MATERI 01 - PENTINGNYA MEMPELAJARI TAUHID
📆 Senin, 18 Rabi'ul Awwal 1445 H/04 September, 2023 M
👤 Ustadz Muhammad Wasitho, Lc., M.A.
📗 Aqidah - Modul 01
🌐 https://madeenah.bimbinganislam.com/
Transkrip
MADEENAH..
Belajar Islam dasar, dengan pemahaman yang benar
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين الذي أنزل شريعة الإسلام هُدًى لِلنَّاسِ ورحمة للعالمين، أما بعد :
Dalam pertemuan perdana ini, kita akan membahas tentang pentingnya mempelajari dan memahami tentang al-iman atau tentang keimanan. Hal ini sangat penting bagi seorang muslim agar ia mendapatkan kehidupan yang selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.
Karena pembahasan tentang iman merupakan pembahasan paling utama, paling agung, dan paling mendesak di dalam diinul Islam (agama islam). Orang yang beriman akan mendapatkan keselamatan dan kebaikan di dunia dan akhirat apabila ia mewujudkan keimanan yang benar.
Maksudnya keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat tidak mungkin dicapai oleh siapapun tanpa mewujudkan al-iman as-shahih (keimanan yang benar).
Oleh karenanya, siapapun dari hamba-hamba Allah yang hidup di dunia ini dan dia beriman kepada Allah dengan iman yang benar, iman sebagaimana yang diajarkan oleh Allah dalam Al-Qur'an dan diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih, maka dijamin dia akan mendapatkan banyak manfaat dan kebaikan di dunia dan akhirat.
Di antara manfaat-manfaat yang akan didapatkan oleh seorang hamba yang beriman dengan iman yang benar, iman yang lurus, iman yang murni dari segala penyimpangan dari noda-noda kesyirikan dan kekafiran, maka ia akan mendapatkan banyak hal.
Di antaranya;
⑴ Dia akan mendapatkan kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.
⑵ Dia akan selamat dari segala keburukan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.
⑶ Dia akan mendapatkan pahala dan kenikmatan yang kekal abadi yang tidak akan hilang dan lenyap.
Inilah beberapa manfaat dan keutamaan yang akan didapatkan oleh seorang hamba yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar, iman yang lurus, iman yang bersih, dan murni dari noda-noda kesyirikan maupun kekafiran.
Di antara dalil yang menunjukkan tentang beberapa manfaat dan keutamaan yang akan didapat oleh seorang hamba yang beriman dengan iman yang benar yang sebagaimana yang telah kita sebutkan tadi.
Di antaranya adalah:
⑴ Firman Allah di dalam surat An-Nahl ayat 97:
مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
"Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih (amal kebaikan) dari laki-laki maupun perempuan dan dia dalam keadaan beriman (beriman kepada Allah dengan iman yang benar), maka Kami (kata Allah) akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik (bahagia) dan sungguh Kami akan memberikan kepada mereka balasan dengan pahala yang lebih baik atas apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. An-Nahl:97)
Ayat ini menunjukkan bahwa balasan dari Allāh bagi orang-orang yang beriman dengan iman yang benar yaitu Allah akan menganugerahkan kepadanya kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.
⑵ Firman Allah subhanahu wa ta'ala di dalam surat Al-Isra ayat 19:
وَمَنۡ أَرَادَ ٱلۡأٓخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعۡيَهَا وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَأُوْلَٰٓئِكَ كَانَ سَعۡيُهُم مَّشۡكُورٗا
"Barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berupaya menuju ke arah tersebut (berupaya untuk beramal menuju ke akhirat) dan ia dalam keadaan beriman, maka jerih payah (amal usaha) mereka akan diberi balasan yang lebih baik oleh Allah subhanahu wa ta'ala."
(QS. Al-Isra':19)
⑶ Firman Allah subhanahu wa ta'ala di dalam surat Thaha ayat 75:
وَمَن يَأۡتِهِۦ مُؤۡمِنٗا قَدۡ عَمِلَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فَأُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلدَّرَجَٰتُ ٱلۡعُلَىٰ
"Barangsiapa datang kepada Allah (menghadap Allah) dalam keadaan beriman dan ia telah mengerjakan amalan-amalan shalih, maka mereka akan mendapatkan kedudukan atau tempat yang sangat tinggi di dalam Surga."
(QS. Thaha:75)
⑷ Firman Allah subhanahu wa ta'ala di dalam surat Al-Kahfi ayat 107 dan 108:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَانَتۡ لَهُمۡ جَنَّٰتُ ٱلۡفِرۡدَوۡسِ نُزُلًا ۞ خَٰلِدِينَ فِيهَا لَا يَبۡغُونَ عَنۡهَا حِوَلٗا
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih, maka mereka akan mendapatkan surga Firdaus sebagai tempat tinggalnya. Mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin keluar atau berpindah dari Surga tersebut."
Ini beberapa dalil dari ayat Al-Qur'an yang menunjukkan bahwa orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang benar, iman yang lurus, iman yang murni, dari noda kekafiran dan kesyirikan, mereka akan mendapatkan banyak keutamaan dan manfaat. Di antaranya adalah kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat dan mendapatkan kenikmatan yang kekal abadi.
Demikian pelajaran kita pada pertemuan kali ini.
وسبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
🔊 MATERI 02 : KONSEKUENSI SYAHADAT
📆 Selasa, 19 Shafar 1445 H/05 September, 2023 M
👤 Ustadz Muhammad Wasitho, Lc., M.A.
📗 Aqidah - Modul 01
🌐 https://madeenah.bimbinganislam.com/
Transkrip
MADEENAH...
