Kumpulan Cerpen
Karya: Bernadeta Dheswita Puspitasari
Karya: Bernadeta Dheswita Puspitasari
Daftar Isi (Klik Judul untuk Langsung Melihat Konten)
“Duh …, Bu, sebaiknya tolak saja. Walau nilainya bagus, tetapi nanti bisa jadi masalah lho. Memangnya Bu Mayang ndak jijik?” bisik Bu Surti, memaparkan ekspresi jengkelnya.
Beberapa guru di ruang rapat sedang mendebatkan sesuatu. Mereka membicarakan seorang anak bernama Pipit Suwaryo yang mendaftarkan diri di sekolah ini melalui jalur prestasi. Bukannya bagus? Kenapa ditolak? Masalah terletak pada kondisi anak tersebut yang menderita penyakit kulit yang langka dan sukar disembuhkan. Sekujur kulit anak tersebut kering dan mengelupas serta diselubungi koreng.
“Sekolah kita ini menerapkan pendidikan inklusif. Selama memenuhi syarat maka tidak ada alasan untuk tidak menerima anak tersebut.” tegas Bu Mayang selaku ketua panitia PPDB.
Secara tidak sengaja Bu Mayang berhasil membuat Bu Surti tambah dongkol. Bu Mayang izin undur diri lebih awal untuk mengurus kembali berkas pendaftaran di ruang kesiswaan. Selagi beliau pergi, Bu Surti lanjut memprotes kepada guru-guru lain.
“Halah, toh nanti dia bakal sering absen.” nyinyir Bu Surti setelah Bu Mayang keluar.
###
Sudah hampir satu semester Pipit menjadi siswa SMPN 1 Gumelem Jaya. Jauh dari dugaan Bu Surti, Pipit nyaris tidak pernah absen semenjak hari pertama masuk. Pipit selalu tersenyum mengawali pagi, meski di kelas dia duduk sendirian tanpa ada yang mau sebangku dengannya. Teman-teman sekelasnya masih merasa jijik dengan kondisi Pipit, meski penyakit itu tidak menular.
“Bu Mayang sekali lagi mau menyampaikan, tolong besok ada yang duduk sebangku dengan Pipit. Di pertemuan selanjutnya Ibu tidak mau melihat Pipit duduk sendirian.” ujar Bu Mayang di kelas yang baru saja beliau ajar.
“Baik, pelajaran dengan Bu Mayang hari ini sudah selesai. Selamat belajar mata pelajaran selanjutnya.” izin Bu Mayang ingin meninggalkan kelas ini.
Semua siswa di kelas tersenyum lebar, “Terima kasih banyak, Bu ...!” ucap mereka dan Bu Mayang meninggalkan kelas untuk melanjutkan pembelajaran di kelas lain.
Tono yang paling ogah duduk dengan Pipit langsung berlari ke arah pintu dan memastikan Bu Mayang sudah jauh dari kelas.
“Hei, ini siapa yang mau duduk sama Pipit?!” seru Tono. Seruannya membuat teman- temannya riuh karena mulai kesal.
“Aku gak mau duduk sama Pipit! Aku mau curhat ke mamahku aja nanti!” sahut Tina menimpali Tono.
“Meski gak menular, tapi ‘kan cairannya itu bikin jijik! Iyuh!” sambung Sofi tak mau
kalah.
“Hiii, jangan aku yang duduk sama Pipit! Mending kamu aja Tono, cowok duduknya sama cowok!” paksa Tina demi cari aman.
“Aku juga ogah sama Pipit!” hardik Tono secara blak-blakan.
“Iya Ton, kamu aja! Kamu duduknya pas Bu Mayang lagi ngajar aja! Nah kalau ganti jam pelajaran, kamu gak usah lagi duduk sama Pipit, toh guru lain gak minta kita duduk sama Pipit!” Sofi seolah mencari jalan keluar, padahal dia juga seperti Tina.
Mereka mendebatkan hal itu secara blak-blakan, seolah keberadaan Pipit di kelas itu tidak dianggap. Pipit menunduk, dia tidak tahu harus mengambil tindakan apa saat ini. Pipit dalam hati bisa marah atau jengkel, tetapi sosok Pipit yang rendah hati dan penyabar itu tidak akan senekat itu. Perasaan yang paling menggambarkan Pipit saat ini adalah pilu dan sedu, benar-benar perasaan yang mengguncang emosinya.
***
“Assalamualaikum.” salam Pipit kemudian membuka pintu rumah kecilnya yang tidak dikunci itu.
“Waalaikumsalam.” ibunya membalas sembari mengalihkan pandangan dari televisi tabung jadulnya.
“Lho, kok kamu kelihatan murung begitu, Pit?” tanya ibunya, beliau sangat peka dengan perubahan ekspresi Pipit.
Pipit tersadar bahwa dia harus segera menghapus wajah murungnya itu menjadi lebih ceria, “Oh, Pipit cuman capek kok ... sama laper, hehehe ” jawabnya sembari tersenyum.
Meski ibunya masih menyimpan pertanyaan, tetapi beliau ikut tersenyum demi menjaga perasaan Pipit.
“Mak sudah buatkan sayur kesukaan kamu, biar Mak siapkan ya. Kamu cuci tangan dan cuci kaki dulu, Pit.” ucap ibunya dengan lemah lembut.
Pipit mengiyakan sambil mengangguk bahagia. Setelah ibunya ke dapur, Pipit masih terdiam di tempat sejenak. Pipit menatap foto tak berbingkai yang sudah mulai kusam. Foto tersebut berisi gambar Pipit bersama kedua orang tuanya. Sudah lama foto itu ditempel di dinding ruang ini.
Ya Allah aku sangat bersyukur bisa mempunyai orang tua sebaik Mak dan Bapak.
Semoga suatu hari aku bisa membanggakan dan menyenangkan hati mereka batin Pipit.
***
Selang dua hari, menjelang bel pulang Bu Mayang kedatangan beberapa orang tua dari siswa yang sekelas dengan Pipit. Mereka menyampaikan keluhan mengenai Pipit yang seharusnya tidak belajar bersama di kelas dengan putra-putri mereka. Bu Mayang sempat terdiam, beliau merasa kasihan dengan Pipit sekaligus tidak setuju jika Pipit tidak belajar di kelas. Namun jika banyak siswa tidak sekolah, lalu bagaimana? Bagi beliau selama penyakit Pipit tidak menular, Pipit masih memiliki kebolehan ikut belajar di kelas.
Bu Surti yang baru lewat pun berhenti sembari pura-pura mengecek jadwal di ponselnya, meski niat beliau adalah untuk menguping.
“Tolong, Bu. Sekiranya terpaksa, setidaknya ada ruang khusus untuk dia, jangan di kelas bersama siswa lain.” ujar salah satu ibu-ibu berdandan menor.
Bu Mayang bimbang. Baru saja kemarin beliau mengikutkan Pipit pada lomba desain batik secara daring yang diadakan oleh Puspresnas. Beliau merasa tidak ada alasan untuk mengeluarkan Pipit dari kelas atau sekolah ini. Pipit yang rajin dan pintar seharusnya tetap di kelas agar bisa mengajari dan menjadi motivasi teman-temannya. Hanya, penyakit kulit langka yang diderita Pipit membuat orang lain memandangnya sebelah mata.
Dengan berat hati, demi menjawab protes orang tua para siswa, Bu Mayang meliburkan Pipit untuk sementara. Kemudian lagi-lagi Bu Surti beserta guru-guru terdekatnya mengusulkan untuk merekomendasikan Pipit ke sekolah khusus. Bu Mayang tidak ikhlas, jujur saja beliau ingin membela Pipit, tetapi dia tidak memiliki alasan kuat untuk meyakinkan guru- guru lain.
***
Sudah satu minggu semenjak Pipit diliburkan. Kini Bu Mayang tengah berjalan ke ruang kesiswaan. Beliau membawa berkas guna merekomendasikan Pipit ke sekolah khusus yang diusulkan guru-guru lain. Berat sudah pasti, serta beliau belum sepenuhnya ikhlas. Padahal belum ada kasus bahwa penyakit Pipit ini menular, tetapi hanya karena jijik, teman- teman Pipit merasa risih dan tidak nyaman dalam kegiatan belajar mengajar.
Bu Mayang duduk kemudian mengambil stempel untuk dicap ke berkas surat pindah yang beliau bawa. Namun mendadak Bu Farhati masuk dengan langkah cepatnya, membuat Bu Mayang mengurungkan niat untuk mendaratkan cap ke kertas.
“Bu, Bu! Ini ada anak kita yang berhasil lolos ke final!” seru Bu Farhati dengan suara tercekat saking terharunya. Beliau menunjukkan daftar nama yang terpampang di ponselnya, menunjukkan akun Instagram Puspresnas.
Bu Mayang menyipitkan matanya dan memeriksa deretan nama yang ada. Begitu menemukan nama yang tepat, sorot mata antusias tampak dalam matanya.
“Alhamdulillah Ya Allah ..., ndak salah saya mengikutkan Pipit ke lomba tersebut.” ujar Bu Mayang, dia menutup bak stempel dan menyingkirkan surat rekomendasi tersebut. Dengan ini Bu Mayang memiliki alasan kuat guna meyakinkan guru-guru lain untuk mempertahankan Pipit.
###
SMPN 1 Gumelem Jaya terletak di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan. Desa ini merupakan sentra batik di Kabupaten Banjarnegara. Sehingga sangat lumrah melihat orang- orang yang sedang membatik mulai dari mendesain, memberi malam, mencelup, dan menjemur kain batik dengan motif batik udan liris, pring sedapur dan rujak senthe dengan kekhasan warna sogan. Dengan lingkungan dan budaya keseharian yang mendukung serta kecintaan pada batik, dari 1747 peserta yang berasal dari berbagai SMP/MTs seluruh Indonesia, Pipit berhasil masuk 25 besar dan berhak mengikuti babak final yang dilaksanakan di Jakarta Pusat.
Pipit berkreasi membuat motif baru dan menamakannya motif prit gantil untuk mengikuti lomba batik tersebut. Motif ini tentunya tidak meninggalkan kekhasan dari Desa Gumelem. Motif prit gantil sendiri menggambarkan burung pipit yang di daerahnya merupakan lambang keuletan dan kegembiraan, dengan latar belakang Bukit Girilangan. Tak disangka- sangka motif tersebut berhasil membawa Pipit ke babak final.
Seminggu yang lalu panitia memberitahukan jadwal final lomba melalui surel. Kini Pipit bersama finalis lainnya sedang duduk di ruang tunggu. Sebelum lomba dilaksanakan, 25 finalis tersebut harus dites swab dan hasilnya akan dibagikan nanti malam.
Pipit bersama pendampingnya yaitu Bu Mayang sedang mendiskusikan pelaksanaan lomba besok. Beberapa sorot mata tertuju kepada mereka, lebih tepatnya pada sekujur tubuh Pipit. Ada tatapan jijik dan tidak nyaman dari peserta lain. Bu Mayang menyadari hal tersebut, sehingga beliau terus menerus mengajak Pipit mengobrol, dengan harapan Pipit tidak kepikiran mengenai hal tersebut.
Satu pria berbaju batik dengan pin nama sedari tadi memperhatikan Pipit. Tatapannya tak beda jauh seperti orang lain yang memandang jijik, tetapi pria ini juga memandang jengkel. Dia melihat satu orang keluar dari ruang swab, sebelum finalis lain dipanggil dia segera memasuki ruang tersebut.
“Lho, Pak Dodit? Ada apa?” tanya Suster Ratna yang bertugas untuk mengetes swab para finalis. Beliau spontan berdiri melihat kedatangan Pak Dodit.
“Tolong untuk peserta yang ini hasil tes swabnya dibuat positif saja. Bisa jadi masalah karena besok akan ada banyak jurnalis meliput lomba ini. Ditambah lagi beberapa peserta terganggu dengan keberadaan dia.” pinta Pak Dodit sambil menunjuk daftar nama beserta pas foto finalis di kertas milik Suster Ratna.
Wajah Suster Ratna seolah ingin menyampaikan banyak pertanyaan. Kenapa Pak? Bukankah anak tersebut juga berhak untuk ikut? Namun Pak Dodit yang super sibuk itu langsung keluar dari ruangan. Kemudian Suster Ratna membuka pintu sedikit dan mencari anak yang terpampang dalam pas foto yang ditunjuk Pak Dodit. Suster Ratna pun melihat Pipit yang sedang menceritakan sesuatu dengan wajah riang gembira kepada Bu Mayang. Pemandangan mengharukan itu membuat Suster Ratna semakin ragu dan bimbang. Beliau takut dan tidak rela menghilangkan senyuman Pipit.
***
Suster Ratna meregangkan tubuhnya, beliau baru saja menyelesaikan tes swab para finalis. Semua finalis sudah kembali ke hotel untuk beristirahat dan mempersiapkan diri. Sementara Suster Ratna masih ada satu pekerjaan lagi, yaitu merekapitulasi dan membuat print out hasil tes swab. Beliau mengerjakannya satu persatu dengan teliti, awalnya lancar, tetapi ketika Suster Ratna menemui nama Pipit, jari-jarinya berhenti sejenak. Pak Dodit meminta
hasil tes swab Pipit untuk dipositifkan, sementara hati Suster Ratna sendiri tidak setuju. Ada pertentangan di hatinya.
Bagaimana ini? Kalau tidak menuruti Pak Dodit nanti aku dipecat dan tidak dapat honor. Namun anak itu juga berhak untuk ikut final apa pun alasannya. batin Suster Ratna, sekilas dia terbayang Pipit yang tersenyum riang gembira tadi.
Ting!
Terdengar suara notifikasi dari ponsel Suster Ratna. Layar ponsel pun menyala bersamaan dengan bunyi notifikasi. Lantas Suster Ratna melirik ke layar ponselnya dan melihat foto wajah anaknya yang dijadikan wallpaper lockscreen.
Bagaimana andaikata anak tersebut adalah anakku?
***
Suasana tenang dengan sesekali terdengar suara jepretan kamera. Patut disyukuri tes swab Pipit menunjukkan hasil negatif, sehingga dia bisa mengikuti lomba saat ini. Pipit dengan serius dan berhati-hati menggambar desain batik prit gantil di kertas yang disediakan panitia.
Tak berbeda dengan Pipit, 24 finalis lainnya bersungguh-sungguh dan mendadak jadi perfeksionis dalam menggambar desain. Menjadi 25 besar dari 1747 peserta bukanlah hal mudah, mana mungkin mereka menyia-siakan kesempatan ini? Semua pasti menginginkan hasil yang terbaik.
Separuh waktu berlalu badan dan mata Pipit merasa lelah sehingga melihat ke sekitarnya untuk menyegarkan pikiran. Teman-teman finalis lain dijepret oleh fotografer yang berkeliling di ruangan ini. Dalam batinnya, Pipit juga ingin dipotret. Kemudian dia berhenti menggambar sejenak, merapikan kerah baju dan rambutnya sebelum fotograter mendatanginya. Lalu, dengan semangat Pipit melanjutkan desain batiknya.
Sepuluh menit, tiga puluh menit, bahkan menjelang akhir waktu lomba, belum ada fotografer yang memotret Pipit, mendekat pun tidak. Sedikit perasaan kecewa menyelinap di sanubarinya. Namun Pipit mengabaikan semua itu. Dia tetap fokus pada tujuan semula datang ke tempat ini, yaitu membawa pulang piala kejuaraan. Pipit ingin sekali mengenalkan batik Gumelem sebagai warisan budaya leluhurnya.
“Perhatian kepada para finalis, waktu lomba sudah usai. Mohon semua peserta meletakkan alat menggambar di meja. Panitia akan mengambil hasil desain lomba.
Pengumuman akan disampaikan pada pukul 15.00 WIB.” pengumuman dari panitia melalui pengeras suara.
Pipit pun menarik napas lega sudah berhasil menyelesaikan desainnya. Pipit sudah berusaha dengan maksimal, sisanya dia serahkan pada Yang Maha Kuasa.
***
“Ayo Pit kita istirahat dulu sambil menunggu pengumuman.” ajak Bu Mayang sembari membawa snack ke ruang tunggu yang disediakan panitia.
Pipit mengangguk dan tersenyum. Dia dan Bu Mayang bersama peserta lain memasuki ruang tunggu dan duduk di sana. Suasana cukup ramai dan riuh, 24 finalis lainnya sedang menceritakan lomba tadi ke pendamping mereka. Pikiran Pipit pun tak kalah riuh, dia mempertanyakan hasil kerjanya sendiri di dalam kepalanya.
“Tadi lancar ‘kan? Bisa selesai?” tanya Bu Mayang penasaran.
“Alhamdulillah selesai, Bu. Sekarang rasanya gemetar dan deg-degan menunggu pengumuman. Bisa menang gak ya, Bu? Saya takut mengecewakan Ibu ....” ucap Pipit, ada sedikit ketakutan di matanya.
“Tenang saja, Pit. Kalah atau menang kamu sudah jadi juara bagi Ibu.” ucap Bu Mayang seraya menepuk pundak Pipit.
Sebenarnya Pipit mengantuk. Namun karena kegelisahan hatinya dia hanya duduk diam di ruang tunggu. Muncul lagi bayangan peristiwa yang sangat mengganggu pikirannya dalam ruang lomba. Betapa dia melihat dengan jelas semua fotografer menghindarinya. Sesungguhnya Pipit ingin curhat kepada Bu Mayang, tetapi dia tidak ingin membebani perasaan Bu Mayang yang selama ini sudah sering menolongnya.
Ya sudahlah, aku tidak mau memikirkannya. batin Pipit.
Sembari menikmati snack yang disediakan, tak terasa waktu sudah berlalu. Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Suasana langsung hening mendadak. Semuanya menyiapkan hati dan pikiran untuk mendengarkan panitia.
“Juara pertama akan diserahkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, yang jatuh kepada desain batik prit gantil karya Pipit Suwaryo dari SMPN 1 Gumelem Jaya ...!”
Mata Pipit pun berkaca-kaca, “Terima kasih Ya Allah ...!” seru Pipit dengan nada haru.
Akhirnya Pipit menangis sesenggukan.
“Lho? Kamu kenapa, Pit? Kok kamu nangis?!” Bu Mayang berteriak panik hingga banyak orang menoleh ke arahnya.
Pipit menyunggingkan senyum tawanya, “Hehehehe ..., saya sangat bahagia, Bu.” ucapnya sembari membersihkan airmatanya.
Pipit maju dengan perasaan bahagia. Piala diserahkan oleh Bapak Menteri. Di luar dugaan Pipit, Pak Menteri tidak jijik dengannya. Justru beliau merangkul Pipit dan fotografer pun memotret mereka beberapa kali. Pipit yang sebelumnya kecewa kini jadi riang gembira, lega rasanya kegalauan Pipit terbalaskan. Betapa senangnya Pipit bisa dipotret, apalagi bersama Bapak Menteri.
***
Menjadi juara nasional bukanlah akhir perjalanan Pipit. Hal itu justru menjadi awal kesuksesan yang lebih besar bagi Pipit. Dia dikontrak eksklusif oleh Kemendikbudristek untuk membuat desain selama 4 tahun guna seragam staf dan karyawan kementrian. Pipit juga mendapat pengobatan di rumah sakit yang direkomendasikan oleh Suster Ratna dan biaya ditanggung Bapak Menteri secara pribadi.
Setelah rentetan kegiatan yang menguras tenaga dan pikirannya, sore ini Pipit dapat bersantai sambil menonton televisi. Hari ini adalah Hari Batik Nasional dan Bapak Presiden akan meresmikan pusat museum batik Indonesia. Pipit yang bergelut di bidang ini tidak ingin melewatkannya. Dia menikmati cimplung di ruang santai sementara ibunya asyik membatik di teras samping rumah.
Mendadak mata Pipit melotot dan terpaku pada sesuatu di layar televisi. “MAAK! Cepat sini Mak!” serunya, tiba-tiba pipit berteriak memanggil ibunya. “Ada apa, Nak?!” jawab ibu Pipit tergopoh-gopoh mendekat setengah berlari.
“Lihat TV Mak ..., desain batik Pipit dipakai Bapak Presiden!” ujar Pipit seraya menunjuk layar televisi dengan antusias.
