DAFTAR JURNAL DWI MINGGUAN
DAFTAR JURNAL DWI MINGGUAN
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 1.1 FILOSOFI PENDIDIKAN KI HADJAR DEWANTARA
Dalam menulis jurnal Dwimingguan ini saya menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feeling, Finding, Future). Model refleksi ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway yang merupakan salah satu model dari 9 model Dwimingguan yang tersedia. 4F (Facts, Feeling, Finding, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Maka dengan 4P ini dapat saya tuliskan jurnal refleksi saya sebagai berikut:
Facts (Peristiwa)
Kegiatan Program Guru Penggerak ini dimulai hari Rabu, 16 Agustus 2023 dengan agenda kegiatan yaitu Pembukaan PGP Angkatan 9 secara Nasional (Ditjen GTK) pada pukul 10.30 - 12.00 WIB melalui daring menggunakan layanan Zoom meeting. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Orientasi Pelaksanaan PGP Angkatan 9 (BBGP Provinsi Jawa Timur) pukul 12.00 - 16.30 WIB yang juga menggunakan media Zoom meeting dan live Youtube. Sejak hari tersebut saya melaksanakan kegiatan mencoba mengakses LMS dan mengerjakan pretes Modul 1.1.
Pada hari Senin, tanggal 21 Agustus 2023 mulai melaksanakan pembelajaran secara daring dengan materi pada bagian sub modul 1.1 yaitu Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional - Khi Hadjar Dewantara. Pada pembelajaran ini saya diminta untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersedia pada LMS terkait pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara (KHD).
Pada hari Selasa, tanggal 22 Agustus 2023 melaksanakan pembelajaran dengan kegiatan Eksplorasi Konsep. Pada kegiatan ini kita diminta untuk memaknai istilah menuntun, menuntun pendidikan sesuai sosio kultural, pendidikan murid sesuai kodrat alam dan kodrat zaman, serta pendidikan yang berpusat pada anak.
Pada hari Rabu, tanggal 23 Agustus 2023 melaksanakan pembelajaran dengan kegiatan Ruang Kolaborasi bagian Penugasan Kelompok. Pada kegiatan ini kita membahas sosio kultural apa saja yang ada di daerah sekitar, mengambil kultur atau budaya yang mana yang disitu mengandung pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan mengambil salah satu topik utama untuk dijadikan salah satu budaya yang bisa dibawa ke sekolah untuk disemaikan pada anak-anak.
Pada hari Kamis, tanggal 24 Agustus 2023 melaksanakan pembelajaran dengan kegiatan Ruang Kolaborasi bagian Presentasi. Di sini melalui perwakilan kelompok, kita mempresentasikan hasil diskusi kelompok di hari sebelumnya. Banyak hal yang bisa didapatkan dari hasil presentasi kelompok satu dengan yang lain yang berasal dari pertanyaan maupun tanggapan peserta kelompok lain.
Pada hari Selasa, tanggal 29 Agustus 2023 melaksanakan pembelajaran dengan kegiatan Ruang Elaborasi Pemahaman Modul 1.1. Pada kegiatan ini banyak membahas nilai budaya sekitar yang memungkinkan diterapkan di sekolah karena mempunyai nilai luhur yang baik dan mendukung filosofi dari Ki Hadjar Dewantara.
Dari rangkaian kegiatan ini, materi yang didapatkan dituangkan dalam kegiatan Demonstrasi Kontekstual yaitu dimana kita sebagai peserta CGP membuat suatu karya dimana didalamnya mengandung pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Berdasarkan koneksi antar materi, kemudian membuat kesimpulan dan refleksi sesuai materi Modul 1.1.
Feeling (Perasaan)
Perasaan yang saya rasakan diawal mengikuti program Guru Penggerak ini memang tidak terlalu antusias, karena belum begitu berminat untuk mengikuti. Namun karena dorongan dari pimpinan dan beberapa rekan, akhirnya mencoba mengikuti dan akhirnya diterima seleksi. Dari sini ada rasa penasaran, kira-kira seperti apa nanti. Begitu jadwal pelaksanaan muncul, sempat ada kekawatiran tentang banyak hal, mulai pembelajaran rutin, waktu keluarga, dan melihat padatnya jadwal pasti banyak juga yang harus diselesaikan sesegera mungkin. Perasaan lelah dan faktor kesehatan juga mempengaruhi.