Belajar Islam Dasar, Dengan Pemahaman Yang Benar
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين الذي أنزل شريعة الإسلام هُدًى لِلنَّاسِ ورحمة للعالمين، أما بعد :
Ma'asyiral Ikhwatiy wa Al-Akhawat, kaum muslimin dan muslimat yang semoga dirahmati dan diberkahi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kalau kita melihat kepada sejarah Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, bagaimana Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mengajarkan dan mendakwahkan Islam di tengah keluarga dan kerabatnya. Bagaimana Beliau bersemangat mengajak kaumnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat, mengucap kalimat Tauhid, kalimat tahlil, agar mereka menjadi muslim kemudian mukmin.
Agar mereka keluar dari kekafiran, sebagai contoh ketika paman Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam yang bernama Abu Thalib. Abu Thalib paman Nabi yang sangat besar perhatian dan kasih sayangnya kepada Nabi, yang mengasuh Nabi, mendidik Nabi sepeninggal orang tuanya dan kakeknya yang bernama Abdul Muththalib.
Abu Thalib betul-betul memelihara dan menyayangi keponakannya melebihi anak-anak kandungnya sendiri, Abu Thalib yang membela dan melindungi Nabi dari gangguan orang-orang musyrikin Quraisy, bahkan Abu Thalib hatinya percaya, hati kecilnya meyakini kebenaran agama Islam yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam.
Namun sayang ketika beliau sakit (kritis) yang mengantarkan beliau kepada kematian. Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam menjenguk pamannya (Abu Thalib) dan mengajari atau mengajak pamannya agar mengucapkan syahadat Laa ilaaha illallaah (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ).
يا عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
"Wahai paman, ucapkanlah kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ yaitu kalimat yang akan aku jadikan sebagai argumen atau hujjah dihadapan Allah."
Engkau orang muslim, engkau orang mukmin berhak masuk Surga dan berhak selamat dari siksa Neraka.
Tetapi pada saat itu Abu Thalib dijenguk oleh teman-teman dekatnya juga seperti Abu Jahal dan kawan-kawannya. Maka Abu Jahal ketika melihat Abu Thalib diseru (diajak) oleh Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam untuk masuk Islam mengucapkan kalimat Tauhid, "Laa ilaaha illallaah (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ)", Abu Jahal pun berusaha menghalang-halangi Abu Thalib dari mengucapkan ucapan tersebut.
Maka Abu Jahal berkata kepada Abu Thalib,
يَا أَبَا طَالِبٍ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
Wahai Abu Thalib, "Apakah sekarang engkau tidak suka, apakah sekarang engkau benci terhadap agama bapakmu sendiri? Keyakinan dan tradisi ayahmu (Abdul Muththalib) dan nenek moyangmu (menyembah berhala, mengagungkan jin dan sebagainya)?"
Maka Nabi Muhammad mengulang dakwahnya kembali kepada Tauhid.
يا عَمِّ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ
Kemudian Abu Jahal pun tidak mau diam, tidak mau kalah, diulang lagi ucapan,
يَا أَبَا طَالِبٍ، تَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ
Maka terjadi tarik ulur antara dakwah Tauhid dengan dakwah Syirik, dakwah Iman dengan dakwah Kekafiran.
Lalu bagaimana sikap Abu Thalib?
Abu Thalib sangking binggungnya untuk menyambut dua seruan (dua ajakan), ajakan keponakannya yang dia cintai dan ajakan teman lamanya yang sangat akrab yaitu Abu Jahal. Dakwah Islam dengan dakwah kekafiran, dakwah Tauhid dengan dakwah Syirik.
Maka Abu Thalib mengungkapkan apa yang diyakini oleh hatinya. Apa kata Abu Thalib dalam sebuah bait syair?
وَلَقَـد عَلِمْتُ بِأَنَّ دِيـنَ مُحَمَّـدٍ مِـنْ خَيْرِ أَدْيَـانِ البَرِيَّةِ لَوْلا مَسَبَّـةٍ أوْ الْمَلامَـةُ لَوَجَدْتَنِـي سَمْحُـا بِذَاكَ مُبِينَا
Sungguh aku telah mengetahui dan meyakini.
Lihat! عَلِمْتُ (ilmu), jadi mengetahui dan mengetahui.
Sungguh aku telah mengetahui dan meyakini bahwasanya agama yang dibawa oleh Muhammad merupakan sebaik-baik agama bagi manusia.
Lihat! Pernyataan yang jujur yang keluar dari hati Abu Thalib yang sangat tulus.
"Sungguh aku telah mengetahui dan meyakini bahwas agama yang dibawa oleh Muhammad (Islam) adalah sebaik-baik agama bagi manusia. Kalau bukan karena takut dicaci maki, dikucilkan, dicemooh oleh masyarakat (kaumnya), niscaya kalian mendapati diriku memeluk agama Islam (menerima dakwah Tauhid, dakwah Iman)." MasyaAllah
Sampai akhirnya ketika malaikat maut mencabut nyawa, Abu Thalib dalam keadaan tidak sempat atau tidak bisa mengucapkan syahadat,"Laa ilaaha illallaah (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ)", dia mati di atas kesyrikan dan kekafiran.
Maka keyakinannya dengan hati tentang benarnya agama Islam, bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan yang hak, tidak bermanfaat. Kenapa? Karena lisannya tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. Tadi dalam unsur yang pertama daripada unsur-unsur Iman, Iman itu pengucapan dengan lisan, maka harus diucapkan dengan lisan tidak cukup dengan keyakinan hati.
Sebaliknya orang munafik, lisannya rajin mengucapkan syahadat, "Laa ilaaha illallaah (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) Muhammad Rasulullah (مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ)", tapi hatinya tidak percaya, hatinya tidak yakin dengan kebenaran makna dan tuntutan syahadat, "Laa ilaaha illallaah (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ)", maka mereka pun diadzab oleh Allah di dalam api neraka Jahannam secara kekal abadi.
Kemudian unsur iman yang ketiga وعمل بالأركان iman itu adalah pengamalan dengan anggota badan. Jadi ketika lisan sudah mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian hati telah meyakini, membenarkan makna dan konsekuensi dua kalimat syahadat. Anggota badan dari ujung rambut sampai ujung kaki harus siap melaksanakan apa yang menjadi tuntutan dan konsekuensi dua kalimat syahadat.