“Beneran, Pit?! Itu desain kamu?!” tanya ibu Pipit menatap kagum putra kesayangannya.
-TAMAT-
Riuh tepuk tangan menggema di auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada setelah Prof. Dr. Tarjo memberi sambutan kepada rombongan mahasiswa Inggris yang akan mempelajari seni kuda lumping di Indonesia selama 6 bulan ke depan. Kilat cahaya kamera secara beruntun menangkap potret wajah berseri dan tubuh tegap Prof. Dr. Tarjo.
Beliau merupakan salah satu orang yang aktif dalam melestarikan seni kuda lumping di Indonesia dan bahkan di luar negeri. Harum namanya hingga merebak di Negara Inggris, menarik perhatian mahasiswa jurusan seni Universitas Oxford mendalami dan mempelajari kuda lumping karena keunikannya. Prof. Dr. Tarjo mampu berdiri dengan mantap di panggung auditorium ini setelah melalui perjalanan panjang dengan berbagai rintangan kehidupan.
***
Bermula ketika Tarjo Cilik masih mengenakan seragam putih biru. Tarjo merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang dukun kuda lumping. Ibunya seorang ibu rumah tangga sekaligus penjual jajanan tradisional keliling. Mereka hidup sederhana dan penuh syukur dengan rumah kecil berlantai semen.
“Pak, Tarjo pamit berangkat sekolah.” Tarjo mencium tangan bapaknya.
“Sudah pamit ke Ibu juga tah?” tanya Pak Daroji sembari menganyam bambu untuk properti kuda lumping.
“Sudah, Pak.” jawab Tarjo sambil mengambil tas sekolahnya.
“Ibu membekali lemper sama bakwan buat Tarjo di sekolah. Uang saku kemarin juga masih, hari ini Bapak enggak perlu kasih uang saku buat Tarjo ....” ucap Tarjo sembari menunjukkan selembar uang dua ribu dari sakunya.
Pak Daroji mengambil selembar kertas berwarna ungu dari celana lusuhnya. Pak Daroji memasukannya ke dalam saku Tarjo kemudian menepuk-tepuk pundak putranya.
“Toh nanti siang kita ada pentas, jadi ndak apa-apa hari ini kamu sangu dua belas ribu!” ujar Daroji menegaskan ucapannya.
Tarjo menyunggingkan senyumnya, “Matur nuwun, Pak!”
Tarjo menggendong tas cokelatnya dengan nyaman, meski sedikit rusak dan kusam. Tarjo menempuh perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki. Dia melewati rumah besar mewah yang persis di samping rumahnya. Tarjo melihat Ferdi, teman sekolahnya, sedang memotret sepeda barunya.
“Waduh, ada yang iri nih!” sahut Ferdi menyadari keberadaan Tarjo.
“Hehe, ndak kok. Sepeda kamu baru ya?” Tarjo menanggapi dengan ramah, sudah gayanya begitu.
“Jelas dong! Eh, eh, kok kamu enggak berangkat sekolah naik kuda lumping sih? Siapa tahu bisa terbang kayak sapunya Harry Potter! Hahahaha!” seru Ferdi masih ingin memanasi meski Tarjo tetap sabar.
Tarjo masih menyunggingkan senyumnya. Tarjo tidak terlalu ambil pikir ucapan temannya, pikirannya teralihkan dengan kegembiraan karena hari ini uang sakunya banyak. Biasanya Tarjo diberi uang saku dua ribu atau lima ribu, kini uang dua belas ribu mendiami saku seragamnya. Tarjo hanya mengangguk kecil pada Ferdi dan melanjutkan langkah kakinya, dia tidak ingin terlambat masuk sekolah.
Di tengah perjalanan, seorang anak perempuan berwajah manis dengan rambut kepang dua berseragam putih biru melambai ke arah Tarjo.
“Tarjo! Kamu berangkat jalan kaki lagi?” tanya Rahma yang sudah rapi dengan tasnya. Rahma sedang berdiri di halaman rumah sembari menunggu ayahnya yang sedang memanasi motor.
“Iya nih.” jawab Tarjo, dia berhenti sejenak.
Rahma teman sekelas Tarjo. Mereka sering belajar bersama, di kelas pun menjadi siswa unggulan. Mereka anak yang kompetitif tetapi mampu bersaing dengan sehat.
Rahma kemudian buru-buru mendekati ayahnya, “Pah, aku enggak jadi diantar deh. Aku mau berangkat sama Tarjo ya!” seru Rahma, kemudian mencium tangan ayahnya. Rahma kemudian menghampiri Tarjo dan jalan kaki beriringan.
Kring! Kring! Kring!
“Woi! Minggir!” seru Ferdi yang dengan sengaja hampir menyerempet Tarjo. Ferdi langsung kabur tanpa memedulikan akibat perbuatannya.
“Tarjo?! Kamu enggak apa-apa?!” tanya Rahma dengan cemas melihat Tarjo yang hampir terjungkal.
“Enggak kok, aku baik-baik saja.” jawab Tarjo walaupun sebenarnya sedikit keseleo karena gerakan refleks menghindar secara tiba-tiba.
“Ih, si Ferdi apa-apaan sih. Jalan segede gaban pakai nyerempet segala. Uh, lanjut jalan yuk, nanti terlambat!” ujar Rahma, justru dialah yang kesal, bukan Tarjo.
Mereka berlari kecil menuju sekolah sebab waktu tinggal beberapa menit lagi dan pintu gerbang SMP Suka Mulya akan segera ditutup pukul 06.50, membuat Tarjo dan Rahma harus bergegas.
***
Seusai jam literasi, jam pertama adalah pelajaran Bahasa Inggris oleh Bu Mayang. Secara mandiri sebagian besar murid menyiapkan buku paket. Bu Mayang sekilas melirik pada Ferdi yang mejanya masih bersih tanpa buku.
“Good morning students. How are you?” sapa Bu Mayang dengan hangat kepada murid-muridnya. Beliau berdiri di depan papan tulis.
“I’m fine, thank you. And you?” sahut semua murid di kelas serentak.
“I’m fine too, thank you.” tanggap Bu Mayang.
“Today I will continue the topic about occupation. Do you know any kind of occupation?” Bu Mayang mengawali pelajaran dengan sebuah pertanyaan.
“Policeman, Ma’am!” sahut Rahma.
“Teacher!” jawab Tarjo.
Teman-teman lain pun turut menyebutkan secara bersahutan dan sekeras mungkin supaya mendapatkan jempol dari Bu Mayang.
Tiba-tiba Ferdi menyunggingkan senyum jahilnya, “Kalau Bahasa Inggrisnya dukun apa Bu? Itu lho, pekerjaan bapaknya Tarjo. Hahaha!”
“Ferdi, tolong jaga sopan santunmu” tegur Bu Mayang tetapi masih lemah lembut seperti biasanya.
“Kita tidak boleh menghina pekerjaan orang asalkan pekerjaan itu halal.” lanjut Bu Mayang, berharap Ferdi paham.
“Hobi banget sih kamu ngejek Tarjo!” ujar Rahma, makin membuat Ferdi kesal pada Tarjo.
Lagi-lagi si Tarjo yang dibela! batin Ferdi. Dia terdiam dengan rasa kesal yang terpendam. Kedua tangannya terkepal kuat-kuat di bawah meja. Sepanjang pembelajaran suasana hati Ferdi diiringi badai kemarahan, lirikan mautnya berkali-kali tersorot kepada Tarjo. Sementara Tarjo satu dua kali menengok ke arah Ferdi, sebenarnya Tarjo sakit hati, tetapi Tarjo masih tegar untuk melukiskan senyumnya.
Padahal ‘kan bapakku bukan dukun. Bapakku berlatih siang malam supaya bisa menyajikan atraksi yang menarik dan memuaskan penonton. Mau dijelaskan seperti apa pun Ferdi tetap enggak mau percaya. batin Tarjo.
***
“Rahma, kenapa ya Ferdi sering ngejek aku ...?” gerutu Tarjo murung sembari menempuh perjalanan pulang bersama Rahma.
“Itu Ferdi-nya saja yang nakal! Dia enggak terima disaingi kamu!” Rahma senantiasa membela temannya.
“Padahal bapakku ‘kan cari nafkah buat aku dan adik-adikku. Bapakku latihannya keras banget loh supaya triknya kelihatan mulus, tapi Ferdi mengira bapakku pakai sesuatu yang mistis.” nada sendu terpapar jelas dari suara Tarjo.
“Aku ngerti kok, Tarjo. Oh ya, nanti kamu ada pentas di Lapangan Suka Mulya ‘kan?” Rahma mengalihkan pembicaraan, ingin mencairkan suasana.
“Iya. Nanti tonton aku dan teman-temanku ya, ada bapakku juga.” ajak Tarjo, berharap Rahma bersedia menyaksikan penampilannya.
“Ah siap Bos ...!” jawab Rahma sambil tertawa kecil sambil bergurau.
***
Ning nong ning nung ning dung ... hae hae hae ....!
Terdengar suara musik gamelan dimainkan menandakan pertunjukkan kuda lumping sudah dimulai. Terik matahari yang menyengat tak menjadikan orang-orang mengurungkan niatnya menonton kuda lumping. Tarjo bersama lima penari kuda lumping lainnya serempak dan seirama menghibur para penonton yang mengelilingi arena pertunjukkan. Keringat membanjiri wajah Tarjo, tetapi kakinya yang tak beralaskan itu masih mantap menghentak tanah. Tarjo sangat berkonsentrasi menari sampai tidak sadar Rahma sedang merekam sambil menyerukan nama Tarjo.
Sebagai puncak acara, Pak Daroji dan beberapa rekan lainnya membawa obor dengan api menyala. Pak Daroji bertingkah sedang mendem dan berteriak-teriak seolah-olah kesurupan. Satu rekannya menyerahkan jerigen kecil berisi minyak tanah. Pak Daroji menerimanya dan menampung minyak tanah di dalam mulutnya sampai pipinya mengembung. Kemudian disemburkannya minyak tanah tersebut ke api yang ada di depannya sehingga menimbulkan semburan api besar. Sorakan dan tepuk tangan senantiasa mengiringi sepanjang Pak Daroji menyemburkan api.
Tuhkan! Pasti ada gaib-gaibnya sampai berani begitu! batin Ferdi yang sedang mengunyah cireng yang alot dengan emosi. Kemudian Ferdi membelakangi pertunjukkan, tidak mengindahkan penampilan Pak Daroji, tetapi lanjut berkeliling mencari jajanan.
***
Hari demi hari penanggap grup kuda lumping Pak Daroji semakin banyak, karena pertunjukannya yang menarik dengan atraksi yang bervariasi. Hingga beberapa bulan kemudian grup Ebeg Waluyo Budoyo merambah kota-kota lain. Bahkan mereka diundang untuk memeriahkan Dieng Culture Festival. Semenjak tampil di sana, grup kuda lumping ini menjadi incaran berbagai acara guna menghibur penonton.
Penghasilan Pak Daroji tentunya semakin meningkat. Pak Daroji merenovasi rumahnya menjadi lebih bagus dan enak dipandang sehingga menarik perhatian beberapa tetangganya, termasuk Ferdi yang sampai saat ini memusuhi Tarjo.
Ferdi yang mengenakan kaos dan celana kolor seadanya itu menghampiri satpam pribadi rumahnya, “Pak, aku curiga sama bapaknya Tarjo! Masa yang rumahnya jelek kayak kandang ayam itu sekarang jadi bagus? Pasti bapaknya Tarjo pakai cara ‘enggak bener’!”
“Kalau itu, saya kurang paham, saya juga ndak berani asal tebak, Mas Ferdi.” ucap Pak Sunarto, satpam pribadi rumah Ferdi.
“Pak Narto gimana sih? Harusnya lapor Pak RT buat selidiki mereka!” Ferdi menjadi kesal, dia menendang pot didekatnya sampai tanahnya tumpah.
Pak Sunarto mengelus-elus dada, setelah ini beliau akan ditanyai oleh tuannya terkait bagaimana pot tersebut bisa rubuh.
“Ayo Pak! Lapor Pak RT saja!” seru Ferdi, pantang menyerah menghasut Pak Sunarto.
"Bisa gawat kalau saya tolak permintaan Mas Ferdi. Bisa-bisa Mas Ferdi bilang yang memojokkan saya dengan hal-hal buruk ke Pak Gino."
“Nggih Mas Ferdi, nanti saya datangi Pak RT.” Pak Sunarto menyetujui demi menenangkan Ferdi.
“Enggak mau nanti! Pokoknya sekarang!” tak tahu diuntung, Ferdi masih memaksa Pak Sunarto.
“Iya, iya. Saya berangkat sekarang ....” Pak Sunarto sebenarnya kecewa karena gagal menenangkan Ferdi dan kini harus menuruti keinginan tuan mudanya.
Pak Sunarto berencana berpura-pura melapor kepada Pak RT, beliau tidak ingin asal menduga yang nantinya bisa mencoreng nama baik Pak Gino. Namun, Ferdi bersikeras ikut Pak Sunarto karena meragukannya. Kemudian Pak Sunarto terpaksa melapor kepada Pak RT di hadapan Ferdi langsung. Berhubung Pak Daroji dan sekeluarga sedang di luar kota karena kepentingan pentas, Pak RT mengusulkan menyelidiki besok pagi saja bersama beberapa warga.
***
Tong! Tong! Tong!
Tong! Tong! Tong!
Tong! Tong! Tong!
Suara kentongan dibunyikan tiga kali. Jagoan merah mengamuk di rumah besar Ferdi. Langit sudah begitu gelap dan cahaya merah beserta asap membuat warga sekitar mendatangi rumah Ferdi. Satu warga mencoba menelepon pemadam kebakaran, sisanya sedang bolak-balik membawa ember air guna meredakan api.
“Tolong anak saya! Ferdi masih di dalam!” mohon Pak Gino kepada siapa pun. Istrinya menangis dan menyerukan nama Ferdi histeris berulang kali.
Sayangnya pintu masuk utama sudah dilahap api ganas, bahkan kusen pintunya hampir roboh. Di dalam kelihatannya api sudah menggelora. Kamar Ferdi cukup jauh dari ruang tamu, hingga Pak Gino selaku ayahnya sendiri pun tidak berani menerobos api.
“Pak RT! Kapan pemadamnya datang?!” tanya Bu Gino, dia mencengkram kedua lengan Pak RT sambil menggoncang-goncangkan tubuh Pak RT.
“Maaf Bu Gino, sampainya mungkin lama ....” kata Pak RT, sejujurnya takut menyampaikannya.
Cengkraman Bu Gino melemas. Sebelum mendarat di tanah, Pak Sunarto yang peka sekitarnya itu langsung menangkapnya. Pak Sunarto sementara membawa Bu Gino yang tak sadarkan diri.
Tak ada satu menit, sebuah truk kecil berhenti tepat di depan rumah Tarjo. Buru-buru dibukanya pintu mobil, keluarlah Pak Daroji yang tak kalah terkejutnya melihat pemandangan si jago merah yang melahap rumah Pak Gino. Sekeluarga pun keluar dari mobil, mereka baru pulang sehabis pentas di luar kota. Tanpa pikir panjang Pak Gino yang melihat Pak Daroji itu langsung menghampiri.
“Pak Daroji! Tolong anak saya masih di dalam!” Pak Gino memohon dengan panik, kedua tangannya gemetar.
Tanpa pikir panjang Pak Daroji membuka kaos oblongnya supaya tidak terbakar. Pak Gino mengintruksikan ke mana Pak Daroji harus masuk untuk sampai ke kamar Ferdi. Pak Gino meminta pertolongan beliau karena yakin Pak Daroji sudah akrab dan kebal api, sama halnya ketika Pak Daroji melakukan atraksi di pertunjukkan kuda lumping.
“Bismillah.” ucap Pak Daroji, kemudian langsung berlari menerobos pintu masuk utama dan terus melangkah maju.
Pak Gino hanya bisa menunggu sambil berdoa. Sementara warga lainnya masih sibuk mencari air, sayangnya api masih awet menyala dan belum segera mereda.
“Pak Gino! Itu Pak Daroji sudah kelihatan!” seru Pak RT menepuk keras pundak Pak Gino.
Pak Daroji keluar bersama Ferdi yang tak sadarkan diri di punggungnya. Tampak kaki sebelah kanan Ferdi melepuh karena terbakar. Setelah berhasil keluar salah satu tetangga membantu Pak Daroji memindahkan Ferdi. Pak Gino menyalami Pak Daroji dan berterima kasih sebesar-besarnya. Seandainya malam ini Pak Daroji tidak pulang, entah siapa lagi yang berani menghadapi api tersebut. Pak Gino tidak biasa membayangkan apa yang akan terjadi pada Ferdi jika Pak Daroji tidak pulang lebih awal.
***
“Saya minta maaf, Pak Daroji. Aku juga minta maaf, Tarjo ....” ucap Ferdi, walau suaranya agak tercekat di tenggorokannya.
Kini Ferdi duduk di ranjang rumah sakit. Di samping kanan ada orang tua Ferdi, kemudian di samping kirinya adalah Tarjo beserta Pak Daroji. Ada juga Pak Sunarto yang sedikit jauh beberapa langkah dari mereka, beliau berdiri di dekat pintu.
“Maafkan anak saya, Pak Daroji. Ferdi ternyata selama ini sering mengganggu Tarjo di sekolah, bahkan juga menghasut Pak Sunarto lapor ke Pak RT untuk menyelidiki panjenengan. Ini salah saya kurang cakap dalam mendidik Ferdi.” aku Pak Gino, beliau sangat berterima kasih dan menghormati Pak Daroji.
Pak Daroji justru merasa tidak enak mendengarnya, beliau merasa Pak Gino terlalu berlebihan sampai menyalahkan caranya dalam mendidik Ferdi.
“Sudah kewajiban saya membantu orang yang mendapat musibah, kebetulan saya sudah sering melakukan atraksi sembur api sehingga tubuh saya lebih bersahabat dengan api. Nak Ferdi juga masih remaja, belum berpikir dengan matang. Yang terpenting sudah damai toh?” ucap Pak Daroji sambil merangkul Tarjo yang tersenyum ikhlas sembari menatap Ferdi.
***
Satu ... dua ... cekrek!
Fotografer memotret Prof. Dr. Sutarjo yang berjabat tangan dengan rektor dari Universitas Oxford. Selanjutnya disusul foto bersama rombongan mahasiswa Inggris. Prof. Dr. Sutarjo mengacungkan jempol, yang lain pun mengikuti gayanya. Beliau tersenyum bangga, apalagi beliau menyadari bahwa di antara audiens ada orang tuanya yang turut tepuk tangan.
***
-SELESAI-
Meriahnya peringatan HUT ke-451 Kabupaten Blambang. Syukurlah hari ini dan hari-hari sebelumnya cuaca cerah, sehingga tanah di alun-alun ini tidak becek. Aku bersama Mbah Uti juga menghadiri peringatan HUT, meski harus naik angkot selama satu jam. Mbah Uti yang sudah tidak selincah dulu pun hanya duduk di bangku alun-alun yang tersedia, untungnya aku membawa payung supaya Mbah Uti tidak kepanasan.
Mbah Uti masih merasa gerah dan gerak-geriknya menunjukkan ketidaknyamanan. Namun, panasnya udara bukan alasan utama. Mbah Uti dari awal memang tidak mau ke sini, tetapi aku bersikeras mengajaknya. Mbah Uti ini memang rajin dan aktif di desa, tapi jarang sekali menyentuh rumput di pusat kota. Aku pun menjanjikan akan membelikan Ondol Pak Tarno untuk Mbah Uti supaya beliau mau ikut ke alun-alun. Ondol itu terkenal sekali di Kabupaten Blambang, selain rasanya yang enak, ondol ini lebih ramah untuk kesehatan. Mbah Uti yang suka segala jenis jajanan jadul jelas mau jika aku mentraktirnya ondol. Sayangnya, suasanya hatinya jadi jengkel kembali.
“Lha, ndak ada anak yang mau nari lagi, kok ya menyalahkan ... astagfirullahaladzim, Gusti ...!” seru Mbah Uti, melampiaskan kekesalannya sembari menepuk dadanya sendiri.
