Pengertian Hadis Hasan
Hasan, menurut lughat adalah sifat musybahah dari 'Al-Husna', artinya bagus. Menurut Ibnu Hajar, hadis hasan adalah:
خَيْرُ الْأَحَادِ بِنَقْلِ عَدْلٍ تَامِ الضَّبْطِ مُتَّصِلِ السَّنَدِ غَيْرِ معلل و لاشاذ
Khabar ahad yang dinukil oleh orang yang adil, kurang sempurna hapalannya, bersambung sanadnya, tidak cacat, dan tidak syadz,
Untuk membedakan antara hadis sahih dan hadis hasan, kita harus mengetahui batasan dari kedua hadis tersebut. Batasannya adalah keadilan pada hadis hasan disandang oleh orang yang tidak begitu kuat ingatannya, sedangkan pada hadis sahih terdapat rawi-rawi yang benar-benar kuat ingatannya. Akan tetapi, keduanya bebas dari keganjilan dan penyakit. Keduanya bisa digunakan sebagai hujjah dan kandungannya dapat dijadikan penguat.
Klasifikasi Hadis Hasan
Sebagaimana hadis sahih, hadis hasan pun terbagi atas hasan li dzatih dan hasan li ghairih. Hadis yang memenuhi segala syarat-syarat hadis hasan disebut hadis hasan li dzatih. Syarat untuk hadis hasan adalah sebagaimana syarat untuk hadis sahih, kecuali bahwa para rawinya hanya termasuk kelompok keempat (shaduq) atau istilah lain yang setaraf atau sama dengan tingkatan tersebut.
Adapun hasan li ghairih adalah hadis dhaif yang bukan dikarenakan rawinya pelupa, banyak salah dan orang fasik, yang mempunyai mutabi' dan syahid. Hadis dhaif yang karena rawinya buruk hapalannya (su'u al-hifdzı), tidak dikenal identitasnya (mastur), dan mudallis (menyembunyikan cacat) dapat naik derajatnya menjadi hasan li ghairihi karena dibantu oleh hadis-hadis lain yang semisal dan semakna atau karena banyak rawi yang meriwayatkannya.
Kedudukan Hadis Sahih dan Hasan dalam Berhujjah
Kebanyakan ulama ahli hadis dan fuqaha bersepakat untuk menggunakan hadis sahih dan hadis hasan sebagai hujjah. Di samping itu, ada ulama yang mensyaratkan bahwa hadis hasan dapat digunakan sebagai hujjah, bilamana memenuhi sifat-sifat yang dapat diterima. Pendapat terakhir ini memerlukan peninjauan yang saksama. Sebab, sifat-sifat yang dapat diterima itu ada yang tinggi, menengah, dan rendah. Hadis yang sifat dapat diterimanya tinggi dan menengah adalah hadis sahih, sedangkan hadis yang sifat dapat diterimanya rendah adalah hadis hasan.
Hadis-hadis yang mempunyai sifat dapat diterima sebagai hujjah disebut hadis maqbul, dan hadis yang tidak mempunyai sifat-sifat yang dapat diterima disebut hadis mardud.
Yang termasuk hadis maqbul adalah:
Hadis sahih, baik sahih li dzatihi maupun sahih li ghairih.
Hadis hasan, baik hasan li dzatih maupun hasan li ghairih.
Yang termasuk hadis mardud adalah segala macam hadis dhaif. Hadis mardud tidak dapat diterima sebagai hujjah karena terdapat sifat-sifat tercela pada rawi-rawinya atau pada sanadnya.
Kitab-kitab yang Mengandung Hadis Hasan
Para ulama belum menyusun kitab khusus tentang hadis-hadis hasan secara terpisah sebagaimana mereka melakukannya dalam hadis sahih, tetapi hadis hasan banyak kita dapatkan pada sebagian kitab, di antaranya:
Jami At-Tirmidzi, dikenal dengan Sunan At-Tirmidzi, merupakan sumber untuk mengetahui hadis hasan.
Sunan Abu Dawud.
Sunan Ad-Daruquthi