Pada saat mulai kegiatan, sudah bisa menerima kenyataan bahwa kegiatan ini harus dilaksanakan sampai selesai dengan segala konsekuensinya. Dari kekawatiran-kekawatiran yang ada, bagaimana cara mengatasinya dan harapan yang bisa dicapai saat kegiatan ini selesai. Tentunya dalam perjalanan pasti banyak mengalami fenomena yang dihadapi, berusaha sekuat mungkin dan menjalani seikhlas mungkin. Sampai pada titik fokus pada kewajiban diri bahwa tugas guru memberikan pendidikan berpusat kepada murid sesuai kodrat alam dan kodrat zaman. Melalui filosofi Ki Hadjar Dewantara menjadikan saya untuk lebih bersemangat mengikuti program guru penggerak ini, dengan harapan ada peningkatan kualitas pendidikan untuk murid di sekolah.
Finding (Pembelajaran)
Pada saat melaksanakan kegiatan ini, khususnya sampai pada Modul 1.1 tentang Filosofi Ki Hadjar Dewantara ada cukup banyak hal yang bisa saya dapatkan. Beberapa diantaranya memang sudah tidak asing di telinga, namun ada juga yang baru ditemui dan akan didalami lebih lanjut. Seperti pendidikan berpusat pada murid dan azas sistem among (Ing ngarso sung tulodho, Ing madya mangun karso, Tut wuri handayani), memang sudah tidak asing bagi saya, karena sebagai pendidik secara tidak langsung akan melaksanakan itu. Namun hal yang baru tahu adalah yang lebih luas lagi mengenai pendidikan murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman, karena jika melihat dari sejarah bangsa ini dari sebelum merdeka sampai pada sekarang sudah sekian tahun merdeka maka banyak sekali perubahan dan perkembangan. Dengan kondisi yang ada maka pendidik dihadapkan pada suatu perubahan dan pendidik harus berkembang mengikuti keadaan muridnya. Perkembangan pendidikan juga mempengaruhi eksistensi dari suatu budaya, maka dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara pada pembelajaran ini dapat ditemui bahwa pendidikan juga harus memperhatikan nilai luhur budaya, dimana budaya yang baik dilestarikan melalui pendidikan. Disamping membangun karakter anak dalam kesiapan menghadapi tantangan hidup, juga menjaga dan melestarikan budaya sebagai identitas bangsa.
Future (Penerapan)
Setelah saya mempelajari modul 1.1 ini, saya akan mencoba menerapkan apa yang sudah saya temukan ke dalam proses pembelajaran di kelas dengan tujuan agar pendidikan bisa tercapai dengan baik. Saya akan memberikan pembelajaran sesuai kebutuhan murid, sesuai dengan kodrat alam dan lingkungannya, sesuai dengan kodrat zamannya namun tetap membiasakan diri dalam sosial budaya positif. Membangun karakter murid yang tangguh dan siap dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompetitif. Membangun karakter dalam pembelajaran dengan membiasakan sikap saling menghormati, saling menghargai, berkomunikasi dengan baik, sopan santun, berdiskusi yang baik dan bekerja sama dalam memecahkan suatu masalah. Dari sekian banyak hal yang diharapkan tentunya sebagai pendidik harus bisa merubah diri sendiri dan bisa menjadi contoh untuk muridnya. Sebagai pendidik harus tetap belajar menambah wawasan agar bisa menuntun muridnya ke arah yang benar. Sebagai guru harus memiliki karakter yang kuat agar bisa mendorong muridnya mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya. Banyak hal yang harus diubah dan ditingkatkan, semoga dengan mengikuti pendidikan guru penggerak ini bisa menjadi pendidik yang baik sesuai filosofis pemikiran Ki Hajar Dewantara.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 1.2 NILAI-NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 1.2 NILAI-NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK
NAMA : DARMAWAN
INSTANSI : SMKN LENGKONG
Dalam menulis jurnal Dwimingguan ini saya menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feeling, Finding, Future). Model refleksi ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway yang merupakan salah satu model dari 9 model Dwimingguan yang tersedia. 4F (Facts, Feeling, Finding, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Maka dengan 4P ini dapat saya tulis jurnal refleksi sebagai berikut:
Facts (Peristiwa)
Kegiatan pada modul 1.2 ini merupakan kelanjutan dari modul 1.1, dimana modul 1.2 merupakan pengembangan dari materi modul 1.1 yaitu tentang filosofi pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara. Kegiatan dimulai dari diri, yaitu tentang mengingat pengalaman positif dan negatif yang paling berkesan pada usia sekolah dengan menggunakan trapesium usia.
Pada kegiatan eksplorasi konsep, terdapat beberapa pokok materi yang saya pelajari, antara lain:
Hubungan antara emosi, cara kerja otak, kebutuhan dasar manusia, daya untuk memilih, motivasi intrinsik, dan struktur sistemik lingkungan dalam pembentukan nilai-nilai dalam diri seseorang
Makna Profil Pelajar Pancasila dalam transformasi pendidikan.
Makna nilai-nilai yang perlu dikembangkan guru penggerak.
