A. Tauhid Filosof
Para pembela filsafat Aristoteles, dan para pengikut- nya, yang menamakan diri ‘Filosof Muslim’, mengatakan:
“Tauhid adalah :
“menetapkan adanya wujud mutlak (absolut) yang terlepas dan dzat dan sifat”.
Bahkan mereka mengatakan: tauhid adalah:
Menetapkan wujud yang sama sekali terlepas dari dzat dan sifat, akan tetapi merupakan wujud mutlak yang tidak berkaitan dengan dzat, tidak bisa diberi sifat dan tidak bisa dikhususkan dengan suatu karakter, namun seluruh sifatnya adalah sulub dan idhafat.
Sulub adalah semua sifat Allah berawalan “tidak”, seperti:
a. tidak jauhar (inti) bukan pula ‘Aradh (sesuatu yang berdiri pada jauhar),
b. ‘tuhan’ itu tidak bidayah (permulaan), tidak pula nihayah (akhir),
c. tidak murakkab (susunan) tidak pula bagian dan murakkab,
d. tidak di dalam alam, tidak pula di luarnya, tidak berhubungan dengan alam, tidak pula berpisah dengannya.
Idhafat adalah sesuatu yang disandarkan kepada Allah, sebagaimana disandarkannya Bait (rumah) kepada nama Allah, sehingga menjadi Baitullah, atau Abdun (hamba) kepada Allah sehingga menjadi Abdullah, tentunya ada perbedaan antara bait, Allah, dan Baitullah, juga ada perbedaan antara abdun, Allah, dan Abdullah.
Dengan konsep seperti ini, tauhid mereka berujung pada:
Mereka berpendapat bahwa:
Alam semesta bersifat qodim (tanpa Pencipta).
B. Tauhid Wihdatul Wujud
Sudah sampaikah kepada anda berita tentang para penyeru wihdatul wujud? Mereka mengklaim hanya merekalah orang-orang yang bertauhid, selain mereka adalah orang-orang politheis (musyrik)
Tahukah Anda apa tauhid yang mereka klaim?
Tauhid mereka adalah al-Haq (Allah) Yang Mahasuci, tidak lain adalah ciptaan-Nya, dan bahwasanya Allah swt tidak lain adalah wujud dan segala sesuatu yang ada, ia juga hakikat-Nya, jati dini-Nya, dan bahwasanya Dia adalah tandiz segala sesuatu, dan pada segala sesuatu itu terdapat tanda yang menunjukkan bahwa tanda itu tidak lain adalah Dia..
Menurut para tokoh mereka, kalimat diatas adalah ungkapan yang salah (maksudnya kurang pas), sebab menurutnya, Allah itu tidak lain adalah ayat (tanda dalil atau bukti), pembukti, dan yang dibuktikan itu sendiri keanekaragaman sesuatu, —yang disebabkan adanya istilah yang berbeda-beda— hanyalah ilusi belaka, bukan pada kenyataan dan hakikatnya.
tauhid seperti ini, konsekwensinya amatlah lucu dan ghairu ma’qul (tidak masuk akal). Memang, ajaran mereka mengajak seseorang untuk hidup dalam hal-hal yang ghairu-ma’qul, alias gila, edan, dan majnun yang oleh mereka diistilahkan dengan Jadzab, atau Majdz sehingga wajar ada sebagian tokoh mereka yang begitu mendengar ayam jago berkokok, ia berkata sambil bersujud “iya, wahai tuanku”!.
Dan menurut tauhid ini :
Konsep tauhid seperti ini, menurut mereka adalah sirr (rahasia) yang dirumuskan oleh hembusan hembusan masa-masa terdahulu, dan yang dimaksud oleh petunjuk kenabian, sebagaimana dikatakan oleh tokoh mereka, Ibnu Sab’in.
C. Tauhid Mu’tazilah
Diantara cabang dan buah tauhid ini adalah:
Ada lagi pengklaim lain yang tidak boleh kita lupakan, yaitu Mu’tazilah, mereka menamakan din sebagai Ahlut-Tauhid Wal ‘Adli (pembela tauhid dan keadilan). Mereka menempatkan tauhid ini sebagai pokok pertama dan lima pokok ajaran mereka.