“Sudah Mbah, bukan salah Mbah Uti ....” kataku, lemas dan merasa bersalah.
Beberapa menit yang lalu ada seseorang yang merupakan panitia peringatan HUT datang menemui Mbah Uti yang sedang menikmati perayaan HUT ini. Beliau tiba-tiba menghampiri Mbah Uti dan memprotes mengapa pada perayaan kali ini desaku yaitu Desa Segara tidak mengirimkan personil satu pun untuk menarikan Tari Selendang Dewi. Tari ini merupakan tari kreasi yang dibuat sekitar tahun 1890-an oleh pendahuluku. Orang yang saat ini menguasai tari ini adalah nenekku alias Mbah Uti. Uniknya, tarian ini hanya ada di Desa Segara.
Tentu hal itu membuat Mbah Uti jadi jengkel. Tidak ada anak yang mau mempelajari tarian itu lagi, sehingga tidak ada personil yang bisa menampilkannya. Itulah salah satu alasan besar yang sebenarnya membuat Mbah Uti tidak mau datang kemari. Memang bukan salahnya, tetapi karena Mbah Uti pelatih yang terakhir, beliaulah yang selalu mengurusi pementasan jika terkait Tari Selendang Dewi.
Dari kejauhan sana, aku tiba-tiba melihat Pak Sasongko, Kepala Desa Segara, datang kemari. Aku pun menyipitkan mataku untuk memastikan bahwa itu benar-benar Pak Sasongko, dan memang tidak salah lagi, itu sungguhan Pak Sasongko. Aku pun melirik ke Mbah Uti, sepertinya Mbah Uti tahu apa niat Pak Sasongko menghampirinya. Pak Sasongko berhenti tepat di depan kami, lantas aku pun berdiri, dan dengan sopan membujuk nenekku untuk ikut berdiri.
“Mbah, ngapunten jika lancang, saya tidak menyalahkan njenengan. Tapi, saya mau memberi saran sebaiknya Tari Selendang Dewi ditambahi apa gitu, Mbah. Kostumnya ditambah aksesoris lagi, iringannya kalau bisa jangan hanya saron, gerakannya juga bisa divariasikan lagi-“
“Hust! Saya mana izinkan Tari Selendang Dewi yang sudah turun temurun diubah! Ndak! Mau berapa kali anda minta, tetap tidak boleh!”
Lantas Mbah Uti menarik pergelangan tanganku dan mengajakku untuk segera menunggu angkot untuk kembali ke desa. Aku tahu perasaan Mbah Uti, mungkin aku memang salah karena sudah mengajak beliau kemari.
Dari jendela kamar, aku melihat Mbah Uti sedang menyapu di pendopo, yang merupakan paviliun yang ada di muka Rumah Joglo Mbah Uti. Sebelum pandemi, enam sampai tujuh anak perempuan biasanya berlatih tari bersama nenekku di pendopo. Namun, sekarang sudah tidak ada lagi yang bersedia berlatih di sini. Anak-anak di sekitar sini memang masih banyak, lantas mereka berhenti bukan karena Tari Selendang Dewi sulit dipelajari, tetapi karena ... ehem, mungkin karena nenekku sendiri.
Aku pernah bertanya pada salah satu anak yang pernah belajar menari bersama nenekku terkait apa yang membuat mereka tidak mau berlatih lagi, katanya:
“Mbah Esti galak, Mbak. Aku sama teman-teman takut. Sekalinya salah dimarahin, sekalinya sudah betul nggak bilang apa-apa. Jadinya kesel, rasanya yang dilihat cuman salahnya aja. Oh ya, jangan bilang-bilang ya Mbak, hehe.”
Bukan jawaban yang mengherankan. Aku sebagai cucunya sudah paham betul kepribadian Mbah Uti. Saat aku kecil aku pasti selalu menangis jika berkunjung atau dikunjungi Mbah Uti. Kesalahan yang dibuat oleh anak kecil saja dimarahi. Supaya kebal kata beliau. Meski caranya kurang tepat, tetapi itu adalah bentuk kasih sayang Mbah Uti. Untungnya, aku pun sungguhan jadi kebal sehingga sekarang aku sudah biasa saja ketika dimarahi beliau atau pun oleh orang lain.
Kulihat Mbah Uti sudah selesai menyapu pendopo dan menatapku seraya memanggil namaku untuk segera ke sana. Aku pun segera keluar kamar dan berlari menuju Mbah Uti. Aku tidak mau membuat suasana hatinya tambah buruk, aku tahu beliau sedang gundah. Tetangga mulai membicarakan Mbah Uti yang tidak mengirimkan personil saat HUT Kabupaten Blambang kemarin, mana mungkin Mbah Uti masih tenang? Mbah Uti dan tetanggaku saling salah menyalahkan. Tetangga menyalahkan cara mengajar Mbah Uti, sementara beliau sendiri menyalahkan orang tua yang tidak membujuk anaknya untuk berlatih tari.
Aku sangat paham ini bukan masalah sepele. Sejak dulu budaya yang khas dari Desa Segara hanyalah Tari Selendang Dewi. Bahkan, secara umum, budaya Kabupaten Blambang juga tidak begitu banyak. Bisa kukatakan, wajar tetangga dan panitia HUT memprotes ke Pak RT akibat tidak adanya personil yang tampil satu pun. Ah, aku lupa harus segera berlari ke pendopo!
“Dipakai selendangnya, jangan salah pakainya walau latihan.” ujar Mbah Uti. Dari nadanya memang tampak keras, tetapi Mbah Uti yang biasanya memang seperti ini.
Sebelum memakai selendang putih, aku mengambi ponsel yang ada di sakuku dan meletakkannya di meja kecil. Setelah itu aku mengenakan selendang putih itu di pinggang, aku perlu dua sampai tiga kali memeriksa apakah sudah betul mengenakannya. Kulihat Mbah Uti duduk di kursi yang ada sandaran tangan, beliau di sana ingin melihat aku menari. Aku sebelumnya pernah menarikan Tari Selendang Dewi, tetapi itu sudah lama. Aku tidak terlalu sering ada di kampung halaman karena bersekolah di luar kota, supaya dekat dengan tempat kerja orang tua.
Aku mulai menari dengan sungguh dan sadar sepenuhnya—juga ada sedikit rasa tegang, meski seharusnya aku harus menyirnakan rasa tegang itu. Tarian diawali dengan posisi berlutut, kemudian berdiri sambil memegang selendang. Keutamaan tari ini adalah keluwesannya. Tidak boleh kaku sedikit pun. Kemudian ekspresi harus tersenyum tenang, tidak boleh cemberut atau senyum terlalu lebar. Bentuk senyumnya seperti dewi yang sedang dikagumi, malu-malu tetapi anggun. Kata Mbah Uti, tarian ini sulit karena keluwesan dan ekspresinya harus ekstra diperhatikan. Bahkan, sebelum mempelajari Tari Selendang Dewi harus menguasai setidaknya 3 tarian lain yang mengutamakan keluwesan. Kata beliau sangat sulit jika yang belum pernah menari langsung mencoba Tari Selendang Dewi, mungkin akan menyerah di tengah jalan. Aku rasa lebih tepat menyerah karena lelah dimarahi Mbah Uti, daripada lelah karena tari itu sendiri—ehem. Aku melanjutkan tarianku, meski tegang ditatap oleh mata tajam Mbah Uti. Semoga saja aku tidak dimarahi habis-habisan setelah selesai menari.
*
*
Prok prok prok!
Alhamdulillah Ya allah, aku tidak membuat kesalahan fatal yang sekiranya memancing Mbah Uti untuk mengkritikku habis-habisan. Aku langsung berdiri dari posisi berlutut, mendekati Mbah Uti yang sedang duduk di kursi, kemudian aku berlutut kembali di hadapan beliau.
“Bagus, kamu masih ingat toh.” ucap Mbah Uti. Beliau tersenyum sembari mengusap rambutku.
“Kamu sebentar lagi kuliah, Nok? Kalau ada waktu satu bulanan, Mbah minta tolong kamu melatih anak-anak—“
Tring, tring, triring.
Aku menengok ke meja, ternyata memang ponselku yang bunyi. Aku tidak langsung mengambilnya, melainkan aku menatap Mbah Uti terlebih dahulu. Kemudian Mbah Uti memberi kode dari wajahnya, memperbolehkanku menjawab telepon. Aku kemudian berdiri bergegas mengambil ponsel dan pergi agak menjauh untuk menjawab telepon.
“Assalamualaikum, ada apa, Mah?”
“Dek, udah daftar SNBT-nya?”
Aku terdiam sejenak. Ibuku mendadak meneleponku untuk mengingatkanku mendaftar SNBT. Sungguh, aku bingung menjawabnya.
“Mah,”
“Kenapa Dek?”
Aku lebih mendekatkan ponselku dan melirihkan suara.
“Adek nggak jadi daftar SNBT tahun ini.”
“Loh? Kenapa Dek? Jangan pesimis ah, Mamah yakin kamu bisa.”
“Bukan begitu, Mah. Nanti aku chat Mamah lagi ya. Maaf Mah, dadah.”
Tut.
Aku segera memasukkan ponselku ke dalam saku dan segera kembali untuk mendengarkan Mbah Uti. Aku berlutut di hadapan beliau kembali.
“Ngapunten, Mbah, tadi sampai mana ya?” tanyaku sopan.
“Kamu kuliahnya kapan, Nok? Mbah minta tolong kamu buat ajarin anak-anak menari,” ucap Mbah Uti sembari menepuk pundak kiriku.
“Kayaknya tahun depan, Mbah. Shinta bisa bantu Mbah ajarin anak-anak menari.” ucapku, sembari tersenyum. Aku harap Mbah Uti tidak menyadari sesuatu.
“Sekarang Mbah udah susah buat berdiri lama, sementara ini kamu bantuin Mbah cari anak dan ajari menari.” pinta Mbah Uti, disertai sedikit curahan hati.
Aku tersenyum hangat, “Nggih, Mbah.”
“Ayo ayo, semangat! Yang hari ini paling semangat, Mbak Shinta bakal beliin es krim lho!” seruku seraya membenarkan gerakan anak-anak.
Sudah satu bulan berlalu, sampai hari ini aku berhasil mengumpulkan delapan anak untuk berlatih Tari Selendang Dewi. Sebelumnya aku harus mengunjungi satu per satu rumah untuk menawarkan pelatihan Tari Selendang Dewi. Tentu tidak mudah, ditambah lagi adanya perbincangan mengenai cara Mbah Uti memperlakukan anak-anak yang berlatih menari. Namun aku memberitahu bahwa sementara ini hanya aku yang menjadi pelatih. Hal ini menjadi pertimbangan mereka, berhubung anak-anak banyak yang suka mengobrol dan berinteraksi denganku.
Hari ini delapan anak hadir semua, syukurlah, mereka masih semangat untuk melestarikan Tari Selendang Dewi. Namun, salah satu anak tampak tidak bersemangat menari hari ini. Rina namanya, dialah anak yang biasanya paling bersemangat untuk menari, mendadak hari ini menjadi lesu dan murung. Perbedaan suasana yang cukup jauh, kurasa bukan masalah sepele.
Aku mendekati Rina dan memintanya untuk ke pinggir pendopo bersama. Aku pun merendahkan tubuhku supaya mataku bisa sejajar dengannya. Rina pun tampak bingung di dalam kemurungannya.
“Rina ada masalah di rumah atau di sekolah? Mau cerita nggak sama Mbak Shinta?” tanyaku, sambil menepuk pundaknya.
“Rina ... Rina ngerasa kalau Rina nggak bagus-bagus narinya ... padahal ... Rina selalu semangat ....” keluhnya, sembari sedikit terisak, tetapi Rina menahan airmatanya.
Aku pun memeluknya, “Kamu sudah berusaha yang terbaik, Rina. Mbak Shinta bangga sama kamu.”
Tin, tinnnn!
Aku spontan kaget dengan suara klakson motor. Ah, sepertinya Bagas dan Widi sudah datang. Aku pun perlahan melepaskan pelukanku dari Rina dan sembari tersenyum memintanya kembali berkumpul dengan temannya. Rina menuruti perkataanku dan segera berlari. Aku pun menghampiri kedua temanku yang baru saja turun dari motor sambil membawa tas besar.
“Film dokumenternya mau berapa menit?” Bagas bertanya sembari mengeluarkan kamera dan tripod dari tasnya.
“Mungkin ... 15 menit. 5 menit menampilkan tariannya, 5 menit wawancara sama mbahku, sisanya bisa wawancara anak-anak dan Pak RT.” saranku.
Hari ini aku mengundang teman SMA-ku yang hobi mengedit video. Aku meminta mereka untuk membantuku membuatkan film dokumenter terkait Tari Selendang Dewi. Mumpung aku masih punya banyak waktu.
“Eh eh, pengumuman SNBT-nya! Bentar lagi nih!” seru Widi seraya menunjukkan layar ponselnya. Ada hitungan mundur di ponselnya, sepertinya 2 menit lagi akan selesai.
“Oh iya, gua hampir lupa.” ucap Bagas, kemudian juga membuka layar ponselnya.
Aku hanya tersenyum menanggapi mereka.
“Loh Shin, nggak buka HP?” Widi keheranan, aku pun masih tersenyum.
“Ya elah, Shinta mah nggak perlu buka HP udah jelas keterima kali,” timpal Bagas, seperti biasa dia sering menyanjungku.
Aku pun masih tersenyum dan hanya mengiyakan. Sampai 2 menit sepertinya sudah berlalu, Bagas dan Widi berteriak bersamaan karena mereka diterima di PTN yang mereka impikan selama ini.
“Kamu yakin nggak mau buka pengumumannya, Shin?” tanya Widi sekali lagi.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng sebentar saja.
“Ya sudah, yok, dimulai bikin filmnya!” seru Bagas yang sedang mengatur kameranya.
Aku bersiap dan meminta anak-anak untuk mengenakan kostum dan properti tari. Kuharap, film ini dapat terlaksana dengan lancar.
Aku kini di belakang Bagas, menyaksikan anak-anak menari dan direkam oleh Bagas. Aku pun menyemangati anak-anak tanpa suara, hanya aku semangati dengan tersenyum dan mengangkat kepalan tanganku. Sementara Widi mengatur cahaya supaya dapat terekam dengan bagus di kamera. Aku merasa lega, setidaknya membuat film dokumenter adalah salah satu upayaku untuk mempopulerkan tari ini. Selanjutnya aku perlu melakukan usaha lebih, seperti mengadakan Tari Selendang Dewi di pusat kota, atau membuat konten media sosial tentang tari ini, melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah sekitar, dan membuat kreasi gerakan baru untung tari ini sendiri.
Impianku ingin menjadi penari hebat, penari yang mendunia, dan aku pasti akan menarikan Tari Selendang Dewi di panggung yang megah. Aku akan menarik perhatian semua mata, entah mata yang berwarna cokelat, mata biru, atau mata hijau. Ribuan orang dari seluruh dunia akan menyaksikan tari ini, dan akan aku buktikan bahwa Tari Selendang Dewi bukanlah tarian biasa.
Mulanya, aku ingin melanjutkan pendidikanku di Universitas Negeri Surabaya, jurusan Seni Tari. Namun, jika aku bisa melakukan aksi nyata di detik ini juga, mengapa tidak? Lagipula, aku bisa mengikuti SNBT tahun depan, ‘kan?
Aku sedikit iri dengan temanku yang sudah diterima PTN duluan. Namun ... aku juga merasa bangga bisa melestarikan tari ini. Menunda kuliah adalah pilihan yang tepat menurutku, aku harus secepatnya mempopulerkan tari ini selagi Mbah Uti masih sehat.
Mbah Uti, sehat-sehat ya, sebentar lagi Tari Selendang Dewi pasti akan banyak peminatnya!
***
"Selanjutnya, wali dari Helena Angelia." ujarku, memanggil orang tua dari anak yang nama depannya persis dengan nama depanku.
Helena Trihayani, umumnya murid-muridku memanggilku Bu Lena, teman-teman di segala tempat pun memanggilku Lena. Aku sekarang berprofesi sebagai guru di salah satu SD favorit di Banjarnegara.
Hari ini adalah hari pembagian rapor hasil belajar siswa selama semester 1. Ketika aku memanggil Helena Angelia, seorang pria berjas ala pekerja kantoran duduk di kursi seberang mejaku. Wajahnya tidak asing, nama orang tua yang terpampang di raport pun tidak asing.
Sial.
"Selamat pagi Bu Helena. Wah namanya sama ya seperti anak saya, panggilannya juga sama lho, Lena." ucapnya dengan santai.
Aku terpaksa harus berjabat tangan dengannya.
Aku menarik napasku, aku dengan panjang lebar menceritakan perkembangan belajar Helena dan juga perilakunya selama di sekolah. Aku tak mau mendengar basa-basinya lebih jauh lagi. Menyebalkan.
"Saya rasa cukup. Saya harap anda tetap memperhatikan dan mendukung perkembangan Helena." kataku menyudahi, sejujurnya aku ingin Gunawan segera enyah dari hadapanku.
"Hahaha, jangan kaku begitu kali. Santai aja sama saya. Kalau begitu, semangat ya Bu Lena, jangan lama-lama melajang" ujarnya, lalu menyentuh tanganku jahil.
Aku menarik tanganku, "Jangan bercerita pada ibunya Helena. Cukup saya yang Bapak sakiti." kataku.
"Oh, ya ya, sampai sekarang kamu masih merasa sebagai korban?" Gunawan mulai mengintimidasiku.
Lalu apa maksud Bapak menamai putri anda dengan nama saya? Apakah Bapak mencintai saya? Bukan itu alasannya. Saya tahu anda hanya ingin menyakiti istri Bapak. Sudah dari dulu sifat anda memang busuk!
Sejujurnya aku ingin mengatakan hal tersebut. Namun, aku harus tenang dan tetap profesional. Aku tidak boleh membiarkan hatiku menguasai kepalaku.
"Maafkan saya." ujarku. Aku cari aman, lagipula masih ada wali murid yang berada di kelas, aku tidak mau hal ini berlanjut dan menarik perhatian.
Gunawan, mantanku ketika SMA. Akhirnya kini dia hanya menatap datar. Kemudian pergi keluar ruangan, tanpa meninggalkan sepatah kata pun lagi.
Dia gila, sungguh, menamai anaknya dengan namaku. Itu bukan karena dia mencintaiku, tetapi karena kesengajaan, semacam adrenalin yang menginginkan tantangan.
Aku mempunyai firasat dia sama busuknya seperti di masa lalu.
Sebagai sesama perempuan, aku berdoa semoga istrinya kuat menjalani menjalani rumah tangga bersama Gunawan.
-Tamat-
Suasana lebaran selalu kunantikan. Malam menjelang lebaran ini aku berinisiatif untuk membantu Emak memasak. Tentu adikku pun ikut membantu tanpa diminta. Sebenarnya Emak bersikeras supaya kami istirahat saja dan tidak mau merepotkan kami.
"Fadhil, Amel, besoknya ngantuk loh kalau bantuin banyak ...." ucap Emak sambil memasak santan dan menggoreng kerupuk sekaligus, emakku ini memang multitasking.
Aku dan Amel tertawa kecil, "Nggak apa-apa Mak, daripada nganggur nanti malah ketiduran terus telat ke masjid." aku bergurau.
Emak hanya tersenyum, kemudian memintaku dan Amel untuk ikut membantu. Emak sengaja meminta tolong diriku dan Amel unruk mengerjakan tugas yang mudah. Itulah Emak, sangat memanjakan kami.
"Amel, tolong bawa ini ke meja makan ya," pinta Emak ke adikku, menyerahkan mangkok kaca besar berisi opor.
"Oke Mak," jawab Amel sambil menerima mangkok kaca tersebut dengan tangan kosong.
Aku melihat Amel kesulitan, "Mau dibantuin nggak?" aku menawarkan.
"Nggak ah, aku bisa, gini doang!" seru Amel sambil berjalan ke meja makan yang agak jauh dari dapur.
Aku sebenarnya ragu dengan Amel yang melangkah dengan tidak seimbang membawa mangkok yang sangat besar itu. Apalagi opornya baru saja matang dan kuahnya penuh.
