Buku "Semesta Bercerita"
Sinopsis:
“Semesta Bercerita; Antologi Cerpen Bersama Gol A Gong” antologi karya para penulis yang sedang belajar bertumbuh dan berkarya. Mendapat motivasi yang luar biasa dari guru sehebat Gol A Gong membuat karya ini menjadi sangat istimewa. Kata demi kata yang tersusun memberi makna tersendiri. Keindahan semesta yang digambarkan dalam untaian kata sederhana, kumpulan cerita yang dikisahkan oleh para penulis dari berbagai latar belakang. Suka duka terangkum dalam keindahan bahasa, memberi rona tersendiri dalam beraneka rasa yang didapatkan ketika membaca karya ini.
Semoga buku ini bisa menjadi pemantik semangat bagi kita semua, agar senantiasa tak lelah berkarya. Menorehkan kisah yang memberikan jejak dan menjadi pertanda bahwa kita memang ‘ada’.
Penulis:
Penulis terpilih event menulis by Dandelion Publisher
Penerbit:
Dandelion Publisher
Link Pembelian Buku: Klik disini
Air dan Kehidupan
oleh: Dwi Ridho Aulianto
Pagi itu, hari minggu. Hari libur sekolah. Terlihat sosok remaja sedang mengawali aktivitasnya. Ia adalah Joni Jayandi atau yang disapa Joni. Anak kelas 2 SMA yang sedang menikmati hari liburnya.
Joni sedang mencuci motor kesayangannya, sambil mendengarkan lagu Hits dari handphone, dia terus membersihkan sela-sela pelek ban motor yang kotor kena lumpur kemarin. Terdengar suara air mengucur deras tanpa henti. Ternyata ember yang digunakan Joni untuk mencuci motor telah terisi penuh. Akan tetapi Joni hanya melirik sesaat ke arah ember, dan terus melanjutkan menggosok ban motornya. Air tumpah mengalir ke segala arah terbuang sia-sia.
Di dalam rumah, terdengar suara lelaki yang sedang menelepon rekan kerjanya. Ia adalah Ayah Joni yang bekerja di Perusahaan Swasta di Jakarta. Saat libur pun masih sibuk dengan pekerjaannya. Terlihat secangkir kopi panas menemani pagi harinya.
“Jon, Joni… Jon.. sini Jon,” seru Ayah Joni.
Joni yang asyik mencuci motor sambil menyetel musik, tak mendengar seruan Ayahnya. Perlahan terdengar langkah kaki dari dalam rumah menuju pintu depan. Ia melihat sekeliling, Joni sedang sibuk dengan motornya. Terlihat juga air mengalir dari luapan ember yang mengucur tanpa henti.
“Jon, itu loh lihat” Tanya Ayah Joni sambil menepuk pundak Joni.
“Iya Yah.. ada apa Yah?
“Itu air keran udah penuh, malah luber, kan sayang airnya”
“Oh iya Yah, tapi kan air melimpah Yah, apalagi sekarang hujan terus”
“Sudah itu keran matikan dulu”
Ia kembali ke dalam rumah sambil berpesan “Kamu harus hemat air, jangan dibuang-buang, air itu sumber kehidupan”. Joni dengan nada terpaksa menjawab “Iya, Yah.” Joni tiba-tiba ingin segera menyelesaikan cucian motornya. Merasa kelas mendengar nasihat dari Ayahnya. Ia segera membilas motornya dengan air berulang kali dan mengelapnya perlahan sampai bersih.
“Yah.. Joni keluar dulu ya, mau cari angin”
“Mau kemana kamu Jon?
“Paling ke Betamart beli minum Yah”
“Ini di rumah, air minum kan banyak”
“Joni mau yang dingin-dingin Yah, dah Ayah”
Roda motor berputar dengan cepatnya. Joni kehilangan kontrol ketika di persimpangan jalan. "Braaaak" terdengar bunyi keras membentur tembok. Motor Joni ringsek, Ia tergeletak pingsan, tak sadarkan diri. Tetangga samping rumah Joni, yang sedang melintas melihat kejadian ini. Ia langsung menuju rumah Joni untuk mengabarkan berita buruk ini.
"Pak.. Pak… Joni kecelakaan Pak"
"Subhanallah, di mana Pak?
"Itu di persimpangan jalan besar Pak"
“Sekarang gimana kondisinya? Aayo antar saya ke sana”
Ayah Joni dan tetangganya bergegas menuju lokasi, dan langsung membawa Joni ke Rumah Sakit. Luka yang cukup parah membuat Joni harus dirawat inap.
Terlihat Joni terbaring di kasur pasien, belum sadarkan diri. Benturan saat kecelakaan membuat kondisi Joni antara sadar dan tak sadar. Ia berusaha keras membuka mata untuk menyapa Ayahnya. Namun tidak bisa, ia malah semakin tak sadarkan diri.
"Yah, Joni ke Betamart dulu ya, dah Ayah" Ucap Joni. Sepeda motornya melaju kencang menuju Betamart. Sampai di lokasi, Joni langsung masuk Betamart. Tak seperti biasanya, kondisi terlihat sepi dan hening. Joni langsung menuju lemari minuman dingin. Ia mau membeli air mineral dingin. Namun keanehan terjadi, Ia tidak melihat satu pun air mineral di sana. Hanya ada air minum bersoda. Ia coba pindah ke lemari di sebelahnya. Perlahan ia lihat, namun tetap tidak ada air mineral yang ia cari.
