Perubahan iklim yang terjadi pada kala pleistosen merupakan peristiwa penting dalam rangkaian sejarah bumi karena menandai kemunculan pertama manusia di bumi. Perubahan iklim tersebut juga menyebabkan hewan-hewan besar dan yang tidak bisa beradaptasi dengan cepat, punah link, yang memberi "kesempatan" manusia berkembang lebih baik. Perubahan iklim sudah terjadi sejak jutaan tahun lalu, periode dingin (glasial)-hangat (interglasial)-dingin dan seterusnya, dipicu oleh orbit bumi terhadap matahari yang berubah-ubah sepanjang masa. saat orbit bumi tepat yang menyebabkan emisi sinar matahari optimal memanasi kutub selatan (antartika), gunung-gunung es di antartika akan mencair, menghasilkan perbedaan salinitas air laut di bagian utara dan selatan bumi, yang akan memicu pergerakan air laut dan penyerapan gas-gas CO2 dari atmosfer. Gas "rumah kaca" CO2 yang semakin kecil di atmosfer akan membuat suhu bumi semakin dingin. Saat itulah akan dimulai periode glasial.
Setelah periode glasial akan mucul periode interglasial yang hangat melalui proses sebaliknya yang terjadi pada periode glasial. Saat mencairnya gunung-gunung es di antartika akan menyebabkan berkurangnya massa di permukaan yang memicu naiknya magma mendekati permukaan dan memicu volkanisme. Salah satu produk volkanisme adalah emisi gas-gas CO2 "rumah kaca" di atmosfer. Bumi akan semakin hangat karena peristiwa tersebut, sehingga memasuki periode interglasial. Siklus alamiah perubahan iklim tersebut saat ini akan "diganggu" oleh emisi gas CO2 hasil samping dari aktifitas manusia (antropogenik), yang belum pernah terjadi pada siklus-siklus sebelumnya, saat antartika terlalu hangat daripada yang terjadi pada siklus-siklus sebelumnya.