CGP diminta menjawab beberapa pertanyaan di bawah ini untuk melihat sejauh mana pengetahuan peserta tentang materi kali ini
Mengingat-ingat ekosistem, bayangkan sekolah atau salah satu sekolah tempat Bapak dan Ibu bertugas.
Apa bagian-bagian yang ada dari sekolah tersebut sebagai sebuah ekosistem? Peserta didik, guru, tenaga kependidikan, seluruh stakeholder yang ada di sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, para wakil kepala, komite dan semua warga yang ada di sekolah yang mendukung KBM.
Apa saja yang bisa Anda sebut sebagai sumber daya yang dimiliki atau dapat dimanfaatkan oleh sekolah?
Perhatikan untuk tidak terpaku pada hal-hal yang kelihatan. sumber daya manusia, finansial, lingkungan dan fisik
Refleksikan sosok pemimpin atau kepala sekolah yang memimpin sekolah tersebut.
Apa hal-hal yang paling diingat dari sosok pemimpin tersebut, terkait dengan perannya di ekosistem sekolah serta pelibatan/pemanfaatan sumber daya yang ada? Seorang kepala sekolah yang bertindak sebagai pemimpin harus mampu memanfaatkan dan mengelola seluruh sumber daya yang ada di sekolah, sehingga sekolah menjadi ekosistem yang nyaman, aman, dalam pembelajaran sehingga menghasilkan lulusan-lulusan peserta didik yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman.
Jadi, seperti apa peran pemimpin yang ideal itu, khususnya dalam hal memanfaatkan semua bagian dari ekosistem dan mengelola sumberdaya yang ada di dalam dan sekitar sekolah? Peran ideal pemimpin adalah mampu menggerakkan ekosistem agar dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya yang ada di sekolah
Silakan refleksikan, posisi diri Bapak dan Ibu dalam ekosistem sekolah.
Sejauh mana Bapak Ibu sebagai guru atau peran lainnya telah memanfaatkan sumber daya sekolah? Posisi saya di ekosistem sekolah adalah salah satu stakeholder yaitu sebagai wakil kepala kesiswaan, saya sudah mulai memanfaatkan sumber daya manusia contohnya yaitu menugaskan guru yang berkompeten untuk membina ekstrakurikuler.
Apa saja harapan pada diri Bapak dan Ibu sebagai seorang pendidik, pemimpin, dan pada murid setelah mempelajari modul ini?
Harapan untuk diri sendiri adalah bisa bermanfaat untuk ekosistem sekolah salah satunya adalah mengembangkan dan memanfaatkan kompetensi yang dimiliki untuk kemajuan sekolah
Harapan untuk murid adalah murid dapat memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah untuk kepentingan belajar
Harapan untuk sekolah adalah bisa menjadi ekosistem yang aman dan nyaman sehingga pembelajaran berlangsung efektif dan berdampak pada hasil belajar murid yang meningkat
Apa saja kegiatan, materi, manfaat, yang Bapak dan Ibu harapkan ada dalam modul ini? harapan saya setelah mempelajari materi di modul 3.2 dapat memanfaatkan sumberdaya yang ada di sekolah saya untuk pembelajaran yang berpihak pada murid,
Faktor biotik: siswa, guru, stakeholder yang ada di sekolah, komite, pengawas, penjaga sekolah. Faktor abiotik: sarana dan prasarana, lingkungan, keuangan.
Peran kepala dalam mengelola ekosistem sekolah adalah sebagai manajer, leader sekaligus sebagai pembuat keputusan.
Kemampuan yang harus dimiliki kepala sekolah sebagai pemimpin ekosistem sekolah adalah kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi, kompetensi sosial.
yang harus dilakukan kepala sekolah dalam mengelola sumber daya sekolah secara efektif dan efesien adalah melakukan perencanaan, pembagian tugas, pelaksaanaan, evaluasi dan tindak lanjut dari hasil evaluasi.
Dampak sumber daya (fasilitas) terhadap pembelajaran murid adalah memberikan efektifitas terhadap hasil pembelajaran
Sejauh mana sumber daya yang dimiliki sudah digunakan secara efektif untuk mendukung kualitas pembelajaran di sekolah, sejauh ini sumber daya manusia sudah ada tapi fasilitas penunjang belum maksimal sehingga efektifitas terhadap pencapaian tujuan belum sesuai dengan perencanaan.
