T U L I S A N : C E L O T E H O P I N I K U
T U L I S A N : C E L O T E H O P I N I K U
BINGUNG-merasa tak mampu dan selalu merasa kekurangan disana-sini. itulah yang diinginkan pada proses teater untuk setiap kadernya. Namun, kekurangan yang dimaksud jangan disalah artikan, karna disini orang-orang yang digodok di gubuk geliatnya pekerja seni selalu tercipta merasa kekurangan, kekurangan akan sesuatu yang membuatnya untuk selalu berbuat dan mencari-cari lagi demi melunasi dan melengkapi kekurangan yang dirasa, baik secara individu maupun komunitas.
Kekurangan itu hanyalah ketika kita berbicara karena belum terbiasa, saat kita sudah mengetahui dan memahami sebanyak apa kekurangan yang dimiliki. Maka, berawal dari kekuranganlah akan muncul kekuatan sesungguhnya. Memang akan membutuhkan ruang-waktu dalam memproses diri untuk mengetahui seluk-beluk hal yang terasa-dirasa maupun diperasa-i hingga pada gerak-kata.
Nah, kita ketahui sendiri semua itu tentu tidak akan hadir dan muncul secara sendiri maupun secara instan. Maka, peng-intensitasan komunikasilah yang mesti dimula dalam pergerakan awal, dan jelas jangan sekedar-ala kadar-paksaan belaka. Apalagi setiap sela acap kali mengedepankan improvisasi ke-egoan yang begitu mencuat. Bukan malah mempermulus proyeski pemolesan akan kekurangan satu sama lainnya, malah makin “mem-pertakut dan memperkeruh” hingga mendzolimi aku-kamu bahkan sampai pada ranah “KITA”.
Tiap tindak maupun gelak menggeliat dalam permulaan maupun nantinya dapat dikatakan sudah ter-biasa bahkan sampai pada ‘pro-fesoinal’ pun, tentu hal kemonotonan acap kali muncul dan akan selalu terselingi saat kejenuhan yang merubung. Apalagi saat diri berjuang meredam rontakan hasyrat yang mau tidak mau untuk bertolak dari yang ada akan keberadaan ‘ego’. Namun, ingatlah itu sekadar geli-gelian, pemanis buatan (plus) bulu halus semata yang memang sudah sengaja terkonsep pada hidup kita untuk menyetubuhi apakah ini betul aku-saya atau kita!
Sebenarnya, pada inti dan hakekatnya sebuah peristiwa gejolak diri itu akan plong dan tak-kan terkekang bahkan sampai mengonak duri jikalau “kita” dapat mengaplikasikannya melalui penjelmaan gerak-kata yang terkemas dalam rubrik komunikasi yang responship dan se-intens-intens mungkin, karna gerak-kata merupakan kendaraan berimaji seseorang dalam mengeskplorkan sesuatu. berimaji boleh cuma jangan terlalu sering-apalagi kelamaan.^.^hEH….
Ya….walaupun, sedikitnya kedepan akan sedikit berdampak kredo ke-AKU-an, setidaknya itu harus diakui karna itulah yang akan terjadi apalagi sampai nantinya terbesit motivasi simpang-siur, cara berpola berbeda, pilihan sadar setidaknya sebijak mungkin dan tujuan maksud tetap terjurus terarah-terkonsep dan tertunaikan sesuai keberadaan cita-cita adat perdapuran yang telah dibuat.
Penciptaan kesemuanya dimulai dari diri-dipolakan akan keberadaan dan bukan dibuat unjuk “kesuhuan ataupun ketokohan”. Ya…meskipun pada akhirnya harus nanti “tidak terlihat, tidak terdengar bahkan sampai tak terjamah-apalagi tak tertoreh.
Yang jelas-utama pengharapan awal semuanya sama, yaitu: “menciptakan ‘aktor’ yang bukan sekedar mampu ‘ber-tegak’ di atas panggung-pemameran diri semata”. Karna pada akhirnya yang akan dicapai dan dinanti-nanti ialah pemunculan “keutuhan dan keberadaan karakter sosok-SAYA” dalam penempatan jati diri yang sesuainya dengan seada-adanya, tanpa mengurangi yang sesungguhnya.