Tidak boleh berdiam diri atau cuek (lalai) terhadap konsekuensi dan tuntutan dua kalimat syahadat, karena ucapan syahadat, "Laa ilaaha illallaah (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ)" yang telah diikrarkan dengan lisannya memiliki konsekuensi dan tuntutan, demikian pula dengan syahadat yang kedua, "Muhammad Rasulullāh (مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ)".
Apa konsekuensinya? Syahadat Laa ilaaha illallaah (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) "Aku bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah".
Di sini ada dua konsekuensi, ada dua tuntutan.
⑴ Tuntutan yang pertama, yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba yaitu عبادة الله وحده - Dia wajib beribadah kepada Allah saja, dia wajib menghambakan diri hanya kepada Allah, dia wajib memberikan segala ketaatan hanya untuk Allah bukan kepada selainnya.
⑵ Konsekuensi yang kedua daripada syahadat, "Laa ilaaha illallaah (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ)" adalah الكَفَرَ بما يُعْبَدُ من دون الله - Wajib mengingkari segala sesembahan selain Allah.
Apa saja yang disembah selain Allah, apakah berupa tuhan matahari, tuhan patung dan berhala, tuhan api, tuhan dewa, tuhan kuburan maupun yang lainnya yang diagungkan dan dikeramatkan. Maka wajib dijauhi dan ditinggalkan serta diingkari.
Dan wajib diyakini, bahwa itu semua adalah tuhan yang bathil, sesembahan yang tidak berhak untuk dijadikan tuhan. Itu semua tuhan yang lemah, itu semua adalah makhluk ciptaan Allah.
Kemudian syahadat yang kedua yaitu syahadat Muhammad Rasulullah, memiliki empat konsekuensi atau empat tuntutan.
Apa saja?
تَصْدِيقُهُ فِيمَا أَخْبَرَ
⑴ Ketika seorang muslim dan muslimah sudah mengucapkan dengan lisannya," أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ Aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah", maka dia wajib mempercayai dan membenarkan apa saja yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam.
Apapun perkara, kejadian atau peristiwa yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam baik yang berkaitan dengan peristiwa di masa yang lalu atau di waktu yang akan datang atau yang berkaitan dengan perkara ghaib, maka kita wajib percaya dan membenarkannya. Karena Beliau shallallahu 'alayhi wa sallam tidak berbicara kecuali berdasarkan wahyu dari Allah.
Nabi mengabarkan tentang perkara ghaib, bahwa di alam kubur mayit akan mendapatkan nikmat kubur atau siksa kubur, kita wajib percaya dan membenarkan.
Nabi memberitakan bahwa di akhir zaman sebelum terjadinya kiamat kubra akan turun nabi Isa ke muka bumi (nabi Isa masih hidup) kita wajib percaya.
Nabi mengabarkan bahwasa Dajjal akan keluar dan mengelilingi muka bumi dengan cepat, memiliki kemampuan yang luar biasa. Kita wajib percaya.
Kemudian Nabi mengabarkan tentang peristiwa-peristiwa penting dan kejadian-kejadian dahsyat di negeri akhirat, manusia akan berdiri menghadap Allah dalam waktu yang sangat panjang, matahari jaraknya dari ubun-ubun manusia sejauh 2 mill.
Di sana ada timbangan amal, di sana ada jembatan yang terbentang di atas neraka Jahannam menuju pintu Surga, kemudian manusia akan diberi dan dibagikan oleh Allah kitab (catatan) amal mereka. Kita wajib percaya karena Nabi yang mengabarkannya. Kita wajib meyakini dan membenarkannya.
Ini konsekuensi yang pertama.
Konsekuensi syahadat Muhammad Rasulullah yang kedua adalah:
طَاعَتُهُ فِيمَا أَمَرَ
⑵ Kita wajib mentaati dan melaksanakan apa saja yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam.
Apapun yang Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam perintahkan kepada umatnya, kita wajib mengamalkannya, walaupun terasa berat di dalam jiwa kita, walaupun sedikit orang yang mengamalkannya. Dan perintah Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam telah disebutkan di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah
اجْتِنَابُ مَا نهى عنه وزجر
⑶ Kita wajib menjauhi apa saja yang dilarang oleh Beliau shallalla hu 'alayhi wa sallam, meskipun banyak orang yang melakukannya, meskipun jiwa kita menyukainya. Kita wajib meninggalkannya selama itu adalah larangan dari Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam. Diharamkan oleh Nabi dalam Al-Qur'an maupun di dalam As-Sunnah.
Konsekuensi yang keempat ketika kita telah mengucapkan, " أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ", kita wajib.
عبدة الله تعالى بما شرع
⑷ Kita wajib beribadah kepada Allah dengan mengikuti syari'at Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam, kita wajib beribadah kepada Allah sesuai dengan petunjuk dan tuntutan Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam, bukan dengan petunjuk atau tuntutan selain Beliau.
Apakah petunjuk dan tuntunan buatan ustadz kita, kyai kita, habib atau syaikh atau ulama siapapun. Kita wajib meninggalkannya dan mengikuti petunjuk Nabi, karena petunjuk Nabi adalah (kata beliau),
وخير الهديِ هديُ محمَّدٍ صلى الله عله وسلم
"Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam."
Jadi inilah yang dimaksud dengan وعمل بالأركان pengamalan dengan anggota badan, maksudnya anggota badan kita siap melaksanakan, taat dan tunduk terhadap apa yang menjadi konsekuensi syahadat, "Laa ilaaha illallaah (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ)" dan syahadat "Muhammad Rasulullah (مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ)".
Demikian pelajaran kita pada pertemuan kali ini.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
وسبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
🔊 MATERI 03 : DEFINISI TAUHID RUBUBIYYAH
📆 Rabu, 20 Shafar 1445 H/06 September, 2023 M
👤 Ustadz Muhammad Wasitho, Lc., M.A.
