Analisis Geologi Longsoran di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Pekalongan
oleh:
Dr. Ir. Indra Permanajati, ST., MT.
Analisis Geologi Longsoran di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Pekalongan
oleh:
Dr. Ir. Indra Permanajati, ST., MT.
Hari Senin kemarin terjadi longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam terhadap korban jiwa yang terkena dampak longsoran. Sekitar 22 orang meninggal dunia, 4 orang masih hilang dalam pencarian, dan 13 orang dirawat di puskesmas dan rumah sakit terdekat.
Longsor yang terjadi di Desa Kasimpar merupakan konversi dari longsoran jenis luncuran debris menjadi aliran debris. Aliran debris terjadi karena ada akumulasi air yang besar yang disebabkan oleh curah hujan yang sangat tinggi menjelang longsoran. Material yang terlihat dari longsoran adalah campuran antara batu dan tanah. Bukit Kasimpar dengan jenis batuan gunung api yang mengalami pelapukan sangat rentan terhadap terjadinya longsor.
Secara geologi regional, daerah ini termasuk dalam Formasi Kuarter Rogojembangan (Qjo, Qjmf) yang merupakan produk gunung api Kuarter, terdiri dari litologi lava dan material piroklastika seperti breksi (Condon dkk, 1996). Sebagian wilayah formasi ini terdiri dari batuan yang teralterasi sehingga menghasilkan jenis tanah lempung yang bersifat plastisitas tinggi. Tanah ini akan mengalami perubahan karakteristik karena pengaruh intensitas air hujan yang meningkat. Perubahan karakteristik ini memberikan pengaruh terhadap perlemahan kekuatan tanah dan menyebabkan tanah bisa bergerak.
Berdasarkan pengamatan dari citra drone dan foto lokasi (Telu, 2025) sumber longsoran berasal dari tebing-tebing bukit yang tinggi, yang melongsorkan batuan dengan volume besar. Material kemudian mengikuti jalur sungai dan menuju daerah pengendapan longsor (depositional area). Lokasi yang terkena adalah dua rumah dan satu buah kafe yang termasuk dalam jalur longsoran.
Zona Formasi Rogojembangan merupakan daerah dengan kondisi yang cukup berbahaya dan berpotensi longsor. Beberapa longsoran besar terjadi pada pelapukan batuan ini, seperti Longsor Sijemblung dan Longsor Pawinihan di Banjarnegara. Longsoran jenis ini biasanya memakan korban cukup besar karena daerah jangkauan longsornya cukup jauh dan bergerak dengan cepat. Penyebaran Formasi Rogojembangan meliputi wilayah dari Pekalongan, daerah Petungkriono, Paninggaran, hingga ke Gunung Pawinihan, Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara. Daerah ini merupakan daerah yang harus diwaspadai terhadap terjadinya longsor.
Pemerintah daerah harus mensosialisasikan kepada masyarakat terkait kondisi alami daerah ini. Masyarakat diharapkan memahami kondisi wilayahnya dan peka terhadap kondisi alam sekitarnya karena mereka tinggal di wilayah yang berpotensi longsor. Pemahaman mengenai ciri-ciri daerah longsor dan gejala-gejala longsor harus sudah diketahui untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
Pustaka:
Condon, W.H., Pardiyanto, Ketner, K.B., Amin, T.C., Gafoer, S., Samodra, H. (1996): Peta Geologi Lembar Banjarnegara dan Pekalongan, Jawa
Google maps. (2025): Petungkriyono. Diakses pada 25 Januari 2025, dari https://www.google.com/maps/
Telu, T. (2025): Seperti inilah suasana pasca musibah longsor di Desa Kasimpar Petungkriyono Pekalongan [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=w_PNUTUgr2o
Peta geologi lokasi longsor Petungkriyono (Condon dkk, 1996 dengan modifikasi)
Video lokasi longsor Petungkriyono (Telu, 2025)
Gambaran umum morfologi lokasi longsor Petungkriyono (Google maps, 2025)
Lokasi longsor Petungkriyono dan tempat-tempat di sekitarnya (Google maps, 2025)
Artikel : Indra Permanajati
Editor : Sachrul Iswahyudi
Tim website Teknik Geologi
Teknik Geologi - Fakultas Teknik, Universitas Jenderal Soedirman