Kulihat Amel kurang menjaga keseimbangannya. Kuah opor panas banyak yang tumpah ke tangan Amel. Spontan Amel kaget karena panas dan melepaskan tangannya.
PRANG ...!
Mangkok besar itu pecah, kuah opor yang panas tumpah mengenai kaki Amel. Tentu adikku kaget dan mundur. Dia panik, tetapi dugaanku itu bukanlah karena kakinya yang kepanasan, tetapi karena dia baru saja menumpahkan opor. Hal itu terlihat dari mata Amel yang fokus dengan opor yang berserakan lantai.
Aku dan Emak langsung berlari, meminta Amel segera membilas kakinya. Kemudian aku mengambil lap, pel, dan sapu untuk membersihkan kuah opor dan pecahan kaca di lantai. Sementara Emak menemani Amel membilas kaki.
Amel sudah membilas kakinya, sekarang dia sedang menangisi kelalaiannya. Emak berusaha menenangkan Amel, memeluk putrinya ke dalam dekapan hangatnya.
"H-hiks ... maafin Amel ... gara-gara Amel makanannya jadi mubazir ... hiks ...." Amel menangis sesegukan di membasahi kerudung Emak.
"Nggak apa-apa Mel, nggak apa-apa. Emak nggak marah, Mas Fadhil dan Bapak juga gak marah ... cup cup ...." Emak berusaha menenangkan Amel yang menangis.
Aku lega melihat Emak yang tidak memarahi Amel. Aku sekilas tersenyum, melihat Emak dan Amel. Inilah yang aku rindukan dari harmonisnya pulang kampung, bisa membantu Emak yang selama ini merawat aku dan Amel dengan tulus dan sabar.
###
Aku membuka kelopak mata, meraih ponsel di meja dan mematikan alarm yang mengusikku untuk bangun dari mimpi.
"Aku mimpiin Emak lagi ...." gumamku.
Tururing, tururing, tururing.
Aku yang masih setengah sadar sempat terkejut ada telepon masuk dari ponsel yang aku genggam.
Aku menjawab telepon.
"Assalamualaikum, Mas Fadhil!"
"Waalaikumsalam, kenapa Dek?"
"Mas, jadi mudik?"
Aku memandang kalender yang tanggalnya sudah aku lingkari spidol.
"Maaf Dek, Mas masih ada kerjaan penting."
"Owalah, kalau pulang kabarin ya."
"Oh ya ... hari ini jangan lupa ke makam ya, Dek."
"Aku lagi siap-siap mau ke makam. Aku matiin teleponnya ya?"
"Iya."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Tut.
Aku memandang foto Emak di wallpaper ponselku.
"Selamat ulang tahun, Mak."
***
“Kata kakak kelas, Miss Wilda kurang suka barang mewah. Terus apa dong? Besok Hari Guru Nasional, masa kita nggak kasih apa pun?! Oh my God, Miss Wilda will very very disappointed!” seru Siti di depan teman-teman kelas.
“Astaga ... cukup, aku nyerah, grammar-mu yang berantakan bikin aku capek!” timpa Chelsea sambil tutup telinga.
Menjelang Hari Guru Nasional, siswa-siswi kelas XI-11 sedang adu mulut, adu pikiran, adu pendapat. Pokoknya, segala adu yang membuat ketua kelas di kelas ini mengeluh, Aduh, ribet amat sih! Namun, tak perlu khawatir, tak ada adu hantam di sini. Anak-anak manis ini hanya meributkan hadiah apa yang akan mereka berikan untuk wali kelas mereka. Sebenarnya, tak ada yang menonjol dari keributan ini, kecuali munculnya beberapa kata berbahasa Inggris. Kata mereka, “We love Miss Wilda, so we will speak in English!”
“Sit, sit!” Cahyo berteriak di samping pintu sambil melambai ke temannya.
“Hah? Apa?!” sontak Siti merasa dengan Cahyo yang berteriak seolah memanggil.
“Ish! Maksudku, sit! Duduk! Miss Wilda lagi jalan ke sini!” Cahyo pun memberi tahu Siti sambil segera berlari ke tempat duduknya.
Cahyo tidak berbohong, Miss Wilda memang masuk ke kelas ini. Dilihat dari kondisi kelas, sebelumnya Miss Wilda sudah masuk, tetapi beliau perlu pergi ke ruang guru untuk keperluan tertentu.
“Hmm, tadi ramai-ramai ngumpul kenapa? Did something just happen?” tanya Miss Wilda sembari menaruh spidol warna-warni di meja yang nantinya untuk menulis di papan tulis.
“Nggak Miss ... hehe, aman dan kondusif kok Miss. Oh ya Miss, saya mau tanya yang kalimat itu kok bisa pakai past continuous?” tanya Chelsea sambil menunjuk papan tulis dengan jari ibu, bukan jari telunjuk.
Miss Wilda tersenyum senang dan seolah-olah berkata, Akhirnya ada yang menanyakan itu! Pertanyaan yang bagus! Meski terik matahari sudah di atas kepala, Miss Wilda bersemangat menulis di papan tulis menggunakan spidol warna-warni yang baru saja beliau ambil dari ruang guru. Memang melelahkan jika seorang guru ketinggalan sesuatu di ruang guru, apalagi kelas XI-11 ini ada di lantai 3. Tentu saja ini adalah pilihannya, bukan sekadar kewajiban yang semata-mata hanya untuk dianggap layak oleh murid.
***
“Tadi Miss Wilda sempat bilang suka hadiah yang bisa dipakai bersama-sama ‘kan? Aku sepertinya tahu deh hadiah yang cocok buat Miss Wilda.” ucap Siti sambil berkemas-kemas untuk pulang.
Chelsea sang bendahara sudah berdiri di samping pintu kelas, “Oke. Awas kalau Miss Wilda ternyata nggak suka! ”
“Aman!” jawab Siti penuh percaya diri. Ia pun tersenyum bangga.
‘Memang misterius banget Miss Wilda mau sesuatu yang bisa dipakai bersama-sama. Argh! Aku perlu banyak petunjuk! Namun ada satu benda yang terlintas di pikiranku. Semoga benda yang aku pikirkan merupakan benda yang diharapkan Miss Wilda!
***
Kemarin suasana kelas ini dipenuhi nuansa seragam batik. Kini suasananya berganti menjadi warna cokelat tua dan cokelat susu. Bahkan, suasana hari ini juga semanis cokelat susu. Namun, kemarin atau hari ini, kelas XI-11 bertemu Bahasa Inggris Tingkat Lanjut kembali. Sebelum pembelajara dimulai, semua anak berkumpul mengerubungi Siti.
“Mana Sit hadiahnya? Kalau Miss Wilda nggak suka, nggak akan aku ganti pakai uang kas lho,” ancam Chelsea yang tidak percaya pada hadiah yang disiapkan Siti.
“Duduk, duduk!” teriak Cahyo dari pintu. Kali ini ia tidak menggunakan Bahasa Inggris karena takut disangka memanggil Siti kembali.
Gruduk-gruduk. Semua anak segera duduk kembali sebelum Miss Wilda masuk. Meski Miss Wilda bukan guru yang ditakuti, semua siswa XI-11 ingin menghormati wali kelas mereka. Mereka sadar entah guru mereka galak atau santai, siapa pun yang mengajar mereka tetap menghormati dan menghargai guru. Tentu mereka bisa seperti ini karena Miss Wilda sering menanamkan pesan-pesan moral dalam tugas yang diberikan. Contohnya, Miss Wilda akan memilih cerpen yang menjunjung tinggi nilai moral saat memberi tugas bab cerpen. Pada awalnya mereka tidak sadar tingkah laku mereka menjadi lebih baik karena potongan-potongan nilai moral yang diberikan oleh Miss Wilda. Namun, semakin mereka bertumbuh dewasa, mereka bisa memahami bahwa Miss Wilda adalah guru yang sangat peduli.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!!!” seru anak-anak dengan kompak. Hari ini suasananya agak berbeda, anak-anak tampak lebih bersemangat. Miss Wilda pun keheranan dengan keantuasiasan mereka.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Good morning students. How are you today?” tanya Miss Wilda dengan senyum sederhana yang ikhlas.
Semua pun menjawab bahwa kabar mereka baik-baik saja. Miss Wilda merasa lebih bersemangat hari ini. Bagaimana tidak? Hari ini murid-muridnya lebih ceria, Miss Wilda merasa kehadirannya dinantikan oleh mereka. Tanpa perlu diperintah, Cahyo menyalakan proyektor kelas ketika Miss Wilda mengeluarkan laptop dan menancapkan konektor. Setiap hari Miss Wilda berterima kasih pada Cahyo yang peka dan peduli. Miss Wilda pun tampak mencari sesuatu di tas hitam yang beliau bawa. Namun setelah dua menit mencari, sepertinya Miss Wilda lalai dan lupa membawa barang yang dicari. Miss Wilda bangkit berdiri dan memberi tahu muridnya bahwa beliau akan kembali segera.
“Miss! Miss Wilda butuh ini? Pakai saja!” tanya Siti sembari berdiri dan mencegah Miss Wilda keluar. Rupanya daritadi Siti memperhatikan gerak-gerik Miss Wilda.
Miss Wilda memandang benda yang ada di tangan Siti. Miss Wilda pun tersenyum, selama beberapa detik menatap haru mata Siti. Teman-teman mulai penasaran dengan benda yang dibawa Siti. Tanpa kata yang terucap, Miss Wilda langsung memeluk Siti. Tergeraklah hati teman-teman Siti, mereka juga ikut berpelukan bersama-sama. Usai berpelukan, Miss Wilda menerima hadiah dari Siti yang mewakilkan hadiah dari semua anak XI-11.
“Terima kasih anak-anakku. Mari kita mulai pembelajaran pakai spidol warna-warninya ya.” ucap Miss Wilda.
Ya, hadiah sederhana yang diharapkan Miss Wilda: spidol warna-warni. Siti sadar Miss Wilda kerap kali lupa membawa spidol warna-warni yang ada di laci ruang guru. Siti juga sadar Miss Wilda lebih memilih mengambil spidol sendiri dibandingkan meminta salah satu muridnya untuk mengambil. Siti juga menyadari bahwa spidol warna-warni sangat membantu Miss Wilda untuk menandai suatu kata atau kalimat. Namun, Siti menyadari bahwa Miss Wilda bisa saja memilih menggunakan spidol hitam, tetapi Miss Wilda selalu memakai spidol warna-warni untuk memudahkan murid-muridnya belajar. Selamat Hari Guru, Miss Wilda. ***
Nismara, artinya penuh ketenangan. Nismara juga merupakan nama sebuah "dunia" di mana penghuninya adalah manusia yang sudah meninggal dan dipilih oleh pemimpin Nismara, yaitu Maheswara. Penuh ketenangan, dari tampaknya saja, karena Nismara sangat indah seperti Taman Firdaus. Nyatanya, rasa sakit dan sengsara bukan hal yang mustahil terjadi di sini.
Menurut Kitab Nismara, ada segelintir manusia yang sebenarnya merupakan titipan dari makhluk dunia lain, Maheswara menyebutnya "Harmaka". Kemudian tugas Maheswara dan para utusannya adalah menjemput jiwa Harmaka tersebut, sebab jiwa mereka tidak bisa bergabung dengan manusia lainnya. Dengan kata lain, setelah meninggal di Bumi, Harmaka akan melanjutkan hidupnya di Nismara. Perlu digarisbawahi Nismara bukanlah surga, Harmaka masih bisa merasakan sakit, perasaan negatif, dan apabila tidak beruntung juga merasakan penderitaan. Ketika mati di Nismara, maka sudah tidak ada kehidupan lagi selanjutnya. Tidak ada surga atau neraka bagi Harmaka.
***
Hari ini tanggal 8 Maret 2023 di Bumi. Nismara sendiri mengikuti kalender yang digunakan di Bumi. Di hari yang menurut Maheswara membosankan ini, utusannya datang ke istana utama Nismara membawa tiga Harmaka yang baru saja meninggal di Bumi.
Ketika melihat tiga Harmaka tersebut, Maheswara tanpa sebab menunjukkan raut wajah penuh keraguan pada salah satu Harmaka tersebut.
"Perhatian, perkenalkan diri kalian, dan beri tahu kemampuan kalian." pelayan Maheswara memberi arahan.
"Saya Wabert Entain, fisikawan. Saya mempunyai kekuatan untuk merasakan pergerakan alam semesta, meski tidak sepenuhnya akurat." Wabert memperkenalkan diri.
Wujud Wabert, menyerupai kakek tanpa kumis atau jenggot, hanya rambut yang semuanya sudah hampir putih. Memakai kacamata dan memakai jas cokelat. Dari bahasanya, ia merupakan orang Jerman. Namun, semua orang dapat memahaminya, karena di Nismara segala bahasa akan dapat dimengerti.
"Saya Myrin Aleison, bukan siapa-siapa, tetapi manusia memanggilku Wanita Berhati Gelap. Saya bisa mendeteksi penderitaan manusia, ketika menemukan manusia yang sangat menderita saya akan membunuhnya. Saya lahir di Ottawa, Kanada." ujarnya, menggunakan Bahasa Inggris.
Myrin, ia mengenakan pakaian serba hitam yang ketat dengan sabuk sarung pisau di pinggangnya. Rambutnya pirang gelap, tanpa aksesoris, tetapi dikepang satu dengan rapi.
Pelayan Maheswara menyela sebelum orang ketiga memperkenalkan diri, "Jadi, kau kasihan dengan manusia yang menderita, kemudian membunuhnya?"
"Ya. Namun aku dihukum karena disangka orang jahat. Aku terpaksa membunuh manusia yang menderita karena aku juga merasakan sakit selama penderitaan itu masih ada." keluh Myrin.
Meski bertubuh manusia, Myrin bukanlah manusia. Ia tidak dapat memahami sudut pandang manusia. Menurutnya, membunuh makhluk yang menderita merupakan pilihan terbaik.
"Baik. Selanjutnya ...," pelayan Maheswara mempersilakan, dengan sedikit tatapan tidak enak yang tampak dari nada bicara dan raut wajah.
"Aku Aryaputra." ucapnya, hanya menyebutkan nama.
Aryaputra, ia hanya anak kecil berbadan kurus, kekurangan gizi, tampak seperti anak berpenyakit. Pakainnya pun baju lusuh dan celana pendek yang kotor. Ia berbahasa Indonesia, dengan suara agak medhok.
"Kemampuanmu?"
Aryaputra bingung, "Kemampuan ...?"
Pelayan Maheswara mulai kesal, "Ya, apa kemampuanmu?"
Aryaputra melirik ke Wabert dan Myrin, sepertinya dia baru paham kemampuan yang dimaksud.
"Aku tidak punya kemampuan seperti mereka." akunya.
Maheswara menatap tajam pelayannya dalam posisi duduk dan diam. Pelayannya mulai takut dan gelisah, ia sangat takut dengan tuannya.
"B-baik, silakan kalian keluar dari ruangan ini. Sudah ada yang akan mengantarkan ke rumah baru kalian." ucap pelayan itu, tergagap karena ketakuta.
Ketika mereka bertiga melangkah keluar dari ruangan, pelayan tersebut berkeringat dingin dan tangannya terkepal kuat. Apalagi ketika mereka bertiga sudah keluar dari ruangan, pelayan itu justru langsung ke hadapan Maheswara dan bersujud sambil menitikkan airmata.
"Tuan! Saya bersumpah ramalan saya tidak akan salah! Anak tersebut memiliki kemampuan, sungguh!" serunya, sambil bersujud dan wajahnya menghadap ke bawah. Kedua tangannya memegang kaki Maheswara.
"Makhluk kurus seperti itu kau katakan punya kemampuan? Bodoh. Jika dia punya kemampuan, seharusnya dia dapat hidup dengan layak! Usir dia, dia hanya akan menjadi beban!" teriak Maheswara, sangat marah.
Maheswara berdiri, melepas paksa kakinya dari cengkeraman pelayannya. Pergi tanpa meninggalkan sepatah kata lagi.
***
Aryaputra sedang duduk di atas rerumputan Bukit Emas Nismara. Bukit ini memiliki rumput dan daun pohon berwarna emas yang konon apabila diseduh dapat menyembuhkan penyakit pencernaan, obat untuk penyakit lain dapat didapatkan dari bukit lain. Aryaputra menikmati pemandangan dari bukit ini sambil mencabut rumput emas dan mengunyahnya langsung.
Seekor ular bersisik emas datang menghampiri Aryaputra. Dari bentuknya, ular tersebut mirip bentuk black mamba, salah satu jenis ular di Bumi.
"Hmm? Sudah berjam-jam kau di sini, wahai Harmaka." katanya, berbicara dalam desisan, tetapi Aryaputra dapat memahaminya.
“Mereka merundungku. Katanya aku bukan Harmaka, melainkan sebuah kesalahan.” keluhnya.
“Ah begitu, aku ingin membantumu. Namun sekarang aku harus pergi, sepertinya ada orang yang sedang ke sini. Aku akan bersembunyi. Jaga dirimu baik-baik.” ucap ular itu tergesa-gesa untuk pergi.
Benar adanya, beberapa detik kemudian Myrin datang dan meminta Aryaputra untuk bangkit berdiri.
“Mbak Myrin? Ada apa?” tanya Aryaputra.
‘Apa itu “mbak”? Lupakan. Aku harus menyampaikan perintah dari Miranda (pelayan Maheswara).’
“Bisakah kau pergi ke gua di lereng bukit sebelah Selatan? Aku sedang mencari batu kapur untuk aku analisis. Namun aku ada urusan sebentar, tapi aku akan segera menyusul ke sana ....” Myrin berusaha berwajah ramah, meski sangat kelihatan ia terpaksa. Ia bukan orang yang akan tersenyum hanya karena meminta tolong.
Aryaputra hanya diam dan mengangguk. Myrin menganggap Aryaputra mau memenuhi permintaannya. Dengan alasan yang sebenarnya kebohongan, Myrin langsung pergi kembali ke istana Nismara.
***
“Jadi, jelaskan kepadaku kenapa kau ingin Aryaputra ke gua di lereng sebelah Selatan?” tanya Myrin, sambil meminum teh di hadapan meja, berseberangan dengan Miranda.
“Sadarilah posisimu, Harmaka. Kau tidak perlu tahu.” jawab Miranda tidak peduli pada Myrin yang penasaran.
“Baiklah, jika tak mau jawab, aku akan menyusul Aryaputra ke sana-”
“Pergilah jika ingin mati.” Miranda menyela Myrin sebelum selesai bicara.
“Di sana ada Naga Legendaris Nismara. Sudah 500 tahun tidak ada yang mampu membangkitkannya. Dia tersegel di dalam gua, dan makanannya adalah tubuh manusia. Tapi, jika dia adalah yang ditakdirkan, jika bisa membangkitkannya, dia layak untuk menjadi pemimpin Nismara. Namun, itu jelas mustahil! Hahaha, mana ada orang yang ditakdirkan kurang gizi seperti itu!” tawa Miranda keras.
“Apakah Maheswara pernah membangkitkannya?” tanya Myrin.
“Tidak. Pendahulu Maheswara yang pernah membangkitkannya. Namun, pendahulunya bunuh diri, dan melakukan ritual reinkarnasi ke Bumi. Entah apa alasannya.” Miranda berhenti sejenak, kemudian menyeruput tehnya.
“Dan katanya pelayan setia dari Pendahulu Maheswara juga ikut menghilang ketika tuannya bereinkarnasi.” lanjut Miranda.
“Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa yang bisa menjadi Raja Nismara hanyalah satu orang?” tanya Myrin, mulai berpikir keras.
“Maksudmu? Sudahlah, jangan asal berteori-”
“AAAAAAAAARHG!!!”
Terdengar teriakan di sekitar sini.
Miranda langsung berdiri, “Itu ... suara Tuan Maheswara!” serunya, kemudian berlari menuju sumber suara.
Myrin pun ikut panik, sebab Sang Pemimpin Nismara berteriak. Tentu jika seorang Raja Nismara berteriak, sesuatu yang besar sedang terjadi.
“Miranda! Air ... air ... air ...!” teriak Maheswara sembari memegangi lehernya yang kemerahan. Ia sudah terjatuh di lantai, berusaha berjalan tetapi menahan panas yang luar biasa.
