Buku "Sepenggal Kisah di 2022"
Sinopsis:
Buku ini berisikan tentang rangkaian kisah yang para penulis alami selama tahun 2022. Sepenggal kisah sedih, bahagia, dan kisah tak terlupakan yang mereka tuangkan dalam buku ini.
Penulis:
Penulis terpilih event Menulis Bareng Batch 4 yang diselenggarakan Halo Penulis dan Detak Pustaka.
Penerbit:
Detak Pustaka
Link Pembelian Buku: Klik disini
Keluar dari Zona Nyaman
oleh: Dwi Ridho Aulianto
“Keluarlah dari zona nyaman,” itulah kalimat yang tepat untuk kondisiku saat itu. Kalimat yang sering tertulis di kata motivasi, nasihat para motivator, bahkan dalam sebuah lirik lagu. Sebuah ajakan untuk mencoba hal baru di luar kebiasaan yang dilakukan, agar kemampuan dan potensi diri terus berkembang. Keluar dari zona nyaman akan mendapat lebih banyak tantangan dan memacu diri untuk menjawab setiap masalah yang dihadapi.
Saat ini, aku bekerja di lembaga pemerintah pusat yang tugas dan fungsi utamanya dibidang riset dan inovasi. Sebagian besar luaran yang dihasilkan oleh kantor tempat kerjaku berupa tulisan ilmiah hasil penelitian. Hal ini menjadikan aku lebih familier dengan tulisan ilmiah khususnya dalam bentuk artikel jurnal ilmiah. Aku mulai belajar menulis artikel jurnal ilmiah sejak tahun 2015. Bekerja dan bisa menerbitkan satu artikel pada jurnal ilmiah merupakan sebuah kebanggaan bagiku. Namun, rutinitas yang berulang selama bertahun-tahun mulai terasa membosankan. Melakukan segala kegiatan dengan rutinitas yang sama akhirnya akan menciptakan pola yang terus berulang dan aku mulai menyadari bahwa aku berada di zona nyaman.
Keresahan yang kurasakan saat itu adalah rasa penasaran untuk membuat tulisan nonilmiah yang diterbitkan dalam buku antologi. Kucoba mencari informasi mengenai buku antologi dari beberapa rekan kerja yang pernah menerbitkan tulisannya dalam buku antologi. Kebanyakan dari mereka mengikuti kelas menulis berbayar yang dilakukan secara daring, dengan biaya kisaran Rp300.000 s/d Rp500.000. Aku pun sempat ditawari untuk bergabung kelas menulis yang mereka ikuti, namun, aku merasa belum mampu karena belum ada pengetahuan sama sekali mengenai bagaimana membuat opini, cerpen, novel atau sejenisnya.
Penelusuran kulanjutkan dengan mencari informasi dari Youtube, Google, dan Instagram. Walaupun sudah lumayan banyak informasi aku dapatkan, tapi keberanian untuk menulis belum juga muncul, sampai akhirnya aku menemukan info di Instagram mengenai lomba menulis puisi dan cerpen dengan tema “Amerta dan Rona,” yang diselenggarakan oleh Halo Penulis dan Detak Pustaka.
Perlahan kubaca informasinya, entah mengapa seperti ada dorongan semangat untuk mengikuti kompetisi menulis ini. Apalagi setelah tahu bahwa akun Instagram Detak Pustaka memberikan informasi mengenai tips dan trik penulisan, gaya bahasa, diksi, motivasi, event lomba, dan sebagainya yang berkaitan dengan penulisan. Rasa penasaran untuk mencoba semakin menggebu, pada akhirnya aku memutuskan untuk memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi menulis puisi.
Menulis puisi yang kukira lebih mudah dari pada cerpen, ternyata tak sesuai bayanganku, keduanya sama sulitnya bagiku. Berbagai puisi dan tips menulisnya telah aku pelajari, sampai akhirnya proses pembuatan puisi selesai. Puisi yang berhasil kutulis berjudul “Wajah di Balik Pintu.” Ini adalah pengalaman pertamaku mengikuti event menulis, tak ada target khusus terhadap puisi yang telah kukirim, apa pun hasilnya aku tetap senang karena berhasil menyelesaikannya.
Motivasi untuk terus belajar menulis semakin meningkat, setelah aku dinyatakan masuk sebagai penulis terpilih dalam event lomba menulis puisi bertema “Rona,” yang sebelumnya aku ikuti. Rasa bahagia tak terkira melihat namaku tercantum dalam daftar penulis terpilih. Sejak saat itu, aku mulai mengikuti akun-akun penerbit buku di Instagram. Semakin banyak informasi yang kudapatkan seperti informasi perlombaan, event menulis bersama, tips dan trik serta informasi mengenai komunitas menulis online . Ternyata dunia penulisan sangat luas, bersyukur aku mencoba hal baru, keluar dari zona nyaman.
Rasa ingin tahuku tentang bagaimana menggali ide, membuat premis, menentukan sudut pandang, membuat tokoh dan karakter, serta semua hal yang mendukung penulisan cerpen akhirnya kupelajari saat berkesempatan mengikuti kelas menulis online yang diberikan secara gratis oleh komunitas menulis online di akhir bulan September 2022. Dari situlah, aku memberanikan diri untuk mengikuti undangan menulis buku bareng bertema “Aku Tak Sempurna,” yang diadakan oleh Halo Penulis dan Detak Pustaka pada bulan Oktober 2022.
Cerpen berjudul “Ontang-anting,” berhasil aku selesaikan dan kukirimkan untuk mengikuti event nulis buku bareng. Jika sebelumnya pengalaman pertama menulis puisi, kali ini sebagai pengalaman pertamaku berhasil menulis sebuah cerpen. Alhamdulillah saat pengumuman, namaku untuk kali kedua lolos sebagai penulis terpilih yang naskahnya diterbitkan dalam buku antologi. Aku tak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaanku saat itu, rasa senang dan bangga bisa menghasilkan karya yang diterbitkan dalam sebuah buku.
Sekarang, aku mempunyai kebiasaan baru untuk menuangkan isi kepalaku ke dalam sebuah tulisan. Terhitung sejak saat itu, ternyata sudah empat bulan aku melakukan rutinitas baru. Hampir setiap pagi, sambil menunggu waktu jam berangkat kerja, aku mengawali aktivitas pagi dengan menulis. “Tak tik tak tik tak tik,” bunyi papan ketik laptop saat jemariku secara bergantian menekannya. Tak terasa, layar putih mulai terisi dengan huruf-huruf saling terkait membentuk kalimat dan paragraf. Mataku tak teralihkan menatap layar laptop, mengamati setiap kata yang telah kutulis. Walaupun aku sendiri belum tahu akan menulis apa, yang jelas apa pun yang terlintas di pikiranku akan kucatat. Menuliskan ide, tema, outline tulisan, atau bahkan hanya menuliskan satu kalimat saja.
Tahun 2022 menjadi tahun yang berkesan bagiku, karena aku bisa menjawab keraguan yang selalu menghantui pikiranku, dengan menerbitkan tulisan nonilmiah. Tulisan dalam bentuk puisi dan beberapa cerita pendek berhasil kuterbitkan di dalam buku antologi. Capaian yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, sampai aku mencoba untuk mulai menuliskannya. Keluar dari zona nyaman? Yakinlah, kita pasti bisa.
“Teruslah belajar dan jangan pernah takut mencoba hal baru di luar kebiasaan karena sebuah bayangan keraguan hanya bisa terjawab jika kamu sudah melakukannya.”
*****