60 Juta tahun yang lalu di zaman tersier. Berbagai dinamika geosfer mempengaruhi proses pembentukan tersebut, diantaranya tektonisme dan vulkanisme. Pada aktivitas belajar pertama ini, mari kita telusuri bagaimana konsep tektonisme dan vulkanisme, mekanisme lempeng tektonik, dan letusan gunung berapi, serta bagaimana semua itu membentuk lanskap dan kehidupan kita. Coba lihat video di samping sebelum memulai pembelajaran!
Video 1. Teori Pergerakan Lempeng Tektonik di Indonesia
Sumber : Youtube - Nat Geo Indonesia
Sejak ditemukannya teori lempeng tektonik, banyak ilmuwan telah menetapkan model vulkanik global berdasarkan teori lempeng. Mereka percaya bahwa sebagian besar gunung berapi tersebar di batas lempeng dan hanya sedikit yang berada di tengah lempeng. Ada empat sabuk vulkanik utama, yaitu Sabuk Vulkanik Sirkum-Pasifik, Sabuk Vulkanik Punggung Laut Tengah, Sabuk Vulkanik Afrika Timur, dan Sabuk Vulkanik Alpine-Himalaya.
Menurut teori lempeng, kerak bumi lebih aktif di pertemuan dua lempeng. Pada wilayah ini gunung api dan gempa bumi paling banyak tersebar. Dua lempeng yang bergerak relatif satu sama lain sepanjang batasnya. Menurut arah pergerakannya, batas lempeng dibedakan menjadi tiga kategori. Pertama, batas divergen disebut juga batas pertumbuhan, yaitu batas antara dua lempeng yang saling bergerak terpisah satu sama lain. Kedua, batas konvergen, yaitu batas antara dua lempeng yang saling mendekat; tipe ketiga adalah batas transisi, dimana gerak geser-geser lempeng pada kedua sisinya sejajar dengan batas tersebut. Untuk melihat karakteristik lempeng di Indonesia dapat diakses di sini.
Secara kasar ada tiga jalur terjadinya letusan gunung berapi. Pertama, magma naik ke atas sepanjang zona subduksi lempeng konvergen untuk membentuk sabuk vulkanik. Kedua, terjadi dalam konteks lempeng ekstensional (dengan batas-batas yang berbeda), dimana magma naik di sepanjang zona ekstensional untuk membentuk batuan vulkanik bawah laut. Ketiga, magma meletus di sepanjang gumpalan mantel di dalam lempengan ke permukaan untuk membentuk gunung berapi.