Pendektan tekstual
Jawami’ Kalim (ungkapan singkat yang makna nya padat)
الحَرْبُ خُدْعَةٌ
"Perang itu siasat.” (HR. Bukhori, Muslim).
Menurut Syuhudi Ismail, hadis tersebut dipahami dengan petunjuknya sejalan dengan redaksi teks. Hadis tersebut sifatnya universal dan global dikarenakan tidak terikat oleh skala ruang dan waktu. Perang yang dilakukan dengan cara apapun dan menggunakan alat apa saja sudah pasti membutuhkan siasat.
Tamsil (perumpamaan)
Hadis persaudaraan atas dasar iman:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang yang beriman terhadap orang yang beriman lainnya ibarat bangunan; bagian yang satu memperkokoh terhadap bagian lainnya.”
Hadis Nabi tersebut mengemukakan tamsil bagi orang-orang yang beriman sebagai bangunan. Tamsil tersebut sangat logis dan berlaku tanpa terikat oleh waktu dan tempat sebab setiap bangunan pastilah bagian-bagiannya berfungsi memperkokoh bagian-bagian lainnya. Orang-orang yang beriman begitu pula seharusnya, yakni yang satu memperkuat yang lainnya dan tidak berusaha untuk saling menjatuhkan.
Ramzi/ bahasa simbolik
Hadis dajjal :
إن الله تعالى ليس بأَعْورألا وإن المَسيحَ الدجال أَعْورُ العينِ اليُمنى كأن عينَهُ عِنَبَةٌ طائفة
Rasulullah saw. menyebut al-Masih al-Dajjal di muka orang banyak. Kemudian beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak buta sebelah mata. Ketahuilah, sesungguhnya al-Masih al-Dajjal itu buta matanya sebelah kanan, sedangkan matanya seperti buah anggur yang timbul."
Pernyataan bahwa Allah tidak buta sebelah mata adalah ungkapan simbolik. Allah Maha Suci dari segala sifat yang menyamakan-Nya dengan makhluk. Ungkapan tersebut dapat diartikan sebagai kekuasaan. Jadi, maksud ungkapan tersebut ada- lah kekuasaan Allah tidaklah cacat, tetapi Maha Sempurna.
Bahasa percakapan/dialog
Hadis amalan utama:
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الإِسْلَامِ خَيْرُ ؟ قَالَ : تَطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تعرف
“Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi: "Amalan Islam yang manakah yang lebih baik?" Nabi menjawab: "Kamu memberi makan orang yang menghajatkannya; dan kamu menyebarkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.”
Memberi makan orang yang menghajatkannya dan menyebarkan salam memang salah satu ajaran Islam yang bersifat universal. Namun dalam hal sebagai "amal yang lebih baik", maka hadis tersebut dapat berkedudukan sebagai temporal sebab ada beberapa matan hadis lainnya yang memberi petunjuk tentang amal yang lebih baik, namun jawaban Nabi berbeda-beda sebagai- mana yang dikutip berikut ini.
Qiyasiy atau ungkapan yang bersifat analogi
Hadis kulit anak dan ayahnya:
Ada seorang laki-laki dari Bani Fazarah mengadu kepada Nabi. Dia berkata: "Sesungguhnya isteri saya telah melahirkan seorang anak laki-laki, kulitnya hitam. Saya menyangkalnya (karena kulitnya berbeda sekali dengan kulit saya)." Lalu terjadi- lah dialog antara Nabi dan orang tersebut sebagai berikut:
secara tekstual, matan hadis dalam bentuk ungkapan analogi tersebut menyatakan bahwa ada kesamaan antara ras yang diturun- kan oleh manusia dan unta. Terjadinya perbedaan warna kulit antara anak dan ayah dapat disebabkan oleh warna kulit yang berasal dari nenek moyang bagi anak tersebut. Ketentuan yang demikian itu bersifat universal.