🔊 MATERI 01 : ADAB MEMBACA AL QURAN DAN YANG BERKAITAN DENGANNYA
📆 Senin, 20 Jumadil 'Ula 1445 H/04 Desember 2023 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad Lc., http://M.Ag
📗 Adab : Modul 01
🌐https://madeenah.bimbinganislam.com/
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
MADEENAH...
Belajar Islam dasar, dengan pemahaman yang benar
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة. امّابعد
Di kesempatan ini insya Allah kita akan belajar dari kitab Al-Adab yang ditulis oleh Syaikh Fuad bin Abdil Aziz Al-Salhub. Insya Allah kita akan membahas tentang adab-adab membaca Al-Qur'an atau adab-adab lainnya yang berkaitan dengan Al-Qur'an.
Dan di pertemuan pertama ini kita akan membaca beberapa ayat dan hadits yang disampaikan atau dijadikan pendahuluan oleh penulis.
Ada 7 hal yang disebutkan oleh penulis di pendahuluan, penulis hanya menyebutkan ayat dan haditsnya tapi saya mencoba untuk memberikan judulnya agar lebih mudah untuk dipahami.
Kita akan masuk ke ayat pertama, ayat pertama ini saya beri judul bahwa,
⑴ Al-Qur'an adalah kitab yang terjaga, kita harus meyakini ini.
Beliau menukilkan firman Allah Ta'ala,
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَٰفِظُونَ
"Sesungguhnya Kamilah yang menurun adz-dzikra (ٱلذِّكْرَ)." (QS. Al-Hijr: 9)
Sebagian ulama mengatakan adz-dzikra adalah Al-Qur'an.
Sebagian ulama memasukan hadits dalam kata adz-dzikra tetapi sebagian mengatakan bahwa yang benar ini adalah Al-Qur'an, tapi meskipun begitu hadits pun juga masuk dalam makna adz-dzikra ini, karena itu akan mendukung penafsiran Al-Qur'an.
"Dan kamilah yang menurunkan adz-dzikra dan Kamilah yang akan bertanggung jawab untuk menjaganya."
Jadi kita meyakini bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang terjaga.
⑵ Kemudian yang kedua adalah tidak ada informasi yang saling bertentangan di dalam Al-Qur'an.
Allah ta'ala berfirman,
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَۚ
"Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur'an?"
وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفٗا كَثِيرٗا
"Seandainya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, pasti orang-orang akan mendapati di dalam Al-Qur'an tersebut perbedaan dan perselisihan yang sangat banyak, informasinya saling bertentangan." (QS. An-Nisaa: 82).
Seandainya itu bukan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, maka kita meyakini bahwa Al-Qur'an itu dari Allah sehingga informasinya tidak saling bertentangan.
⑶ Kemudian yang ketiga adalah orang yang hatinya terkunci tidak akan bisa mentadabburi Al-Qur'an.
Allah Ta'ala berfirman,
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
"Apakah mereka itu tidak mentadabburi Al-Qur'an atau memang di hati mereka itu sudah ada kunci (penutup) nya, tidak bisa terbuka lagi?" (QS. Muhammad: 24).
Jadi orang yang hatinya sudah terkunci tidak bisa mentadabburi Al-Qur'an.
⑷ Allah Subhanahu wa Ta’ala menganjurkan kita untuk membaca Al-Qur'an dengan tartil, memberikan hak huruf sesuai dengan aturan-aturannya. Belajar makharijul huruf dan tajwidnya.
Allah Ta'āla berfirman,
وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا
"Dan bacalah Al-Qur'an dengan tartil." (QS. Al-Muzamil: 4).
⑸ Kemudian yang kelima beliau menyebutkan sebuah hadits dari Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam dan saya beri judul hadits ini empat keutamaan mempelajari Al-Qur’an.
Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda,
ومَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ تَعَالَى
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah."
يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ
"Membaca kitab Allah."
وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ
"Mempelajari kitab Allah tersebut."
إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ
"Kecuali akan datang kebahagiaan, ketenangan, ketentraman dalam hatinya."
وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ
Mereka akan dinaungi dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala."
وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ
"Dinaungi oleh para malaikat."
وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
"Dan mereka akan disebut-sebut oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di majelis di sisi-Nya."
Sangat mulia sekali empat keutamaan bagi orang-orang yang membaca Al-Qur'an dan mempelajarinya. (Hadits riwayat Muslim no. 2699).
⑹ Orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya merupakan atau termasuk orang-orang yang terbaik.
Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda,
خَيْرُكُمْ من تعلم الْقُرْآن وَعلمه
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an kemudian mengajarkannya."
(Hadits riwayat Imam Al-Bukhari no. 5027).
⑺ Dan yang terakhir Allah Subhanahu wa Ta’ala menghargai orang-orang yang membaca Al-Qur'an, yang pandai dihargai dengan luar biasa yang susahpun juga dihargai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pahala yang berlipat juga.
Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda,
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ
"Orang yang ahli membaca Al-Qur'an bersama para malaikat yang mulia.
وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ
Adapun orang yang membaca Al-Qur'an dan dia (masih) terbata-bata.
وَهُوَ عَلَيْهِ شاق لَهُ أَجْرَانِ
Dan membacanya itu susah, baginya dua pahala."
(Hadits riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim).
Jadi ini adalah beberapa hal yang perlu kita yakini ketika kita membaca Al-Qur'an.
Semoga bermanfaat.
Baarakallaah Fiikum.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
🔊 MATERI 02 : MEMPERHATIKAN NIAT IKHLAS DALAM MEMPELAJARI AL-QUR’AN
📆 Selasa, 21 Jumadal Ula 1445 H/05 Desember 2023 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc., M.A.
📗 Adab : Modul 01
🌐 https://madeenah.bimbinganislam.com/
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
MADEENAH...
Belajar Islam dasar, dengan pemahaman yang benar
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة. أمّابعد
Kita akan kembali membaca kitab Al-Adaab (كتاب الآداب) karya Syaikh Fuad bin Abdil Aziz Al-Salhub. Dan kita masih pada pembahasan tentang adab-adab terhadap Al-Qur'an.
Di poin pertama dari adab tentang Al-Qur'an adalah berusaha untuk memiliki niat ikhlas saat membaca Al-Qur'an, saat mempelajari Al-Qur’an atau saat menghafal Al-Qur'an.
Kenapa kita perlu ikhlas?
Alasannya karena membaca, menghafal, mempelajari Al-Qur’an, merupakan salah satu bentuk ibadah yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka dua syarat ibadah harus ada di amalan ini. Dua syarat ibadah itu adalah;
① Keikhlasan
Harus ikhlas mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
② Mencontoh Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam
Maka kita perlu untuk ikhlas.
Dan Imam An-Nawawi rahimahullahu ta'ala menjelaskan tentang bagaimana cara ikhlas itu.
Beliau mengatakan,
فأول ما يؤمر به ـ أي القارئ
Hal pertama yang diperintahkan kepada seorang yang membaca Al-Qur'an dan kita masukan dengan makna membaca ini dengan yang menghafal juga, kemudian yang mempelajari juga.
Yang pertama yang harus diperintahkan kepada mereka adalah,
الإخلاص في قراءته
Ikhlas ketika membacanya.
Maksudnya bagaimana?
وأن يريد بها وجه الله -سبحانه وتعالى
Dia mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala saat membaca Al-Qur'an, saat menghafal Al-Qur'an.
Kalau ditanya kenapa kamu menghafal Al-Qur'an?
• Saya ingin mendapatkan atau
• Saya ingin melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala
• Saya ingin mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kenapa pak membaca surat Al-Kahfi hari ini?
Saya ingin pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Atau alasan-alasan yang lainnya, ingin pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan karena ingin absen, saya sudah membaca Al-Qur'an loh hari ini satu juz. Tidak kayak gitu!
وأن لا يقصد بها توصلاً إلى شيء سوى ذلك.
Dan jangan mengharapkan niat-niat lain selain niat-niat yang ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ini kata Imam An-Nawawi. Menjadi perintah pertama untuk para pembaca Al-Qur'an, untuk para penghafal Al-Qur'an, untuk orang-orang yang mempelajari Al-Qur’an. Ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kenapa ini menjadi nomor satu juga?
