Sakramen Inisiasi yang pertama dalam Gereja Katolik adalah Sakramen Baptis atau Permandian. Sakramen Baptis menjadi pintu gerbang untuk dapat menerima sakramen-sakramen yang lainnya. Sakramen Baptis adalah sakramen dasar bagi orang Kristiani. Dengan dibaptis, seseorang bergabung secara sah menjadi anggota Gereja. Baptis berasal dari bahasa Yunani Baptizo yang berarti pembasuhan atau pencucian. Berdasar pengertian tersebut, membaptis dapat diartikan sebagai membenamkan calon ke dalam air atau menuangkan air ke atas kepala sambil mengucap atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Bermula dari peristiwa setelah kebangkitan, Yesus memberikan tugas perutusan kepada para rasul untuk membaptis (Mat 28:19). Sejak Pentakosta, Gereja melayani pembaptisan kepada setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Sarana yang dipergunakan dalam sakramen baptis antara lain:
Air sebagai lambang membersihkan dari dosa-dosa,
Lilin menyala, yang melambangkan cahaya Kristus sebagai penerang dalam kehidupan, karena kita adalah anak terang Kristus (Ef 5:8),
Kain putih yang melambangkan “mengenakan Kristus.” Sesudah dibaptis, kita mengandalkan kekuatan Kristus dalam menjalani hidup.
Dalam Gereja Katolik, pembaptisan dapat dibedakan menjadi dua yaitu, baptisan bayi dan baptisan dewasa. Dalam babtisan bayi, Gereja membaptis bayi beberapa bulan setelah bayi lahir. Pada dasarnya, dosa asal sudah ada, maka pembatisan bayi berarti bayi telah diselamatkan dari kuasa jahat untuk dibebaskan menjadi anak-anak Allah. Untuk dapat melaksanakan pembaptisan bayi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu adanya pendampingan orang tua dan Gereja untuk mengucapkan pengakuan iman. Orang tua yang bertanggung jawab atas iman dari si bayi. Baptisan dewasa diberikan khusus kepada mereka yang sudah dewasa. Seperti halnya pembaptisan bayi, baptis dewasa pun memiliki beberapa persyaratan antara lain, percaya kepada Kristus sebagai penyelamat, mengikuti
pelajaran calon katekumen sekurang-kurangnya 1 tahun, dan mengucapkan pengakuan iman pada waktu pembaptisan. Berbeda dengan baptisan bayi, ada empat tahapan yang harus dilalui seseorang untuk mencapai baptisan tersebut. Adapun keempat tahapan tersebut adalah:
Tahapan Prakatekumenat, yaitu masa untuk pemurnian motivasi calon, yang diakhiri dengan upacara tahap pertama, yaitu pelantikan menjadi katekumen,
Tahapan Katekumenat, yaitu masa untuk pengajaran dan pembinaan iman, serta latihan hidup dalam jemaat. Masa ini diakhiri dengan upacara pengukuhan katekumenat terpilih,
Tahapan persiapan terakhir, yaitu masa khusus untuk mempersiapkan diri menerima sakramen inisiasi, yang diakhiri dengan upacara peneriman Sakramen Baptis,
Tahapan mistagogi, yaitu masa untuk pembinaan lanjutan setelah seseorang menerima Sakramen Baptis. Menurut Kitab Hukum Kanonik, calon baptis hendaknya didampingi oleh wali baptis, yang bertugas untuk mendampingi calon baptis dewasa dalam inisiasi kristiani, dan juga mengusahakan agar yang dibaptis hidup secara kristiani sesuai dengan nama baptisnya serta memenuhi dengan setia kewajiban-kewajiban yang melekat pada baptis itu” (KHK No. 872).
Buah atau rahmat dari Sakramen Baptis adalah dihapuskan dari segala dosa, dilahirkan kembali menjadi anak Allah, mendapat rahmat pengudusan dan pembenaran yang mempersatukan seseorang dengan Kristus dan Gereja-Nya, ikut ambil bagian dalam tugas Gereja, dan dimeteraikan sebagai milik Kristus selama-lamanya.