(BARA)
-Hal tersirat dibalik geliat proses Teater-
PROSES Teater merupakan sebuah proses kelompok, berupa bentuk kerja kolektif, bukan bentuk sama-sama kerja. Dimana segala macam orang berikut segala macam fungsinya tergabung dalam suatu koordinasi yang rapi dan juga mencakup sebuah pengertian yang detil sampai batas-batas yang sentimental. Seperti halnya diri manusia itu sendiri, atau layaknya seperti sebuah negara. Keberhasilan suatu pertunjukan dapat juga diartikan salah satu wujud sebagaimana keberhasilan suatu seni kelompok itu sendiri; baik pada sisi produksinya maupun dari lini keartistikannya.
Suatu proses tidak pernah mengutamakan salah-benar. Mendengar ini, seolah-olah bagaikan mengikuti ujian kelulusan yang telah ditargetkan dalam angka-angka pasti (standar kelayakan). Jika terdokma akan hal itu, yakinlah sebuah ‘gumpalan beban’ akan selalu merubung-membusuk batu melebihi onak duri dalam daging. Tapi nikmati, resapi, hayati dengan seksama, bahkan bilaperlu sekian per-0 detik-pun jangan sampai ada yang terlewatkan ataupun terlalaikan.
Maka, lama-kelamaan akan semakin matang eraman proses yang dilalui, maka semakin bernilai tinggi pula ilmu-pengalaman yang didapat.
Dalam hidup tidak ada pilihan A atau-bahkan alasan-ber-ANU. Karena, kita hidup untuk belajar dan selalu terus untuk belajar, sehingga kemudian lambat-perlahan secara pribadi baik sikap maupun bertindak dapat dilalui deng sikap sesuatu dengan bijak melalui ‘pilihan sadar’.
Yakinlah…..setiap sesuatu jelas-selalu ada resikonya dan sebuah hasil itu selalu berimbas resiko. benar-baik-bagus, salah-buruk-jahat atau bahkan bla…bla….dst, dLL - na…na…na…la-la-la seterusnya (itulah betuk hasil yang terselimuti dari sebuah bilik resiko) Karna…..apa yang kita nilai baik belum tentu seutuhnya baik, apa yang kita patenkan buruk belum tentu mutlak buruk-seburuknya. Kita tidak tau apa motiv yang tersembunyi dibalik cacatan hitam kecil yang mencoreng seberkas lembar putih itu. Ya….tinggal lagi kita sendiri (secara pribadi), harus dapat lebih mengkaji itu….harus berawal darimana, bagaimana dan seperti apa!
Tidak ada kata terlambat jika kita mau belajar, perlu diketahui penyesalan yang sangat terbesar dan seseungguhnya ialah ketika kita tidak pernah mau mencoba dan melakukan itu sama sekali. Maka itu, hargailah proses, karena proses nomor satu, namun hasil tidak dinomor-duakan.
“Teater akan menjadi sebuah tempat yang indah bagi orang-orang yang mabuk dan kesepian. Teater merupakan sebuah tindak budaya, karena Teater bukanlah tempat untuk melarikan diri, untuk mencari perlindungan ataupun sebagai tempat persinggahan”.
(BARA)
SEBUAH genre pada karya sastra baru muncul bukan oleh ‘media’ atau dari pelakunya sendiri. Tetapi, sejarah mencatat bahwa sebuah genre baru bahkan yang sampai fenomenal pun seutuhnya bukan berpatokan dan bertumpu pada media saja, tetapi juga pada kekuatan karya itu sendiri.
Meski sudah banyak media yang berkembang pesat, baik itu yang fokus dalam media berbasis Seni Budaya dan sastra. Meskipun itu dikelolah oleh media cetak nasional, lokal yang bahkan sudah menyediakan kolom khusus Seni pada halamannya. Namun, kembali lagi itu tidak terlalu menguatkan, karena banyak dalam perkembangannya kadang sudah lebih awal berguguran ditengah jalan.
Setelah minimnya media cetak berbasis sastra murni yang tak berumur panjang, tepat pada tanggal 9 Mei 2001 telah munculnya medium baru sastra Indonesia yang diluncurkan melalui situs cybersastra.net yang kini dinaungi Yayasan Multimedia Sastra (YMS). Media internet yang mulai marak difungsionalkan beberapa kalangan dalam terobosan penyaluran karya, berupa puisi dan cerpen. Bahkan menyediakan ruang khusus buat penulis pemula sehingga dijadikan sebagai media alternatif dalam proses pembelajaran yang runutannya dapat menjadi tolak-ukur serta motivator bagi ‘calon penulis’ untuk berekspresi dalam berkarya.
