Buku "Live What You Love"
Sinopsis:
Belenggu akan kerikuhan dan kekhawatiran untuk melakukan sesuatu yang kita cintai dalam hidup, hanya akan menggerogoti dan menghancurkan delusi. Cukuplah semua itu menjadi kajian, lalu keluarlah darinya. Gali dan kuburlah dalam-dalam. Apakah hal ini terdengar klise? Namun, begitu kita memutuskan untuk melakukan apa yang kita cintai dan sukai, maka sudah seharusnya untuk kita merencanakan dan bergerak bukan?
Antologi cerpen "Live What You Love" akan membawa kita pada secercah cahaya bahwa naluri perlu kita dengar dan impian perlu kita wujudkan. Rasakan kehangatan jiwa untuk bergerak dan menyuratkannya pada dunia.
Penulis:
Peserta KMO Batch 50
Penerbit:
KMO Publishing
Link Pembelian Buku: -
Dinding Kelas Penuh Warna
oleh: Dwi Ridho Aulianto
“Don’t stop learning because life doesn’t stop teaching.” Oscar Auliq-Ice
“Karta, karta, ayo yang Jakarta.” Terdengar suara khas kernet bus.
Secara perlahan bus berjalan meninggalkan parkiran terminal. Tiba-tiba terlihat dari arah utara pemuda berlari tergesa-gesa menuju bus. Sambil terengah-engah Pak Dion menyerahkan tiketnya. Nyaris tertinggal bus, akhirnya ia bisa duduk menempati kursinya.
Pak Dion, pemuda dari Solo berusia 30 tahun, profesinya sebagai guru honorer di sekolah dasar. Hari itu ia berangkat ke Jakarta karena masa liburan kenaikan kelas telah usai, ia harus mulai bekerja lagi. Tak seperti hari biasa, siang itu begitu terik. Perlahan keringat menetes dari kening Pak Dion, kucuran keringat mulai terasa mengalir deras di punggungnya menjadikan basah kaos yang dikenakan.
Dua puluh menit roda bus berputar tanpa henti, tiba-tiba muncul angin segar dari atas kepalanya. Suasana gerah bagai di tengah padang pasir tandus perlahan hilang karena adanya salju yang menyebar di sepanjang gurun. Badannya mulai lunglai, mata mulai sayu, dan mulutnya mulai menguap tak kuasa menahan kantuk yang dirasa.
Lima belas menit sebelum kelas dimulai, terlihat ruang kelas masih kosong, belum ada satu pun murid yang datang. Pak Dion dengan sabar berdiri di depan pintu menunggu para muridnya datang, sambil menatap tulisan “Kelas V” yang tergantung di atas pintu.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Riko. Murid yang pertama datang di kelasnya. Disusul Dudi, Ayu, Nisa dan teman lainnya. Lengkap sudah 30 siswa di dalam kelas.
Pak Dion dengan semangat dan saksama mengajarkan pelajaran di kelas. Lazimnya anak sekolah dasar yang saling bergurau jika bertemu satu sama lainnya. Suasana kelas tampak tak tenang, hanya beberapa siswa saja yang fokus mendengarkan. Rutinitas yang berulang terjadi di kelas Pak Dion.
Kondisi kelas semakin riuh, para siswa bersorak menyambut jam istirahat. Beberapa siswa bergegas membuka pintu menuju kantin, beberapa siswa laki-laki saling bercanda, sebagian lagi bernyanyi tak karuan menirukan lagu yang sedang viral di tiktok. Siswi perempuan lenggak lenggok mengikuti nyanyian bak girlband Korea. Tren yang sedang marak disukai oleh siswa-siswi sekolah dasar saat ini. Suasana kelas tak terkendali, dari sekian banyak siswa, tiba-tiba tatapan Pak Dion beralih ke meja Riko, siswa yang sibuk sendiri dengan kertas dan pensil warna di tangannya. Perlahan ia melangkah menuju Riko. Pak Dion memperhatikan kertas yang sedang digambar oleh Riko, tampak tersirat raut wajah kagum terhadap karya yang dibuat oleh muridnya ini. Kombinasi warna, goresan pensil, detail gambar tampak presisi dan pas.
Tiba-tiba ada langkah kaki berhenti menghampiri Pak Dion dan Riko, suara nyaring terdengar,
“Pak, bagus ya gambarnya Riko?” tanya Dudi kepada Pak Dion.
Dudi adalah teman sebangku Riko yang selalu bersemangat menceritakan hasil karya Riko.
“Saya dari kantin, Pak, saya juga sebenarnya ingin coba menggambar, tapi saya tidak punya kertas gambar dan pensil warna, Pak,” keluh Dudi.
Percakapan mereka terpecah oleh suara bel jam masuk pelajaran. Pak Dion melanjutkan aktivitas mengajar sampai jam pelajaran berakhir.
Mentari mulai tenggelam, cahaya senja mulai menampakkan kehadirannya. Terlihat motor Yamaha terparkir di depan Toko Buku Annida. Pak Dion menyusuri rak buku mencari kertas gambar. Diraih setumpuk kertas gambar, tak lupa seperangkat pensil gambar, pensil warna, penghapus, dan selotip mengisi tas belanja Pak Dion.
Sang rembulan tenggelam tertutup awan gelap, ditemani rintik hujan, sayup-sayup terdengar lirik lagu tembang kenangan. Pak Dion menyiapkan setumpuk kertas gambar dan peralatan lain, yang tadi ia beli saat perjalanan pulang dari sekolah.