Makna peran guru penggerak dalam transformasi pendidikan.
Mengetahui bahwa keteladanan dan sistem pembiasaan yang konsisten di suatu lingkungan mempengaruhi penumbuhan nilai-nilai dalam diri seseorang.
Makna pemimpin pembelajaran di sekolahnya masing-masing.
Kegiatan pada ruang kolaborasi, saya bersama anggota yang lain berdiskusi tentang nilai-nilai dan peran guru penggerak yang kami miliki. Dari nilai-nilai dan peran guru yang menonjol pada masing-masing anggota dipadukan menjadi suatu kegiatan pembelajaran. Kemudian hasil diskusi tersebut kami presentasikan dan cukup beragam tanggapan dari kelompok lain yang sifatnya mendukung dan melengkapi isi dari presentasi.
Pada demonstrasi kontekstual, saya menjabarkan pendalaman dan pengembangan dari guru penggerak yang sudah berpengalaman selama 3 tahun dengan melakukan berbagai kegiatan. Mulai dari kegiatan keseharian, kegiatan rutin berkesinambungan, dan kegiatan khusus. Setelah itu membuat suatu kesimpulan materi nilai-nilai dan peran guru penggerak serta kaitannya dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara.
Feeling (Perasaan)
Perasaan yang saya rasakan ketika mempelajari materi pada modul 1.2 ini yaitu saya merasa senang, karena yang sudah saya lakukan dalam pembelajaran selama ini juga bagian dari nilai-nilai dan peran guru penggerak. Secara materi memang masih perlu banyak belajar untuk menambah wawasan yang nantinya bisa digunakan. Seperti halnya pada materi cara kerja otak, dimana ada otak cepat dan otak lambat dalam merespon apa yang terjadi pada panca indera.
Perihal tentang perasaan saat mempelajari materi ini saya merasa sangat antusias untuk mempelajari tentang nilai-nilai dan peran guru penggerak. Dimana pada materi ini memacu saya dalam menggali potensi diri yang dirasa cukup menonjol yang bisa saya andalkan untuk mewujudkan capaian pembelajaran. Dengan begitu saya bisa merasa lebih yakin dan kuat dalam peran saya sebagai seorang guru. Namun tidak hanya dalam pembelajaran saja, materi peran guru penggerak dalam kepemimpinan di sekolah maupun manajemen sekolah.
Dengan pengenalan nilai karakter pada profil pelajar Pancasila untuk peserta didik, saya merasa ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk membentuk karakter tersebut. Dan hal tersebut memang tidak mudah, ada banyak faktor yang harus dipelajari agar pembentukan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila dapat terwujud. Tindakan atau kegiatan yang dilakukan perlu contoh atau tauladan, perlu dituntun atau diarahkan, perlu wawasan luas dan tidak hanya sekali saja namun harus berkelanjutan.
Finding (Pembelajaran)
Pada saat melaksanakan kegiatan modul 1.2 ini, ada banyak hal yang saya dapatkan dari pembelajaran materi nilai-nilai dan peran guru penggerak. Saya mendapatkan pemahaman tentang cara kerja otak, kebutuhan dasar manusia, daya untuk memilih, motivasi intrinsik, dan struktur sistemik lingkungan dalam pembentukan nilai-nilai dalam diri seseorang. Nilai-nilai guru penggerak yang menonjol pada diri saya untuk dikuatkan, memperluas pemahaman tentang peran guru penggerak, keteladanan guru untuk peserta didik, pembiasaan baik dan kepemimpinan pembelajaran di sekolah. Nilai-nilai guru penggerak diantaranya berpusat pada murid, mandiri, inovatif, kolaboratif, dan reflektif. Sedangkan peran guru penggerak di sekolah adalah sebagai pemimpin dalam pembelajaran, sebagai coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid, dan menggerakkan komunitas praktisi.
Future (Penerapan)
Setelah memahami nilai-nilai dan peran guru penggerak, saya berusaha untuk menerapkannya lebih dalam lagi dari yang sudah saya lakukan sebelumnya. Penerapan nilai-nilai dan peran guru penggerak bisa dimulai dari hal-hal yang kecil, namun dilakukan secara rutin dan berkelanjutan. Dari sini saya akan menerapkan nilai-nilai dan peran guru penggerak mulai dari diri sendiri agar bisa sebagai contoh yang baik untuk peserta didik dan rekan guru lainnya. Dengan memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai dan peran guru penggerak terhadap diri sendiri, peserta didik, dan rekan guru lainnya, maka akan mendukung terwujudnya peserta didik yang memiliki karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 1.3 VISI GURU PENGGERAK
NAMA : DARMAWAN
INSTANSI : SMKN LENGKONG
Dalam menulis jurnal Dwimingguan ini saya menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feeling, Finding, Future). Model refleksi ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway yang merupakan salah satu model dari 9 model Dwimingguan yang tersedia. 4F (Facts, Feeling, Finding, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Maka dengan 4P ini dapat saya tulis jurnal refleksi sebagai berikut:
Facts (Peristiwa)
Kegiatan pada modul 1.3 ini membahas materi tentang visi guru penggerak. Kegiatan dimulai dari diri, yaitu menuliskan impian dengan melengkapi kalimat rumpang sebagai dasar untuk membuat visi guru penggerak.