Bukan sekedar tersedianya kolom atau ruang buat kawan-kawan dalam mempublishkan tulisannya, namun juga tersedia kolom untuk memberikan saran-kritik yang menunjang bagi penulis. Sehingga para penulis awal dapat melakukan pembenahan dalam pengemasan karyanya lebih gurih dan menggoda untuk kedepannya, sebut saja cyber-sastra.
Cybersastra sebuah terobosan inovatif dalam dunia sastra yang dapat diartikan sebagai ‘aktivitas-sastra’ yang memanfaatkan fasilitas komputer dan internet. Namun, sayangnya cybersastra sampai saat ini tidak terlalu mengguggah akan keberadaannya apalagi desas-desusnya pun belum tercium oleh kalangan pembesar-sastra.
Malah ada beberapa pendapat dari kalangan pejabat elit-sastra yang menganggap bahwa cybersastra, “tidak lebih dari tong sampah dan tidak lebih sekedar dari karya orang-orang yang kurang kerjaan”. Senadapun diutarakan Korrie Layun Rampan salah satu sastrawan sekaligus kritikus mengungkapkan bahwa karya-karya yang termuat di internet itu tidak terseleksi, dengan kata lain karya sastra internet belum sebanding mutunya dengan media cetak.
Sebenarnya kemunculan dan keberadaan cybersastra pada era ini dapat dikatakan sebuah cetusan inovasi baru dalam mengubris karya sastra bagi kalangan penulis pemula yang kesulitan dan tersendat dalam birokrasi karya pada media cetak, dan ini patut diancungi jempol. Bukankah paling tidak dapat membidik bibit baru dalam regenerasi konvensi dunia kesastraan.
Karena kita ketahui sendiri, disetiap media atau fasilisator penyalur karya tulis di media cetak, khususnya sastra sudah mematok kategori dalam kurasi sehingga tulisan dapat dianggap layak atau tidaknya untuk dipublishkan.
Disinilah posisi penggiat cybersastra untuk menganut paham pemecahan hemegoni, yang bertujuan untuk merespon pada ranah penulis awam yang memang seharusnya dirangkul dan diapresiasi akan karyanya. Gebrakan cybersastra ini jika dilihat geliatnya bukan sekedar hembusan angin lalu. Karena jika ditelusuri visi-misinya tidak bisa dianggap remeh. Posisi tawarnya tidak hanya mengukur akan ranah kefinansial ataupun mencari eksistensi atas pengakuan nama. Tetapi, letupan awal yang dicetuskan ini memang murni runutan pada apresiasi karya.
Apresiasi karya kini mulai terkikis dan malah sudah menjadi dogma dan tersekat pada kekangan-kekangan untuk berekspresi dan berkesperimen dalam menemukan jati diri (karakter) penulisan pada penulis awal. Sehingga dalam berkarya ter-atur pada selera yang ditetapkan. Inilah muasal terlahirnya momok pada kawan-kawan untuk beralih minat dan lebih terjun pada dunia cyber.
Tidak mungkinlah kita menginginkan generasi penulis kedepannya harus membeo dan mewarisi garis berkaryanya, dan hanya menanti para penulis berlisensi saja ketika menanggapi issue dan fenomena yang merambah.
Betul, para sastrawan, penulis, cerpenis yang mapan dan berlisensi hingga membuming banyak terlahir pada media cetak dan wajar mereka beropsi seperti itu. Tetapi, seiring waktu kembali lagi hal ini tidak bisa dipungkiri. Karena belum tentu para peminat sastra itu bernotabane – berkecimpung di dunia seni sastra, apalagi murni untuk terjerumus menjadi profesinya.
Mungkin saja hasil karya yang mereka ramu itu hanya sekedar hobby atau juga sekedar mencurahkan sesuatu apa yang saat ini ia rasakan dan didapatkannya. Sehingga dituangkan dalam sebuah karya, baik itu pantun, puisi, cerpen, naskah atau sebuah tulisan-tulisan biasa lainnya.