Kecemasan mulai terasa, ada apa ini? Apa yang ia lihat semakin menambah ketakutannya. Tidak ada air di sana. Air yang biasanya ia hamburkan, sekarang sudah tidak ada. Joni bergegas pulang ke rumah dalam keadaan bingung. Apa yang terjadi pada dunia ini, kenapa air bening, air putih hilang.
Pikiran rumit berputar di kepalanya. Di rumahnya, ia melihat Sang Ayah sedang terbaring lemah, badannya menjadi kurus. Terlihat di sampingnya bekas botol air minum bersoda berserakan. Ia mencoba cek air sumur di rumahnya, dan ternyata tidak ada setetes pun. Ia sadar kalau air telah lenyap di bumi ini, yang tersisa hanya air olahan pabrik saja. Ia tak bisa membayangkan bagaimana melanjutkan hidup tanpa air bumi.
Jarum jam menunjukkan pukul 13.15 waktu setempat. Sang Ayah masih setia menunggu anaknya. Sudah lima belas menit Joni belum sadar. Joni masih terbaring, sesekali terdengar ia mengigau. Ayahnya dengan sabar menunggu sang anak. Tampak raut wajah penuh harap atas kesadaran anaknya itu. Ayah Joni memegang tangan Joni sambil menyebut namanya "Jon bangun Jon.. ini Ayah". Ia melakukan itu berulang tanpa henti sembari mengucap doa dalam hatinya.
Setelah tiga puluh menit berlalu. Terlihat ada gerakan dari mata Joni. Ia berusaha membuka matanya. Perlahan matanya terbuka dan berkedip. Sesaat Ia memastikan, bahwa dirinya telah sadar. Ia melihat di sampingnya ada Sang Ayah tersenyum lebar menatapnya.
“Aaaayah… “ Ucap Joni.
“Alhamdulillah, Joni akhirnya kamu sadar juga” Balas Sang Ayah.
Joni memastikan Ayahnya masih sehat dan berada di sebelahnya. Ia menyadari bahwa apa yang barusan dialami adalah ilusi bawah sadarnya selama ia pingsan. Ia bersyukur bahwa Ayahnya baik-baik saja. Ia pun melihat ada segelas air putih di atas meja. Ia menghela nafas panjang dan mengucap “Alhamdulillah”.
Joni telah siuman. Ia sudah sehat dan bisa beraktivitas kembali. Ia sekarang menjadi pribadi yang lebih sering di rumah dan menghabiskan waktu dengan orang tuanya.
Hari berganti hari, keseharian Joni terlihat berubah. Sekarang Ia menjadi lebih perhatian terhadap kondisi lingkungan dan air. Menggunakan air secukupnya, menutup keran jika sudah tidak digunakan. Hal yang dahulu tidak dilakukannya. Joni seakan mendapatkan hikmah dari kecelakaan yang Ia alami beberapa waktu lalu.
Ayahnya mulai sadar akan perubahan sikap anaknya. Sambil tersenyum aa masih terbayang kelakuan Joni yang dulu boros air saat mandi, saat mencuci motor, atau hal lainnya yang berkaitan dengan air. Joni yang sekarang telah berubah. Ia bersyukur anaknya telah lebih dewasa.
Kini, Joni ingin lebih bermanfaat dan menjaga bumi melalui penggunaan air yang lebih hati-hati. Ia sudah menyadari bahwa air adalah sumber kehidupan di bumi ini. Ia mencoba bertanya pada Ayahnya tentang kegiatan positif apa yang bisa Ia lakukan untuk menyadarkan pentingnya menjaga lingkungan.
“Ayah, bagaimana ya cara menyelamatkan bumi?” Tanya Joni pada Ayahnya.
“Melestarikan lingkungan maksud kamu Jon? Balas Sang Ayah.
“Iya, biar orang-orang kayak aku bisa sadar, pentingnya menjaga lingkungan”
“Coba lakukan kampanye sederhana” Ucap Sang Ayah.
Joni mencoba membuat kampanye sederhana dengan membuat quote atau semacam kata-kata bijak mengenai air, bumi, dan kehidupan. Quote ini kemudian aa cetak menggunakan kertas stiker, agar bisa langsung ditempel di tempat yang di inginkannya. Wajahnya terlihat gembira melakukan aktivitas baru ini.
Sang Ayah tersenyum dan merasa bangga atas apa yang dilakukan Joni. Selang beberapa lama stiker quote telah siap. Joni langsung menargetnya beberapa titik lokasi sebagai sasarannya. Target pertama adalah tempat yang ada keran air di rumahnya. Di atas keran kamar mandi, Ia tempelkan stiker bertuliskan “Ayo hemat air, gunakan seperlunya.” Stiker “Ku tak bisa hidup tanpa air” Ia tempelkan pada bagian atas keran wastafel dan keran di halaman rumahnya.
Beberapa stiker lainnya bertuliskan “Hemat air selamatkan bumi” Ia siapkan untuk nantinya di tempel pada Masjid sekitar rumah. Selain itu, Joni juga menyiapkan setumpuk stiker “Tutup Keran Jika Tak Digunakan”, yang nantinya akan dibagikan ke teman-teman kelasnya. Ia juga berencana menempelkan stiker di sekitar tempat wudhu Mushola sekolahnya. Semakin hari Joni semakin banyak memberikan pengaruh positif bagi sekitarnya.
Joni juga selalu memberikan pesan kepada teman-temannya, “yuk gunakan air seperlunya. Jangan biarkan air terbuang dengan percuma, karena air dapat menyelamatkan masa depan dunia.”
*****