Pada kegiatan eksplorasi konsep, terdapat beberapa pokok materi yang saya pelajari, antara lain:
Berbagi visi murid impian
Berbagi tugas kesimpulan Inkuiri Apresiatif
Pernyataan Prakarsa Perubahan
Kegiatan pada ruang kolaborasi, saya bersama anggota yang lain berdiskusi tentang visi murid impian dan prakarsa perubahan BAGJA. Dari masing-masing anggota menyampaikan didiskusikan sehingga menjadi visi bersama guru penggerak. Dari visi yang dibuat kemudian menentukan prakarsa perubahan yang akan dilakukan serta strategi tindakan dengan menggunakan BAGJA. Kemudian hasil diskusi tersebut kami presentasikan dan cukup beragam tanggapan dari kelompok lain yang sifatnya mendukung dan melengkapi isi dari presentasi.
Pada demonstrasi kontekstual, saya menjabarkan prakarsa perubahan dengan menggunakan tabel BAGJA. Dalam membuat pertanyaan dan menentukan langkah-langkah tindakan menjadikan saya mempunyai pengalaman baru. Dengan cara seperti itu diharapkan sebagai guru penggerak dapat melakukan perubahan dengan dasar kajian yang cukup jelas.
Feeling (Perasaan)
Perasaan yang saya rasakan ketika mempelajari materi pada modul 1.3 ini yaitu saya merasa tertantang sekali, karena pada materi ini saya dituntut melakukan perubahan yang mendasar yaitu berupa perubahan suatu visi yang bisa dijadikan dasar penentu arah kebijakan. Disamping itu, ada prakarsa perubahan yang bisa dilakukan sebagai salah satu upaya dalam mewujudkan visi yang telah dibuat. Saya juga sangat antusias untuk mempelajari tentang visi guru penggerak, dimana pada materi ini memacu saya dalam menggali potensi dan kepercayaan diri sehingga tidak ragu dalam melangkah untuk mewujudkan impian.
Nilai karakter pada profil pelajar Pancasila untuk peserta didik yang dicantumkan dalam visi yang dibuat merupakan buah pemikiran yang dalam, baik dari saya sendiri maupun saat pembahasan diskusi bersama dengan anggota. Dengan perpaduan yang baik maka dihasilkan juga visi yang bagus yang nantinya bisa saja benar dijadikan visi dari sekolah.
Finding (Pembelajaran)
Pada saat melaksanakan kegiatan modul 1.3 ini, banyak pengalaman belajar yang saya dapatkan. Pembelajaran visi guru penggerak dengan materi pembuatan visi berdasarkan impian pada kalimat rumpang, mengambil langkah perubahan melalui prakarsa perubahan dan membuat rencana tindakan perubahan menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA) BAGJA. Dalam membuat visi tentunya banyak yang harus dicermati, terutama terkait dengan fenomena yang terjadi saat ini. Visi yang tercipta diharapkan dapat menjadi motivasi diri dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di sekolah. Prakarsa perubahan yang direncanakan merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi sekolah. Prakarsa perubahan tidak hanya satu saja, namun bisa juga lebih dari satu dengan skala prioritas tertinggi yang akan diutamakan untuk dilaksanakan. Prakarsa perubahan yang muncul akan dilanjutkan dengan suatu tindakan atau penyelidikan melalui pertanyaan/pernyataan menggunakan metode BAGJA. BAGJA sendiri mempunyai arti Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi. Dengan tindakan penyelidikan awal, nantinya akan didapatkan data yang bisa diterapkan atau dilaksanakan sebagai tindak lanjut. Tentunya dengan melahirkan kegiatan-kegiatan yang selaras dengan cita-cita pada visi sekolah.