Miranda panik, “Baik Tuan! Saya akan segera- HOK-!” Miranda ikut kesakitan di bagian leher, sama seperti Maheswara.
Myrin sempat kaget, tetapi dia berusaha untuk tidak panik dan mundur beberapa langkah.
Myrin segera berlari ke balkon terdekat. Ia melihat langit yang berubah menjadi warna merah dipenuhi awan hitam. Myrin melihat ke bawah, anehnya satu per satu semua orang pingsan dan sebagian di antaranya bersimbah darah.
Naga besar terbang di atas istana dengan sesosok bayangan hitam yang menaikinya. Namun yang mengherankan, naga tersebut memiliki corak yang tidak wajar. Naga tersebut memiliki tubuh dengan motif batik udan liris. Suara dari naga itu sangat menggelegar dan mampu menggetarkan lantai yang saat ini Myrin pijak. Namun makhluk hitam tersebut melirik ke arah Myrin, kemudian langsung menyuruh naganya terbang mendekati balkon.
“SIAPA KAU? KENAPA HANYA DIRIMU YANG MASIH SADAR?” kata makhluk itu.
“S-saya ...” Myrin tiba-tiba ketakutan dengan sosok bayangan hitam yang mengajaknya bicara.
“Ampuni saya! Saya bersumpah tidak terlibat hal jahat apa pun di Nismara!” seru Myrin sambil memejamkan matanya, kemudian membuka kelopak matanya kembali.
“SEPERTINYA AKU TAHU SIAPA DIRIMU.” ucap makhluk itu lebih tenang.
Makhluk hitam itu berinisiatif untuk menyentuh dahi Myrin dengan jari telunjuknya. Myrin menutup matanya karena merasa bahwa hal buruk akan terjadi.
Ting!
Sekilas guratan cahaya muncul di dahinya kemudian menghilang. Ketika Myrin menatap mata makhluk hitam itu, kedua kakinya langsung berlutut dan kepal tangan kanannya menyentuh dada kirinya, memberi penghormatan pada makhluk hitam tersebut.
“Maafkan saya, Tuan Aruwara. Sepertinya ingatan saya hilang ketika bereinkarnasi ke Bumi. Saya melakukan banyak hal buruk, menyalahgunakan kemampuan saya seperti membunuh.” Myrin, lebih tepatnya, nama aslinya yaitu Roseline, merasa sangat bersalah dengan perbuatan yang di luar kendalinya.
“Jiwa saya sudah tidak suci, saya tidak bisa membantu Tuan Aruwara untuk memurnikan Nismara. Saya pantas mati, Tuan.”
“YA. KAU PANTAS MATI, ROSELINE.”
Roseline menutup matanya, membiarkan kekuatan makhluk tersebut menguasainya. Tanpa perlawanan sedikit pun, ia menerima nasibnya.
“Hamba memang pantas, Tuan.”
***
Roseline membuka kelopak matanya, langsung bangkit untuk duduk dan ia sangat kebingungan. Bukankah seharusnya dia sudah mati? Mengapa saat ini Roseline terbaring di sebuah kasur di istana?
Roseline menengok ke kirinya, di sampingnya ada bocah kurus krempeng, alias Aryaputra yang sedang membaca buku. Lantas Roseline langsung berusaha untuk turun dari ranjang dan ingin memberi penghormatan.
“Berhenti, tidak usah.” ucap Aryaputra, masih dengan sebuah buku di tangannya. Pandangan matanya sama sekali tidak lepas dari buku.
Roseline sadar bahwa yang ada di dalam wujud Aryaputra adalah tuannya, Aruwara, yang 500 tahun yang lalu ia sembah.
“Apakah ... Tuan mencoba melakukan pemurnian?” tanya Roseline.
“Ya. Apalagi?”
“Aku pikir, aku akan dimusnahkan.” Roseline merasa sangat lega.
Aryaputra, lebih tepatnya Aruwara, terdiam dan kurang peduli dengan pertanyaan Roseline. Namun, bagaimanapun, Aruwara tidak marah akan Roseline yang melakukan kejahatan di Bumi. Ia paham dalam proses bereinkarnasi ada kemungkinan ingatan tidak langsung muncul.
Roseline melirik pada jendela di sebelah kanannya. Ia bisa melihat orang-orang yang menjalankan aktivitasnya dengan senang dan nyaman. Nismara tampak lebih cerah hari ini, pepohonan dan bunga-bunganya tampak lebih segar dan mewarnai segala tempat.
“Syukurlah, pemurniannya berhasil.”
Flashback
6 tahun yang lalu.
Rozelle, gadis berusia 12 tahun yang tinggal di sebuah rumah tua yang kecil bersama kakak laki-lakinya, Lazuard. Orang tuanya telah meninggal setahun yang lalu. Namun Rozelle merasa cukup walau hanya tinggal bersama kakaknya yang selalu baik kepadanya.
Dari fisik luarnya, memang tidak ada kekurangan apa pun dari Rozelle. Namun, begitu mencoba menyapanya, dia hanya tersenyum dan menunjukkan bahasa isyarat. Rozelle bisu sejak lahir. Padahal Rozelle merupakan gadis yang ramah, jika dia tidak bisu, Rozelle pasti ingin mengatakan banyak hal-hal menyenangkan bersama kakaknya. Sayang, keterbatasan Rozelle ini tidak bisa diapa-apakan lagi.
Kakaknya bekerja kepada orang lain sebagai tukang kayu setiap siang sampai menjelang fajar. Ketika bosan sendirian di rumah, Rozelle kerap kali pergi ke taman yang sepi dan duduk di bangku kayu di bawah rindangnya pohon beringin. Di sana Rozelle mengisi waktunya dengan menulis puisi di secarik kertas setiap harinya.
Pernah sekali Rozelle meninggalkan secarik kertas di bangku dan menaruh batu kecil di atasnya sebelum Rozelle pulang. Isinya hanyalah tinta yang bertulisan puisi mengenai keunikan bunga mawar hitam. Di situ Rozelle juga menuliskan, bahwa dia ingin melihat dan menyentuh bunga mawar hitam setiap harinya. Siapa sangka ada yang mengambil secarik tersebut, meski Rozelle sendiri tidak tahu siapa yang mengambilnya. Namun sehari setelahnya, tidak ada balasan apa pun. Kertas itu sudah hilang, entah diambil oleh siapa, Rozelle tidak pernah tahu.
Setengah tahun kemudian, seseorang menaruh setangkai bunga mawar hitam di bangku taman. Rozelle meraihnya dengan hati-hati, barangkali dia akan mengenai durinya. Rozelle menatap bunga mawar hitam itu sejenak, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapa-siapa. Hanya ada suara desir angin dan ranting-ranting yang bergoyang.
Rozelle penasaran dengan seseorang yang menaruh setangkai bunga mawar hitam di bangku taman yang biasa Rozelle duduki. Namun rasa senang Rozelle sepuluh kali lipat lebih besar dibandingkan rasa penasarannya itu. Tanpa disadari Rozelle tersenyum ketika memandang kelopak mawar hitam yang ada di tangannya itu. Rozelle merasa sangat bersyukur, ada orang selain kakaknya yang mau menyenangkan hatinya.
Bahkan sampai beberapa bulan ke depan, orang itu masih meletakkan setangkai mawar hitam di bangku taman setiap harinya. Entah sampai kapan orang misterius ini akan menyerahkan bunga mawar hitam kepada Rozelle. Sementara Rozelle hanya bisa meninggalkan catatan bertuliskan “Terima kasih.” di atas bangkunya ketika meninggalkan taman.
Flashback Off
***
Sekarang Rozelle sudah menjadi gadis dewasa yang cantik dan dikagumi beberapa orang desa. Walau dia memiliki keterbatasan, tetapi tidak semua orang tidak betah dengannya. Semua berjalan lancar, juga termasuk dengan bunga mawar hitam yang entah dari mana dan bagaimana bisa mendarat di bangku taman favoritnya.
Rozelle kembali ke bangku taman sendirian seraya menunggu kakaknya selesai bekerja. Rozelle terkejut, di sana ada seorang laki-laki yang seusia dengan kakaknya, yang berarti Rozelle menduga usianya 22 tahun. Rozelle diam cukup lama, hingga akhirnya laki-laki itu menyadari keberadaan Rozelle.
Angin berembus, dengan beberapa dedaunan kering yang gugur dan mendarat ke tanah. Angin mengibaskan rambut Rozelle yang tidak dikucir itu. Entah mengapa sekarang kecantikan dan keanggunan Rozelle jadi bertambah. Mata Rozelle berkaca-kaca, dia menduga bahwa laki-laki itu yang selama ini menghadiahkan bunga mawar hitam dengan cuma-cuma.
Nama laki-laki itu adalah Austin. Mata Rozelle dan Austin bertemu. Mereka saling menatap selama beberapa detik. Tatapan yang dalam dan penuh arti di baliknya. Rozelle menatap Austin dengan hati penuh syukur karena bertemu dengan seseorang yang selama ini memberinya bunga mawar hitam. Sementara Austin menatap Rozelle karena terpana akan kecantikannya yang sederhana.
Rozelle akhirnya mendekati pohon beringin di mana Austin berteduh. Austin bangkit berdiri sampai Rozelle berhenti di hadapannya. Mereka saling bertatap mata kembali. Rozelle tersenyum hangat, sementara Austin tidak paham mengapa Rozelle tiba-tiba tersenyum.
“Kau yang setiap hari memberikanku mawar hitam ini ‘kan?” Tanya Rozelle dengan bahasa isyarat, lalu menunjuk setangkai bunga mawar hitam yang ada di tangan Austin. Rupanya Austin pun paham bahasa isyarat yang ditunjukkan Rozelle.
Austin menatap bunga mawar hitam yang ada di tangannya. Dia menatap bunga itu dengan heran, menatap Rozelle kembali dan akhirnya menatap lagi bunga di tangannya. Bola matanya bergerak dari kanan ke kiri bagian bawah memikirkan sesuatu. Austin belum menjawab, dia terlihat ragu-ragu. Akhirnya Austin menghela napas dan menjawab bahwa memang benar dialah yang selama ini memberikan bunga mawar hitam.
“Terima kasih. Aku sangat menyukainya. Aku tidak pernah bosan sedikitpun dengan bunganya.” Rozelle menyampaikan apa yang ingin dia katakan dengan bahasa isyarat. Rozelle tersenyum lembut hingga membuat Austin tidak fokus. Austin yang awalnya ragu, akhirnya tersenyum juga dan mengatakan bahwa dia tidak keberatan. Austin berkata bahwa dia memang terbiasa berbuat baik seperti yang dia lakukan kepada Rozelle.
“Kukira kau tidak akan pernah menunjukkan dirimu. Jadi aku terkejut karena menduga kebalikannya. Tenang saja. Aku tidak akan marah karena kau menyembunyikan identitasmu sebelumnya. Kalau begitu, karena kita sudah bertemu, bisa ‘kah kita menjadi teman?” Tanya Rozelle kembali dengan menggerakkan kedua tangan dan jemari-jemarinya. Austin paham, dia menyetujuinya. Mereka berkenalan dan saling mengena; satu sama lain. Terlihat bahwa mereka berdua bisa saling menyambung dari cara Rozelle dan Austin berbincang.
Akhirnya mereka pun berteman. Rozelle sama sekali tidak ragu untuk berteman dengan Austin. Bunga mawar hitam yang selama ini telah Austin berikan, Rozelle pun masih merasa berhutang banyak meski sudah menunjukan rasa terima kasih dengan berteman dengan Austin.
***
Setahun berlalu, Rozelle dan Austin semakin dekat. Mereka bukan lagi teman, atau bahkan sahabat, lebih istimewa dari keduanya. Mereka sekarang merupakan sepasang kekasih, yang sangat harmonis dan membahagiakan. Selain kakaknya, hanya Austin seorang yang sangat Rozelle sayangi. Pertama kali Rozelle bisa bersama orang lain yang menerima kekurangannya itu.
Kedekatan Rozelle dan Austin tentu tidak bisa disembunyikan. Lazuard mengetahui hubungan antara Rozelle dan Austin, tetapi dia menerimanya dan tidak menolak hubungan mereka. Rozelle memberi tahu bahwa Lazuard yang selama ini memberinya bunga mawar hitam, Lazuard percaya dengan pernyataan Rozelle.
Terkadang Lazuard dan Austin berbicara empat mata, entah apa yang mereka bicarakan, Rozelle tidak pernah tahu. Namun Rozelle percaya tidak ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakak dan kekasihnya. Mereka menjalani hari-hari dengan damai, hidup Rozelle menjadi lebih berwarna sejak adanya kehadiran Austin di antara mereka.
***
Semua baik-baik saja, hingga Rozelle mengetahui sebuah fakta dari pembicaraan Lazuard dan Austin. Rozelle tidak sengaja menguping pembicaraan kekasih dan kakaknya. Rozelle mulai penasaran dan ingin tahu apakah ada sesuatu yang selama ini disembunyikan darinya. Menguping memang bukanlah hal lumrah yang dilakukan Rozelle, tetapi kali ini dia merasa harus mengetahui sesuatu.
Lazuard ternyata sudah mengenal Austin sejak lama. Lalu, dari apa yang Rozelle dengar, rupanya Lazuard meminta Austin untuk mengaku sebagai orang misterius yang selama ini memberinya bunga mawar hitam. Padahal selama ini Lazuard-lah yang setiap harinya menaruh setangkai bunga di bangku taman. Rozelle juga mendengar bahwa usia kakaknya tidak lama lagi, Lazuard mengidap TBC. Lazuard yakin bahwa dalam waktu dekat keadaannya akan memburuk, jadi dia merencanakan semua ini karena khawatir Rozelle akan mengalami kesendirian setelah kakak satu-satunya pergi.
Rozelle tidak pernah menyangka, Lazuard dan Austin membohonginya. Mereka menyembunyikan itu semua dengan baik selama ini. Namun Rozelle mulai berprasangka buruk terhadap perasaan Austin, karena Austin melakukan semuanya atas permintaan kakaknya. Rozelle merasa yakin bahwa perasaan cinta dari Austin itu palsu, Rozelle menganggap Austin berpura-pura mencintainya hanya demi memenuhi keinginan Lazuard.
Tidak masalah dengan apa yang sudah disembunyikan dari Rozelle, hanya saja, Rozelle bertanya-tanya, kenapa harus berbohong? Apakah kakaknya berpikir bahwa hanya itu satu-satunya cara supaya ada yang menemani Rozelle? Apakah cinta bisa dilanjutkan jika hanya satu pihak yang mencintai? Meski Rozelle sudah tahu semua itu, dia tetap diam dan memendamnya dengan hati penuh kekecewaan.
***
Hingga tiba ketika keadaan kakaknya mulai memburuk dan Rozelle mengetahuinya, tidak ada yang bisa disembunyikan lagi. Pada saat itu belum ada pengobatan untuk memulihkan penyakit yang diderita kakaknya. Lalu, dalam hitungan hari, Lazuard telah pergi untuk selamanya.
Rozelle terpuruk dalam kesedihan atas kepergian kakaknya. Kesedihan itu tidak juga lenyap dari hatinya, sampai merambat ke pikirannya hingga mengubah kepribadiannya. Gadis yang selalu ramah, kini bahkan tidak pernah menunjukkan senyumnya lagi. Rozelle kini selalu ingin sendirian, tidak ingin berbicara dengan siapa pun.
Austin berusaha menenangkan Rozelle, tetapi kedatangannya ditolak. Rozelle melampiaskan kesedihannya itu kepada Austin. Rozelle memutuskan hubungannya dengan Austin secara sepihak. Rozelle yakin bahwa sampai saat ini pun, cinta Austin adalah palsu. Lalu di pertemuan terakhir mereka, Austin juga melampiaskan kekesalannya kepada Rozelle yang menganggap cintanya palsu. Austin murka dan berteriak kepada Rozelle:
“Ya! Aku selama ini memang tidak pernah mencintaimu sedikitpun!”
Austin pergi meninggalkan Rozelle, menyerah mempertahankan hubungan mereka.
***
Beberapa hari kemudian, tak pernah disangka-sangka, Austin bunuh diri. Rozelle yang masih dalam keterpurukan itu tersentak, pergi ke rumah Austin segera. Rozelle melihat jasad Austin yang sudah diturunkan dari tali gantung. Austin meninggalkan catatan kecil di mejanya untuk Rozelle, catatan itu bertuliskan:
Sejujurnya aku memang mencintaimu. Aku merasa kosong tanpamu di sampingku. Maaf, aku telah berbohong kepadamu.
Satu kebohongan lagi untuk Rozelle.
Rozelle menyesal pada tempo hari menolak Austin dengan egoisnya. Sekarang Rozelle sendirian, dua orang yang dia sayangi telah pergi selamanya. Tidak ada yang memberinya bunga lagi, tidak ada yang merapikan rambutnya ketika angin berembus, tidak ada alasan lagi untuk Rozelle tetap tersenyum.
Sepi,
Sunyi,
Hampa.
Rozelle memutuskan untuk pergi, menyusul Lazuard dan Austin.
Namaku Ardetta. Aku masih kelas 4 SD. Aku tidak berani bersosialisasi dan akhirnya lebih memilih untuk menyendiri saja. Aku sering dianggap aneh, tapi aku sudah terbiasa dengan komentar itu. Aku tidak punya teman mengobrol di kelas, tidak masalah, aku punya Arnetta di rumah.
Arnetta adalah kembaranku, sifatnya berkebalikan denganku. Dia periang dan banyak teman. Aku terkadang iri, tapi aku berusaha menghilangkan rasa iri itu, sebab dia adalah saudariku. Dia cantik dan imut, rambutnya selalu dikepang dua dengan pita pink. Tebak siapa yang menata rambutnya? Tentu saja aku, Tiap berangkat sekolah aku mengikat rambut Arnetta. Ibu sudah tiada ketika melahirkan kami, jadi kami harus lebih mandiri supaya tidak merepotkan Ayah.
Akhir-akhir ini Arnetta sering mengajak dua temannya, yaitu Reva dan Asif untuk bermain dan mengerjakan PR bersama di rumah. Aku yang pemalu dan canggung tidak berani menimbrung bersama mereka. Aku terkadang hanya mengintip dan melihat mereka tertawa. Ketika Arnetta melihatku dan mengajakku, aku langsung kabur dan bersembunyi. Jika mereka mulai mengobrol lagi, aku datang dan memperhatikan mereka kembali.
Dari apa yang kuperhatikan, Reva orangnya periang, sama seperti Arnetta, hanya saja Reva lebih jahil dan aktif. Sedangkan Asif anaknya tenang dan banyak diam, tetapi dia santai ketika mengobrol dengan Arnetta dan Reva. Asif jarang sekali tersenyum di sekolah, tetapi dia lumayan sering tersenyum ketika bersama Arnetta. Aku tahu karena aku selalu memperhatikan Asif di sekolah atau pun ketika dia di rumah kami.
Aku mengagumi Asif, dia juara kelas dan sering diikutkan dalam banyak lomba. Seandainya aku bisa mengobrol dengan mudah, aku pasti akan mendekatinya dan bertanya-tanya bagaimana cara dia belajar. Sayangnya itu hanya mimpi. Kenyataannya, aku hanya mengamatinya dari jauh dan tidak pernah mengobrol dengan Asif.
Aku menjalani kesendirian seperti biasa. Mengamati mereka bertiga dari jauh, mengagumi dari jauh, melihat mereka tertawa bersama. Aku tidak apa-apa, aku juga tidak berharap lebih. Aku memang payah dalam berteman, aku juga tidak mau mempermalukan Arnetta di depan temannya. Namun terkadang aku berandai-andai bahwa aku bisa masuk ke dalam lingkaran pertemanan itu, pasti sangat menyenangkan.
Beberapa hari kemudian, saat Ayah sedang menjemput Arnetta, sebuah truk dari arah berlawanan oleng dan menabrak mobil. Ketika ada tetangga yang memberitahuku, aku sebenarnya tidak mau percaya. Pamanku membawaku ke rumah sakit. Aku sekilas melihat Arnetta dan Ayah yang tak sadarkan diri sedang dibawa ke IGD, tetapi pada saat itu pamanku menutup mataku karena mereka berdua bersimbah darah.
