Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الأرواحُ جنودٌ مجنَّدةٌ . فما تعارف منها ائتَلَف . وما تناكَر منها اختلف
Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun dalam kesatuan. Jika saling mengenal di antara mereka maka akan bersatu. Dan yang saling merasa asing di antara mereka maka akan berpisah.” (HR. Muslim 6376)
Al-Khoththobi rahimahullah berkata :
على معنى التشاكل في الخير والشر والصلاح والفساد، وأن الخير من الناس يحن إلى شكله والشرير نظير ذلك يميل إلى نظيره، فتعارف الأرواح يقع بحسب الطباع التي جُبلت عليها من خير وشر، فإذا اتفقت تعارفت، وإذا اختلفت تناكرت
Bisa jadi bermakna isyarat atas kesamaan dalam hal kebaikan dan kejelekan serta perbaikan dan kerusakan. dan bahwasanya manusia yang baik akan rindu kepada jenisnya (yang baik pula), sedangkan yang jelek dan semisal itu maka akan condong kepada yang sejenisnya pula. Para ruh akan saling mengenal,
sehingga akan hinggap sesuai dengan tabiat yang telah diciptakan di atasnya dari kebaikannya maupun kejelekannya, maka apabila telah cocok maka akan saling mengenal, dan apabila berbeda maka akan saling mengingkari.” (nukilan Al-Fath, juz 3, Halaman 199)
Jika kita lihat maka akan sering kita dapati :
• Jiwa yang berusaha berjihad dijalan Allah maka akan senang berkumpul dengan jiwa-jiwa yang berjihad dijalan Allah..
Jiwa yang suka berderma dan baik hati akan cinta kepada yang semisalnya dan akan merasa condong kepadanya.
Begitu pula jiwa yang berlebihan memandang dunia dalam kehidupan ini, dia pun akan merasa nyaman, dan condong kepada jiwa yang setipe dengannya..
Sedangkan jiwa yang tidak baik akan berkawan dengan yang sejenis dan akan condong kepadanya serta akan menjauh dari setiap jiwa yang berlawanan dengannya.
Qatadah rahimahullah berkata :
“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al Ibanah 2/477 nomor 500)
source: https://shahihfiqih.com/jiwa-jiwa-akan-berkumpul-dengan-yang-sejenisnya/amp/
.
Repost@selvianarr
🔏📜🔐 KUNCI SURGA (ADA GERIGINYA)
https://www.facebook.com/share/p/QY94UyQWHA5yH9ZU/
🌐 https://t.me/manhajulhaq
Salah seorang ulama generasi tabiin Wahb bin Munabbih pernah ditanya, "Bukankah kunci surga itu "Laa Ilaaha Illallaah"?
Beliau rahimahullah menjawab,
بلى ولكن ليس من مفتاح إلا له أسنان فإن أتيت بمفتاح له أسنان فتح لك وإلا لم يفتح
"Betul, akan tetapi tidaklah disebut kunci kecuali bergerigi, apabila engkau datang membawa kunci yang bergerigi maka pintu itu akan terbuka, jika tidak, maka pintu itu tidak akan pernah terbuka.”
📚 Hilyatul Awliya' (4/66)
Geriginya adalah syarat-syaratnya, sebagaimana shalat memiliki syarat yang menentukan keabsahannya, maka kalimat tauhid juga memiliki syarat yang ketiadaannya menjadi tidak berguna.
Para ulama menyebutkan ada tujuh syarat kalimat tauhid laa ilaaha illallaah yaitu,
1. Ilmu yang meniadakan jahl (kebodohan).
2. Yaqin (keyakinan) meniadakan syakk (keraguan).
3. Ikhlas (kemurnian niat) meniadakan syirik (penyekutuan).
4. Qabul (menerima) meniadakan radd (menolak).
5. Shidq (jujur) meniadakan kadzib (dusta).
6. Inqiyad (tunduk) meniadakan tark (meninggalkan).
7. Mahabbah (cinta) meniadakan baghdha' (benci).
Syarat-syarat ini semestinya dipahami dengan baik agar kalimat tauhid bukan sekedar atribut dan pemanis bibir belaka.
Pembahasan syarat laa ilaha illallah ini diringkas dari dua kitab: (1) Ma’arijul Qobul, I/ 327-332 dan (2) Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar, I/180-184.