Future (Penerapan)
Penerapan yang bisa saya lakukan sesuai dengan materi visi guru penggerak yaitu beberapa diantaranya dengan berkolaborasi dengan rekan sejawat dalam mewujudkan visi sekolah. Setiap sekolah pastinya sudah mempunyai visi yang dibuat oleh kepala sekolah beserta jajarannya waktu itu. Maka dari visi sekolah bisa kita merefleksikan kembali dan membuat prakarsa perubahan dalam mendukung visi sekolah yang sudah baik. Namun kita bisa juga melakukan kolaborasi dengan pemangku kepentingan untuk mencoba membuat visi sekolah yang baru disesuaikan dengan kondisi saat ini beserta dengan prakarsa perubahannya. Visi yang tercipta dan prakarsa perubahan yang muncul akan dipilah serta dipilih untuk dilaksanakan.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF
NAMA : DARMAWAN
INSTANSI : SMKN LENGKONG
Dalam menulis jurnal Dwimingguan ini saya menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feeling, Finding, Future). Model refleksi ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway yang merupakan salah satu model dari 9 model Dwimingguan yang tersedia. 4F (Facts, Feeling, Finding, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Maka dengan 4P ini dapat saya tulis jurnal refleksi sebagai berikut:
Facts (Peristiwa)
Kegiatan pada modul 1.4 ini membahas materi tentang budaya positif. Kegiatan dimulai dari diri, yaitu konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep lingkungan dan budaya positif di sekolah. Pada kegiatan eksplorasi konsep, terdapat beberapa pokok materi yang saya pelajari, antara lain:
Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal
Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
Keyakinan Kelas
Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas
Restitusi - Lima Posisi Kontrol
Restitusi - Segitiga Restitusi
Pada ruang kolaborasi, saya bersama teman-teman calon guru penggerak yang lain membentuk kelompok kecil untuk melaksanakan diskusi menganalisis kasus-kasus yang disediakan berdasarkan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif. Setelah itu hasil diskusi dipresentasikan bersama kelompok lain dan fasilitator. Di dalam ruang kolaborasi presentasi hasil diskusi, setiap kelompok akan menyajikan hasil analisis studi kasus yang telah didiskusikan dalam kerja kelompok sebelumnya. Setiap kelompok penyaji akan mendapatkan satu kelompok hadirin yang bertugas memberikan tanggapan atau masukan konstruktif atas presentasi kelompok penyaji. Tentunya setelahnya kelompok lain dipersilakan memberikan tanggapan mereka juga.
Pada demonstrasi kontekstual, saya membuat suatu video dokumentasi tentang materi segitiga restitusi. Disini bersama murid belajar melakukan segitiga restitusi terhadap masalah kedisiplinan yang terjadi pada murid. Bersama murid mencari solusi pada masalah yang dihadapi dengan kesadaran diri murid dan disesuaikan dengan keyakinan kelas. Ada 3 tahapan yang bisa dilakukan agar segitiga restitusi berjalan dengan baik dan berhasil menyadarkan murid untuk memperbaiki dirinya.
Feeling (Perasaan)
Perasaan yang saya rasakan ketika mempelajari materi pada modul 1.4 adalah saya merasa sadar diri bahwa apa yang sudah saya lakukan selama menjadi pendidik ini ada kesesuaian dengan materi modul, walaupun baru mendengar istilah-istilah yang digunakan dan belum sedetil pada materi. Namun hal tersebut cukup membuat saya merasa bangga sebagai guru yang secara tidak langsung melaksanakan budaya positif seperti pada modul. Dengan mempelajari modul ini saya menemukan cukup banyak hal baru sebagai pelengkap atas apa yang sudah dilakukan terkait budaya positif. Saya merasa senang karena dengan bertambahnya pengetahuan saya baik secara materi maupun pengalaman mengajar selama ini.
Finding (Pembelajaran)
Pengalaman pembelajaran yang saya dapatkan banyak sekali, karena materi pada modul 1.4 ini sangat kompleks. Berikut ini hal-hal yang bisa saya temukan selama pembelajaran:
Disiplin Positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal
Saya menjadi mengerti tentang makna kata disiplin, teori kontrol, penerapan disiplin di lingkungan masyarakat, dan tiga motivasi perilaku manusia.
Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
Saya mendapatkan informasi tentang analisis Teori Motivasi dan Motivasi Intrinsik yang dituju, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya. Menjelaskan konsep hukuman dan penghargaan, dan konsep pendekatan restitusi.
Keyakinan Kelas
Saya mendapatkan informasi pentingnya memiliki keyakinan sekolah/kelas sebagai fondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas dan juga dapat melakukan proses pembentukan dari peraturan-peraturan beralih ke keyakinan kelas.
Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas
Saya menjadi memahami tentang kebutuhan dasar yang menjadi motif dari tindakan manusia baik murid maupun guru, dampak tidak terpenuhinya kebutuhan dasar terhadap pelanggaran peraturan dan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai kebajikan.
Restitusi - Lima Posisi Kontrol
Saya memahami dan melakukan refleksi atas praktik disiplin yang dijalankan selama ini dan dampaknya untuk murid-muridnya. Saya menerapkan disiplin restitusi di posisi Manajer, minimal pemantau agar dapat menghasilkan murid yang bertanggung jawab, mandiri dan merdeka.