Beberapa jam kemudian, dokter mengatakan bahwa Ayah kehilangan kedua kakinya, dan … Arnetta … tidak bisa diselamatkan. Aku tidak bisa berpikir jenih pada saat itu, aku hanya menangis sejadi-jadinya di depan IGD.
***
Sudah tiga bulan aku jalani keseharianku tanpa Arnetta. Bukannya bisa mengikhlaskan, tetapi hatiku justru semakin tidak mau menerima kenyataan bahwa Arnetta telah pergi. Aku sekarang tinggal dengan Ayahku di kediaman paman, sebab Ayah sudah tidak lagi bisa bekerja dengan kondisinya yang sekarang. Aku juga tidak bisa mengurus Ayah ketika sedang bersekolah.
Aku berangkat sekolah lebih awal. Ketika aku masuk kelas baru tiga anak yang masuk, yaitu aku beserta Asif dan Reva yang sedang mengobrol. Aku selama ini tidak berani menyapa mereka. Namun aku akhir-akhir ini tersadar bahwa aku harus bisa berteman.
“Em …, h-ha … hari ini … enggak ada PR, ‘kan?” tanyaku tergagap-gagap.
Ah! Aku ini memalukan! Kenapa aku sangat tegang?
“Bentar aku inget-inget ... kayaknya enggak ada deh!” jawab Reva antusias. Sama antusiasnya seperti dulu.
“O-oh, oke.” kataku mengerti. Aku melirik ke arah Asif, tetapi dia menatapku dengan benci. Kenapa? Apakah aku baru saja mengatakan sesuatu yang salah? Aku jadi takut menatapnya lagi dan segera duduk di kursiku.
***
Bel pulang telah berbunyi, semua anak di kelasku sudah keluar kelas. Hari ini adalah jadwal piketku dan Asif, hanya ada kami berdua di kelas. Aku mengambil dua sapu, sekalian ingin mengambilkan sapu untuk Asif. Namun begitu aku menyodorkan sapu, Asif menepis tanganku.
“Ho, setelah Arnetta enggak ada, baru berani mulai ngobrol. Pasti kamu anggap Arnetta sebagai sainganmu ya? Yah, mungkin kamu senang dia udah enggak ada. Iya ‘kan?” kata Asif dengan nada mengintimidasi. Tatapannya juga tidak kalah menakutkan.
Aku sempat syok dan mematung di tempat. Mengapa Asif mengatakan hal sejahat itu terhadapku? Kenapa dia bisa berpikiran begitu? Aku ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi rasanya pita suaraku seakan tercekat dan aku hanya membuka mulut sebentar tanpa bersuara. Aku tidak bisa mengatakan apa pun karena masih kaget Asif berpikiran begitu terhadapku.
“Aku mana mau piket bareng sama orang yang begitu." Asif menatapku dengan jijik. Dia pergi membawa tasnya dan keluar kelas begitu saja. Aku yang masih sakit hati pun sendirian menyapu kelas. Dalam hati aku terus bertanya-tanya apakah aku memang terlihat sejahat itu. Begitu sampai rumah, aku langsung mengunci diri di kamar.
Setelah kejadian itu aku tidak berani mengobrol atau mendekati Asif lagi. Namun aku masih mencoba untuk berbaur dengan teman-temanku yang lain.
***
5 tahun kemudian.
Kini aku sudah kelas 1 SMA. Aku menjalani hari-hariku di SMA dengan lebih baik dibandingkan di SD dan SMP. Hari ini aku berangkat sekolah. Seperti biasa, aku berangkat lebih awal. Aku sudah mulai mempunyai teman dan aku juga punya satu sahabat, walau hanyalah sahabat pena yang aku kenal secara anonim di Instagram.
Sahabat online-ku ini tidak pernah menyebut identitas dirinya. Dia hanya memberitahuku nama samarannya, yaitu Reno. Reno juga tidak tahu nama asliku, aku menggunakan nama samaran Rainy. Selama ini aku mengobrol dan curhat dengannya. Semalam aku menceritakan kejadian ketika aku SD kepadanya, aku juga mengatakan bahwa ada kesalahpahaman yang tidak bisa aku atasi pada saat itu. Namun dia hanya membaca pesanku tanpa membalas.
Tiba-tiba Asif masuk ke kelas. Kami memang satu SMA, tetapi kelas kami berbeda. Kenapa dia masuk ke mari? Apakah dia ada keperluan dengan teman kelasku? Namun saat ini hanya ada aku di kelas …. Eh? Asif melangkah ke arahku! Aku bingung dan sedikit tegang, tetapi tubuhku langsung refleks berdiri.
“Dett, gue mau minta maaf. Gue tahu apa yang gue bilang ke lu itu udah keterlaluan banget.” kata Asif dengan wajah bersalah. Ketika aku menatapnya, dia tampak serius.
Aku sempat mematung di tempat. Aku terkejut Asif meminta maaf atas kejadian 5 tahun yang lalu. Aku bingung, tidak tahu harus berkata apa. Namun sejujurnya aku merasa lega Asif tidak berpikir buruk lagi tentangku terhadap Arnetta. Aku menunduk sebentar, memikirkan bagaimana aku harus meresponsnya. Lalu aku tidak sengaja melihat nama yang terbordir di seragamnya. Astaga, aku teringat nama lengkap Asif!
Asif Evane Reno.
Aku baru menyadarinya. Sekarang aku sudah tahu.
“Iya, kumaafin kok.”
###
"Saya ndak pernah takut jatuh miskin, Mas. Yang membuat saya gundah adalah hilangnya esensi dalam diri sebagai seorang penulis."
***
Menelan kata demi kata, diksi demi diksi, itu bukan perkara mudah. Percayalah, kau harus pintar merangkainya supaya indah dipahami, tak hanya menarik 'tuk di pandang saja. Katakan saja ini adalah sebuah ilmu kesastraan yang perlu perenungan 'tuk hasilkan karya yang mengukir nama dalam hati penggemar. Karya yang kaya akan emosi kuat dan makna, bukan sebatas pamer pembendaharaan kata saja. Seorang penulis yang jemarinya selalu memeluk pena paham betul mana yang bermakna dan mana yang pajangan sahaja.
Seusai sekian menit perenungan, aku membuka komputer jadul aku yang suara dan getarannya mampu menjelaskan bahwa usianya kira-kira sama dengan aku. Bukan pengoleksi benda antik, tapi aku sengaja ingin nostalgia tiap kali menyalakan kompuer ini. Dengan itu aku mampu memutar rekapan dalam pikiran, ketika aku yang masih kecil memandang almarhum Ayahanda merangkai bait-bait bersama secangkir kopi. Namun aku ikut menjadi seperti beliau bukan karena "buah yang jatuh hendaknya jatuh tidak jauh dari pohonnya". Melainkan karena aku telah mengalami kesaksian dalam hidup yang membuktikan bahwa menulis bukan sekadar menghibur pembaca, tapi lebih tepatnya membuat sang penulis itu sendiri mencapai kondisi "aku memaknai segala hal".
Aku tak pernah sekali pun merasa gelisah apabila penjualan buku menurun. Aku percaya ada masanya sebuah karya akan diabaikan, adakalanya akan populer. Itu sudah terbukti, karya aku yang pernah disamakan dengan bualan khayalan anak kecil akhirnya menjadi perbincangan hangat. Aku seorang penulis, aku merasa butuh diakui sebagai seorang penulis. Aku bukan haus pengakuan, dan lagipula, aku pun melakukan aksi nyata: menulis dan berkarya.
Sedikit mengenai keluh kesah aku. Sekarang sebaiknya aku melanjutkan pekerjaan rutin aku, menuliskan imajinasi yang terbentuk dari pengalaman aku selama ini. Ciri khas novel yang aku hasilkan adalah banyaknya kiasan klasik yang membosankan untuk dibaca. Benar, dibaca tanpa dipahami, akan menghasilkan rasa jenuh. Hanya segelintir yang menyadari bahwa kiasan aku lekat dengan kehidupan.
Tok, tok.
Tok, tok.
Tok, tok.
Ketukan tenang dan sopan dapat didengar berasal dari pintu utama. Dari jumlah dan tenaga yang dikerahkan untuk mengetuk pintu, sepertinya aku dapat menebak siapa yang datang. Ia seharusnya seorang pria dengan tubuh yang bugar karena mampu mengetuk pintu hingga menghasilkan suara sekeras demikian. Kemudian jumlah ketukan sebanyak tiga kali dua.
Melangkah tak jauh dari kamar, kemudian aku membuka pintu kayu yang masih baru ini.
"Yo." katanya dengan suara besar yang dalam.
Ia adalah editor setia, aku sendiri sudah menganggapnya sebagai kakak sendiri.
"Sedang menulis novel jadul lagi? Haha!" kekehnya, aku tahu ia hanya bercanda.
Aku mempersilakannya masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Ada tiga kaleng biskuit yang berbeda-beda mereknya. Namun sebentar lagi biskuit-biskuit tersebut tak akan diproduksi lagi, ketiga pabrik biskuit tersebut dikabarkan akan gulung tikar.
"Biskuitnya juga masih jadul. Kamu ndak bisa move on tah, Dek?" ujarnya, aku hanya tersenyum.
"Mas Johan, bagaimana rapatnya?" tanyaku sembari membuka tutup semua kaleng biskuit yang ada.
"Ya, dari tahun 2034 sampai sekarang kebanyakan penerbit memilih untuk menerbitkan novel dari bantuan kecerdasan buatan ... apa itu namanya? Bahasa Inggris-nya?" tanya Mas Johan, bingung dengan istilah yang tiap hari ia dengar.
"Ckck, artificial intellegence, Mas. Singkatannya AI." kataku, sempat terkekeh karena lucu rasanya ia yang mengataiku jadul justru tidak ingat istilah itu.
"Nah, AI. Sekarang semua penerbit lagi semangat-semangatnya cetak buku yang dihasilkan AI, gambar-gambarnya juga dari AI. Selain lebih cepat, hemat biaya juga dibandingkan mengandalkan penulis nyata." ujarnya, aku pun jadi menunduk.
Tepat di bagian 'dibandingkan mengandalkan penulis nyata', hatiku rasanya seperti diremas kuat-kuat. Rasanya sakit hati aku yang kepala tiga ini harus banting setir dari bidang yang disukai. Aku punya harapan untuk menulis sampai setidaknya usia 60 tahun.
Ah. Aku tidak boleh menangis di hadapan Mas Johan.
"Mas juga kehilangan pekerjaan sebagai ilustrator?" tanyaku, aku tahu ini menyakitkan untuk ditanyakan, tetapi aku hanya mau memastikan saja.
"Iya. Ini juga sambil cari kerjaan baru. Tapi Mas sudah terlanjur betah jadi ilustrator dan editor, apalagi penulisnya kamu yang tulisannya selalu rapi, Mas tinggal edit sedikit saja sudah selesai!" serunya, masih bisa bercanda dan tersenyum lebar. Padahal, ia akan kehilangan pekerjaan yang sangat ia cintai dalam hitungan hari.
"Semoga saja masih ada kesempatan untuk menyelesaikan naskah yang sedang saya tulis dan diterbitkan." ujarku.
Sepekan lalu aku mendengar kabar bahwa penerbit yang menaungi bukuku akan berhenti menerbitkan karya yang dibuat oleh manusia dan digantikan oleh AI. Namun aku bersikeras untuk tetap menulis, meski kemungkinan besar naskahku ditolak. Suasana mencekam, pasrah, dan suram tergambarkan dalam kisah tokoh utama novel yang kutulis. Mustahil aku tak merasakan perasaan negatif apa pun ketika aku tahu betul sebentar lagi akan kehilangan pekerjaan yang aku cintai. Namun, mengapa aku masih menulis? Tentu, karena menulis sudah melekat di batinku.
Mas Johan menghela napas dan duduk tegap, "Dek, aku bukan menyakiti hati kamu. Tapi, sudahlah. Kalau untuk diterbitkan, sebaiknya tidak usah. Kalau untuk pribadi dan hobi, silakan saja."
Aku tersenyum. Tidak ada yang membuatku senang atau terhibur, melainkan wajah berseri ini sudah sepantasnya ditunjukkan kepada tamu. Ya, itu salah satu aturan tak tertulis.
"Yah, itu saja yang mau Mas beri tahu. Oh, juga, jangan lupa besok ke kantor." ucap Mas Johan, sambil menutup semua tutup kaleng yang ada dan meraih kunci mobil yang tadi ia letakkan di meja. Kantor yang dimaksud adalah kantor penerbit yang menaungi bukuku dan mempekerjakan Mas Johan.
"Itu saja? Sampai repot-repot datang." kataku, sebenarnya tidak masalah, aku hanya mencairkan suasana.
"Lho, ya, aku sudah hubungi kamu berkali-kali ndak dijawab, gimana toh? Mumpung luang sekalian main." ucapnya, membuatku jadi teringat sesuatu.
Ah, benar. Saking stresnya, aku mematikan daya ponselku dan tidak memeriksa email. Aku fokus melampiaskan emosi negatifku ke dalam novel yang aku tulis.
Mas Johan berdiri, izin pamit untuk pulang. Aku mempersilakan. Aku menemaninya keluar sampai ia menaiki motornya dan hilang karena jarak. Setelah itu, aku menghela napasku. Rasanya sangat lelah, padahal aku tidak melakukan apa pun, hanya mendengar kabar buruk yang sebelumnya sudah kuketahui.
Aku menutup pintu. Melangkah kembali ke kamarku dan duduk di hadapan komputerku. Aku menatap layar komputer, memandang tulisanku yang nantinya pun tidak akan diterbitkan seperti naskahku yang sebelum-sebelumnya. Aku selalu bertanya-tanya, apakah AI memang berguna untuk membantu manusia? Aku dan Mas Johan, merasa rugi karena AI ini, kami kehilangan pekerjaan kami. Apa benar tulisan dan gambar dari AI memang mampu menggantikan karya penuh makna dari tangan manusia?
***
Tap, tap, tap.
Aku melangkah dengan terburu-buru memasuki lift kantor penerbitku. Selagi menunggu sampai ke lantai 6, aku hanya menatap wajahku dari pantulan dinding lift. Di lantai 3 lift berhenti, ada yang ikut ke lantai 6 bersamaku, namanya Faye. Aku ingat, ia editor yang dulunya dijuluki “Tangan Ajaib Cinta”. Julukan itu ada karena siapa pun penulisnya selagi naskah itu bertema asmara, ketika Faye menangani naskah tersebut, pembaca dapat merasakan hawa yang unik dibanding editor lainnya. Ia sangat berkharisma, tentu saja, sampai bisa memenangkan Mas Johan dan mengalahkanku. Lagipula, pria mana yang memandang wanita kutu buku, kutu pena, kutu kamar, seperti diriku?
“Oh, hai! Kamu lagi happy hari ini?” tanya Faye antusias.
Namun, pertanyaan itu tak perlu dijawab. Bahkan pertanyaan itu tidak pantas ditanyakan ketika seseorang melihat wajah dan mataku yang sendu ini.
“Tentu saja. Akhirnya aku dapat bebas dari pekerjaan bebal seperti menulis ini.” jawabku penuh dengan senyuman penuh makna.
Tepat sekali pintu lift terbuka dan aku langsung keluar. Hari ini aku akan kehilangan pekerjaanku, suasana hatiku untuk melangkah sudah hilang, rasanya lututku sangat lemas. Siapa lagi kalau bukan karena Faye? Aku akan bersabar dengan semua orang, itu pasti, kecuali Faye. Namun memikirkannya juga tidak memperbaiki apa pun. Mungkin, mungkin saja, aku mencoba berpikir positif bahwa Faye tidak bisa membaca suasana, tetapi ini sudah kesekian kalinya. Aku tak akan terang-terangan menyatakan isi hatiku, menganggap bahwa wanita yang merebut pujaan hatiku hanyalah ujian hidup yang setimpal dengan suksesnya diriku menjadi penulis. Mirisnya, kesuksesan itu akan berakhir hari ini.
Aku melihat Mas Johan melambaikan tangan di pojok sana, sedang bersama Kepala Redaksi, Pak Adam. Aku melewati barisan-barisan meja kerja yang dibatasi oleh bilik dari kayu. Semuanya sibuk memandangi layar komputer, tidak ada bedanya dengan diriku di kamar. Namun sepertinya saat ini pekerjaan mereka jauh lebih mudah.
“Sudah lama nggak lihat kamu, Riris.” salam tak langsung dari Pak Adam, ia menyodorkan tangan kanannya untuk aku salami.
“Benar. Kantor ini juga, sudah lama tak mengunjungi, kelihatannya lebih segar dan luas.” jawabku.
Aku bermaksud menanggapi bahwa aku menyadari bahwa pekerja di sini berkurang sehingga aku merasa ruangan ini luas dan udaranya lebih segar. Aku jarang ke sini, biasanya aku selalu mengirim naskah dari rumah, kecuali ada kepentingan lain yang mengharuskan tatap muka. Entah ia paham maksudku atau tidak.
“Mengenai resign …,” Pak Adam berhenti sejenak.
“kamu bisa berhenti mulai hari ini.” lanjutnya.
Aku tidak ingin terlalu menunjukkan raut wajah kecewaku.
“Sebentar lagi novel saya selesai, bisakah Bapak menerima novel terakhir saya—”
“Dek Riris, maaf.” sela Pak Adam.
Ah, tidak bisa, ya? Padahal, aku membuat novel ini khusus untuk perpisahanku dengan penggemar. Haha, aku mengetik sampai begadang jadi sia-sia.
Aku terdiam di tempat, sekilas menatap ubin lantai di tepat di bawahku. Menarik napas udara dingin dari AC, mengepalkan kedua tangan di samping pinggangku. Aku pun mencoba menengadah, tersenyum hangat, meski masih terdiam. Mas Johan tiba-tiba mendekatiku dan akan mendaratkan telapak tangannya di pundakku. Namun, aku menangkis lembut tangannya sebelum menyentuh pundakku.
“Terima kasih atas kesempatan bekerja sama selama 8 tahun ini.” ucapku sembari membungkukkan diri. Padahal aku sudah berusaha tersenyum tadinya, tetapi aku tak bisa berbohong akan perasaanku.
“Saya sedang buru-buru. Mohon maaf, izin undur diri.” kataku, menengadahkan kembali kepalaku sembari tersenyum.
Aku langsung membelakangi Pak Adam, melangkah menuju lift. Pertama kali aku tak sesopan ini. Namun, kurasa baik-baik saja, aku akan pergi dari tempat ini, dan tidak akna kembali lagi, atau berkomunikasi dengan warga kantor ini lagi. Begitu pintu lift terbuka aku langsung memasukinya.
Rasanya begitu lama menunggu lift ini turun dari lantai 6 ke lantai 1 ketika suasana hatiku tidak baik-baik saja. Aku merasa lega ketika pintu lift ini sudah terbuka di lantai 1. Hanya saja, ketika aku melihat Faye yang sedang mengobrol bersama temannya di sana, aku mendadak ingin menutup paksa pintu lift ini. Ia ini apa? Mendadak sudah di lantai 1. Aku segera melangkah dengan cepat ke pintu keluar, berharap Faye tidak menyadariku.
“Eh! Riris! Tunggu!” aku mendengar suara cemprengnya sangat jelas. Aku mempercepat langkah kakiku.
Hap.
“Jangan kabur dong! Aku mau lihatin sesuatu,” katanya, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Aku sibuk.” jawabku ketus.
“Sebentar saja kok! Janji!” Faye semakin kuat menggenggam tanganku.
Aku harap ini bukan musibah. Aku tidak akan berteriak dan menarik paksaku. Aku menuruti Faye. Ia menarik tanganku menuju temannya yang sedang bekerja di komputernya. Aku pun terpaksa mengikutinya, kuharap ini adalah terakhir kalinya aku berinteraksi dengan Faye.
“Riris, AI ini keren, loh. Bisa bikin cerpen atau puisi dengan gaya bahasa dari naskah yang sudah ada. Bahkan, bisa mirip banget sama karanganmu, loh!” seru Faye memintaku melihat layar komputer.
Tunggu … apa maksudnya … ini …?