✒ Ditulis oleh,
Al-Ust. Fikri Abul Hasan
✿🫘❁࿐❁✿🫘✿❁࿐❁🫘✿
Baca juga
https://rumaysho.com/644-syarat-kalimat-laa-ilaha-illallah-yang-harus-dipenuhi.html
======================================== II ==================================================
MEGATRUST ITU BUKAN FENΟΜΕΝΑ ALAM BIASA TAPI TEGURAN ALLAH ATAS MAKSIAT YANG DILAKUKAN MANUSIA, MUSIK DAN PENYANYI WANITA ADALAH SALAH SATU PENYEBAB BENCANA DAN MUSIBAH...!!!!
Ka'ab radhiyallahu'anhu mengatakan, "Sesungguhnya hanyalah bumi itu akan bergoncang apabila dilakukan berbagai kemaksiatan di atasnya." 📚(Al Jawabul Kafi 73)
Pernah terjadi gempa di kota Madinah, di zaman Umar bin Khatab. Maka Umar berceramah,
"Wahai manusia, apa yang kalian lakukan? Betapa cepatnya maksiat yang kalian lakukan. Jika terjadi gempa bumi lagi, kalian tidak akan menemuiku lagi di Madinah."
Diceritakan oleh Ibn Abi Dunya dari Anas bin Malik, bahwa beliau bersama seorang lelaki lainnya pernah menemui Aisyah.
Lelaki ini bertanya, "Wahai Ummul Mukminin, jelaskan kepada kami tentang fenomena gempa bumi!" Aisyah menjawab,
إذا استباحوا الزنا ، وشربوا الخمور، وضربوا بالمعازف ، غار الله عز وجل في سمائه ، فقال للأرض : تزلزلي بهم ، فإن تابوا ونزعوا ، وإلا أهدمها عليهم
"Jika mereka sudah membiarkan zina, minum khamar, BERMAIN MUSIK, maka Allah yang ada DI ATAS akan CEMBURU.
Kemudian Allah perintahkan kepada bumi: 'BERGUNCANGLAH, jika mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat, BERHENTILAH.
Jika tidak, HANCURKAN mereka'."
Orang ini bertanya lagi,
"Wahai Ummul Mukminin, apakah itu siksa untuk mereka?"
Beliau menjawab
بل موعظة ورحمة للمؤمنين ، ونكالاً وعذاباً وسخطاً على الكافرين
"Itu adalah PERINGATAN dan RAHMAT bagi kaum mukminin, serta HUKUMAN, adzab, dan murka untuk orang kafir." 📚(Al-Jawab Al-Kafi, Hal. 87-88)
Diriwayatkan dari Sahl bin sa'ad bahwasanya Rasulullah shalallahu'alaihi wassalam bersabda, "Tidaklah dekat akhir zaman kecuali (akan) banyaknya tanah longsor (gempa bumi), kerusuhan dan perubahan muka". Ada yg bertanya, "kapankah itu terjadi?". Beliau bersabda," ketika merajalelanya bunyi bunyian (musik) dan biduan wanita"📚 (Lihat Shahih Al Jamie' ash shagir juz 3 no 3559. Al albany).
Dari pernyataan Umar, beliau memahami bahwa penyebab terjadinya gempa di Madinah adalah perbuatan maksiat yang dilakukan masyarakat yang tinggal di Madinah. Pernyataan ini disampaikan kepada para sahabat dan mereka tidak mengingkarinya.
Ini menunjukkan bahwa mereka sepakat dengan pemahaman Umar radhiallahu 'anhu.
Gempa Bumi Ini Terjadi Agar Manusia Meninggalkan Kemaksiatan Dan Kembali Kepada Allah Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa gempa bumi ini terjadi agar manusia meninggalkan kemaksiatan dan kembali kepada Allah,
beliau berkata,
أذن الله سبحانه لها في الأحيان بالتنفس فتحدث فيها الزلازل العظام فيحدث من ذلك لعباده الخوف والخشية والإنابة والإقلاع عن معاصيه والتضرع إليه والندم
"Allah -Subhanah- terkadang mengizinkan bumi untuk bernafas maka terjadilah gempa bumi yang dasyat, sehingga hamba-hamba Allah ketakutan dan mau kembali kepada-Nya, meninggalkan kemaksiatan dan merendahkan diri kepada Allah dan menyesal" 📚(Miftah Daris Sa'adah 1/221).
Perlu diketahui bahwa segala musibah dan kesusahan dunia adalah disebabkan dosa kita dan akibat perbuatan manusia sendiri.
