Dengan materi grit, aku jadi menyadari beberapa hal, salah satunya aku merupakan pribadi yang pantang menyerah walaupun berkali-kali gagal dan bertahan hingga mencapai tujuan yang sangat penting. Dari situ, aku lebih menghargai diriku sendiri dan mengapresiasinya, sebab mungkin aku sangat jarang untuk mengapresiasi apa yang telah aku lakukan, walau itu hal kecil sehingga menjadi boost bagiku bahwa ke depannya pun aku harus berkomitmen melakukan kebiasaan kecil dengan kontinu daripada berhenti tidak melakukan apapun dan memiliki harapan untuk meningkatkan apa yang ada sekarang sehingga tujuan tercapai.
Tantangan yang aku temui dalam melatih Grit, yaitu tidak adanya minat untuk melakukan pekerjaan tersebut sehingga membuatku berat dalam melakukannya dan lebih sering menundanya yang berakibat tertekan pada akhirnya.
Untuk melewati tantangan tersebut, aku harus menemukan alasan kecil atau alasan besar untuk minat ke apa yang akan aku kerjakan karena seperti yang kuceritakan sebelumnya, tidak adanya minat menjadi hambatan untukku menjadi seorang yang gigih dan berdampak juga pada nilai baik lainnya. Misalnya, pada suatu mata kuliah, aku dapat mencari fun fact dari kegunaan materi tersebut ke depannya, mungkin saja materi tersebut sangat berguna untuk kehidupan banyak orang dan lainnya yang membuatku timbul semangat untuk mengerjakan tugas mata kuliah tersebut.
Aku merasa belum maksimal menjadi pribadi yang strive for excellence. Menurutku, aku sudah cukup berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam apa yang aku lakukan, tetapi tidak pada semua bidang. Pada bidang yang aku minati, misalnya mendesain, aku kerap memperhatikan detail dan mempertimbangkan beberapa hal bagaimana agar tampilannya menarik dan informasi yang ditampilkan efektif serta hal lainnya hingga aku merasa sudah maksimal sedangkan terjadi hal sebaliknya pada bidang yang kurang aku minati. Pembagian waktu dan prioritas kegiatanku yang belum baik menjadi tantanganku untuk memiliki kemampuan strive for excellence.
Pembagian waktu dan prioritas kegiatan aku yang belum baik membuatku terhambat dalam proses menuju strive for excellence. Karena hal tersebut, ada pekerjaan lain yang membutuhkan banyak waktu dan tenaga, tetapi aku kerjakan dengan waktu yang cukup mepet sehingga aku merasa tertekan. Yang aku pikirkan saat itu, selesai semua lebih baik dari pada aku fokus untuk sangat baik di suatu tempat tapi terbengkalai di tempat lainnya.
Namun, aku mau belajar untuk mengatasi hambatan itu, yaitu aku harus atur waktu berapa lama aku harus mengerjakan tugas tersebut, misal untuk membuat presentasi memang harus menarik dan mudah dipahami, tetapi jangan sampai terlalu lama sehingga banyak tugas jadi tidak dikerjakan, tetapi tetap tidak menganggap remeh semua tugas yang ada. Selain itu, aku juga harus mengatur emosiku, melakukan semuanya dengan sukacita agar setiap hal yang aku kerjakan juga baik. Lalu aku akan membuat to do list harian yang realistis dan mengerjakan tugas dari yang termudah dulu agar tidak memberatkan dan tetap melihat tenggat waktu pengirimannya.
Setelah melakukan self journaling, aku melihat bahwa diriku belum memiliki integritas yang tinggi. Aku menyadari bahwa aku masih kerap melakukan hal yang berlawanan dengan integritas. Ada yang aku sadari bahwa hal tersebut tidak boleh aku lakukan pada sebelum dan setelah aku melakukannya. Seharusnya hal tersebut tidak aku lakukan karena aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan untuk mewujudkan integritas. Untuk berintegritas, salah satu tantangannya ialah respons dari orang sekitar yang berlawanan dengan prinsipku, misalnya dalam hal kejujuran.
Dalam kedewasaan moral, aku merasa cukup sering berada di tahapan moral kedua. Aku masih melakukan banyak hal hanya berdasar kepentingan diriku sendiri yang mungkin memuaskan aku dan apa yang menguntungkan bagiku serta cenderung menghindari konsekuensi yang harus aku terima, tetapi dalam hal lain aku pernah mencapai tahapan moral yang lebih tinggi.
Yang dapat aku lakukan untuk meningkatkan integritasku, yaitu aku harus berkomitmen untuk menerima konsekuensi apa yang aku lakukan dengan lapang dada dan tidak menyalahkan pihak lain, menuliskan komitmen aku tersebut pada jurnal pribadi. Kemudian, aku dapat mengajukan pertanyaan pada diri aku sendiri dan dapat bercerita di jurnal tersebut, contohnya apakah aku sudah melakukannya atau tergoyahkan sehingga aku tidak melakukan komitmen aku tersebut dan apa saja dampaknya serta apa yang aku lakukan untuk mengendalikannya. Dengan begitu aku dapat memantau integritas aku dan mengevaluasi diri agar tetap berintegritas.
Walaupun ada tantangan, dalam chapter ini orang tua memberikan pengertian untuk menerapkan salah satu elemen integritas, yaitu kejujuran. Lalu, ada Guardian Angel, yaitu Ka Sofi dengan feedback yang diberikan sehingga aku dapat memperbaiki kesalahanku dan semakin memahami pentingnya menjadi pribadi yang grit, strive for execellence, dan berintegritas.
Tribe 1 Ki Hadjar Dewantara Peduli