“Faizah, coba dong bikin cerpen pakai gaya bahasanya Riris!” seru Faye, merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.
Hei … kau sudah gila, Faye? Kau akan menunjukkannya …?
“T—tapi, Mbak Faye ….” lirih temannya, dengan wajah cemas, ketakutan, dan merasa tidak enak.
“Ayo, coba aja!” seru Faye sekali lagi.
Wanita gila, batinku. Ia mau memperlakukanku seperti apa lagi?
Faizah dengan grogi mengetikkan perintah pada AI tersebut. Belum ada dua menit, aku bisa melihat tulisan yang dihasilkan. Benar-benar mirip, sangat persis, dengan gaya bahasaku.
Aku sudah muak, aku tak akan melupakan kejadian hari ini. Aku langsung pergi, secepatnya meninggalkan tempat ini. Faye sempat menggenggam tanganku, tapi aku menangkisnya dengan kasar.
“BIARKAN AKU PERGI!” teriakku, menarik perhatian semua orang.
Lantas aku langsung berlari, melewati pintu kaca otomatis ini dan lari tanpa tujuan menembus hujan deras.
Aku emosional hari ini, sungguh. Aku bukan seperti Riris yang biasanya. Aku kehilangan jati diriku, aku merasa bahwa keberadaanku telah diganti oleh AI. Namun, lebih terkejutnya lagi, aku menyadari bahwa ada AI yang mampu menciptakan tulisan dengan gaya yang sama sepertiku.
Hei … bukankah itu artinya, aku tak lagi dibutuhkan? Bahkan, mereka yang mencintai rangkaian kataku, bisa menikmatinya melalui AI dengan harga yang sangat terjangkau? Konyol, kehilangan pekerjaan dan jati diri lebih menyakitkan dibandingkan kehilangan Mas Johan. Bukankah lucu, AI yang berniat membantu manusia, justru membuat manusia kehilangan pekerjaannya?
Aku sudah membenci AI semenjak aku masih pelajar. Ketika tugas karya tulisku selalu kalah dengan yang menggunakan AI. Bahkan, sampai aku sudah kepala tiga, AI ini membawa bencana bagiku. Dunia ini sudah rusak, bukan?
Jadi, katakan padaku, apa yang harus aku kerjakan hari ini?
***
Deandra Melya Intan, anak SMA yang baru saja beranjak dari kelas XI ke kelas XII. Wajahnya cantik dan bisa dikatakan imut. Matanya yang indah, bibir merah muda yang membuatnya lebih manis, kulitnya yang putih dan lembut, hidung yang tidak pesek maupun mancung, rambut panjang lurusnya yang selalu terurai, bentuk tubuh sempurna, dan suara yang lembut membuatnya menjadi ‘istri idaman’ pria manapun. Tetapi, sungguh disayangkan, Deandra yang begitu menyukai novel bergenre horror dan pembunuhan itu, membuat gelar ‘istri idaman’ miliknya terbuang sia-sia.
Deandra tidak pernah tersenyum, tatapan tajam yang menakutkan, wajah tanpa ekspresi yang tampak suram, ditambah lagi tanpa Deandra sendiri sadari, ucapannya sering kali menyindir orang lain. Mungkin karena Deandra menyukai novel yang mengandung unsur pembunuhan, sikapnya menjadi terbawa isi novel pembunuhan yang Deandra baca. Banyak orang yang pernah bertemu dengan Deandra pasti menyimpulkan bahwa Deandra tidak mempunyai teman, bahkan menurut mereka satupun tidak ada. Namun, jangan salah, justru dia mempunyai banyak teman. Teman sungguhan maupun ‘teman palsu’ bagi Deandra tidak ada bedanya, yang penting berteman kan? Itu yang Deandra pikirkan.
Suatu saat, ketika jam kosong, teman-teman perempuan Deandra merencanakan sesuatu yang tidak diketahui dan bahkan tidak ingin Deandra ketahui. Teman Deandra itu beramai-ramai datang kepada Deandra yang sedang duduk manis dibangkunya dengan mata yang masih teralihkan pada sebuah buku yang dibacanya daritadi. Teman-temannya memanggil nama kompak serempak. Tanpa berpaling memandang wajah teman-temannya yang mencurigakan, Deandra hanya berdehem untuk menandakan bahwa dia mendengar panggilan dari teman-temannya. Teman-teman Deandra memberi Deandra sebuah tantangan. Deandra tidak menanggapinya, ia berpikir bahwa itu bukan hal yang perlu dilakukan.
Teman Deandra tetap berusaha tanpa menyerah untuk membujuk Deandra. Setelah sekian lama memikirkan cara agar bisa merayu Deandra, akhirnya terpikirkan juga. Caranya, jika Deandra melakukan tantangannya, teman-temannya akan memberikan sebuah hadiah kepada Deandra, hadiah yang dimaksud adalah buku novel pembunuhan yang sedang best seller tahun ini. Teman-temannya lagi-lagi menyeringai mencurigakan. Setelah menerima tantangan dari temannya, Deandra berjalan dari kelasnya menuju gedung olahraga basket sekolahnya.
Ketika Deandra masuk, ada seorang laki-laki bertubuh tinggi berkulit putih dengan wajah tampan yang tergolong tipe wajah ‘suami idaman’ menurut perempuan lainnya, tetapi entah apa yang Deandra rasakan, mungkin baginya laki-laki itu hanya manusia biasa dengan wajah yang biasa saja. Padahal ketika perempuan lainnya melihat laki-laki itu, mereka berteriak-teriak histeris dengan genit sambil berimajinasi bisa menjadi istrinya. Laki-laki yang dimaksud bernama Revo Arga Pratama. Deandra duduk disebuah bangku yang terletak dipojok lapangan. Revo sama sekali tidak menyadari kedatangan Deandra.
Saat ini Deandra sedang tidak membawa novel tercintanya. Deandra hanya diam memerhatikan laki-laki tampan yang sedang berlatih basket sendirian dengan amat bersemangat. Tentu saja Deandra tahu namanya dari kepopulerannya. Karena terlalu bersemangat, Revo terpeleset dan jatuh dengan posisi yang lucu. Sehingga Deandra yang sedang memerhatikannya dengan serius, mendadak tertawa kecil melihat Revo merintih kesakitan. Entah mengapa bagi Deandra ini lucu, seorang pemenang turnamen basket yang populer terpeleset karena terlalu bersemangat berlatih. Bukankah ini momen yang langka? Apalagi Deandra melihatnya dengan langsung.
Revo berusaha berdiri lalu mendengar tawa kecil Deandra dan langsung menoleh kearah Deandra. Dia tidak mengetahui siapa perempuan cantik yang sedang tertawa kecil itu, dipikirannya hanyalah membayangkan perempuan itu menjadi pelengkap masa depannya, tentu saja sebagai istrinya. Dia memandang Deandra yang masih terus tertawa dan merasa ‘adem’ rasanya. Sungguh beruntung laki-laki itu, perempuan cantik yang dikenal tidak pernah tersenyum itu memperlihatkan senyumnya yang manis dan bersinar itu secara cuma-cuma kepada Revo. Padahal banyak laki-laki yang berusaha mati-matian membuat Deandra tersenyum.
Revo perlahan-lahan berjalan menuju Deandra. Deandra berdiri, dia pikir apakah ada sesuatu yang akan disampaikan oleh laki-laki yang sekarang ini berada dihadapannya. Suasana hening, tidak ada sebuah kata yang keluar dari mulut Deandra maupun laki-laki tampan itu. Deandra mengira Revo sedang berpikir apa yang akan dia katakan, jadi dia hanya diam saja menunggunya. Revo mulai berpikir yang aneh-aneh. Dari novel romantis yang pernah dia baca, ketika sepasang kekasih sedang saling berhadapan dengan suasanya yang canggung seperti ini, biasanya salah satunya atau bahkan keduanya menginginkan ‘sesuatu yang spesial’ dari kekasihnya.
Revo menatap mata Deandra yang indah berbinar, Deandra juga menatap mata Revo yang amat dalam menatap dirinya. Revo memejamkan matanya dengan perlahan, menarik nafasnya, lalu mendekatkan wajahnya kepada Deandra dengan penuh keraguan. Entah apa yang ada dipikirannya, baru saja bertemu dengan perempuan yang Revo tidak tahu namanya, tetapi Revo sudah berpikir sejauh itu. Plep! Telapak tangan Deandra menutup mulut Revo dan menjauhkannya dengan cepat dari wajahnya. Untung saja Deandra dengan cepat merespon apa yang akan dilakukan Revo.
Deandra memarahi Revo tentang apa yang baru saja dia ingin lakukan dengan dirinya. Revo hanya tertawa kecil dan minta maaf, namun minta maafnya itu tidak sungguh-sungguh. Deandra merasa kesal dan memunculkan wajah mengerikannya. Baru saja mendapatkan bidadari, mengapa dalam waktu dekat berganti menjadi horror? Revo meminta maaf lagi dan mengatakan bahwa itu yang biasanya dilakukan sepasang kekasih disaat-saat seperti tadi.
Deandra dengan emosi yang sudah diambang batas, memberitahu Revo bahwa dia dan dirinya sama sekali bukanlah sepasang kekasih. Tidak mau menyerah, Revo masih menanggapinya, dia merayunya dengan mengatakan bahwa Deandra akan menjadi istri dimasa depannya, Revo mengatakannya dengan yakin dan percaya diri. Deandra mulai lelah berbicara dengan laki-laki tampan yang merupakan ‘budak cinta’ tingkat tinggi. Deandra menghela nafas dan berusaha mendinginkan dirinya yang memanas daritadi.
Sekilas Revo membaca nama Deandra yang ada pada seragamnya. Dia ternyata pernah mendengar namanya, tetapi karena Deandra jarang keluar kelas, Revo belum pernah melihat wajah Deandra sebelumnya. Karena senang bisa membuat Deandra tertawa, tiba-tiba Revo tersenyum. Deandra heran lalu menanyakan mengapa laki-laki dihadapannya tersenyum, Revo hanya menjawab kalau itu bukan apa-apa. Selain rasa marah, sepertinya Deandra saat ini sedang merasakan hal lainnya. Tetapi, perasaan apa? Ketika Deandra memikirkannya dan mengingat-ingat kembali apa yang terjadi, jantungnya bedebar-debar, berdetak dengan cepat. Deandra tidak tahu apa yang sedang dirasakan dirinya. Deandra menempelkan telapak tangannya ke dadanya untuk memastikan.
Ekspresi Revo kini tampak tenang sembari tersenyum bahagia. Dia menggenggam kedua tangan Deandra dengan lembut. Deandra membiarkan tangannya digenggam oleh Revo, tetapi dia tidak tahu apa yang sedang Revo lakukan dengan kedua tangannya. Revo tersenyum menatap Deandra, sementara Deandra masih sedikit waspada dengan Revo. Revo menyatakan perasaannya. Dia bilang bahwa Deandra adalah cinta pertamanya. Deandra mengira Revo hanya bergurau.
Namun bila itu sungguhan, Deandra juga sama saja, dia mengira Revo hanya memerhatikan penampilan luar Deandra saja. Deandra menyuruh Revo berhenti bercanda, jika tidak, Deandra mengancam tidak akan berbicara lagi dengan Revo. Tetapi, Revo tetap sabar dengan respon Deandra yang belum mengerti semuanya. Revo belum selesai bicara, dia melanjutkan menyatakan perasaannya.
Revo mengatakannya dengan lembut, dengan mata yang menunjukan kejujuran hati, dan itu tidak bisa dilakukan dengan sandiwara. Revo mengatakan bahwa dia baru saja merasakan jatuh cinta, ketika tahu dirinya membuat seorang perempuan yang tidak pernah tersenyum maupun tertawa menjadi tertawa tanpa ada paksaan. Revo bertanya dengan sungguh, apakah Deandra mau menjadi kekasihnya.
Deandra diam sejenak memikirkan apa yang baru saja Revo katakan. Deandra sebenarnya juga merasakan sebuah perasaan yang belum pernah dia rasakan, dan dia yakin itu adalah cinta. Dia hanya mengangguk dan menunduk menyembunyikan wajahnya yang sedang memerah karena malu. Wajah baru Deandra, lagi-lagi ditunjukkan kepada Revo. Tidak ingin melakukan sesuatu yang terlalu jauh, Revo hanya memeluk lembut Deandra. Dengan senang hati Deandra memeluk Revo. Hangat, lembut, itu yang Deandra rasakan. Begitulah cinta pertama Deandra dan Revo.
Apa artinya hujan kalian? Menyebalkan bukan? Tetapi bagiku tidak. Hujan membuatku teringat kepada seseorang yang begitu istimewa bagiku. Lebih istimewa dari apapun, lebih berharga dari emas, dan lebih indah dari pelangi yang menghiasi langit setelah hujan.
Dulu aku dan dia suka bermain, terutama di luar, apalagi ketika hujan. Aku selalu keheranan pada saat itu, kenapa anak laki-laki itu terlalu tersenyum saat hujan? Memang seberharga apa hujan itu? Lalu aku pernah berpikir, bisakah aku bisa mendapatkan lebih banyak senyuman darinyanya melebihi banyaknya senyuman yang telah dia berikan hujan?
Aku menanyakan alasan mengapa dia begitu bahagia ketika hujan datang. Dia bilang, “Setelah hujan biasanya’kan ada pelangi!” hanya itu yang terucap dari bibirnya. Hanya itu saja dia sebahagia itu? Seandainya aku bisa ada di sampingnya untuk selamanya, pasti akan mudah membahagiakannya, hanya itu saja yang terpikirkan olehku.
Aku iri dengan hujan yang telah menang banyak mendapat senyumannya. Aneh sekali aku ini, iri dengan sesuatu yang begitu sederhana. Lagipula, aku juga mempertanyakan diriku sendiri, mengapa aku begitu tergila-gila dengan senyumannya? Wajahnya memang tampan, tetapi tampannya itu masih biasa. Namun, mengapa senyuman yang terukir diwajahnya begitu indah luar biasa?
Tetapi, saat itu aku belum mengerti banyak mengenainya, apalagi apa yang ada di dalam hatinya. Aku hanya menyukai senyumannya yang tulus tanpa paksaan itu. Sederhananya,
Suatu hari aku mengetahui sebuah kenyataan pahit yang disembunyikan dia dibalik senyumannya yang tulus itu. Aku ingin berkata ‘mustahil’ dia bisa selalu tersenyum disaat kondisinya yang sedang tidak mendukung.
Saat itu aku masih belum mengerti apa itu perasaan. Dulu aku hanyalah gadis yang egois, hanya memedulikan orang lain jika itu menguntungkan diriku. Walau begitu, aku bisa menjaga nama baik keluargaku dengan berpura-pura bersikap lemah lembut. Memang benar dulunya aku begitu terhadap semua orang, dari luar tampak peduli, dari dalam aku hanya memikirkan aku, aku, dan aku.
Lalu, pertama kalinya aku merasakan kehilangan adalah ketika sosok itu telah pergi dari sini untuk selama-lamanya. Senyumnya, tawanya, dan tatapan matanya itu telah pergi bersamanya. Dia pasti bahagia disana. Dia bisa merasakan dinginnya hujan dan indahnya pelangi kapanpun dan tersenyum bahagia.
Lalu aku disini hanya diam dan mengatai diriku sendiri. Seandainya aku lebih berhati-hati, dia tidak akan tiada karena kecelakaan. Aku baru tahu sekarang, bagaimana rasanya kehilangan. Sosok yang aku kagumi itu telah pergi karena kesalahanku, dan aku tahu itu. Aku menyesal, begitu menyesal, telah membuang sesuatu yang begitu aku kagumi dan telah hilang untuk selamanya.
Setiap kali hujan aku memandang ke luar jendela dan teringat kepadanya. Walau sudah bertahun-tahun lamanya, rasanya baru kemarin aku dan dia beain bersama di bawah hujan. Rasanya baru kemarin aku melihat senyumannya. Segalanya tentangnya tak pernah aku lupakan, sekecil apapun itu, sesuatu yang aku tahu tentang dia ‘kan selalu aku ingat.
Terima kasih kamu telah hadir dan memperlihatkan senyuman indahmu itu kepadaku.
Dan aku memohon maaf, sebab sebelumnya aku tak pernah memikirkan apa yang ada di dalam hatimu, apa yang kamu rasakan, dan yang kamu inginkan, aku dulu tidak pernah tahu.
Aku merindukanmu bersama hujan. Semoga kamu tenang disana.
“Cinta pertama? Aku sudah pernah mengalaminya, dan memang benar adanya. ‘Kepercayaan’ itulah yang harus dimiliki untuk memunculkan cinta. Percaya dia akan merindukanmu, percaya dia akan mencintaimu, percaya dia akan menantimu, dan percaya bahwa dia adalah belahan jiwamu.”
Seorang gadis berlari dengan ceria dan bermain-main di hutan yang saat itu sedang musim dingin. Rambut pirang gadis itu tampak indah dengan butiran salju yang jatuh di rambutnya. Dia berbaring dan menenggelamkan tubuhnya di hamparan salju. Iris matanya yang biru membuatnya semakin serasi dengan salju. Bagai 'Putri Salju' bagi siapa saja yang melihatnya secara langsung.
Dia memejamkan matanya sejenak, membiarkan butiran-butiran salju jatuh perlahan ke wajahnya yang lembut. Dia menikmati dinginnya salju. Lama kelamaan dia mulai tidak tahan dengan dinginnya. Dia berdiri lalu membersihkan rambut dan pakaiannya yang tebal dari butiran salju.
Dia mulai berjalan dan menjelajahi sekitar. Gadis itu tampak mencari sesuatu. Dia menengok ke sana kemari, namun dia tak kunjung menemukan sesuatu yang dicarinya. Lalu tanpa sengaja gadis itu melihat sebuah jejak kaki disalju. Sebuah jejak kaki seseorang yang sepertinya seumuran dengannya, dia berpendapat begitu dari ukuran jejak kaki yang dia lihat. Jejaknya belum hilang, dia langsung tahu pasti belum lama ada seseorang yang lewat disini. Dia mengikuti jejak kaki itu. Dia tidak memperhatikan sekitar dan tetap mengikuti jejak kaki itu.
Setelah dia rasa telah berjalan cukup jauh, dia mendongakkan kepalanya secara perlahan sehingga dia melihat apa yang ada didepannya. Hanya ada seorang laki-laki berambut hitam yang duduk bersandar ke pohon dengan tangan yang memegang setangkai bunga. Anak itu tampak tersenyum lembut sembari memandangi bunga yang dia pegang, seolah-olah bunga itu sangat berharga baginya. Gadis itu mengagumi apa yang baru saja dia lihat. Untuk pertama kalinya dia melihat seseorang yang memiliki kecintaan sendiri terhadap bunga.
Anak laki-laki itupun tersadar bahwa ada seseorang yang memandangi dirinya. Dia menoleh ke arah gadis yang sedang berdiri memandanginya. Sontak saja gadis itu salah tingkah dan malu. Dia menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan kedua tangannya. Laki-laki itu merasa keheranan dengan gadis yang sedang berdiri sedikit jauh dengannya. Laki-laki itu berdiri dan berjalan dengan perlahan kearah gadis itu. Dia tetap memegang bunga yang dia pandangi daritadi.
Kini mereka sedang saling berhadapan. Gadis itu masih saja menutup wajahnya dan tidak menyadari anak itu sekarang berada tepat dihadapannya.
"Maaf... Apakah kamu sedang sakit? Flu? Demam?" tanya laki-laki itu kepada gadis dihadapannya dengan cemas. Gadis itu sedikit terkejut mendengar suara anak laki-laki yang jaraknya dekat dengan dia. Gadis itu segera membuka wajahnya yang dari tadi ia sembunyikan dengan kedua tangannya.
Gadis itu terdiam dan memandangi laki-laki yang sepertinya seusia dengan dirinya. Rambut hitam dengan mata berwarna coklat yang indah.
'Apakah dia bukan asli keturunan sini?' Pikirnya mengamati wajah laki-laki dihadapannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya sekali lagi. Wajah gadis itu langsung memerah karena malu. Tetapi kali ini ia tidak menutup wajahnya.