📗 Aqidah - Modul 01
🌐 https://madeenah.bimbinganislam.com/
Transkrip
MADEENAH..
Belajar Islam dasar, dengan pemahaman yang benar
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين الذي أنزل شريعة الإسلام هُدًى لِلنَّاسِ ورحمة للعالمين، أما بعد :
Ikhwan wal Akhawatiy fīllāh, kaum muslimin dan muslimat, yang semoga dirahmati dan diberkahi Allāh subhānahu wa ta'āla.
Berbicara dan membahas tentang beriman kepada Allāh merupakan pembahasan yang sangat penting. Karena beriman kepada Allāh merupakan akarnya akar-akar keimanan, pondasi utama, prinsip-prinsip keimanan. Bahkan beriman kepada Allāh merupakan perkara keimanan yang paling agung dan paling tinggi dan ia merupakan pondasi utama dan landasan dasar bagi bangunan keimanan.
Semua prinsip-prinsip keimanan atau pokok-pokok keimanan bercabang dari الإيمان بالله (Beriman kepada Allāh), semuanya kembali kepada الإيمان بالله (Beriman kepada Allāh).
Beriman kepada Allāh azza wa jalla maknanya adalah:
الإيمان بوحدانية الله تعالى للربوبيّة والألوهية و الأسماء والصفات
Makna atau definisi dari beriman kepada Allāh adalah beriman kepada ke-Maha Esaan Allāh, ke-Maha Tunggalan Allāh dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya dan asma wa sifat-Nya.
Kita ulang sekali lagi!
Apa makna beriman kepada Allāh?
Apa pengertian الإيمان بالله?
Maknanya adalah beriman terhadap ke-Maha Esaan Allāh subhānahu wa ta'āla di dalam rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, dan asma wa sifat-Nya. Inilah tiga prinsip utama yang berdiri tegak di atasnya الإيمان بالله.
Tiga pokok utama, dimana beriman kepada Allāh berdiri tegak di atasnya. Berdasarkan definisi ini para ulama ahlus sunnah wal jamā'ah telah membagi tauhid di dalam Islam menjadi tiga macam.
Para ulama bahkan para nabi, para rasul yang Allāh utus kepada manusia, mereka telah mengetahui dan membagi tauhid dalam Islam menjadi tiga macam.
⑴ Tauhid Ar-Rububiyyah (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ),
⑵ Tauhid Al-Uluhiyyah (توحيدُ الأُلوهيَّةِ),
⑶ Tauhid Al-Asma wa As-Sifat (تَوْحِيْدُ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ).
Apa yang dimaksud dengan 'tauhid rububiyyah' (توحيد الربوبية)? Tauhid rububiyyah (توحيد الربوبية) adalah:
الإقرار بأنَّ الله تعالى رب كـلّ شيء ومليكُه وخالقُه ورازقُه، وأَنه المحيي المميتُ النـافعُ الضـار، المتفـرِّدُ بالإجابة عند الاضطرار، الذي له الأمر كله، وبيده الخير كله، وإليه يُرجـع الأمرُ كله، لا شريك له في ذلك.
Pengertian atau definisi 'tauhid rububiyyah' (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) adalah pernyataan atau ikrar dan keyakinan bahwa Allāh subhānahu wa ta'āla adalah Rabb (Tuhannya) segala sesuatu. Tuhannya segala makhluk serta pemilik dan pencipta dan yang memberikannya rezeki.
Meyakini bahwa Allāh adalah dzat yang Maha Menghidupkan dan Mematikan serta Dzat yang Maha Memberikan Manfaat dan Mudharat, dan juga meyakini bahwa Allāh dzat yang Maha Tunggal (Maha Esa) untuk mengabulkan permohonan orang-orang yang dalam keadaan kesempitan atau dalam keadaan darurat.
Segala urusan dan perintah hanya milik Allāh, dan di tangan Allāh segala kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Semua kebaikan hanya ada di tangan Allāh, segala urusan akan kembali kepada Allāh. Tidak ada Tuhan (sekutu) bagi-Nya dalam segala hal tersebut.
Maksudnya (Allāh) kita yakini bahwa Dia Maha Esa, Dia Maha Tunggal dalam menciptakan segala makhluk. Dia Maha Tunggal dan Maha Esa dalam memberikan rezeki kepada semua makhluk, Dia Maha Esa, Maha Tunggal dalam menghidupkan maupun mematikan makhluk.
Tidak ada tuhan atau siapa pun dari makhluk yang membantu Allāh. Tidak ada tuhan tandingan bagi Allāh, tidak ada tuhan sekutu bagi Allāh dalam menjalankan perbuatan-perbuatannya tersebut.
Makanya sebagian ulama menjelaskan makna Tauhid Rububiyyah (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) secara singkat adalah إفراد الله بأفعال (Mengesakan Allāh di dalam perbuatan-perbuatannya).
Apa saja perbuatan Allāh?
Tadi sebagian sudah kita sebutkan, di antara perbuatan Allāh adalah menciptakan, membagikan rezeki, mengatur alam semesta, menghidupkan dan mematikan makhluk, memberikan manfaat dan mudharat atau mencegah mudharat, mengabulkan segala permohonan hamba. Ini adalah perbuatan-perbuatan Allāh.
Maka kita meyakini bahwasanya Allāh di dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan tersebut Maha Esa, tidak ada yang membantu-Nya, tidak ada yang menjadi sekutu bagi-Nya, atau tidak yang menjadi tandingan bagi Allāh subhānahu wa ta'āla.
Inilah Tauhid Rububiyyah (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ).
Demikian yang dapat kami sampaikan pada pertemuan kali ini.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
🔊 MATERI 04 : DEFINISI TAUHID ULUHIYYAH
📆 Kamis, 21 Shafar 1445 H/07 September 2023 M
👤 Ustadz Muhammad Wasitho, Lc., M.A.