Restitusi - Segitiga Restitusi
Saya memahami dan cukup mampu menjelaskan restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah. Saya juga akan menerapkan restitusi dalam membimbing murid berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka.
Begitu banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan dari materi pada modul ini. Sebagian besar memang bisa dikatakan sudah biasa dilakukan, namun dengan materi ini saya lebih banyak tahu tentang istilah dan metode-metode yang bisa diterpakan dalam rangka penerapan budaya positif di sekolah/kelas.
Future (Penerapan)
Penerapan dari makna istilah budaya positif ini sangat luas dan beragam. Oleh karena itu butuh sekali banyak wawasan dan kreatifitas diri agar budaya positif yang akan diterapkan dapat benar-benar berdampak yang signifikan dalam perkembangan karakter murid ke arah positif. Dengan kompleksitas yang tinggi, tentunya penerapan budaya positif di sekolah/kelas tidak mungkin dilakukan oleh guru sendiri, namun perlu dukungan semua warga sekolah seperti kepala sekolah, guru, dan murid itu sendiri. Penerapan budaya positif tidak bisa serta merta terwujud secara instan, namun berproses dan berkelanjutan dengan segala perkembangan dan perbaikan dari waktu ke waktu. Peraturan dan keyakinan kelas sebagai dasar perubahan positif untuk mewujudkan budaya positif di sekolah haru tetap dijaga dan dilaksanakan dengan baik.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.1 PEMBELAJARAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN BELAJAR MURID
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.1 PEMBELAJARAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN BELAJAR MURID
NAMA : DARMAWAN
INSTANSI : SMKN LENGKONG
Dalam menulis jurnal Dwimingguan ini saya menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feeling, Finding, Future). Model refleksi ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway yang merupakan salah satu model dari 9 model Dwimingguan yang tersedia. 4F (Facts, Feeling, Finding, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Maka dengan 4P ini dapat saya tulis jurnal refleksi sebagai berikut:
Facts (Peristiwa)
Kegiatan pada modul 2.1 ini membahas materi tentang mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang berbeda dan menjadi teladan dalam melakukan praktik-praktik reflektif dalam pembelajaran bagi komunitas pendidik di lingkungan sekitarnya. Kegiatan dimulai dari diri, yaitu berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana tindakan gurunya di masa lalu membantu dirinya untuk belajar dengan lebih baik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Pada kegiatan eksplorasi konsep, terdapat beberapa pokok materi yang saya pelajari, antara lain:
Mengetahui kebutuhan belajar murid: Kesiapan belajar, Minat Murid, dan Profil Belajar Murid
Pembelajaran berdiferensiasi konten, proses dan produk
Peran Penilaian dalam Pembelajaran Berdiferensiasi.
Pada ruang kolaborasi, saya bersama teman-teman calon guru penggerak yang lain membentuk kelompok kecil untuk melaksanakan diskusi menganalisis kasus-kasus yang disediakan berdasarkan konsep-konsep inti pada modul 2.1 yaitu pada situasi 2 - SD. Setelah itu hasil diskusi dipresentasikan bersama kelompok lain dan fasilitator. Di dalam ruang kolaborasi presentasi hasil diskusi, setiap kelompok akan menyajikan hasil analisis studi kasus yang telah didiskusikan dalam kerja kelompok sebelumnya. Setiap kelompok penyaji akan mendapatkan satu kelompok hadirin yang bertugas memberikan tanggapan atau masukan konstruktif atas presentasi kelompok penyaji. Tentunya setelahnya kelompok lain dipersilahkan memberikan tanggapan mereka juga.
Pada demonstrasi kontekstual, saya membuat suatu RPP Berdiferensiasi sesuai kondisi yang ada sekarang ini. RPP dibuat dengan didalamnya terdapat instrumen untuk memetakan murid berdasarkan kebutuhan belajar mereka, metode yang berbeda sesuai gaya belajar murid, dan membuat asesmen sesuai dengan perbedaan tingkat kesulitan murid.
Feeling (Perasaan)
Perasaan yang saya rasakan ketika mempelajari materi pada modul 2.1 adalah saya merasa bahwa kegiatan pembelajaran yang sudah saya lakukan di dalamnya ada bagian dari pembelajaran berdiferensiasi. Namun masih banyak bagian lain yang harus dicantumkan atau ditambahkan agar struktur pembelajaran berdiferensiasi lebih terperinci dan mudah untuk diimplementasikan. Hal yang membuat saya merasa ini penting yaitu ketika proses evaluasi yang dalam pembelajaran berdiferensiasi memang dibedakan. Oleh karena itu saya merasa ada tantangan baru apabila hal ini diterapkan dengan benar maka banyak sekali temuan yang akan dipertimbangkan lebih lanjut lagi. Dengan mempelajari modul ini saya menemukan banyak hal baru sebagai pelengkap atas apa yang sudah dilakukan terkait dengan pembelajaran yang sudah saya lakukan. Saya merasa senang karena dengan bertambahnya pengetahuan saya baik secara materi maupun pengalaman mengajar selama ini.
