Kepatihan atau kawedanan dibangun berbarengan dengan Kadipaten Ambal tahun 1827 M. Wedana Ambal 1 adalah Raden Joyo Atmojo (1827-1872). Bangunan Kepatihan dipugar lagi pada tahun 1952. Ada tugu berjumlah 6 yang agak besar sebagai tanda ke-enam putra sang wedana sudah mentas, sedangkan yang lebih kecil penanda untuk para cucu-cucunya. Pada masa Hindia Belanda dan awal ken1erdekaan, kawedanan merupakan struktur pemerintahan daerah setingkat di bawah kabupaten {Afdeling) dan membawahi beberapa kecamatan (Onderdistrict). Kawedanan berfungsi sebagai kantor pusat pemerintahan di wilayah Ambal yang lebih luas, menjadi perpanjangan tangan langsung dari Bupati/Penguasa
Sebelum menjadi bagian dari Kabupaten Kebumen secara definitif, konon kawasan Ambal, tempat Kepatihan ini berdiri, dulunya merupakan wilayah mancanegara Kesultanan Yogyakarta yang diperintah oleh seorang Pangeran Mangkubumi. lni menunjukkan betapa strategisnya posisi Ambal pada abad ke- 19 sebagai perbatasan kekuasaan Mataram di pesisir selatan Jawa. Di belakang bangunan Kepatihan, masih terdapat sumur tua yang berusia sama dengan Rumah Kepatihan. Rumah Kepatihan sampai sekarang masih ditinggali. Di dalam rumah tersebut tersimpan foto keluarga keturunan Patih/ Wedana.