📗 Aqidah - Modul 01
🌐 https://madeenah.bimbinganislam.com/
Transkrip
MADEENAH..
Belajar Islam dasar, dengan pemahaman yang benar
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين الذي أنزل شريعة الإسلام هُدًى لِلنَّاسِ ورحمة للعالمين، أما بعد :
Adapun macam tauhid yang kedua, yaitu 'tauhid al-uluhiyyah' (توحيدُ الأُلوهيَّةِ). Apa yang dimaksud dengan 'tauhid al-uluhiyyah' ( توحيدُ الأُلوهيَّةِ)? Kata penulis kitab Ushul al-Iman fi Dhaouil Kitabi was Sunnah, 'tauhid al-uluhiyyah' (توحيدُ الأُلوهيَّةِ) artinya adalah,
إفراد الله تعالى وحده بالذلِّ والخضـوع والمحبَّة والخشوع والركوع والسجود والذبح والنذر، وسائر أنواع العبـادة لا شريك له.
'Tauhid al-uluhiyyah' (توحيدُ الأُلوهيَّةِ) adalah mengesakan Allāh, Tuhan satu-satunya. Dengan apa? Dengan merendahkan diri (dengan kerendahan diri), dengan ketundukan, kecintaan, kekhusyu'an, dengan rukuk, sujud, menyembelih hewan, nadzar dan segala macam bentuk ibadah. Tidak ada tuhan sekutu bagi Allāh.
Maksudnya apa? Secara singkat, definisi tauhid al-uluhiyyah (توحيدُ الأُلوهيَّةِ) adalah إفراد الله تعالى بالعبادة (Mengesakan Allāh dalam beribadah kepada-Nya).
Kita lanjutkan lagi, apa itu 'tauhid al-uluhiyyah' (توحيدُ الأُلوهيَّةِ), 'tauhid al-uluhiyyah' adalah mengesakan Allāh dalam beribadah kepada-Nya. Ibadah adalah perbuatan-perbuatan hamba, oleh karenanya nama lain dari 'tauhid al-uluhiyyah' ( توحيدُ الأُلوهيَّةِ) adalah tauhid ibadah .
Ketika kita beribadah dengan ibadah apapun, kita wajib memberikannya hanya kepada Allāh, kita niatkan hanya untuk Allāh, kita tujukan hanya untuk Allāh, tidak boleh diberikan kepada siapa pun selain Allāh. Apakah kepada malaikat, apakah kepada Nabi dan Rasul, pada wali, kepada orang shalih, pada jin atau yang lain? Tidak boleh! Kita melakukan rukuk dan sujud hanya kepada Allāh.
Kita taat dan tunduk, merendahkan diri hanya kepada Allāh, kita berdoa, bertawakal, isti'anah (memohon pertolongan), isti'adzah (memohon perlindungan) hanya kepada Allāh, menyembelih hewan hanya ditujukan untuk Allāh, tidak boleh kepada selainnya.
Makanya ibadah itu maknanya luas, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh.
Apa itu ibadah? Ibadah adalah:
اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه، من الأقوال والأفعال الظاهرة و الباطنة
"Ibadah adalah suatu nama yang mencakup apa saja yang dicintai dan diridhai oleh Allāh, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang tampak maupun tidak tampak."
Kita ulang lagi definisi ibadah yang komprehensif (lengkap) yang sempurna sebagaimana penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh, yaitu suatu nama yang mencakup apa saja yang dicintai dan diridhai Allāh, baik berupa ucapan maupun perbuatan yang tampak maupun yang tidak tampak, yang lahir maupun yang batin.
Oleh karenanya, dengan definisi ini kita bisa mengetahui bahwa ibadah itu bentuknya macam-macam, ada ibadah dengan lisan, ada ibadah dengan hati, ada ibadah dengan anggota badan, ada ibadah dengan harta.
Ibadah dengan lisan contohnya membaca al-Qur'an, berdzikir, bertasbih, beristighfar, mengumandangkan adzan, berdakwah, menyampaikan atau mengajarkan ilmu, ini adalah contoh ibadah dengan lisan.
Contoh ibadah dengan anggota badan seperti shalat, menunaikan haji dan umrah, puasa, berjihad, termasuk menimba ilmu agama. Menimba ilmu agama termasuk ibadah dengan anggota badan, tangan kita mencatat, kaki kita melangkah menuju tempat-tempat kajian, kemudian mata kita melihat apa yang kita baca, apa yang ditulis oleh guru, telinga kita mendengar apa yang disampaikan oleh seorang guru agama.
Contoh ibadah dengan hati, seperti ikhlas, khusyu', sabar, ridha, tawakal, ini adalah contoh ibadah-ibadah dengan hati. Rasa takut, rasa cinta pada Allāh.
Adapun contoh ibadah dengan harta seperti, zakat, sedekah, berinfak di jalan Allāh dengan harta yang kita miliki, bernadzar dengan harta, ini contoh-contoh, ibadah dengan harta. Termasuk juga wakaf dengan harta.
Maka, ketika seorang hamba memahami tauhid al-uluhiyyah, maka maksudnya adalah ia mengesakan Allāh dalam beribadah kepada-Nya إفراد الله تعالى بالعبادة atau dengan kata lain إفراد الله بأفعال العبادة (Mengesakan Allāh dengan perbuatan-perbuatan hamba, yaitu ibadah).
Allāh tidak memiliki tuhan sekutu dalam beribadah. Ibadah apapun tidak boleh kita tujukan kepada selain Allāh. Tidak boleh! Semua harus ditujukan untuk Allāh, karena Dia yang Maha Esa, Maha Tunggal dalam menciptakan, dalam mengatur alam semesta, dalam membagikan rezeki, dalam menurunkan hujan, menghidupkan dan mematikan makhluk.