Finding (Pembelajaran)
Pengalaman pembelajaran yang saya dapatkan banyak sekali, karena materi pada modul 2.1 ini sangat kompleks. Berikut ini hal-hal yang bisa saya temukan selama pembelajaran:
Mengetahui kebutuhan belajar murid: Kesiapan belajar, Minat Murid, dan Profil Belajar Murid
Saya menjadi lebih memahami dan wawasan bertambah tentang kebutuhan belajar murid: Kesiapan belajar, Minat Murid, dan Profil Belajar Murid.
Pembelajaran berdiferensiasi konten, proses dan produk
Saya mendapatkan informasi tentang pembelajaran berdiferensiasi konten, proses dan produk, dan saya membuat perencanaan berdasarkan hasil pemetaan serta menerapkannya dalam pembelajaran.
Peran Penilaian dalam Pembelajaran Berdiferensiasi
Saya memahami dan akan mencoba melaksanakan evaluasi atau penilaian berdasarkan tingkat kemampuan murid yang berbeda.
Begitu banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan dari materi pada modul ini. Sebagian besar memang bisa dikatakan sudah biasa dilakukan, namun dengan materi ini saya lebih banyak tahu tentang pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang berbeda.
Future (Penerapan)
Penerapan dari pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang berbeda memang sangat penting dilakukan. Oleh karena itu butuh sekali banyak wawasan dan kreatifitas diri agar pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang akan diterapkan dapat benar-benar berdampak secara signifikan dalam perkembangan murid sesuai tujuan pembelajaran. Dengan kompleksitas yang beragam, tentunya penerapan pembelajaran berdiferensiasi untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang berbeda tidak mungkin dilakukan oleh guru sendiri, namun perlu dukungan semua warga sekolah seperti kepala sekolah, guru, dan murid itu sendiri.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL
NAMA : DARMAWAN
INSTANSI : SMKN LENGKONG
Dalam menulis jurnal Dwimingguan ini saya menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feeling, Finding, Future). Model refleksi ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway yang merupakan salah satu model dari 9 model Dwi mingguan yang tersedia. 4F (Facts, Feeling, Finding, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Maka dengan 4P ini dapat saya tulis jurnal refleksi sebagai berikut:
Facts (Peristiwa)
Kegiatan pada modul 2.2 ini membahas materi tentang pembelajaran sosial dan emosional. Kegiatan dimulai dari diri, yaitu menjawab pertanyaan terkait dengan pengalaman yang dirasakan sebagai sebuah kesulitan, kekecewaaan, kemunduran, atau kemalangan, yang akhirnya membantu menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Pada kegiatan eksplorasi konsep, terdapat beberapa pokok materi yang saya pelajari, antara lain:
Kesadaran Diri
Manajemen Diri
Kesadaran Sosial
Keterampilan Berelasi
Pengambilan Keputusan Yang Bertanggung Jawab
Pada ruang kolaborasi, saya bersama teman-teman calon guru penggerak yang lain membentuk kelompok kecil untuk melaksanakan diskusi dan menyusun 5 ide penerapan 5 KSE sesuai dengan karakteristik jenjang pendidikan yang saya ampu dan menyusun 2 (dua) ide penguatan pembelajaran 5 KSE untuk PTK. Setelah itu hasil diskusi dipresentasikan bersama kelompok lain dan fasilitator. Di dalam ruang kolaborasi presentasi hasil diskusi, setiap kelompok akan menyajikan hasil analisis studi kasus yang telah didiskusikan dalam kerja kelompok sebelumnya. Setiap kelompok penyaji akan mendapatkan satu kelompok hadirin yang bertugas memberikan tanggapan atau masukan konstruktif atas presentasi kelompok penyaji. Tentunya setelahnya kelompok lain dipersilahkan memberikan tanggapan mereka juga.
Pada demonstrasi kontekstual, saya membuat suatu RPP Berdiferensiasi dengan dimasukkan penerapan kompetensi sosial dan emosional (KSE) sesuai kondisi yang ada sekarang ini. DI dalam RPP tidak hanya terdapat instrumen untuk memetakan murid berdasarkan kebutuhan belajar mereka, metode yang berbeda sesuai gaya belajar murid, dan membuat asesmen sesuai dengan perbedaan tingkat kesulitan murid saja, namun pada langkah-langkah kegiatan pembelajaran juga dimasukkan bagian-bagian yang merupakan penerapan kompetensi sosial dan emosional.