Karena banyak juga orang yang kalau baca Al-Qur'an, menghafal Al-Qur’an, mempelajari Al-Qur’an niatnya bukan ikhlas karena Allah, ada yang niatnya caper, ingin perhatian manusia. Kalau bahasa Syaikh Fuad Al-Salhub adalah agar dilihat orang-orang. Ada orang yang membaca seperti itu.
"Wah, masyaAllah. Bacaannya bagus sekali pak! Belajar di mana?" Wah langsung pengen.
Kalau dia tidak menginginkan hal tersebut maka tidak masalah, tapi kalau ada keinginan untuk dipuji seperti itu, ini bermasalah. Jadi yang bermasalah kalau ada keinginan, adapun kalau tidak ada keinginan koq dipuji, itu tidak masalah. Nah, ini yang diperingatkan. Jangan sampai kita ingin caper, ingin cari perhatian orang, ingin dipuji-puji orang. Jangan!
Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari yang seperti ini.
Kemudian yang kedua ada juga orang yang membaca Al-Qur'an inginkan dihormati dihargai sama orang lain, kalau bahasa Syaikh وتبجله و توكيره ingin dihormati, ingin dihargai. "Wah, masyaAllah ini sudah pandai baca Al-Qur'an, jadi iman ya pak?" dihormati, dihargai.
Kalau dia ikhlas karena Allah diseperti itukan tidak masalah, tapi kalau ada keinginan diseperti itukan, ini yang bermasalah perlu diobati hatinya. Dan ada niat-niat lain yang terkadang mengotori hati kita saat membaca Al-Qur'an, saat mempelajari Al-Qur’an maupun saat menghafal Al-Qur'an.
Dan Syaikh Fuad Al-Salhub juga mengingatkan kita dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan nomor 1905, yaitu sabda Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam, Ada seorang laki-laki yang mempelajari ilmu kemudian belajar Al-Qur’an dan menghafalkan Al-Qur'an, dia nanti di hari kiamat akan didatangkan orang yang seperti itu.
Di hari kiamat nanti akan didatangkan orang seperti ini kemudian ditanya,
فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟
"Kamu sudah Ku beri nikmat banyak, apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu?" Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Maka orang ini mengatakan,
تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ
"Aku belajar ilmu, mengajarkan ilmu dan mendakwahkannya serta aku menghafal Al-Qur'an-Mu atau aku membaca Al-Qur'an-Mu."
Dan saya lebih suka menerjemahkan kata qaraa (قَرَأْ) di sini dengan menghafal, karena bahasa zaman dulu seorang yang hafal Al-Qur'an itu disebut Qura disebut Qari' itu hafal bukan hafidz. Jadi dia belajar ilmu agama, mengajarkannya mendakwahkannya dan menghafal Al-Qur'an.
Maka dijawab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika dia mengaku seperti itu, aku gunakan nikmat-nikmat-Mu untuk belajar ilmu agama, mengajarkannya, dan menghafal Al-Qur'an. Maka dijawab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,
كَذَبْتَ
"Engkau berdusta tidak seperti itu niatmu."
وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ
"Kamu belajar ilmu agama cuma ingin dikatakan sebagai orang yang 'alim, orang yang pandai."
وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ
"Dan kamu menghafal Al-Qur'an biar disebut, "Ini loh, seorang yang hafidz seorang yang sudah hafal Al-Qur'an", kamu pengennya itu saja."
فَقَدْ قِيلَ
"Dan itu sudah disebut manusia di dunia dulu, itu sudah kamu dapatkan."
ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ
"Akhirnya dia diperintahkan untuk diseret di atas wajahnya"
حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
"Sampai dimasukan ke dalam neraka."
Na'uudzu billaahi min dzaalik.
Maka kita berusaha ketika membaca Al-Qur'an, mempelajari Al-Qur’an, menghafal Al-Qur’an, kita usahakan untuk ikhlas mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, mengharapkan pahala dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Semoga bermanfaat.
Baarakallaahu Fiikum.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
🔊 MATERI 03 : MENGAMALKAN KANDUNGAN AL-QUR'AN
📆 Rabu, 22 Jumadal Ula 1445 H/06 Desember 2023 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad Lc., http://M.Ag
📗 Adab : Modul 01
🌐https://madeenah.bimbinganislam.com/
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
MADEENAH...
