Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional
Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional
2.2.a.5. Hasil Diskusi Ruang Kolaborasi
2.2.a.7. Elaborasi Pemahaman - Pertanyaan
2.2.a.8. Koneksi Antar Materi
2.2.a.3 Mulai Dari Diri - Refleksi Individu
Apa kejadiannya, kapan, di mana, siapa yang terlibat, apa yang membuat Anda memilih merefleksikan peristiwa tersebut, dan bagaimana kejadiannya?
Kejadian yang terjadi saat itu adalah keputusan saya memberikan nilai di bawah KKM pada rapor salah satu murid sehingga murid tersebut tidak naik kelas. Hal tersebut terjadi pada tahun pelajaran 2017/2018 di SMKN 1 Lengkong, Yang terlibat saat itu saya, murid atas nama Ryan Rinaldi, Wali Kelas atas nama bu Dwi Sulistyorini, Waka Kesiswaan, BK dan Kepala Sekolah. Saya mengajar di kelas XI TKJ 3, dengan mata pelajaran Produktif TKJ.
Ada salah satu murid atas nama Ryan Rinaldi yang sering tidak mengikuti pembelajaran. Setelah diusut ternyata murid tersebut malah ikut pelajaran praktik di jurusan TKR. Keluhan dan laporan kepada wali kelas sudah sering disampaikan namun sampai akhir semester tidak ada perubahan yang signifikan. Murid tersebut mengikuti pembelajaran hanya 2 pertemuan selama satu semester ganjil. Dengan tidak mengikuti kegiatan pembelajaran maka saya memberikan nilai dibawah KKM di rapornya. Di semester berikutnya murid tersebut juga tidak menampakkan adanya perubahan, sehingga pada saat semester genap kenaikan kelas saya memberikan perbaikan nilai dengan mengerjakan tugas. Tugas tidak dikerjakan dan ditinggal pulang begitu saja tanpa ada izin sama sekali. Oleh karena itu dengan terpaksa sekali saya memberikan nilai raport di bawah KKM selama 2 semester kepada murid tersebut. Dan atas dasar nilai itu, membuat murid tersebut dinyatakan tidak naik kelas, dan akhirnya pindah sekolah. Ada perubahan perilaku yang tidak nyaman dari wali kelasnya karena ada muridnya yang tidak naik kelas karena nilai saya. Kejadian tersebut perlu saya refleksikan karena dari semua yang terlibat masih kurang optimal dalam menangani masalah murid tersebut saat itu, dan saya pribadi merasa gagal sebagai pendidik.
Bagaimana Anda menghadapi krisis tersebut (coping)? Bagaimana Anda dapat bangkit kembali (recovery) dan bertumbuh (growth) dari krisis tersebut?
Saya menghadapi krisis tersebut dengan lebih hati-hati dalam bertindak atau memberikan keputusan terkait dengan masa depan murid. Saya berusaha membuat suatu skenario pembelajaran yang sebisa mungkin mudah diterima murid untuk memahami materi pembelajaran. Jika ada masalah kedisiplinan dengan murid, saya lebih intensif berkomunikasi dengan wali kelas dan BK agar masalah tidak terlalu jauh. Sekalipun hubungan personal dengan wali kelas murid yang tidak naik tersebut menjadi kurang bagus, namun saya tetap berusaha menjalin hubungan baik dengan rekan guru lain terlebih lagi pada guru yang mengajar di kelas yang sama. Saya dapat bangkit kembali dengan berbagai informasi bahwa murid yang bersekolah ke SMK dengan jurusan yang dipilih belum tentu nyaman dan bisa menerima materi di jurusan tersebut. Karena berbagai latar belakang murid yang beragam sehingga cara menangani masalahnya pun juga harus benar-benar selektif.
Gambarkan diri Anda setelah melewati krisis tersebut.
Apa hal terpenting yang telah Anda pelajari dari krisis tersebut?
Bagaimana dampak pengelolaan krisis tersebut terhadap diri Anda dalam menjalankan peran sebagai pendidik?