Allah Ta'ala berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)"
(📖QS.Ar-Rum: 41).
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan,
الواجب عند الزلازل وغيرها من الآيات والكسوف والرياح الشديدة والفياضانات البدار بالتوبة إلى الله سبحانه والضراعة إليه وسؤاله العافية, والإكثار من ذكره واستغفاره
"Kewajiban ketika terjadi gempa bumi dan lainnya semisal gerhana, angin kuat, banjir, yaitu menyegerakan taubat, merendahkan diri kepada-Nya, meminta afıyah/keselamatan, memperbanyak dzikir dan ISTIHGFAR"
📚(Majmu' Fatawa)
SINGKATNYA HIDUP DI DUNIA
Khutbah Pertama:
إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
وَ إِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى
Kaum muslimin jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Perjalanan hidup di dunia ini adalah perjalanan yang singkat. Sepanjang apapun usia seseorang, maka kehidupannya tetap singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Kehidupan akhirat itu dimulai dari alam barzah atau alam kubur. Kemudian ditiupnya sangkakala dan hancurnya alam semesta. Setelah itu hari kebangkitan. Setelah berbangkit manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar. Kemudian mendapat syafaat untuk segera diadili. Setelah itu dihitung semua amal-amalnya. Lalu penyerahan catatan amal. Lalu ditimbang. Lalu melewati sirath yang ujungnya surga atau neraka.
Yang pertama alam barzah, kita sama-sama menyaksikan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hidup 63 tahun di dunia, sekarang sudah 15 abad di alam kuburnya. Padang Mahsyar, kata Allah Subhanahu wa Ta’ala,
تَعْرُجُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُۥ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan pada hari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” [Quran Al-Ma’arij: 4].
Kita akan berkumpul di Mahsyar selama 50.000 tahun lamanya. Dan akhirnya manusia akan masuk ke dalam surga atau neraka yang abadi selama-lamanya. Bandingkan dengan berapa tahun hidup kita di dunia ini?
Namun, terkadang manusia itu terpedaya dengan kondisinya di dunia. Ia terpedaya dengan anak-anak dan cucunya, ia Bahagia dan ingin bersama mereka. Menyaksikan pertumbuhan mereka, perjalanan hidup mereka, dan berkumpul bersama mereka. Manusia juga lalai karena hartanya, kebunnya, ternaknya, dan aset-aset lainnya. Ia ingin agar menikmatinya untuk jalan-jalan, beli rumah dan tanah, menyaksikan kebunnya berbuah, dan ternaknya menjadi banyak. Manusia juga terkadang dibuat lupa karena kesehatannya. Ia menyangka kalau hidup sehat, usianya pasti panjang. padahal sepanjang apapun usianya di dunia, itu sangat singkat dibandingkan kehidupan akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ لَهِىَ ٱلْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا۟ يَعْلَمُونَ
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” [Quran Al-Ankabut: 64].
Dalam ayat ini Allah menyebut kehidupan dunia itu sebagai permainan dan senda gurau. Ini adalah sebuah gambaran yang sama-sama kita sadari. Kita tahu waktu bermain kita, waktu senda gurau kita, waktu nongkrong, berlibur, waktu santai, itu lebih sedikit dari bagian kehidupan kita yang serius. Jam kerja lebih banyak dari cuti dan hari libur. Kita sama-sama sadar. Karena itu, sadarilah juga bahwa kehidupan dunia ini seperti itu juga dibanding keseriusan kehidupan yang sebenarnya yaitu kehidupan akhirat.
Dalam ayat yang lain, Allah menggambarkan kehidupan dunia ini seperti Bunga Mawar yang indah.
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِۦٓ أَزْوَٰجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga mawar kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.” [Quran Tha-ha: 131]
Dunia ini indah dan kita tidak memungkirinya. Karena itu, Allah sebut dia indah seperti mawar. Tapi indah dan merekahnya bunga mawar itu hanya singkat waktunya. Kalaupun dia lama, usia kita yang terbatas dengan kematian akan meninggalkannya. Karena itu, Allah mengingatkan kita untuk tidak habis-habisan memfokuskan pandangan mata kita kepadanya. Justru rezeki dari Allah yaitu balasan di akhirat itu lebih baik dan kekal.