Apa pengertian tauhid menurut mereka?
tauhid menurut mereka adalah:
Misalnya ada seseorang bernama Syaqiy yang menenggak bir (khamr), itu artinya: ‘tuhan’ menenggak ‘tuhan’, sebab semuanya adalah satu wujud, menurut pandangan mereka.
Mu’tazilah Mutaakhkhirin (generasi belakangan) menambahkan tauhid diatas dengan ‘tauhid Jahmiyyah’, sehingga pengertian tauhidnya menjadi:
D. Tauhid Jabriyyah
Kebalikan dan ‘tauhid pincang’ diatas, ada bentuk tauhid lain, yaitu ‘tauhid Jabriyyah’. Inti ajarannya adalah:
Apakah orang yang memiliki bashirah (ketajaman dan kedalaman pemahaman beragama) tidak mengetahui tauhid orang-orang yang menyesatkan kaum awam itu, dan tauhid orang-orang yang mengklaim sebagai syaikh (maha guru) yang berpakaian dan berpenampilan sebagai tokoh-tokoh yang saleh itu adalah penyesat-penyesat mereka dalam tauhid.
Menurut pandangan Ahlul Bashirah (orang-orang yang memiliki ketajaman dan kedalaman pemahaman agama), mereka sebenarnya menyeru kepada selain Allah, berharap dan takut kepadanya. Sesungguhnya mereka menyeru, berharap dan takut kepada orang- orang yang mengklaim sebagai wali, aqthab, ausath, abdal dan gelar-gelar lainnya.
Semua ini adalah gelar-gelar kewalian dalam tasawwuf paling tinggi disebut al-Quthbu ar-Rabbani atau al-Ghouts as-Shamadani, yang menurut mereka, Allah tidak boleh membuat keputusan, kecuali setelah meminta pendapat mereka, Tingkat kewalian di bawahnya disebut Quthb, bentuk jamaknya Aqtha lalu Ausath, lalu Abdal.
Mereka ber-thawaf di sekeliling kuburan para wali itu, meminta kepada mereka lebih banyak dari pada memohon kepada Allah, ber-istighatsah (meminta pertolongan) kepada mereka lebih banyak daripada ber-istighatsah kepada Allah. Begitu ditimpa musibah, buru buru mereka mendatangi kuburan itu, memohoi pemenuhan hajatnya, dan pembebasan diri mereka dari kesempitan, dengan alasan mereka adalah penghubung Allah. Menurut mereka: “jika tidak ada penghubung hilanglah yang dihubungi”.(naudzu billah)
E . Tauhid Nasrani
Jangan kita lupakan pula bentuk tauhid lain, yaitu tauhid Nasrani. Mereka mengklaim bahwa agama mereka adalah agama tauhid, dan bahwasanya mereka tidak keluar dan lingkaran tauhid, meskipun meyakini dan berkata:
“Allah swt adalah trinitas, terdiri dan: Bapak, anak, dan Ruh Qudus. Mereka satu keluarga, atau satu perseroan suci, terdiri dan ‘tuhan bapak’, ‘tuhan anak’, dan oknum ketiga adalah ruh qudus".
Jika ditanya, bagaimana kalian bertauhid padahal kalian mengatakan ‘tuhan’ ada tiga? Mereka menjawab: “Tiga dalam satu, dan satu adalah tiga. Tidak ada tempat bagi logika dan akal dalam aqidah”. Motto mereka adalah: “Yakinilah dan tutuplah matamu”.
Melihat banyaknya konsep tauhid ini, perlu adanya penjelasan dan penjernihan pengertian tauhid sebagaimana yang diserukan Islam, bahkan ia adalah kewajiban utama dan paling urgen, sebab diatas dasar tauhid inilah Islam membangun ajaran-ajarannya, sehingga jelaslah kebenaran dan kebatilan.