Maka Dia-lah yang berhak untuk disembah, sedangkan makhluk tidak ada yang mampu menciptakan mengatur alam semesta, membagi rezeki, menghidupkan. Tidak ada yang mampu, mendatangkan manfaat, mencegah mudharat atau bencana. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu menjalankan itu semua. Maka hanya Allāh yang berhak untuk diibadahi dan dijadikan sesembahan yang hak.
Adapun pembahasan kita pada pertemuan kali ini yaitu tentang macam tauhid yang ketiga yaitu 'tauhid asma' was sifat' (تَوْحِيْدُ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ).
Apa yang dimaksud dengan 'tauhid asma' was sifat' (تَوْحِيْدُ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ)?
Tauhid asma' was sifat' (تَوْحِيْدُ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ) kata para ulama penulis kitab Ushulul Iman fi Dhouil Kitabi was Sunnah yaitu:
إفراد الله تعالى بما سمـى ووصف به نفسه في كتابه وعلى لسان نبيه صلى الله عليه وسلم وتنـزيهه عـن النواقص والعيوب ومماثلة الخلق فيما هو من خصائصه والإقرار بأنَّ الله بكلِّ شـيء عليم، وعلى كلِّ شيء قدير، وأنَّه الحـيُّ القيُّوم الذي لا تأخذه سِنة ولا نوم، له املشـيئة النافذة واحلكمة البالغة، وأنه سـميع بصري, رؤوف رحيم، على العرش اسـتوى، وعلى الملك احتوى,أنه اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ, إلى غري ذلك من األسماء الحسنى، والصفات العلى.
Pengertian atau definisi 'tauhid asma' wa sifat' (تَوْحِيْدُ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ) yaitu kita meyakini, mengesakan Allāh dengan nama-nama dan sifat-sifat yang telah Dia tetapkan untuk dirinya di dalam kitab-Nya (Al-Qur'an).
Kita ulang sekali lagi!
'Tauhid asma' wa sifat' (تَوْحِيْدُ الأَسْمَاءِ وَالصِّفَاتِ) adalah mengesakan Allāh Ta'āla dengan nama-nama dan sifat-sifat yang telah Dia tetapkan bagi diri-Nya di dalam kitab-Nya (al-Qur'anul Karim) atau yang telah ditetapkan oleh Nabi-Nya (shallallāhu 'alaihi wa sallam) di dalam hadits-hadits yang sahih, serta kita menyucikan Allāh dari segala kekurangan dan aib (cacat atau ketidak sempurnaan) serta dari menyamai makhluk dalam perkara-perkara yang merupakan kekhususan-kekhususan bagi Allāh.
Serta kita meyakini dan mengikrarkan bahwa Allāh Maha Mengetahui segala sesuatu dan Maha mampu atas segala sesuatu. Allāh Maha Hidup yang berdiri sendiri tanpa membutuhkan makhluk, Allāh tidak mengalami ngantuk maupun tidur. Allāh Maha Mendengar, Allāh Maha Melihat, Allāh beristiwa' di atas Arsy-Nya dan seterusnya.
Inilah yang dimaksud dengan tauhid asma' wa sifat. Nama-nama dan sifat-sifat yang telah Allāh tetapkan bagi diri-Nya di dalam al-Qur'an maka kita wajib menetapkan nama-nama tersebut untuk Allāh, demikian pula nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Nabi untuk Allāh di dalam hadits yang sahih, maka kita juga wajib menetapkannya untuk Allāh.
Dan kita meyakini bahwa semua nama Allāh Maha Indah, Maha bagus.
Allāh Ta'āla berfirman,
وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ
"Dan Allāh mempunyai nama-nama yang husna, yang Maha baik yang Maha indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menggunakan nama-nama yang indah tersebut." (QS. Al-A'rāf: 180).
Demikian pula dengan sifat-sifat Allāh, semuanya Maha Sempurna Maha tinggi, tidak mengandung cacat, tidak mengandung kekurangan.
Sebagai contoh Allāh Maha Mengetahui karena ilmu Allāh sempurna, tidak ada sesuatu apapun di alam semesta ini yang samar dari ilmu (pengetahuan) Allāh. Allāh Maha Tahu, Allāh juga mempunyai sifat melihat yang terkandung dalam nama Allāh Al-Bashir (الْبَصِيرُ) Dzat Yang ang Maha melihat.
Al-Bashir (الْبَصِيرُ) adalah salah satu nama Allāh yang indah, nama Allāh ini mengandung sifat Al-Bashar (البَصَر) yaitu melihat. Melihat apa? Melihat segala sesuatu, tidak ada sesuatu apapun yang tertutup, tersembunyi, atau tersamarkan dari penglihatan Allāh.
Karena penglihatan Allāh sifatnya sempurna, tidak mengandung kekurangan, berbeda dengan sifat melihatnya makhluk (terbatas), hanya mampu melihat sejauh sekian km (kilometer) bagi mata yang sehat. Tapi bagi Allāh semua terlihat dengan jelas, karena sifat Allāh Maha Sempurna dan Maha Tinggi.
Allāh mempunyai nama yang indah As-Sami' (السَّمِيعُ) yang artinya Dzat Yang Maha Mendengar, dalam nama tersebut terkandung sifat yang sempurna yaitu As-Sam'u (السمع) sifat mendengar. Mendengar apa? Mendengar segala suara, suara makhluk apapun, sesamar apapun, sekecil apapun, bahkan suara kita yang berbisik, Allāh Maha mendengar.
Bahkan suara daun yang jatuh di tengah malam gelap gulita, Allāh Maha mendengar, karena pendengaran Allāh Maha Sempurna tidak sebagaimana pendengaran makhluk.
Macam-macam tauhid yang tiga tadi yaitu, tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma' wa sifat , masing-masing memiliki dalil-dalil yang banyak dari al-Qur'an dan as-Sunnah. InsyaaAllāh akan kita jelaskan pada pertemuan yang akan datang.