Cara alternatif yang bisa kita lakukan untuk memaksimalkan sumber daya yang sudah ada demi meningkatkan kualitas pembelajaran murid adalah meningkatkatkan kreatifitas guru dalam pembelajaran yang berpihak pada murid.
pemanfaatan apa yang ada di lingkungan sekitar adalah salah satunya pembuatan media pembelajaran dengan memanfaatkan bahan dan alat yang ada di lingkungan.
sekolah merupakan sebuah ekosistem dimana terbentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya
Pendekatan yang digunakan untuk memandang sumber daya sekolah ada dua, yaitu 1. Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik. 2. Pendekatan berbasis aset (asset-based approach) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri
Asset-Based Community Development (ABCD) atau Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) muncul sebagai kritik terhadap pendekatan konvensional atau tradisional yang menekankan pada masalah, kebutuhan, dan kekurangan yang ada pada suatu komunitas. Pendekatan tradisional tersebut menempatkan komunitas sebagai penerima bantuan, dan dengan demikian dapat menyebabkan anggota komunitas menjadi merasa tidak berdaya, pasif, dan selalu bergantung dengan pihak lain.
Agar sekolah bisa menjadi sebuah komunitas yang sehat dan resilien harus mempunyai 8 karakteristik, yaitu mempraktikkan dialog berkelanjutan dan partisipasi anggota masyarakat, menumbuhkan komitmen terhadap tempat, membangun koneksi dan kolaborasi, membentuk masa depannya, bertindak dengan obsesi ide dan peluang, merangkul perubahan dan bertanggung jawab, menghasilkan kepemimpinan.
Tujuh aset utama atau tujuh modal utama yaitu Modal Manusia, Modal Sosial, Modal Politik, Modal Agama dan Budaya, Modal Fisik, Modal Lingkungan/alam dan modal finansial atau daya dukung keuangan, merupakan salah satu alat yang dapat membantu menemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah. Dalam pemanfaatannya, ketujuh aset ini dapat saling beririsan satu sama lain
Ada dua suasana pada tayangan video tersebut dengan tema yang sama yaitu perpisahan kelas 6. Suasana yang pertama yaitu Deficit Based Thinking (Pendekatan berbasis kekurangan/masalah) dimana semua sumber daya yang ada di sekolah menjadi masalah untuk kelangsungan acara perpisahan, sehingga mengambil keputusan tidak akan diadakan perpisahan pada tahun ini. suasana yang kedua adalah Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking) dimana semua sumber daya yang ada di sekolah dimanfaatkan dan dikelola dengan maksimal dan dicari cara bagaimana supaya acara perpisahan terlaksana dengan sumber daya yang ada di sekolah.
Suasana rapat yang bagaimana yang termasuk dalam contoh pendekatan berbasis kekurangan dan yang termasuk dalam pendekatan berbasis aset/kekuatan? Suasana rapat berbasis kekurangan/masalah yaitu para peserta rapat pesimis dan merasa kurangdengan sumber daya yang ada di sekolah. Suasana berbasis aset/kekuatan yaitu suasana rapat yang optimis dan memanfaatkan sumber daya yang ada dimana peserta rapat menyumbang ide-ide sehingga sebuah masalah menajadi mudah dipecahkan.
Pada rapat yang dibahas sesuai dengan situasi dan kondisi yang terjadi pada saat itu. Ada kalanya membahas kekurangan yang ada disekolah dan membahas juga potensi/aset/kekuatan yang sekolah miliki, tetapi dengan tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan sumber daya yang ada di sekolah dalam upaya meningkatkan hasil pembelajaran yang berpihak pada murid
Apabila kita mendiskusikan seorang murid bersama sesama rekan guru, biasanya apakah yang kita bahas? Kekurangan atau kenakalan dari murid kita atau kebaikan atau kekuatan yang dimiliki murid kita? dua-duanya di bahas, membahas kekurangan atau kenakalan supaya kita sebagai guru mengetahui akar permasalahan atau penyebab dari kenakalan tersebut dan mencari solusi bagaimana supaya kenakalan tersebut berkurang atau hilang. Membahas potensi/aset murid agar kita bisa mengarahkan, membina dan mengembangkan potensi murid tersebut secara maksimal.
Apakah kita bisa menggunakan Pendekatan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset untuk mengelola sumber daya sekolah kita? Bisakah kita mengganti kata komunitas menjadi sekolah, Pendekatan Pengembangan Sekolah Berbasis Aset? Mengapa? kita bisa menggunakan pendekatan aset untukmengelola dan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekolah.sekolah merupakan sebuah komunitas, kita tidak bisa mengganti kata komunitas dengan sekolah karena komunitas itu beraneka ragam ada komunitas yang ada di masyarakat contohnya.Pendekatan berbasis aset untuk pengembangan sekolah lebih baik daripada pendekatan berbasis kekurangan, apabila menggunakan pendekatan berbasis aset kita akan merasa optimis dan memunculkan ide-ide bagaimana memngelola dan memnanfaatkan sumber daya yang ada di sekolah untuk kemajuan sekolah.