Belajar Islam dasar, dengan pemahaman yang benar
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة. أمّابعد
Kita kembali belajar Kitab Al-Adaab (كتاب الآداب) dari Syaikh Fuad bin Abdil Aziz Al-Salhub. Dan kita masih masih membicarakan tentang adab-adab terhadap Al-Qur'an.
Sekarang kita masuk ke adab yang kedua dari adab-adab terhadap Al-Qur'an.
Adab kedua adalah mengamalkan kandungan Al-Qur'an, bagaimana caranya?
Caranya adalah:
بتحليل حلاله
Meyakini bahwa yang dihalalkan oleh Al-Qur'an merupakan sesuatu yang halal.
وتحريم حرامه
Mengharamkan apa yang diharamkan oleh Al-Qur'an.
Kita tidak menyelisihi dalam hal ini, apa yang dihalalkan oleh Al-Qur'an kita jangan haramkan, apa yang diharamkan oleh Al-Qur'an kita jangan menganggapnya halal. Begitu!
Kemudian yang ketiga adalah,
والوقوف عند نهيه
Kalau ada larangan dari Al-Qur'an kita berhenti tidak melakukan larangan tersebut, itu artinya mengamalkan Al-Qur'an.
والائتمار بأمره
Melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Al-Qur'an. Ini yang keempat.
Kemudian yang kelima adalah,
العمل بمحكمه
Mengamalkan ayat-ayat yang muhkam (jelas), yang jelas maknanya kita amalkan.
Yang tidak jelas bagaimana?
والإيمان بمتشابهه
Mengimani apa yang mutasyabih dari Al-Qur'an, yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah dengan hari akhir, dengan hari kiamat yang terkadang tidak bisa kita gambarkan di dalam pikiran kita. Kita tetap mengimani bahwa itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan nanti akan ada kejadian seperti itu dan kalau kita mengibaratkan, kita akan mengibaratkan atau mengungkapkan kejadian yang kita lihat di hari kiamat seperti yang diungkapkan oleh Al-Qur'an. Kita mengimani seperti itu.
Contohnya ketika membaca surat Al-Qari'ah, gunung menjadi seperti kapas yang berterbangan. Kita tidak bisa memikirkan itu bagaimana? Tapi kita meyakini akan terjadi kejadian seperti itu sehingga kita akan berkomentar, "Gunungnya sudah seperti kapas, berterbangan". Kita meyakini itu, mengimani itu.
Kemudian yang keberapa ini? Mungkin yang ketujuh.
إقامة حدوده و حروفه
Menegakkan hukum-hukum yang ada di sana.
Kalau kita jadi seorang pemimpin, menjadi pemerintah, berusaha untuk menegakkan hukum-hukum yang ada di dalam Al-Qur'an semaksimal yang kita mampui. Dan kita tidak mentazkiyah diri sendiri, bisa jadi kalau kita menjadi pemimpin juga belum bisa melaksanakan semua perintah Al-Qur'an, tetapi secara mindset, secara pola pikir, kita berusaha untuk mengamalkan apa yang diajarkan oleh Al-Qur'an.
Dan apa yang diajarkan oleh Al-Qur'an pasti membawa kebaikan, entah saat itu atau secara langsung di waktu dekat maupun setelah berlalunya beberapa waktu.
Kemudian kita tegakkan juga huruf-hurufnya, kita baca sesuai dengan makharijul hurufnya, qaf (ق) dibaca dengan qaf (ق), kaf (ك) dibaca dengan kaf (ك), ain (ع) dibaca dengan ain (ع), alif (ا) dibaca dengan alif (ا) tidak bercampur aduk ha (ح) dengan Ha (ه) dibedakan.
Berusaha menegakkan huruf-hurufnya, ini maksud dari mengamalkan Al-Qur'an, menghalalkan apa yang dihalalkan, mengharamkan apa yang diharamkan. Menjauhi larangan Al-Qur'an, melaksanakannya yang diperintahkan Al-Qur'an. Mengamalkan ayat-ayat yang muhkam yang jelas, kemudian beriman dengan ayat-ayat yang mutasyabih.
