Eksplorasi Konsep Modul 1.1
Eksplorasi Konsep Modul 1.1
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Peserta memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD) mengenai tujuan dan asas pendidikan;
Peserta menganalisis konsep-konsep pemikiran KHD berdasarkan pengalaman pembelajaran yang berpihak pada murid.
Tugas Modul 1.1
Video di atas menjelaskan tentang refleksi saya terkait pemaknaan saya dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan.
Video di atas menjelaskan tentang strategi dalam mewujudkan pemikiran Ki Hajar Dewantara - Pendidikan Berpihak Pada Murid.
Pada Modul 1.1 ini saya banyak mendapatkan banyak informasi terkait pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan, yaitu :
1. Manusia Merdeka
Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Dengan adanya sebuah pendidikan, maka manusia memiliki sebuah tempat untuk berlatih dan bertumbuh sehingga dapat menciptakan manusia secara utuh, memiliki kecakapan dalam mengatur hidupnya sendiri, serta menjadi menusia yang beradab.
2. Pendidikan sebagai Penuntun
Salah satu tujuan dari pendidikan adalah menuntun seorang anak agar menjadi manusia seutuhnya. Dalam proses pendidikan ini, guru diharapkan mampu memberikan ruang kebebasan untuk siswanya agar dapat meng-eksplore dan mencari jati dirinya dan dapat hidup secara bermasyarakat, namun harus diberi tuntunan atau arahan agar tidak kehilangan arah dan membawa ke hal – hal yang tidak baik. Kekuatan sosio-kultural menjadi proses “menebalkan” kekuatan kodrat anak yang masih samar, yang bermakna bahwa budaya yang ada di lingkungan sekitar dapat mengembangkan atau meningkatkan potensi yang dimiliki oleh anak baik dalam aspek pengetahuan, sikap maupun perilakunya.
3. Pendidikan Harus Sesuai Dengan Kodrat Alam Dan Kodrat Zaman
Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Banyaknya budaya, ras, dan suku membuat banyak keberagaman di dunia, namun tidak semua hal tersebut dapat diterapkan di Indonesia. Kita harus bisa menyaring, memilih dan memilah mana yang bisa dipakai atau tidak, serta harus disesuaikan dengan karakteristik, norma, dan adab yang ada di Indonesia. Perkembangan zaman juga harus diperhatikan dalam mengembangkan sebuah pendidikan, karena pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman.
4. Budi Pekerti
Budi Pekerti merupakan keselarasan (keseimbangan) hidup antara cipta, rasa, karsa dan karya. Budi pekerti melatih anak untuk menjadi dirinya sendiri maupun hidup berdampingan dengan orang lain (bermasyarakat). Tempat utama untuk melatih pendidikan sosial dan karakter seorang anak adalah keluarga. Keluarga merupakan tempat yang sempurna untuk melatih kecerdasan budi pekerti atau pembentukan watak seseorang agar bisa mempersiapkan hidup secara individu maupun bermasyarakat. Orang tua akan menjadi seorang guru, penuntun, dan pemberi teladan dalam bertumbuhnya karakter positif anak. Selain itu, dengan dukungan pendidikan karakter di sekolah dan ditengah masyarakat akan menjadikan anak tersebut lebih kuat dan tangguh dalam menjalani kehidupannya baik secara individu maupun sosial.
Beberapa hal ini mulai membuka pandangan saya tentang makna yang terkandung dalam sebuah pendidikan. Ketika saya belum mempelajari modul ini, saya menganggap bahwa pendidikan hanya tempat untuk mencari konsep materi pengetahuan, anak harus bisa menguasai materi yang saya ajarkan, terlalu mengedepankan hasil ditimbang proses mereka dalam memperolehnya, KKM menjadi target utama dalam pembelajaran, pembelajaran masih di dominasi oleh guru, tugas guru hanya sebagai penyampai materi pelajaran, serta menggunakan metode pembelajaran yang sama untuk semua kelas. Padahal jika dikaitkan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang Pendidikan hal tersebut kuranglah relevan.
Setelah saya mempelajari modul 1.1 ini saya meyakini bahwa suatu pendidikan tidak hanya tentang bagaimana seorang anak bisa mencapai nilai sempurna di mata pelajaran. Anak harus menjadi fokus utama dalam pendidikan itu sendiri. Guru tidak serta merta dalam memberikan pengajaran, namun harus memperhatikan beberapa aspek dari anak itu sendiri seperti kemampuan dan karakter anaknya. Kemudian menemukan strategi dan model pembelajaran yang sesuai. Tak lupa pembelajaran yang diberikan harus inovatif dan terkini (sesuai zaman), karena kita mendidik anak untuk menghadapi tantangannya di masa depan, bukan masa lampau, salah satunya dengan menerapkan pembelajaran abad 21. Tugas guru tidak hanya “transfer” materi ke anak, melainkan juga harus bisa menjadi panutan atau contoh, memberikan semangat, arahan, bimbingan, dan dorongan dalam melakukan pengajaran. Guru juga harus memberikan kesempatan pada muridnya untuk bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kodratnya. Pendidikan tidak hanya untuk memperoleh ilmu pengetahuan seluas – luasnya, melainkan juga bagaimana membentuk karakter atau budi pekerti anak itu sendiri. Sekolah bukan satu – satunya tempat untuk mengenyam pendidikan, namun rumah dan lingkungan juga merupakan tempat pendidikan. Adanya kerjasama pendidikan yang baik antara sekolah, orang tua, dan lingkungan sosio kultural akan menciptakan manusia yang merdeka. Manusia yang merdeka adalah manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak tergantung pada orang lain, akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.
Winda Ratna siswaningtyas, S.Pd., Gr.
Peserta mampu mendokumentasikan kontribusi nyata penerapan pemikiran Ki Hadjar Dewantara di kelas dan sekolah sebagai pusat pengembangan karakter.