Dan pembagian tauhid ini, bukan perkara baru dalam agama, bukan perkara bid'ah sebagaimana tuduhan kelompok bid'ah dari kalangan Jahmiyyah dan juga pengekor (pengikut) nya, yang mengatakan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamā'ah dan ulama-ulama sunnah membagi tauhid menjadi tiga yaitu; ① Tauhid Rububiyyah ② Tauhid Uluhiyyah ③ Tauhid Asma' wa Sifat , itu sama seperti aqidah trinitas orang-orang Nasrani. Tentu ini adalah tuduhan yang batil yang sangat mudah untuk disanggah dan dibantah oleh para ulama.
InsyaaAllāh akan kita jelaskan pembagian tauhid menjadi tiga, pada pertemuan yang akan datang.
Demikian yang dapat kami sampaikan pada pertemuan kali ini.
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
🔊 MATERI 05 : DEFINISI TAUHID ASMA' WASSIFAT
📆 Jum'at, 22 Shafar 1445 H/08 September, 2023 M
👤 Ustadz Muhammad Wasitho, Lc., M.A.
📗 Aqidah - Modul 01
🌐 https://madeenah.bimbinganislam.com/
MATERI 05 : DEFINISI TAUHID ULUHIYYAH & ASMA' WASSIFAT
Ustadz Muhammad Wasitho, Lc., M.A.
Tanggal 08 September 2023
Mapel Aqidah
Transkrip
MADEENAH...
Belajar Islam dasar, dengan pemahaman yang benar
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين الذي أنزل شريعة الإسلام هُدًى لِلنَّاسِ ورحمة للعالمين، أما بعد :
Pada pertemuan kali ini kita akan melanjutkan kembali pembahasan kita yaitu tentang pengertian atau makna 'tauhid rububiyyah' (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamā'ah.
Secara bahasa 'Ar-Rububiyyah' (الرُّبُوْبِيَّةِ) adalah isim masdar dari fi'il 'Rabbaba - yurabbibu - tarbiban' (رَبَّبَ - يربب - تربيبا).
Dari kata tersebut diambil nama Allāh: Ar-Rabb (الربُّ) : tuhan.
Maka 'ar-rububiyyah' (الرُّبُوْبِيَّةِ) merupakan salah satu sifat khusus bagi Allāh subhānahu wa ta'āla. Jadi 'ar-rububiyyah' (الرُّبُوْبِيَّةِ) diambil dari isim atau nama Allāh Ar-Rabb (الربُّ) dan Ar-Rabb (الربُّ) di dalam bahasa Arab diungkapkan dengan memiliki beberapa makna.
Di antaranya adalah:
المالك، والسيد المطاع، والـمُصْلِح
Di antara makna Ar-Rabb (الربُّ) ketika diucapkan oleh orang-orang Arab, maka maksudnya adalah Al-Mālik (المالك), Rabb (الربُّ) artinya adalah 'sang pemilik' atau As-Sayidul Muthā' (السيد المطاع) 'pemimpin yang ditaati' dan Al-Mushlih (الـمُصْلِح) yaitu 'yang melakukan perbaikan'.
Ini makna 'rububiyyah' secara bahasa.
Ar-Rabb (الربُّ) artinya المالك، والسيد المطاع، والـمُصْلِح secara bahasa adalah 'Sang Pemilik, Pemimpin Yang Ditaati dan Yang Selalu Mengadakan Perbaikan'.
Adapun 'tauhid rububiyyah' (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) secara istilah syar'i, para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwasanya 'tauhid rububiyyah' (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) adalah إفراد الله بأفعاله yaitu mengesakan Allāh dalam perbuatan-perbuatan-Nya.
Apa saja perbuatan-perbuatan Allāh?
Di antaranya adalah menciptakan, memberikan rezeki kepada para makhluk, memberikan nikmat, berkuasa dan memiliki, memberi dan menahan (mencegah pemberian), memberikan manfaat dan mudharat, menghidupkan dan mematikan makhluk, mengatur jalannya alam semesta ini, dan selainnya dari perbuatan-perbuatan Allāh subhānahu wa ta'āla, termasuk menurunkan hujan. Ini juga termasuk perbuatan Allāh subhānahu wa ta'āla.
Kita ulang sekali lagi!
Apa yang dimaksud dengan 'tauhid rububiyyah' (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) secara istilah syar'i?
'Tauhid rububiyyah' (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) adalah إفراد الله تعالى بأفعاله Mengesakan Allāh didalam perbuatan-perbuatan-Nya . Maksudnya ketika Allāh melakukan perbuatan-perbuatan-Nya: Maka tidak ada siapapun yang membantu Allāh, tidak ada siapa pun yang menjadi sekutu bagi Allāh, apalagi tandingan bagi Allāh subhānahu wa ta'āla.
Apa saja contoh perbuatan-perbuatan Allāh yang mana Allāh Maha Esa dalam menjalankannya dan dalam melakukan perbuatan-perbuatannya?
Di antaranya adalah menciptakan, membagikan rezeki, menghidupkan, mematikan, mengatur jalannya alam semesta, menurunkan hujan, mendatangkan manfaat atau mencegah mudharat. Ini semua adalah contoh-contoh perbuatan Allāh yang mana Allāh Maha Esa di dalamnya.
Dan 'tauhid rububiyyah' (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) ini telah diimani dan diyakini oleh semua makhluk termasuk orang-orang kafir dan musyrik. Di dalam hati mereka (fitrah mereka) menunjukkan bahwa Allāh betul-betul ada dan Allāh betul-betul sebagai Sang Pencipta Alam Semesta ini, bahkan yang menciptakan mereka.
Di antara dalil yang menunjukkan adanya 'tauhid rububiyyah' (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) bahwa Allāh Maha Esa di dalam menjalankan perbuatan-perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, yaitu firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla di dalam surat Luqman ayat 10 dan 11:
Allāh Ta'āla berfirman,
خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ وَأَلۡقَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمۡ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖۚ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجٖ كَرِيمٍ ۞ هَٰذَا خَلۡقُ ٱللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ بَلِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ۞
"Dia-lah (Allāh) yang menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya, dan Dia meletakkan gunung-gunung di permukaan bumi supaya bumi tidak menggoyangkan kamu, dan Allāh memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik."