Kemudian yang ketujuh menegakkan hukum-hukum Al-Qur'an dan yang kedelapan membaca Al-Qur'an sesuai dengan huruf-hurufnya. Menegakkan hak huruf-hurufnya. Ini maksud dari mengamalkan Al-Qur'an.
Dan ada bahaya bagi orang-orang yang tidak mengamalkan Al-Qur'an.
Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari pernah bermimpi ada dua orang yang mendatangi Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam kemudian mengajak Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam pergi, sampai suatu saat atau di dalam mimpi tersebut beliau diajak sampai ada orang مُضْطَجِعٍ عَلَى قَفَاهُ ada orang yang berbaring.
وَرَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِهِ بِفِهْرٍ أَوْ صَخْرَةٍ
Orang yang berbaring itu, disampingnya ada orang lain, anggap saja orang kedua. Orang kedua ini membawa batu sebesar telapak tangan.
Kemudian, فيَشْدَخُ بِه رَأْسَهُ orang kedua ini mukulin kepala orang yang sedang tidur tadi, dipukuli dengan batu tersebut, dipecah kepalanya.
فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الْهجر
Setelah dipakai untuk memecah kepala orang yang sedang tidur tadi, batunya lari, pergi atau bahasa kita terlempar jauh.
فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ
Orang kedua pun berusaha untuk mengambil batu yang terlempar jauh tadi.
فَلَا يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وَعَادَ رَأْسُهُ كَمَا هو
Sebelum orang kedua ini balik lagi ke orang pertama yang dipecahkan kepalanya tadi, sebelum dia balik. Maka kepalanya sudah kembali seperti semula (sembuh) setelah itu dipukulkan lagi sampai pecah lagi, batunya terlempar lagi, begitu terus. Dipukuli kepalanya, sampai nanti hari kiamat.
Maka Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bertanya, "Ini siapa?", maka dijawab oleh dua orang yang membawa Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam dalam mimpi tersebut. Dikatakan dia adalah,
رجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ
Ini adalah seorang yang diajarkan Al-Qur'an oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
فنام عنه بالليل
Kalau malam tidur, tidak membaca Al-Qur'an meskipun sedikit.
ولم يعمل فيه بالنهار
Tidak mengamalkan Al-Qur'an kalau di siang hari.
Malamnya tidur tidak membaca, siangnya tidak mengamalkan Al-Qur'an.
يُفْعَلُ به إلى يَومِ القِيَامَةِ
Dia akan diperlakukan seperti itu sampai nanti hari kiamat. Na'uudzu billaahi min dzaalik.
Semoga kita semua dimudahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mengamalkan Al-Qur'an baik dari sisi amalan hati, amalan lisan maupun amalan anggota badan.
Wallahu ta'ala a'lam bishshawab.
Terima kasih banyak, baarakallahu Fiikum.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
🔊 MATERI 04 : ANJURAN UNTUK SELALU MEMBACA AL-QUR'AN DAN MENJAGA HAFALAN
📆 Kamis, 23 Jumadil 'Ula 1445 H/07 Desember 2023 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc., M.A.
📗 Adab : Modul 01
🌐 https://madeenah.bimbinganislam.com/
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
MADEENAH...
Belajar Islam dasar, dengan pemahaman yang benar
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة. أمّابعد
Kita masih membahas Kitab Al-Adaab (كتاب الآداب) karya Syaikh Fuad bin Abdil Aziz Al-Salhub. Dan kita juga masih membahas tentang Adab Terhadap Al-Qur'an.
Kita sekarang masuk pertemuan yang keempat membahas tentang adab yang ketiga yaitu tentang Anjuran untuk selalu membaca Al-Qur'an dan menjaga hafalan.
Kenapa kita harus selalu membaca Al-Qur'an, untuk menjaga hafalan?
Karena Al-Qur'an ini sangat cepat untuk terlupakan, mudah hilang hafalannya. Maka kita perlu untuk sering-sering membacanya dan memuraja'ahnya. Jika ini tidak kita lakukan, maka hafalan kita terancam hilang, kita terancam lupa dengan hafalan Al-Qur'an kita.
Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam memisalkan cepatnya hilang hafalan ini dengan beberala permisalan, di antaranya di dalam shahih Al-Bukhari 5031 Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ
"Permisalan orang yang hafal Al-Qur'an,
كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ
Itu seperti permisalan seorang pemilik unta yang sedang tertali dengan tali 'iqal (tali 'iqal bukan tali yang dikalungkan dileher).
Tali 'iqal adalah tali pada unta untuk mengikat kaki yang dilipat, ibaratnya kita di sikunya dimasukkan dengan tali 'iqal, tali yang biasanya dipakai orang-orang Arab di atas kepala. Tali ('iqal) itu dimasukkan ke kakinya sehingga dia tidak bisa berdiri, ini disebut tali 'iqal.
Orang yang hafal Al-Qur'an seperti orang yang memiliki unta yang terikat dengan tali 'iqal,
إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا
Kalau tali 'iqalnya ini terus dijaga maka untanya akan terjaga tidak akan lari.
وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ
Tapi kalau dibiarkan, unta itu cepat melepaskan diri dan dia bisa pergi." Ini permisalan pertama.
Permisalan kedua Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam memerintahkan
تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ
"Terus bacalah Al-Qur'an, ingat-ingat dan kuatkan hafalannya.
فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
Demi yang jiwaku di tangan-Nya (demi Allah).
لَهْوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا
Al-Qur'an itu lebih cepat lepasnya dibandingkan unta yang berada di tali 'iqalnya, secara perhitungan waktu lebih cepat Al-Qur'an hilangnya, lebih cepat lepas Al-Qur'an."
Dan ini adalah perumpamaan-perumpamaan yang dibuat oleh Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam.
Ibnu Hajar rahimahullah memberikan rahasia kenapa Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mempermisalkan hafalan Al-Qur'an itu dengan unta yang tertali di dalam tali 'iqal?
Jawabannya:
⑴ Ini menunjukkan bahwa kalau hafalan itu dijaga maka akan tetap ada, akan terus kita ingat. Tapi kalau tidak kita jaga maka akan cepat hilang akan mudah hilang.
Ini adalah rahasia pertama kenapa Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mempermisalkan dengan unta yang ada di tali 'iqalnya, karena Al-Qur'an itu lebih cepat hilang kalau dijaga maka akan tetap ada.
⑵ Kenapa Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mempermisalkan hafalan Al-Qur'an itu seperti unta yang ada di tali 'iqalnya.
Kenapa kok unta yang dipilih?
Disebutkan di sini karena unta merupakan hewan yang paling agresif (binatang ternak yang paling agresif). Kalau sudah lepas susah untuk ditali lagi.
Kalau sudah lepas susah untuk ditali lagi!
Begitu juga Al-Qur'an jika sudah sudah terlanjur lepas, maka susah untuk mengembalikan hafalan itu kembali. Ini adalah rahasia kenapa Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam mempermisalkan hafalan Al-Qur'an seperti unta yang tertali dengan tali 'iqalnya.
Maka di antara adab kita terhadap Al-Qur'an, apabila kita mempunyai hafalan Al-Qur'an sering-sering kita baca, sering-sering kita ingat kembali agar hafalan itu tetap ada, agar hafalan itu tetap ada pada diri kita.
Demikian semoga bermanfaat.
Baarakallaahu Fiikum.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
🔊 MATERI 05 : WAJIBNYA MENTADABBURI AL-QUR'AN DAN HUKUM LUPA HAFALAN
📆 Jum'at, 24 Jumadil 'Ula 1445 H/08 Desember 2023 M
👤 Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc., M.A.
📗 Adab : Modul 01
🌐 https://madeenah.bimbinganislam.com/
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
MADEENAH...
Belajar Islam dasar, dengan pemahaman yang benar
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمدلله والصلاة والسلام على رسول الله و على آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة. أمّابعد
Pada kesempatan ini, kita masih melanjutkan Kitab Al-Adaab (كتاب الآداب) karya Syaikh Fuad bin Abdil Aziz Al-Salhub. Dan kita sekarang ada di bab tentang wajibnya memperhatikan kandungan Al-Qur'an atau wajibnya tadabbur dan kita sebelum masuk ke pembahasan ini, ada satu tambahan yang terlewatkan dari pembahasan kemarin yaitu,
Apa hukum orang yang menghafal Al-Qur'an kemudian lupa?