***
Di ruang kelas, Pak Dion meletakkan kertas gambar dan pensil warna di lemari depan, dekat papan tulis. Sambil tersenyum lebar, ia berkata, “Anak-anak, kalian bisa ambil kertas gambar dan pensil warna ini. Kalian bisa gambar dan warnai sesuka hati. Tempel hasil gambar kalian di dinding kelas ini. Isi waktu istirahat atau waktu luang kalian dengan menggambar dan mewarnai,” ucap Pak Dion kepada murid-muridnya.
Riko dan Dudi yang paling bersemangat berlari ke arah lemari, mengambil apa yang memang mereka sukai. Di sela-sela waktu istirahat, hanya Riko dan Dudi yang dengan wajah ceria mulai menggoreskan pensil berkreasi sesuai imajinasi mereka. Tampak suasana pegunungan dan persawahan terhampar di kertas gambar mereka. Hari pertama, dinding kelas dihiasi dua gambar landscape pemandangan, perpaduan hijau pepohonan dan birunya langit.
Hari kedua, Ayu dan Nisa mengambil kertas gambar dan pensil warna. selain Riko dan Dudi terlihat dua siswi yang mulai ikut menggoreskan pensilnya, menggambar apa yang mereka inginkan. Dinding kelas mulai terlihat berwarna, gambar Spiderman dengan kostum merah biru, Hulk penuh warna hijau, Spongebob dengan warna kuningnya dan Patrick bintang laut warna pink menghiasi dinding sisi belakang kelas.
Perlahan, tapi pasti, perubahan itu terjadi. Kegiatan belajar menjadi semakin menyenangkan, para siswa saling bertukar gambar, senyum ceria di wajah mereka sangat terlihat. Semua berinteraksi dengan kegemaran baru mereka yaitu menggambar dan mewarnai.
Hari berganti hari, sinar mentari kembali menyapa pagi. Tiba-tiba getar handphone mengalihkan lamunan Pak Dion yang sedang menikmati secangkir kopi hitam di pagi hari. Tertera nama Bulik Paiyem menelpon. Jari-jemarinya dengan cekatan mengambil handphone dan menekan tombol swipe-up tanda menerima panggilan.
Bagai mendung kelabu menyelimuti hati Pak Dion, resah gelisah seketika menerpa, pikirannya pun tak tenang setelah mendengar kabar dari Bulik Paiyem bahwa ibunya sedang sakit. Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, beberapa kali Pak Dion diberi klakson dari pengendara lain karena kurang fokus berkendara. Terbayang wajah ibunya melingkupi pikirannya.
Duduk di ruang kelas, sesekali termenung, sambil tangannya melihat galeri foto ibunya. Sapaan anak-anak memecah lamunan Pak Dion. Pelajaran segera dimulai, Pak Dion mencoba menutupi kesedihan di depan para siswanya. Keceriaan anak-anak mengikuti pelajaran tampak jelas dari senyum simpul yang mereka berikan. Pak Dion kembali bersemangat untuk fokus mengajar hingga jam pelajaran usai. Bel tanda jam pelajaran telah berbunyi, waktu pulang tiba. Para siswa berlarian berebut menjadi yang tercepat meninggalkan kelas. Pak Dion masih termenung duduk di bangkunya, sambil menatap layar handphone melamun dengan pandangan kosong. Riko dan Dudi, dua siswa terakhir yang meninggalkan kelas. Mereka melihat raut wajah muram Pak Dion. Rasa penasaran muncul, tetapi mereka tidak berani bertanya.
“Assalamualaikum, kami pulang dulu ya, Pak” ucap Riko.
Hari itu waktu berputar begitu cepatnya. Riko, Dudi, dan teman lainnya saling bercanda di dalam kelas. Tak seperti biasanya Pak Dion belum datang. Terdengar langkah kaki memasuki ruang kelas. “Selamat pagi anak-anak, hari ini dan sampai 1 minggu ke depan saya sementara menggantikan Pak Dion mengajar,” ucap Kepala Sekolah.
Kepala Sekolah menyadari ada perubahan di kelasnya Pak Dion. Terlihat sisi belakang dinding kelas penuh berbagai gambar berwarna. Sangat berbeda dengan kelas lain, saat istirahat terlihat beberapa siswa memainkan pensil warna-warni membentuk sketsa coretan yang diminati.
Jadwal Kepala Sekolah yang padat, membuat ia tidak bisa mengajar secara penuh dalam seminggu. Beberapa kali jam pelajaran kosong, tidak ada yang mengajar. Namun, itu kelas tetap tenang, tidak ada riuh suara siswa yang mengganggu. Mereka berlomba menggambar apa pun yang mereka bisa untuk memberi kejutan kepada Pak Dion.
Hari demi hari berlalu begitu cepat, tak terasa sudah satu minggu Pak Dion meninggalkan kelas. Hari ini ia kembali, setelah izin cuti merawat Ibunya. Seperti biasa, tiba di sekolah Pak Dion langsung menapakkan kaki menuju kelas. Sesaat terhenti dan berdiri di depan pintu kelas. Seminggu tak berjumpa, tampak jelas rasa gundah tak tertahan. Bagai tembok besar menghadang, ia dengan cepat meraih gagang pintu dan membuka gerbang pembatas kerinduannya.
Sorot matanya kagum melihat beragam kreasi menempel di dinding kelas, rona bahagia di wajahnya terpancar melihat dinding penuh warna hasil karya siswa didiknya. Jam pelajaran sebentar lagi dimulai. Pak Guru Dion berdiri di depan pintu bersiap menyambut kedatangan siswa-siswinya.
*****