هَٰذَا خَلۡقُ
Inilah ciptaan- ciptaan Allāh!
"Maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh Tuhan-Tuhan sesembahan kalian selain Allāh. Sebenarnya orang-orang yang zhalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata."
بَلِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ
"Sesungguhnya orang-orang dzalim itu berada dalam kesesatan yang nyata".
Dua ayat ini menunjukkan dan menetapkan adanya 'tauhid rububiyyah' (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) bahwa hanya Allāh yang mampu menciptakan makhluk. Makhluk apapun yang ada di alam semesta ini hanya Allāh yang mampu menciptakannya.
Sedangkan selain Allāh, apapun yang dijadikan tuhan dan disembah oleh manusia (makhluk) tidak memiliki kemampuan sedikit pun untuk melakukan penciptaan.
Di dalam surat Ath-Thur ayat 35: Allāh berfirman,
أمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ
"Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu apapun? Tiba-tiba ada (muncul) di alam semesta ini? Atau mereka sendiri yang menciptakan diri mereka?."
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu apapun? Atau mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Tentu mustahil (tidak mungkin)! Ini adalah bantahan dari Allāh kepada mereka yang mengingkari adanya Allāh subhānahu wa ta'āla.
Dari hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang menunjukkan dan menetapkan adanya Tauhid Rububiyyah (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ) bahwa Allah Maha Esa di dalam perbuatan-perbuatan-Nya.
Yang pertama adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan juga Abu Dawud -rahimahumallah-, dari jalan Abdullah bin Asy-Syikhir radhiyallahu ta'ala 'anhu secara marfu', dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di dalamnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
"Sayyid adalah Allah tabaraka wa ta'ala."
Apa itu 'Sayyid'? Pemimpin yang sempurna dalam kepemimpinan-Nya, penguasa, pemilik yang sempurna dalam kekuasaan-Nya dan kepemimpinan-Nya (السيد المطاع).
Kemudian dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan yang lainnya, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata kepada sepupu beliau (Abdullah bin Abbas radhiyallahu ta'ala 'anhuma) ketika beliau memberikan beberapa pesan dan wasiat kepada Abdullah bin Abbas radhiyallahu ta'ala 'anhuma.
Di antara wasiat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah (dalam hadits yang cukup panjang),
احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ؛ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ؛ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ؛ رُفِعَتِ الْأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam rangka menyampaikan beberapa pesan dan wasiat kepada saudara sepupu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam (Abdullah bin Abbas).
Apa kata Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam?
احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ
"Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu!"
احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ
"Jagalah Allah, niscaya Allah akan ada dihadapanmu!"
"Jagalah Allah, niscaya engkau menjumpai atau mendapatkan Allah ada dihadapanmu!"
إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ
"Apabila engkau meminta dan memohon, maka mintalah hanya kepada Allah."
وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ
"Dan jika engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan hanya kepada Allah."
Dan yang dimaksud dengan احْفَظِ اللهَ (jagalah Allah): Bukan Allah perlu penjagaan dari hamba. Tidak! Karena Allah Maha Mampu, Allah Maha Kaya, Allah Maha Kuat, Allah tidak butuh kepada makhluk.
Para ulama menjelaskan yang dimaksud jagalah Allah adalah jagalah agama Allah, laksanakan perintah-perintah Allah, jauhi larangan Allah, kerjakan apa yang mendatangkan keridhaan Allah, jauhi apa yang mendatangkan kemurkaan Allah. Itulah yang dimaksud dengan 'jagalah Allah'.
Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melanjutkan wasiatnya,
وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ
"Ketahuilah (kata Nabi)! Seandainya umat manusia bersatu padu (bersepakat) untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu apapun niscaya mereka tidak akan mampu memberikan kepadamu manfaat tersebut kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan untukmu."
Sekali lagi!
Ketahuilah! Seandainya umat manusia bersatu padu dan bersepakat untuk memberikan manfaat kepadamu dengan sesuatu apapun, niscaya mereka tidak akan sanggup (tidak akan mampu) memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah catat (takdirkan) untukmu.
Kata Nabi, wasiat berikutnya,
وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ
"Dan sekitarnya umat manusia bersatu padu (bersepakat) untuk menimpakan mudharat, untuk menimpakan mara bahaya kepadamu, dengan sesuatu apapun.
لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ
Niscaya mereka tidak akan mempu menimpakan mudharat kepadamu kecuali dengan sesuatu mudharat yang telah Allah catat, telah Allah takdirkan akan menimpamu."
رُفِعَتِ الْأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
"Pena pencatat amalan telah diangkat oleh Allah, pena mencatat takdir juga telah diangkat oleh Allah, dan lembaran catatan takdir telah mengering."
Maksudnya takdir Allah dalam Lauhul Mahfudz, sudah tidak ada lagi perubahan. Ini menunjukkan bahwa yang mampu memberikan manfaat dan kebaikan, serta yang mampu mencegah dan menimpakan mudharat pada makhluk, hanyalah Allah Subhanahu wa Ta'āaa.
Selain Allah tidak ada yang memiliki kemampuan memberikan manfaat atau mudharat, mencegah manfaat atau mencegah mudharat, hanya Allah subhanahu wa ta'ala.
Demikian pula dalam masalah menurunkan hujan, memberikan rezeki, menghidupkan dan mematikan, hanya Allah. Allah Maha Esa, Allah Maha Tunggal, selain Allah tidak mampu melakukan hal tersebut. Makanya Allah Maha Esa di dalam menjalankan perbuatan-perbuatan-Nya. Inilah yang dimaksud dengan 'Tauhid Rububiyyah' (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ).
Demikian pelajaran kita pada pertemuan kali ini.
وسبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•