Hal penting yang saya pelajari dari krisis tersebut adalah mungkin keputusan waktu itu bisa jadi benar namun bisa juga salah tergantung sudut pandang masalah. Namun dengan kejadian tersebut semakin menguatnya pribadi saya dalam menghadapi kondisi sosial warga sekolah termasuk murid. Saya juga menjadi lebih percaya diri menghadapi beberapa masalah murid terhadap pembelajaran dengan melakukan koordinasi dan komunikasi dengan BK, kesiswaan dan Kepala Sekolah. Sebagai pendidik saya merasa saya harus memahami karakteristik murid saya dan memberikan layanan terbaik kepada mereka.
Sebagai pendidik, Anda tentu pernah bertemu murid yang memiliki pemahaman diri, ketangguhan, atau kemampuan membangun hubungan yang positif dengan orang lain. Setujukah Anda bahwa faktor-faktor tersebut membantu ia menjalani proses pembelajaran dengan lebih optimal di sekolah? Jelaskan jawaban Anda dengan bukti atau contoh yang mendukung.
Saya sangat setuju. Murid yang memiliki pemahaman diri, ketangguhan atau kemampuan membangun hubungan yang positif dengan orang lain akan lebih mudah memahami tujuan hidupnya sehingga tidak sulit dalam mengatur hidupnya. Dia juga bisa mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya sendiri sehingga dia bisa menempatkan dirinya sesuai dengan keadaan, dan mengoptimalkan kelebihannya untuk mencapai tujuannya khususnya saat pembelajaran di sekolah. Hubungan positif dengan orang lain akan membuat seorang mempunyai tingkat kepercayaan diri yang baik dan menciptakan peluang untuk mendapatkan keinginannya. Contoh yang mendukung yaitu ketika saya diberi kepercayaan untuk menjadi wali kelas dan pembimbing murid yang akan mengikuti lomba kompetensi siswa. Pada saat menjadi pembimbing saya diminta untuk mengadakan seleksi calon peserta lomba, disitu saya bertemu murid-murid yang tangguh dan mempunyai kemampuan lebih. Kemudian murid yang terpilih saya bimbing untuk mempersiapkan diri menghadapi lomba yang akan dilaksanakan.
Dari kedua refleksi di atas, apa yang dapat Bapak/Ibu simpulkan tentang hubungan antara kompetensi sosial dan emosional dengan keberhasilan dalam pengelolaan krisis Anda dan pembelajaran murid Anda?
Hubungan antara kompetensi sosial dan emosional dengan keberhasilan dalam pengelolaan krisis saya dan pembelajaran murid saya yaitu dengan menjalin hubungan atau relasi yang baik, komunikasi yang jelas, emosi yang terkontrol, seseorang akan memahami karakter diri dan orang-orang sekitarnya. Pembelajaran murid saya akan berjalan dengan baik dan berhasil jika masing-masing bisa saling mengerti dan memahami dengan bekal kompetensi sosial dan emosional yang baik pula. Setiap masalah bisa diselesaikan dengan baik dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, apa yang Anda harapkan untuk pembelajaran selanjutnya ? Silahkan kemukakan Harapan bagi diri sendiri ?'
Harapan saya sebagai seorang pendidik, saya mempunyai peran yang cukup penting dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif dengan memperhatikan kondisi emosional dan sosial murid. Saya juga ingin menyebarkan budaya positif dan nilai kebajikan dengan mengontrol emosi dan mempunyai kompetensi sosial dengan siapapun yang saya temui. Saya tidak mudah tersinggung dan emosi atau ekspresi berlebihan jika mendapati murid yang membuat masalah.
Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan sebelumnya, apa yang Anda harapkan untuk pembelajaran selanjutnya ? Silahkan kemukakan Harapan bagi murid-murid Anda ?
Harapan saya terhadap murid saya yaitu dengan memasuki usia remaja, sudah sepatutnya mempunyai pola pikir yang lebih visioner jauh ke depan, dan bisa lebih bijak lagi dalam melangkah agar tidak terjadi masalah yang tidak diinginkan. Seiring perjalanan waktu dan bekal ilmu dari bapak/ibu guru pada tingkat sebelumnya, mereka bisa menjalani kehidupan yang semakin baik, aktif mengikuti pembelajaran, kreatif, dan menjadi pelajar yang unggul. Murid lebih dewasa dalam berpikir sebelum bertindak dan mampu beradaptasi dengan segala situasi, baik di kelas, sekolah maupun di masyarakat.