Di dalam ayat lainnya, Allah mengumpamakan kehidupan dunia seperti hujan. Allah mengulang-ulang edukasi kepada kita tentang hakikat dunia dengan berbagai permisalan. Agar kalau kita tidak sadar di ayat pertama, mungkin akan tersadar di ayat yang kedua. Yang kedua tidak, mungkin di yang ketiga, dan seterusnya. Atau kalau kita paham di perumpamaan yang pertama, ada perumpamaan lainnya yang mungkin lebih mudah masuk ke akal kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَٱضْرِبْ لَهُم مَّثَلَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ ٱلرِّيَٰحُ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ مُّقْتَدِرًا
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, tidak lama kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.” [Quran Al-Kahfi: 45].
Demikianlah Allah gambarkan cepatnya perubahan kehidupan di dunia ini. Dari kering menjadi subur. Dari subur menjadi kering. Dari miskin, susah, dan sejenisnya menjadi kayak dan Bahagia. Kemudian berbalik kembali. Ini benar-benar kita saksikan di hadapan kita.
Ibadallah,
Masih banyak ayat-ayat yang lain demikian juga hadits-hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang hakikat dunia kepada kita. karena itu, saat di akhirat nanti manusia tidak lagi memiliki alasan. Manusia tidak lagi menuduh Allah zalim belum memberi peringatan. Yang ada di akhirat nanti hanyalah penyesalan. Sebagaimana firman Allah menggambarkan penyesalan mereka yang saat di dunia ini tidak memperhatikan ayat-ayat Allah:
وَقَالُوا۟ لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِىٓ أَصْحَٰبِ ٱلسَّعِيرِ
Dan mereka berkata: “Sekiranya kami dulu di dunia mendengarkan atau memikirkan peringatan itu niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. [Quran Al-Mulk: 10].
Demikian khotbah yang pertama ini
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ؛ فَإِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ للهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَلاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ تَعْظِيمًا لِشَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوانِهِ، صَلَّى اللهُ عَليْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَعْوَانِهِ، وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا..
أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى:
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ketika kita sadar bahwa kehidupan dunia ini sebentar dibanding akhirat, maka hal itu akan membuahkan sikap di antaranya kita sabar terhadap kesulitan dunia. Dan jangan sampai kesulitan dunia ini justru malah menjauhkan kita dari akhirat. Kita tidak ingin hidup susah dua kali, susah di dunia dan susah juga di akhirat.
Ketika kita sadar dunia ini singkat dibanding akhirat, kita juga tidak akan jumawa dan bangga dengan materi kita yang banyak karena kita tidak akan selama-lamanya bersama harta tersebut di dunia. Malah justru kita membekali diri, bagaimana agar harta dunia ini bermanfaat untuk kehidupan akhirat.
Kita juga tidak menjadi berlebih-lebihan dan mengarahkan semua fokus kita untuk dunia, karena khawatir justru hati kita terpaut dengan dunia ini.
Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu pernah bercerita,
دخلتُ على رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وهو على حصيرٍ قال : فجلستُ ، فإذا عليه إزارُه ، وليس عليه غيرُه ، وإذا الحصيرُ قد أثَّر في جنبِه ، وإذا أنا بقبضةٍ من شعيرٍ نحوَ الصَّاعِ ، وقَرظٍ في ناحيةٍ في الغرفةِ ، وإذا إهابٌ مُعلَّقٌ ، فابتدرت عيناي ،
فقال : يا نبيَّ اللهِ وما لي لا أبكي ! وهذا الحصيرُ قد أثَّر في جنبِك وهذه خِزانتُك لا أرَى فيها إلَّا ما أرَى ، وذاك كسرَى وقيصرُ في الثِّمارِ والأنهارِ ، وأنت نبيُّ اللهِ وصفوتُه وهذه خِزانتُك . قال : يا بنَ الخطَّابِ أما ترضَى أن تكونَ لنا الآخرةُ ولهم الدُّنيا
“Aku pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sedang di atas tikar dan akupun duduk. Saat itu beliau hanya mengenakan sarung dan tidak berbaju. Kulihat anyaman tikar membekas di sisi tubuhnya. Aku menggenggam gandum kira-kira sebanyak satu sha’ dan kulihat ada seonggok kayu di ujung ruangan dan kulit yang belum disamak menggantung. Meneteslah air mataku.”
فقال : ما يُبكيك يا بنَ الخطَّابِ ؟
“Mengapa engkau menangis wahai putra al-Khattab”? tanya beliau.
