Sakramen Inisiasi yang kedua dalam Gereja Katolik adalah Sakramen Ekaristi. Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh hidup kristiani yang berarti bahwa dalam seluruh pelayanan Gereja dirayakan dengan sakramen Ekaristi (Lumen Gentium art 11). Perayaan ekaristi merupakan tindakan Kristus sendiri dimana pada waktu perjamuan malam terakhir, Kristus telah mempersembahkan diri-Nya kepada Bapa untuk kita, Dia telah memberikan diri-Nya bagi kita sebagai roti hidup sepanjang ziarah kita di dunia ini menuju kepada Bapa. Oleh karenanya, hendaknya kita senantiasa bersikap yang baik menghormati sakramen mahakudus dan terlibat aktif dalam Perayaan Ekaristi. Ekaristi berasal dari bahasa Yunani eucharistien yang berarti puji syukur. Dengan demikian ekaristi disebut sebagai:
Syukuran dan pujian kepada Bapa,
Kenangan akan kurban Kristus dan tubuh-Nya,
Kehadiran Kristus oleh kekuatan perkataan-Nya dan Roh-Nya.
Dasar dari sakramen Ekaristi adalah peristiwa perjamuan malam terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya pada malam sebelum Ia ditangkap dan disalibkan (Mrk 14:12-21) Ada beberapa sikap badan dalam perayaan Ekaristi antara lain:
ada saatnya untuk berdiri,
ada saatnya untuk duduk dan
ada saatnya untuk berlutut.
Puncak dari perayaan ekaristi ada pada saat doa syukur agung. Secara garis besar, susunan tata perayaan ekaristi terdiri dari 4 upacara yaitu: 1) Ritus Pembuka, 2) Liturgi Sabda, 3) Liturgi Ekaristi, dan 4) Ritus Penutup. Dalam perayaan Ekaristi, umat yang telah memenuhi syarat diberi kesempatan untuk menyambut tubuh Kristus dalam rupa hosti suci.Untuk menyambut komuni kudus, hendaknya dalam keadaan rahmat yang berarti tidak berdosa. Apabila sedang dalam keadaan dosa hendaknya sebelum menerima komuni (sebelum mengikuti ekaristi) melakukan pengakuan dosa terlebih dahulu. Dengan menerima tubuh Kristus bersama dengan umat yang lain, maka kita dipersatukan dengan Yesus Kristus dan dipersatukan dengan semua umat yang sama-sama menyambut tubuh Kristus.