Apa contoh pengelolaan sumber daya sekolah kita dengan pendekatan PKBA? memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah untuk media pembelajaran
Bagaimanakah selama ini kita mengelola sumber daya? Apakah sudah menggunakan pendekatan PKBA? Sumber daya yang ada di sekolah sudah sebagian dimanfaatkan dan di kelola secara efektif. Sebagian guru sudah menggunakan PKBA, dan sebagian guru masih menggunakan pendekatan berbasis kekurangan dengan mengeluhkan keadaan salah satunya fasilitas sekolah yang belum lengkap
Jika belum, bagaimana caranya kita mengelola dengan pendekatan pengembangan sekolah berbasis aset? Sebagian guru menggunakan pendekatan berbasis kekurangan
Studi Kasus 1
Ibu Lilin adalah salah satu guru di SMP favorit yang selalu diincar oleh para orang tua. Sekolah tersebut juga selalu menduduki peringkat I rerata perolehan nilai UN. Murid-murid begitu kompetitif memperoleh nilai ulangan dan prestasi lainnya, dan dalam keseharian proses belajar mengajar, murid terlihat sangat patuh dan tertib. Bahkan, ada yang bergurau bahwa murid di sekolah favorit tersebut tetap antusias belajar meskipun jam kosong.
Keadaan berubah semenjak regulasi PPDB Zonasi digulirkan. Ibu Lilin mulai sering marah-marah di kelas karena karakter dan tingkat kepandaian murid-muridnya yang heterogen. Sering terdengar, meja guru digebrak oleh Ibu Lilin karena kondisi kelas yang susah dikendalikan. Apalagi, jika murid-murid tidak kunjung paham terhadap materi pelajaran yang Ibu Lilin jelaskan. Seringkali, begitu keluar dari kelas, raut muka Ibu Lilin merah padam dan kelelahan. Suatu hari, ada laporan berupa foto dari layar telepon genggam yang menunjukkan tulisan tentang Ibu Lilin menjadi bulan-bulanan murid-murid di grup WhatsApp.
Beberapa murid dipanggil oleh Guru BK. Ibu Lilin juga berada di ruang konseling saat itu, beliau marah besar dan tidak terima penghinaan yang dilontarkan lewat pesan WA murid-muridnya. Bahkan, beliau memboikot, tidak akan mengajar jika murid-murid yang terlibat pembicaraan tersebut tidak dikeluarkan dari sekolah. Kasus tersebut terdengar pula oleh guru-guru sekolah non favorit. “Saya mah sudah biasa menghadapi murid nakal dan bebal.” Kata Bu Siti, yang mengajar di sekolah non favorit.
Pertanyaan
Bagaimana Anda melihat kasus Ibu Lilin ini?
Hubungkan dengan segala aspek yang bisa didiskusikan dari materi modul ini, apa yang akan Anda lakukan apabila Anda sebagai Kepala Sekolah.
Jawaban
Saya melihat kasus Ibu Lilin melakukan pendekatan berbasis kekurangan/masalah dimana beliau sebagai guru yang terbiasa dengan murid-murid pintar merasa kurang nyaman dengan murid-murid yang ada sekarang karena diterima dengan jalur zonasi, sehingga murid-murid yang diterima di sekolah tersebut sangat heterogen dalam kemampuannya/potensinya. Ibu Lilin tidak berusaha untuk menggali potensi yang ada pada muridnya karena beliau sudah merasa pesimis dengan situasi tersebut.
Langkah yang saya ambil apabila saya sebagai kepala sekolah adalah memanggil Ibu Lilin untuk diberi pengertian dan pemahaman terhadap situasi yang terjadi saat ini, dan memberi saran untuk lebih sabar menghadapi murid-murid yang kurang, dan Ibu Lilin harus bisa menggali potensi/aset yang ada pada murid-muridnya, karena semua manusia dilahirkan dengan keunikan/potensi/asetnya masing-masing, sebagai pendidik harus bisa mengembangkan potensi tersebut sesuai dengan kodrat jaman
RUANG KOLABORASI
Ruang Kolaborasi sesi 1
Diskusi kelompok tentang mengidentifikasi aset daerah yang dimanfaatkan untuk pembelajaran di sekolah
Ruang Kolaborasi sesi 2
Pada kegiatan ini setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi pada rukol sesi 1
DEMONSTRASI KONTEKSTUAL
ELABORASI PEMAHAMAN
Pada kegiatan elaborasi pemahaman CGP mengikuti Gmeet bersama instruktur untuk penguatan materi
KONEKSI ANTAR MATERI
Aksi Nyata