Wina, Austria (PPI Austria) — Pada hari ini, PPI Austria sukses menyelenggarakan seminar akademik dan beasiswa bertajuk “Unlocking Your Academic Future in Austria” (14/2/26). Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan dihadiri oleh peserta yang tertarik melanjutkan studi di Austria. Seminar ini menjadi ruang berbagi informasi sekaligus inspirasi bagi peserta yang ingin menempuh pendidikan tinggi—khususnya jenjang doktoral—di Austria melalui berbagai skema beasiswa.
Acara dibuka oleh moderator, Vina, yang menyampaikan tata tertib dan alur kegiatan. Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Ketua PPI Austria periode 2026, Torana Arya Gasica. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya keberanian untuk bermimpi dan mengambil langkah nyata:
“Karena mimpi itu gratis, maka bermimpilah yang paling mahal.”
Beliau berharap seminar ini dapat menjadi jembatan informasi dan motivasi bagi peserta untuk berani melanjutkan studi ke Austria.
Sesi utama seminar menghadirkan empat narasumber yang membahas beragam peluang beasiswa doktoral dan studi lanjut di Austria.
Sesi pertama dibawakan oleh Soni Andriawan yang memaparkan Indonesia–Austria Scholarship Programme (IASP)—program kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Austria. Beberapa poin penting terkait IASP:
Ditujukan khusus bagi dosen tetap di perguruan tinggi negeri maupun swasta di Indonesia.
Program fully funded untuk studi S3 di Austria.
Batas usia maksimal 35 tahun.
Wajib memiliki Letter of Acceptance (LoA) atau Letter of Support dari profesor di universitas Austria.
Proposal riset (5–10 halaman) harus menunjukkan kebaruan (novelty) dan dampak bagi Indonesia maupun Austria.
CV dengan format Europass, surat rekomendasi, dan dokumen administratif lainnya.
Batas akhir pendaftaran umumnya hingga akhir Maret melalui laman Kemendikbudristek.
Soni juga menekankan pentingnya strategi dalam mencari supervisor, termasuk konsistensi menghubungi profesor yang sesuai dengan bidang riset serta menyesuaikan topik penelitian dengan isu yang relevan di kedua negara.
Sesi kedua disampaikan oleh Lukni yang membahas Ernst Mach Grant (EMG), salah satu beasiswa yang sepenuhnya didanai oleh pemerintah Austria. Beberapa poin penting terkait EMG:
Terbuka bagi peneliti atau calon doktor (tidak terbatas untuk dosen).
Fokus pada kandidat dari lima negara: Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Durasi pendanaan hingga 3 tahun.
Tunjangan bulanan sekitar €1.300, ditambah subsidi mobilitas dan tiket perjalanan.
Wajib memiliki proposal riset yang telah disetujui oleh profesor (Professor/Associate Professor dengan venia docendi) di Austria.
Pendaftaran dilakukan melalui portal scholarship.at.
Seleksi mencakup tahap administrasi dan wawancara, dengan sistem komparasi antar kandidat dari lima negara.
Lukni menekankan bahwa mendapatkan supervisor adalah langkah krusial dalam proses ini. Proposal riset yang selaras dengan minat penelitian profesor menjadi faktor penentu keberhasilan.
Sesi berikutnya membahas overview program Erasmus Mundus, yang memberikan kesempatan studi di berbagai universitas Eropa, termasuk kemungkinan studi di Austria sebagai bagian dari konsorsium. Program ini dikenal dengan:
Skema joint degree atau double degree.
Pendanaan penuh (tuition fee, living allowance, travel grant).
Mobilitas lintas negara selama masa studi.
Proses seleksi kompetitif berbasis akademik dan pengalaman internasional.
Paparan terakhir membahas peluang studi di Austria melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Beasiswa ini dapat digunakan untuk studi di berbagai universitas di Austria yang masuk dalam daftar perguruan tinggi tujuan LPDP. Beberapa poin penting terkait beasiswa LPDP:
Skema reguler dan targeted scholarship.
Komponen pendanaan (biaya pendidikan, biaya hidup, tiket, asuransi, dll.).
Tahapan seleksi administrasi, bakat skolastik, dan substansi.
Pentingnya kesiapan dokumen, rencana studi, dan komitmen kontribusi pasca studi.
Sesi tanya jawab berlangsung aktif dan interaktif. Peserta menanyakan berbagai hal mulai dari strategi mendapatkan LoA, penyusunan proposal riset, hingga tips menghadapi wawancara beasiswa. Diskusi ini menunjukkan tingginya minat peserta seminar untuk melanjutkan studi ke Austria.
Antusiasme peserta juga tercermin dari berbagai komentar positif yang disampaikan selama acara berlangsung, di antaranya seperti “Bagus”, “Kereeen!”, “Bagus, menarik”, dan “Semoga ada acara selanjutnya lagi”. Testimoni tersebut menjadi motivasi bagi PPI Austria untuk terus menghadirkan program-program informatif dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.
Seminar “Unlocking Your Academic Future in Austria” menjadi wujud komitmen PPI Austria dalam mendukung akses informasi pendidikan tinggi bagi masyarakat Indonesia. Melalui kolaborasi, berbagi pengalaman, dan keterbukaan informasi, diharapkan semakin banyak pelajar dan akademisi Indonesia yang dapat mengembangkan kapasitas akademiknya di Austria. PPI Austria akan terus menghadirkan kegiatan informatif dan inspiratif untuk mendukung perjalanan akademik generasi muda Indonesia di kancah internasional.