Membuat tulisan reflektif menjadi salah satu cara untuk memperdalam pelajaran baru yang kudapat selama berproses di program TELADAN. Sebagai permulaan, aku belajar untuk membuat reflective writing mengenai "Pengalaman Bergabung di TELADAN". Dari apa yang kutuliskan tersebut, aku menjadi mengenal diriku bahwa aku termasuk salah satu orang yang pantang menyerah, seperti saat proses seleksi beasiswa saat itu. Oleh karena itu, ketika akhir-akhir ini rasanya aku lelah dan hampir menyerah, aku bisa mengingat bahwa hal sulit yang kurasakan dahulu pun dapat kulewati, jadi pasti hambatan saat ini pun dapat kulewati.
Setelah melengkapi Stress Reduction Journal, aku semakin mengenal diriku, mengetahui sumber stresku apa saja, hal-hal yang aku lakukan untuk menyelesaikan dan mengantisipasi timbulnya stres tersebut. Dari hal tersebut aku menjadi tahu bahwa ternyata ada stres yang terjadi lebih dari satu kali dengan alasan yang sama terjadi pada diriku. Seharusnya aku bisa meminimalisasi terjadinya hal itu kembali atau setidaknya tidak terjadi selama beberapa hari berturut-turut.
Dari proses ini, aku menemukan cara yang efektif untuk mengurangi tingkat stresku, yaitu aku dapat menulis dalam sebuah catatan pribadi yang salah satunya berisi evaluasi dan tindakan yang harus dilakukan ke depannya, berbicara pada diri sendiri bahwa its okay apa yang telah berlalu tidak bisa kita ubah dan harus menerimanya, memotivasi diri sendiri, berdoa meminta kelegaan dari Sang Pencipta dan memohon kemampuan untuk bertahan melewati berbagai kegiatan lainnya yang kurasa berat hingga menjadi stres.
Aku mengalami adanya perubahan positif setelah memahami dan berlatih mengenai stress management. Aku jadi bisa mengantisipasi terjadinya stres itu lagi yang ternyata membawa manfaat lebih besar. Dengan manfaat positif yang menetap selalu dalam diriku, aku dapat menyelesaikan lebih banyak hal dengan maksimal dan lebih baik sehingga akan sesuai dengan apa yang diharapkan olehku.
Orang tuaku membantuku agar aku tidak selalu merasa tertekan dengan memberikan pengertian kepadaku. Lalu, ada Guardian Angel, yaitu Ka Sofi dengan feedback yang diberikan olehnya sehingga aku dapat memperbaiki kesalahanku dan melewati chapter ini.
Awalnya aku merasa belum bisa memanajemen waktu dengan baik, dilihat dari banyaknya waktu yang kugunakan untuk hal yang kurang berdampak baik untuk mencapai tujuanku. Hal ini berkaitan dengan diriku yang masih belum memprioritaskan kegiatan dengan tepat.
Dengan berlatih dalam materi priority management, aku jadi mengetahui bahwa memiliki skala prioritas dalam mengatur waktu dan memilah-milahnya menjadi beberapa bagian akan membantuku untuk mengeliminasi kegiatan yang tidak berdampak positif.
Aku harus fokus dalam melakukan kegiatan, misalnya mengerjakan tugas agar tugas dapat selesai dengan lebih cepat dan aku dapat menggunakan waktu untuk meng-upgrade diri dengan hal lain agar lebih luas dan banyak lagi dalam wawasan dan pengalaman. Kegiatan yang sifatnya urgent, tetapi kegiatan tersebut tidak penting, bisa aku delegasikan ke orang lain agar aku dapat mengerjakan hal lain yang lebih bermanfaat. Kegiatan yang tidak urgent dan tidak penting dapat kulakukan apabila aku memiliki waktu lebih dengan tugas-tugasku sudah terselesaikan dengan baik juga.
Dengan mengeliminasi kegiatan yang kurang bermanfaat ataupun mengurangi jumlah jamnya, aku dapat mengalihkannya untuk melakukan aktivitas lain yang berdampak besar untuk mencapai tujuanku. Oleh karena itu, aku harus mengaplikasikannya ke dalam kehidupanku sehari-hari mulai saat ini agar aku tidak menyesal kembali di kemudian hari dengan memanfaatkan aplikasi seperti mengatur waktu layar membuka aplikasi tertentu agar tidak melebihi batas dan membuat daftar kegiatan apa saja yang harus kulakukan hari itu berdasarkan prioritasnya dan berlanjut pada hari berikutnya.