T U L I S A N : C E R I T A P E N D E K
T U L I S A N : C E R I T A P E N D E K
Tidak terlalu pagi – begitu pun terang, cuaca pada hari itu begitu pelan, bersahabat, senyap teriring anginpun menemani kekeluhkesahanku dalam meniti kisah perjalanan menuju persimpangan akhirku. “Ya, meski tidak begitu sering,” helaku menatap dalam pada liuk dedaunan yang melambai getir menyapa onak ke-egoanku, sembari fokus menunggangi laju sepeda motorku.
Sejengkal demi tikungan, tanjakan berlubang kian kulalui. Masih seperti dulu tetap fokus pada satu pandangan dan dari tadi aku hanya terdiam-cukup bergumam menggerutu dalam batin, akan kekosongan yang menganjal semua ini.
* * *
Seperti biasa, disetiap mewarnai kisah masih tersempatkan waktu yang tersisa sebelum memulai permainan hidup ini.
Nampak onggakan hitam kecil menyundul disudut tanjakan demi menghampiri sebuah warung kopi sebelum menerjang gagahnya dunia. Ya, segelas kopi hitam tak pernah terlewatkan, selalu menjadi menu utama menyambut pagi - tersaji disela termanguanku pada tiap langkah saat mengawali liuk-liku goresan tinta penaku.
Walaupun sesungguhnya jalan hidupku tak seterasa kental dan sehitam-manis hirupan kopi yang disajikan, yang dalam seduhannya dapat selalu kurasakan. “Namun, inilah nyatanya. dan sepertinya hari ini tak terlalu banyak coretan yang dapat terangkai mulus yang akan kubuat” ucapku sambil menyulutkan korek pada puntung rokok kemarin lalu yang terselip dikantong baju.
Inilah kerjaanku selama ini yang kutekuni, entah apakah profesi atau sekedar hobby aku pula tak terlalu menghiraukan hal itu. Apek namaku, padahal aku tak begitu terlalu akrab dengan nama sapaan tersebut. Mungkin tubuhku yang begitu gempal dan sedikit memiliki rona ke-tiong hoa-an. Sehingga rekan-rekan sejawatku sepakat mendeklamasikan nama itu pada keseharianku.
* * *
Sejak pagi hingga larut malam kadang bertemu pagi lagi, akupun tak tahu kapan waktuku untuk dapat menyetubuhi dinginnya malam bersandingkan selimut lembut dan guling aduhaiku yang dihiasi merah merona rembulan sendu pada ranjangku.
Demi mendulang rupiah buat mengasapi periuk rumahku. Waktu demi waktu, pintu ke pintu kusinggahi, tiada lain demi terangkai sepenggal kata berpadu pada bait kalimat untuk melunasi tanggungjawabku, ya sebagai kuli tinta.
Kali ini
....dan pagi, merambat-laun menyibak ketengadaanku disela pekat.
-tepat- hampir ke-tigabelas kalinya, tiap sepertiga pemudaran rembulan kau kecup daku dalam percumbuan-sendu pada sepi kabut mimpi rindumu!
__diakhir persuaan - disela perdengkuran senja, tak luput kutemui jejak liuk asmaranya kian sengaja bertebar sedikit menyisakan rayuan muram pada debu pemalu yang menempel-lekat bersembab pada per-tiap lekuk tangga tepat disudut jidatku...
penyeduh hati-terbelenggu rindu___
Pengharapan-penuh khayal pun sekejab terhenti.
* * *
“temaram daku diselimuti embun berdebu – rembulan sepotong berkabut rindu. Kukalungkan hujan pada penghujung Agustus"
Hari itu, Selasa tanggal 4 Bulan Agustus 1994, tepat 25 tahun yang silam. Kau tau hari pada tahun itu begitu terasa berbeda dengan hari-hari yang ada saat ini. Entah, kenapa hari ini sontak pikiranku menyerbu gamang seribu kata, hingga kerjaku tak lain hanya mencoret-coret dan mencoret tulisanku sendiri sampai pada tiap titik helai coretan yang ada.
Tak berasa warung kopi langgananku pun, kini berubah-menjulang terpampang menggagahi sempitnya jalan-lorong hingga sampai kepermukiman.
Seraya kepulan asap rokokkupun lenyap berlari hingga menampar secangkir kopiku yang tinggal dua hirupan lagi. “na’asnya keberadaankupun kian menjempit-terhimpit pada persoalan siapa yang datang dan siapa yang ada-berada,” sesakku pada pergulatan batin.
. . . . .
Kulihat keresahanmu diantara tepian jejak malam, hujan gelap dirundung embun kegamangan - disebrang pelupuk mata, terdengar bergugurannya dedaun kering, melesat merayu pada teras perbincangan riuh kita yang sempat memudar pada rimbunan semak yang memadu-padu tiap bait tentang segala hal.
ya, seperti halnya pada menjelang pertiga-an fajar, sering kali kau besitkan secarik anganmu pada sepenggal harapan senja yang kau kalungkan ketika menjelang jingga.
biarlah.....
biarkan, pagi menerpa terang - hingga siang tiba, menjelma petang melenyap gelap melahap malam hingga kembali berkabut lembut menyibak sang surya!
lalu, masihkah kau pertanyakan itu?
Sejenak di dalam perempatan lorong ketiadaanku, kudapati sunyi riuh mengalun merdu pada sepenggal kesadaranku.
“Puih.....sembur-pengharapanku pada lantunan yang melong-long jauh pada jengkal leherku”
Kadang, sesekali ramai - kadang pula seketika senyap.
Geliat pergerakan nyata-ternyata tak cukup meluluh-lantakkan sistem meja bundar ke-AKU-an itu semua. Karena, solidaritas ngaku-ngaku masih merajai dan mengkotak-atikkan keadaan. Ternyata-nyatanya keluhan kecil hingga kini tak begitu berarti dan masih begitu mudah untuk diabaikan, apalagi untuk ditindas.
-Kini keangkuhanku tak dapat kutiru maupun kunodai-
* * * * * * *