Jadi, jika hal itu perlu dilakukan dengan proses begitu berbelit-belit, saya rasa mereka enggan untuk meluangkan waktu untuk itu. Maka itulah, cybersastra lambat laun lebih memasyarakat bagi peminat sastra pemula yang tidak memandang aspek serta status mereka.
Namun sayangnya, jangankan menoleh ataupun menanggapi secara positif dan untuk mendata serta bercengkrama akan antusiasnya kawan-kawan berekspresi pada cyber - sedikitpun sulit untuk dicari para pejabat elit-sastra yang merakyat akan situasi tersebut.
Karena mereka lebih asyik dan fokus untuk larut dan beronani akan ke-egoisitasan karyanya sendiri. Meminjam kata-kata dari Cerpenis, Hudan Hidayat (dikutip dari bukunya Donny Anggoro, 2004:1, Sastra Yang Malas, Obrolan Sepintas Lalu) yang mengatakan bahwa “Figur Pak Jassin (H.B.Jasin (ALM) sang Pausnya Sastra Indonesia) sampai saat ini tidak tergantikan. Siapa lagi kritikus sastra seperti beliau yang mau meluangkan waktu berbincang-berbincang dengan penulis baru?”
Walaupun pada kenyataannya perkembangan cyber-sastra masih tergolong muda untuk diakui para ‘pejabat elit-sastra’, apalagi secara ‘kelogisan asal-muasal sejarah sastra’ sulit untuk ditentukan dan diakui melalui teori-teori.
Namun, tidak akan ada habisnya memperdepatkan soal mutu dan eksistensi antara cyber dan cetak. Yang jelas tak ada sekatan baik ruang dan waktu dalam berkarya, terlebih lagi selalu menghargai tindak lanjut positif sebuah proses dalam tindak-karya, baik itu penikmat maupun pelaku karya. Karena tidak mudah ‘melahirkan’ sebuah karya.
Tentunya masih perlu dukungan penuh sehingga cybersastra lebih dapat memasyarakat disegala lapisan, karena lika-liku cybersastra saat ini masih pada zona-kegamangan. Padahal jika dibidik dengan seiringnya fase perkembangan sastra yang kini lambat-laun mengalami metamorfosis, sebetulnya layak untuk diakui dan diterima keberadaannya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, dapat bertransformasi lebih pesat dan menakjubkan dari angkatan-aliran sebelumnya.
‘Emansipasi-didunia seni & sastra’ walaupun masih saja, tidak bisa dipungkiri akan banyaknya kekurangan disana-sini untuk mencapai kesetaraan dengan media cetak serta sasaran pembacanya yang tidak keseluruhan memiliki waktu dan mengerti dalam mengoperasikan media internet.
Namun, setidaknya kemunculan cybersastra lambat laun dapat menjadi acuan dalam pengikisan dogma para penikmat dan penulis awal yang dalam maindsetnya masih mendarah-daging pada sebuah ‘pendistorsian-sastra’ di media cetak. Karena dalam perkembangannya tidak dapat dipungkiri akan keberadaannya.
Dan memang, akan ‘megahlah sebuah karya’ tersebut jika harus melampaui beberapa kriteria batasan pada sastra cetak. Tetapi, para peminatnya juga bisa dapat dihitung dengan jari dan hanya kalangan tertentu saja yang nantinya akan menikmati dan mengerti akan sastra itu sendiri, terlebih lagi pada penulisnya.
Jadi, setidaknya harus ada pemasyarakatan serta proses pendisplinan akan pengenalan tentang kesusastraan itu sendiri tanpa mengenal sekatan dan perbedaan. Karena kondisi saat ini sungguh sangat menyedihkan, hingga hari ini belum ada satu pun yang menoleh dan merespon akan ‘aroma-gairah menulis kaum muda’ yang kendati banyak digandrungi pada wadah aktivitas sarana internet, cybersastra.
Apalagi kerj kesusastraan dalam perjalanan sejarah Indonesia sangar berperan sekali. Maka, setidaknya harus ada sebuah pola pendisiplinan akan pendidikan sastra sejak dini agar pada dewasanya nanti tidak menjadi sebuah ‘ketakutan’ dan kesalahpahaman dapa seluruh lapisan sehingga pada nantinya, sastra tidak terkesan sebagai ‘aktivitas eksklusif’. (BARA)