Ini dijawab oleh Lajnah Daimah dalam empat poin di halaman atau di juz 4 di halaman 64.
• Poin Pertama, Mereka mengatakan hendaknya seorang penghafal Al-Qur'an tidak lalai dari menjaga hafalannya. Hendaknya ia memiliki jadwal rutin untuk membaca hafalan-hafalannya setiap hari.
• Poin Kedua, Mereka mengatakan hal ini perlu dilakukan agar seseorang tidak lupa dan tetap ingat dengan hafalan-hafalannya tersebut, kemudian dengan melakukan hal ini juga dia bisa mengharapkan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta memetik pelajaran-pelajaran berharga dari hukum- hukum yang disampaikan oleh Al-Qur'an.
• Poin Ketiga, Barangsiapa yang lupa hafalannya karena kesibukan yang dimilikinya maka dia tidak berdosa.
• Poin Keempat, Hadits-hadits yang memberikan ancaman terhadap orang yang lupa hafalannya bukanlah hadits-hadits yang shahih.
Ini adalah empat poin dari Lajnah Daimah.
Kemudian terkait wajibnya tadabbur. Allah Ta'ala berfirman,
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
"Apakah mereka itu tidak mentadabburi Al-Qur'an?"
Ini adalah pertanyaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kemudian Allah melanjutkan,
ۚوَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
"Seandainya Al-Qur'an itu bukan dari Allah, pasti akan didapati banyak perselisihannya." (QS. An-Nisaa: 82).
Kata Syaikh As-Sadi rahimahullah pada ayat ini Allah memerintahkan kita untuk mentadabburi ayat Al-Qur'an, dan maksud dari tadabbur adalah memikirkan ayat-ayat tersebut secara lebih dalam dari sisi konsep, prinsip, akibat dan konsekuensi-konsekuensinya.
Kemudian beliau menyebutkan bahwa dengan tadabbur ini seseorang akan mendapatkan banyak hal, yang beliau sebutkan di antaranya adalah:
① Pengetahuan baru.
② Iman akan bertambah dan semakin kuat.
③ Dengan tadabbur kita akan semakin kenal kepada Allah.
④ Dengan tadabbur kita akan mengetahui jalan yang menyampaikan kepada Allah.
⑤ Dengan tadabbur kita akan tahu sifat-sifat penghuni surga ketika di dunia ini.
⑥ Kita akan mengetahui siapa musuh kita, sifatnya bagaimana dan bagaimana cara melawannya.
⑦ Kita akan mengetahui jalan yang mengantarkan kepada azab sifat orang-orang yang berhak mendapatkan azab-azab ketika di dunia ini. Sifatnya bagaimana kemudian kita akan tahu bagaimana cara menghindarinya.
Dan terkait tadabbur ini, sudah dipraktikan oleh para ulama Salaf kita, bahkan disebutkan dalam riwayat Imam Ahmad dulu para sahabat tidak menambahkan menghafal sepuluh ayat. Jadi berhenti di sepuluh ayat tidak akan menambah hafalannya kecuali setelah mempelajari ilmu dan amal yang terkandung di dalam ayat tersebut.
Jadi ini semangat para sahabat untuk tadabbur, bukan hanya hafalan tetapi mengerti apa ilmunya apa amalnya kemudian mereka praktikkan.
Kemudian Zaid bin Tsabit, salah seorang sahabat Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam juga pernah ditanya.
Menurut Anda bagaimana tentang mengkhatamkan Al-Qur'an setiap tujuh hari? Maka beliau mengatakan kalau saya lebih suka mengkhatamkannya setiap 10 hari atau 15 hari.
Kemudian beliau ditanya, kenapa koq memilih sepuluh atau lima belas hari? Beliau menjawab agar aku bisa mentadabburi ayat-ayatnya. Ini terdapat di riwayat Imam Malik di dalam Kitab Al-Muwatha' nomor 320.
Ini adalah pembahasan kita terkait tadabbur, pentingnya, fungsinya, kemudian contoh bagaimana para ulama Salaf terdahulu melakukan tadabbur.
Semoga pembahasan ini bermanfaat.
Baarakallahu Fiikum.
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•