فقال : يا نبيَّ اللهِ وما لي لا أبكي ! وهذا الحصيرُ قد أثَّر في جنبِك وهذه خِزانتُك لا أرَى فيها إلَّا ما أرَى ، وذاك كسرَى وقيصرُ في الثِّمارِ والأنهارِ ، وأنت نبيُّ اللهِ وصفوتُه وهذه خِزانتُك
Aku berkata, “Wahai Nabi Allah, bagaimana aku tidak bersedih. Lihatlah tikar ini membekas di kulit Anda. Barang-barang perabot Anda, begitu kondisinya. Sementara Kisra (Raja Persia) dan Caesar (Raja Romawi) dikelilingi kebun-kebun dan Sungai-sungai. Padahal engkau adalah nabinya Allah dan manusia pilihan-Nya hanya ini yang engkau miliki.”
. قال : يا بنَ الخطَّابِ أما ترضَى أن تكونَ لنا الآخرةُ ولهم الدُّنيا
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, “Wahai Putra al-Khattab, tidakkah engkau ridha akhirat menjadi bagian kita sementara untuk mereka hanya dunia.” [At-Targhib wa At-Tarhib, 4/175].
Dalam riwayat lain dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
نامَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ علَى حصيرٍ فقامَ وقد أثَّرَ في جنبِهِ فقلنا يا رسولَ اللَّهِ لوِ اتَّخَذنا لَكَ وطاءً فقالَ ما لي وما للدُّنيا ، ما أنا في الدُّنيا إلَّا كراكبٍ استَظلَّ تحتَ شجرةٍ ثمَّ راحَ وترَكَها.
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas tikar dan membekas di sisi tubuhnya. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kami memberikan Anda Kasur’. Nabi menjawab, ‘Apa artinya dunia untukku. Aku di dunia ini seperti seorang berkendara, lalu istrirahat di bawah naungan pohon. Setelah itu melanjutkan kembali perjalanan’.” [HR. At-Turmudzi 2377].
Hadits-hadits seperti ini bukanlah melarang kita menjadi orang kaya dan memotivasi kita aga hidup miskin, tidak. Hadits-hadits ini mengajarkan kita tentang singkatnya kehidupan dunia dan remehnya dunia di hadapan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kekayaan tidak bisa ditolak oleh seseorang tatkala Allah menakdirkannya kaya, meskipun dia lari darinya. Demikian juga kemiskinan tidak bisa ditolak walaupun orang berlari mengejar kekayaan.
Kaum muslimin,
Mudah-mudahan khotbah yang singkat ini bisa menjadi nasihat untuk kita bersama. Kalau dunia yang singkat ini saja kita persiapkan dengan persiapan terbaik, mestinya akhirat kita persiapkan dengan persiapan yang lebih baik lagi. Karena yang namanya perjalanan jauh dan panjang pasti membutuhkan bekal lebih banyak dibanding perjalanan yang singkat.
Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita untuk mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan meningkatkan kualitas ibadah kita kepada-Nya. Amin..
﴿إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: 56]، وَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا» [رَوَاهُ مُسْلِم].
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الأَئِمَّةِ المَهْدِيِيْنَ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِي الحَسَنَيْنِ عَلِي، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنِ التَابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ ، وَأَذِلَّ الشِرْكَ وَالمُشْرِكِيْنَ ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُوْرِنَا وَاجْعَلْ وِلَايَتَنَا فِيْمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَ أَمْرِنَا لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى وَأَعِنْهُ عَلَى البِرِّ وَالتَقْوَى وَسَدِدْهُ فِي أَقْوَالِهِ وَأَعْمَالِهِ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ، اَللَّهُمَّ وَفِّقْ جَمِيْعَ وُلَاةَ أَمْرِ المُسْلِمِيْنَ لِلْعَمَلِ بِكِتَابِكَ وَاتِّبَاعِ سُنَّةَ نَبِيِّكَ صلى الله عليه وسلم ، وَاجْعَلْهُمْ رَأْفَةً عَلَى عِبَادِكَ المُؤْمِنِيْنَ
اللَّهمَّ أسألُكَ حُبَّكَ ، وحَبَّ مَن يُحِبُّكَ ، وحُبًّا يُبَلِّغُني حُبَّكَ
عِبَادَ اللهِ : اُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ، ) وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ ( .
Ditulis oleh Nurfitri Hadi, M.A.
sumber : https://khotbahjumat.com/6679-singkatnya-hidup-di-dunia.html
Via HijrahApp