"Ah... Ya! A-aku baik-baik saja!" jawabnya gemetaran, bukan karena kedinginan. Namun dia merasa senang ada yang menanyakan kondisinya
"Begitu." jawabnya singkat dengan tersenyum ringan. "..." dia tak tahu harus berkata apa.
Gadis itu hanya menatap bunga yang anak itu pegang daritadi. "Apakah kamu menginginkan bunga ini?" tanyanya menyadarinya.
"Eh? Apakah boleh?" Tanyanya sembari menunjukan rasa gembira dan matanya berbinar-binar memandangi bunga itu.
"Kamu boleh memiliki bunga ini." ucapnya dan menyerahkan setangkai bunga yang dia bawa. Gadis itu menerimanya dengan senang hati.
"Terimakasih!" ucapnya dengan antusias dan tersenyum ria.
"Ya, bukan apa-apa." jawab anak itu membalas senyuman gadis yang ada dihadapannya.
"..." suasana hening kembali.
Gadis itu berusaha mengatakan sesuatu dan laki-laki dihadapannya menyadari hal itu.
"Ada sesuatu?" tanya laki-laki itu.
"Itu... Namaku Lilyna Fiony! Panggil saja Lily!" ucapnya.
"Siapa namamu?" tanya Lilyna tergagap karena malu.
"Lilyna ya? Nama yang indah." ucap laki-laki dihadapannya. Gadis itu mulai salah tingkah dan wajahnya memerah lagi.
"Nathan Mellory. Kamu bisa memanggilku Nathan." jawabnya singkat.
"Apakah... Nathan suka dengan bunga?" tanyanya mulai tenang dan meperhatikan Nathan.
"Ya, aku bahkan mencintai bunga." Jawab Nathan terus terang dan merasa nyaman mengatakannya kepada Lilyna. Lilyna diam sejenak.
"Lalu kenapa kamu memberikan bunga ini kepadaku?" tanyanya lalu menatap bunga yang sedang dirinya pegang.
"Bukankah ini berharga bagi Nathan?" tanya Lilyna dengan menurunkan suaranya dan merasa bersalah telah mengambil bunga itu dari Nathan. Nathan menghela nafas dan tersenyum.
"Justru karena bunga itu berharga, aku bisa memberikan bunga itu kepadamu." jawab Nathan tanpa bercanda sedikitpun, itu semua terlihat dimatanya.
"Benarkah?" banya Lilyna.
"Ya, jangan khawatirkan diriku." jelas Nathan bahwa dia tidak apa-apa.
"Aku ingin bertemu denganmu kembali." ucap Lilyna lalu menundukkan kepalanya untuk menutupi wajahnya yang merah karena malu.
"Tetapi aku harus segera pergi dari hutan ini. Dan tempat asalku sangat jauh dari sini." lanjutnya dan berhenti sejenak. Nathan mendengarnya dengan saksama.
"Tetapi, walau dalam waktu yang lama, aku akan kembali kehutan ini, dan bertemu dengamu lagi!" ucapnya dengan suara yang lantang.
"Jadi..." Lilyna menurunkan suaranya.
"Maukah Nathan berjanji, akan menungguku dan menghabiskan waktu bersama?" ucap Lilyna memandang mata Nathan. Nathan menggenggam salah satu tangan Lilyna yang tidak memegang bunga. Nathan tersenyum dan menatap mata Lilyna dengan dalam.
"Baiklah." jawab Nathan singkat.
"Aku, Nathan Mellory. Berjanji, akan setia menunggu Lilyna Fiony. Percayalah kepadaku." Nathan berjanji dengan sungguh. Matanya yang menjelaskan kemurnian hatinya dalam mengatakan janjinya.
"Aku akan menemuimu lagi di hutan ini! Jadi jangan pergi ya!" ucap Lilyna tersenyum gembira.
"Ya, aku akan menunggu dengan senang hati, Lily." ucap Nathan dan Lilyna senang mendengarnya. "Sepertinya orang tuaku sedang mencariku. Aku pergi dulu ya. Jaga diri baik-baik!" ucap Lilyna lalu membalikannya badannya dan berlari menuju keluar hutan.
Nathan hanya tersenyum sambil memandangi Lilyna.
"Sampai jumpa Nathan!" teriaknya dari kejauhan dan melambaikan tangannya sembari tersenyum. Walau sakit rasanya ketika Lilyna akan pergi dalam jangka waktu yang lama.
"Ya. Hati-hati ya!" teriak Nathan dan juga melambaikan tangannya. Nathan pun berbalik dan berjalan menuju rumah kayunya yang sederhana di tengah hutan. Saat ini hutan itu sepi dengan salju dan angin dingin yang bertiup perlahan. Dan menantikan sebuah pertemuan yang entah kapan akan terjadi.
'Aku akan menemuimu. Dan menghabiskan banyak waktu berhargaku bersamamu.' Itulah yang hati Lilyna katakan terus menerus.
***
10 tahun kemudian, gadis itu telah tumbuh menjadi wanita yang cantik dan datang kembali kehutan yang pernah dulu dia kunjungi, dia datang disaat musim semi. Dia mencari seseorang dengan membawa bunga tulip berwarna merah. Ia berjalan sembari memandang bunga yang dibawanya, tanpa sadar ada seseorang yang berdiri dihadapannya dan tidak sengaja menabraknya.
“Ah, maaf.” ucap Lilyna mendongakkan kepalanya dan memandang wajah pria yang tidak asing baginya.
‘Apakah dia Nathan? Rambut hitamnya dan iris coklatnya memang persis sekali. Apakah dia benar-benar Nathan?’ Pikirnya.
“Kamu ternyata kembali.” ucap pria itu sembari tersenyum lalu mengusap rambut Lilyna.
“Nathan!” ucap Lilyna lalu memeluknya.
Nathan tersenyum dan menerima pelukan dari Lilyna. Setelah beberapa saat Lilyna melepaskan pelukannya. Dia menyerahkan bunga tulip merah yang dia bawa.
“Bunga ini … untukmu. Aku ingin membalas bunga yang dulu Nathan beri.” kata Lilyna sembari tersenyum.
“Bunga ini indah, seperti Lily.” ucap Nathan yang tanpa dia sadari ucapannya membuat Lilyna salah tingkah.
“Nathan …” ucap Lilyna lirih lalu memalingkan wajahnya yang merah karena malu.
“Setelah aku pikir lagi sepertinya aku jatuh cinta…” Lilyna tidak ingin Nathan melihat wajahnya yang sudah semerah tomat itu. Nathan sedikit terkejut, tetapi sebenarnya dia sangat senang mendengarnya.
“Aku, aku masih ragu apa perasaanku terhadapmu. Aku belum pernah merasakannya sebelumnya …” Ucap Lilyna menyatakan perasaannya. Nathan tersenyum.
“Jadi kamu belum pernah jatuh cinta sebelumnya?” Tanya Nathan. Dengan mata yang perlahan melirik wajah Nathan dia menjawab pertanyaannya.
“Belum…” ucap Lilyna sembari menggelengkan kepalanya pelan.
“Kenapa?” tanya Lilyna. Nathan secara mendadak memeluk Lilyna dengan lembut lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Lilyna. Jantung Lilyna berdebar-debar tidak tahu apa yang sebenarnya ingin Nathan lakukan. Nathan membisikkan sesuatu kepada Lilyna.
“Itu artinya aku adalah cinta pertamamu,” Nathan membisikkan Lilyna beberapa kata yang membuat Lilyna malu.
“Perasaanku sama, kamu juga cinta pertamaku.” lanjut Nathan. Lilyna merasa senang didalam hatinya dan terus membiarkan Nathan memeluk dirinya.
Mereka berdua tetap setia dengan cinta pertamanya. Lalu berjanji, akan mencintai satu sama lain selamanya. Bersama dalam suka dan duka. Dimana ada Lilyna, disana ada Nathan yang akan selalu ada di sampingnya. Tidak ada kebencian sedikitpun, hanya cinta, cinta yang murni. Tidak perlu ada yang namanya cemburu, karena mereka saling mempercayai satu sama lain. Dan begitu seterusnya dan hanya takdir yang bisa memisahkan mereka, manusia tak akan bisa memisahkan mereka. Cinta pertama memang benar adanya.
“Dulu aku begitu kesepian. Tak ada yang bisa mengisi pikiranku, tidak ada perasaan di dalam hatiku. Dan itu semua terasa begitu hampa. Hingga suatu saat aku bertemu denganmu. Aku percaya kamu ditakdirkan hanya untukku seorang. Kini pikiranku selalu terbayang wajahmu, dan rasa rindu yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
Terima kasih ya, kamu telah hadir dalam hidupku. Membuat aku mengerti apa arti cinta.
Aku cinta kamu.”
“Maaf, bisa diulangi lagi?” tanya Aray dengan wajah kaku dan mata melotot.
“Semua jari tanganmu harus dipotong.” tegas Elvon.
Aray spontan berdiri, “Keluarga ini sudah gila!” serunya, sembari melempar vas bunga ke dinding.
***
Aray Ischyros, usianya 17 tahun dan setengah jam lagi dia akan berulang tahun ke-18. Aray lahir di Desa Veyin, sebuah desa sangat terpencil, yang bahkan Negara Eidith tidak pernah mengakuinya karena penduduk desa ini keras kepala dan liar. Penduduk Desa Veyin masih menganut kepercayaan dinamisme serta animisme.
Meski Aray lahir di Desa Veyin, dia hanya dibesarkan sampai usianya 8 tahun, kemudian dia ‘diculik’ oleh ibunya pergi ke Ibu Kota Eidith, yaitu di Avern. Alasannya, ibu Aray takut akan salah satu tradisi yang mengerikan di Desa Vein: harus memotong jari ketika berbuat kesalahan sebagai bentuk permintaan maaf kepada dewa mereka.
Di ibu kota, tentunya Aray dan ibunya hidup berbeda dengan kebiasaan Keluarga Ischyros. Di Avern tak ada lagi yang menganut kepercayaan dinamisme atau bahkan animisme. Mereka hidup tenang di sana, meski sedikit melarat karena keterbatasan pengetahuan.
Sayangnya, ibu Aray yang mempunyai penyakit bawaan itu tak sanggup lagi. Ibu Aray meninggal, Aray sendirian. Syukurlah di Avern banyak panti asuhan yang tentunya menerima ‘segala macam’ anak. Aray yang berusia 8 tahun itu ditemukan oleh orang baik dan masuk ke panti asuhan bersama teman-teman baru lainnya di sana. Aray diajari membaca, menulis, bermain alat musik, sebagainya.
Aray memiliki bakat khusus dalam musik, terutama piano. Di usia 11 tahun dia mahir bermain piano, bahkan anak-anak di sana pasti mengenal ‘Aray Si Gadis Piano’. Di hari biasa yang akan jadi awal hari keberuntungan, ketika Aray sedang memainkan bagian klimaks lagu Fur Elise, seorang pria berjas hitam bersama istrinya menyaksikan Aray.
‘Anak itu sangat berbakat. Sayang, bagaimana menurutmu?’
Akhirnya, mereka mengadopsi Aray. Tentu, Aray dimasukkan ke sekolah musik dan mengembangkan bakatnya di sana. Aray hidup bahagia bersama keluarganya dan bersama pianonya.
***
Aray yang sudah tumbuh besar menjadi gadis anggun itu sedang bermain piano di ruang tengah rumahnya. Mengakhiri lagu, tatapan Aray tiba-tiba kosong.
“Desa Veyin, kenapa tiba-tiba muncul di kepalaku?” gumam Aray.
Dia membuka ponselnya dan mencari tahu tentang Desa Veyin di internet. Sangat disayangkan dia tidak menemukan informasi apa pun tentang Desa Veyin.
Aray bangkit berdiri dan meregangkan tubuhnya. Setelah itu dia pergi ke rak buku berniat mencari buku musiknya. Kebetulan sekali, dia menemukan jurnal yang judulnya menyebutkan Desa Veyin. Penulis jurnal itu adalah ayahnya sendiri yang merupakan seorang antropolog dan petualang. Aray duduk di sofa sembari membaca sekilas isi jurnal itu.
Aray hanya membaca di mana letak lokasi Desa Veyin itu, tidak ada penjelasan lain di jurnal itu.
“Aku akan pergi ke sana, bagaimana pun caranya.” gumam Aray, matanya terlihat sendu, teringat akan ibu kandung yang nyaris dia sudah lupa wajahnya seperti apa.
***
“Keluarga ini sudah gila!” seru Aray, melempar vas bunga ke dinding sampai menimbulkan suara pecahan yang keras.
“Tch! Jangan berisik! Aku harus pergi sebelum Kakek datang ke sini.” kata Elvon sebal. Elvon adalah kakak kandung Aray, tetapi Elvon tidak peduli terhadap nasib Aray. Dia keluar ruangan meninggalkan Aray yang kedua tangan dan kakinya terikat.
‘Seharusnya aku tak datang kembali ke sini!’ Beberapa menit kemudian, kakek Aray datang bersama ayah Aray. Mereka membawa paksa dia. Aray meronta-ronta, berteriak, bahkan mengatai keluarganya yang masih saja percaya dengan keharusan memotong jari untuk meminta maaf pada dewa.
Sesampainya di halaman rumah, langit sudah gelap, bulan tepat di atas kepala. Sebagian besar penduduk Desa Veyin menyaksikannya. Sebab ini bukanlah kesalahan biasa, ini adalah kesalahan besar bagi mereka. Kabur dari Desa Veyin hukumannya adalah potong sepuluh jari tangan.
***
“Ah Aray, malam-malam jangan main piano lagu sedih. Rasanya seperti malam yang kelam, itu membuatku jadi galau.” kata teman perempuan Aray yang hari ini akan menginap di rumahnya.
“Ahahaha. Tidak kelam kok. Apa pun lagunya, malam hari akan selalu menjadi menyenangkan bagiku jika aku bermain piano.” ucap Aray, dia tersenyum pada temannya.
“Kamu sangat menyukai piano, ya.” lanjut temannya, menyadari Aray menganggap piano sebagai ‘belahan jiwa’.
“Ya, kamu benar. Bagiku, akan jadi malam yang kelam jika aku tak bermain piano.”
***
‘Aku hanya ingin mengenal kampung halaman ibuku.’
‘Seandainya, seandainya saja aku tak kembali.’
‘Aku akan kehilangan mimpiku. Aku tak akan lagi mendengar denting piano dari jariku sendiri. Aku tak akan lagi merasakan sensasi menyentuh tuts piano.’
‘Mulai hari ini, seumur hidup aku akan disuguhi malam yang kelam.’
‘9 tahun hidup di ibu kota, hal ini tak pernah kusangka sebelumnya.’
‘Ke mana pun aku akan kabur, aku tak bisa lagi bermain piano.’
“Sit, yakin garep nganggo batik kuwe? Garep fashion show lho!” ujare Budi, kancaku.
Jenengku Siti, isih bocah SMA, biasa bae, udu bocah sing kemlitak, udu bocah sing pinter mbanget. Aku mung anak wadon saka wong tua sing pegaweane kuli karo buruh batik. Biyungku aben dina mbatik, batik Gumelem, nek udu udan liris ya motif rujak senthe. Siki kancaku lagi ribut, dela maning ana fashion show, nanging bocahan pada keslumud emosine, merga batik sing tak nggo aku motife udan liris.
Mboseni! Biasa bae! Ala! Kayane aku wis krungu kanthi kupingku umeb.
“Wis wis, arep nganggo apa maning? Batik udan liris kiye angel lho gawene.” aku munggel omongane kancaku, bebeh esuk-esuk wis padha ribut.
Banjur aku tata-tata, klambiku men ora mritut. Ora klalen aku nganggo parfum, jan-jane aku ngerti penonton ora bisa ngambu sekang kadohan. Ngawekani pasangan fashion show-ku ora semaput, mengko dadi repot.
Prok prok prok! Suit suit!
Aku banjur langsung ngelinguk, bingung ijig-ijig bocahan padha heboh. Jebul siki gilirane Rudi karo Laras, kabeh pada surak nonton bocah sing paling bagus karo ayu. Ora mung paras, batik sing moncer uga narik perhatiane kabeh sing nonton.
Aku weruh Budi sekang kadohan, rupane wis kaya digrujuk banyu jeruk nipis, aliase kecut banget. Udu parase Budi sing kecut, nanging ekspresine, njaluk kostume diganti. Pancen, si Budi pasangan fashion show-ku, gelem ora gelem kudu nganggo motif sing padha.
Jhand! Budi, Budi! Jane kenangapa kae bocah? Aben dina Kemis ora seneng weruh klambi batikku sing motif udan liris. Jere Budi, kuno, ndesa, tur ora maen. Pancen oh pancen.
“UNDIAN NOMOR 13, SITI DAN BUDI DARI KELAS X-1!” aku krungu swara sekang speaker.
Budi ketone wis bebeh, ora tertarik babar blas. Gelem ora gelem lengenne tetep tak tarik. Banjur nuju red carpet, maksude, karpet sing warna abang kuwe, aku karo Budi maju. Nembe wolung langkah, aku mesem sing ikhlas. Ya pancen ikhlas, ora kaya Budi. Aku mesem merga bangga nganggo batik sing digawe biyungku, pancen co-ol, eh, maksude cool.
Pas nang ujung karpet abang, aku isih mesem, nanging ora ana sing ngeproki. Budi katone wis kuciwa, nanging aku ora urus. Banjur aku karo Budi balik maring mburi sak rampunge fashion show.
***
Karo ngenteni hasil lomba, aku karo Budi mangan pecele Bu Rek. Asline Bu Rachmawati, aku ora ngerti kenangapa jenenge bisa dadi Bu Rek. Nanging, pecele iki pancen enak lho, Rek. Disambi mangan, aku mikir, ana sing nyadar ora ya? Nyadar ora ya? Banjur aku ngelirik maring klambi batikku dhewek, masa sih ora ana sing nyadar?
“Sit, mandheg disit mangane! Mageh, pengumuman!” ujare kancaku, Hera, ijig-ijig teka.
Banjur Hera narik lengenku, kanthi rasane balungku geser sithik, kayane.
“BAIK, KAMI UMUMKAN PEMENANG LOMBA FASHION SHOW.”
Aku narik napas, banjur aku jan-jane ora ana bayangan menang apa ora.
“JUARA 3, DIRAIH OLEH ... RIO DAN DINDA DARI X-9!”
Asli, aku ora ngarep, tapi ya tetep deg-degan.
“ JUARA 2, DIRAIH OLEH ....”
“RUDI DAN LARAS DARI X-3!”
Lho ... lho ... Rudi? Laras? Juara loro? Bocah sing bagus karo ayu banget kae? Sing mbener? Berarti sing juara siji ...
“JUARA 1 DIRAIH OLEH ... ... ... ARDI DAN RINA DARI X-6!!!”
Ah. Jebul udu aku sing menang. Haha. Wes, aku langsung balik. Pancen, sapa sing nyenengi motif iki? Apa maning pemenang lomba kiye ditentokna sekang hasil voting. Hahahaha, jhand, aku aja kakehan ngarep. Sapa si sing ngelirik batikku kiye? Apa maning rupane aku pas-pasan.
“Wis mayuh pada bali bae! Ora menang be kelase dhewek.” aku ngejak kanca-kanca kelasku.
***
Aku gutul ngarep umahku, awakku rasane pegel merga acara klasmiting, jane sih lewih pegel atiku mergane ora menang.
Dog dog dog!
“Assalamualaikum, Mae ...!”
Brak.
Aku kaget, lawange langsung dibukak.
Glep.
Kaget maning, ijig-ijig Mae meluk awakku.
“Siti! Siti! Suwun Nak!” biyungku ngendika seru banget nang kupingku.
“Nembe bae, KS-mu tilpun, tulung marang Mae, ndesain batik seragam sekolahmu!” biyungku ora tahu seharu kiye.
Jebul, ana sing sadar, udan liris iki wis dimodif. Kiye udu batik udan liris biasa, nanging ana tambahan corak, yaiku ditambahake motif gambar cendol, aliase ngelambangake Dawet Ayu Banjarnegara. Bungah pisan aku, jebul kepala sekolahku ngerti batik iki nduwe nilai seni sing dhuwur. Alhamdulillah Gusti ... Mae seneng Siti uga seneng.