Feeling (Perasaan)
Perasaan yang saya rasakan ketika mempelajari materi pada modul 2.2 adalah saya merasa sangat membutuhkan kompetensi ini karena kompetensi ini sangat berpengaruh terhadap kesiapan saya dalam melaksanakan pembelajaran. Kebutuhan itu didasari karena untuk memenuhi kebutuhan murid di sekolah dalam proses pembelajaran. Saya juga merasa perlu menguasai dan mengimplementasikan kompetensi kesadaran diri, kesadaran sosial, manajemen diri, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Hal ini sangat saya perlukan agar dalam melaksanakan tugas sebagai tenaga pendidik saya siap menghadapi berbagai situasi yang akan terjadi, sehingga mampu berpikir dengan jernih untuk dapat mengambil sikap dan keputusan yang tepat.
Finding (Pembelajaran)
Pengalaman pembelajaran yang saya dapatkan banyak sekali, berikut ini hal-hal yang bisa saya temukan selama pembelajaran:
Urgensi Pembelajaran Sosial dan Emosional untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal.
Pembelajaran Sosial Emosional berdasarkan kerangka CASEL yang bertujuan mengembangkan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.
Kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar dalam penguatan 5 (lima) Kompetensi Sosial Emosional (KSE).
Empat indikator dalam implementasi pembelajaran sosial emosional di kelas dan sekolah, yaitu: pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktek mengajar guru dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan dan budaya sekolah, dan penguatan PSE Pembelajaran Sosial dan Emosional pendidik dan tenaga kependidikan (pendidik dan tenaga kependidikan) di sekolah.
Materi yang sangat menarik untuk dijadikan suatu pembelajaran untuk diri saya agar lebih memahami diri sendiri dan sekitar dalam pembelajaran terutama di lingkungan sekolah.
Future (Penerapan)
Penerapan dari pembelajaran sosial dan emosional perlu dilakukan secara berkelanjutan. Perlu konsistensi yang tinggi agar mampu mengimplementasikan kompetensi sosial dan emosional dengan baik dan tepat. Menerapkan RPP yang didalamnya terdapat Pembelajaran Sosial dan Emosional untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman agar seluruh individu di sekolah dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (well-being) secara optimal. Menerapkan konsep pembelajaran sosial dan emosional berdasarkan kerangka kerja CASEL (Collaborative for Academic, Social and Emotional Learning) yang bertujuan untuk mengembangkan 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional (KSE), yaitu: kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Mempraktikkan konsep kesadaran penuh (mindfulness) sebagai dasar pengembangan 5 (lima) kompetensi sosial dan emosional (KSE). Mengimplementasikan Pembelajaran Sosial dan Emosional berbasis kesadaran penuh (mindfulness) melalui pengajaran eksplisit, integrasi dalam praktek mengajar dan kurikulum akademik, penciptaan iklim kelas dan budaya sekolah, dan penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tenaga kependidikan (pendidik dan tenaga kependidikan) di sekolah.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
NAMA : DARMAWAN
INSTANSI : SMKN LENGKONG
Dalam menulis jurnal Dwimingguan ini saya menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feeling, Finding, Future). Model refleksi ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway yang merupakan salah satu model dari 9 model Dwi mingguan yang tersedia. 4F (Facts, Feeling, Finding, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Maka dengan 4P ini dapat saya tulis jurnal refleksi sebagai berikut:
Facts (Peristiwa)
Kegiatan pada modul 2.3 ini membahas materi tentang Coaching untuk supervisi akademik. Kegiatan dimulai dari diri, yaitu dengan membuat refleksi diri berdasarkan pertanyaan yang telah disediakan, diantaranya tentang pengalaman saat saya diobservasi atau supervisi dan sampai pada harapan-harapan dalam mempelajari modul 2.3. Pada kegiatan eksplorasi konsep, terdapat beberapa pokok materi yang saya pelajari, antara lain:
Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan
Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching
Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur Percakapan Coaching
Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching
Pada ruang kolaborasi, saya bersama teman-teman calon guru penggerak yang lain membentuk kelompok kecil berpasangan untuk melaksanakan diskusi dan mempraktikkan percakapan alur TIRTA sesuai materi pada bagian eksplorasi konsep. Ruang kolaborasi yang pertama masih sekedar berlatih percakapan alur TIRTA sesuai konsep coaching. Pada ruang kolaborasi hari kedua, para CGP diminta untuk mempraktikkan percakapan coaching sesuai alur TIRTA dengan pasangan yang berbeda dari sebelumnya. Percakapan yang dilakukan itu direkam atau didokumentasikan sebagai bukti bahwa CGP telah berlatih dan mempraktikkan percakapan coaching untuk supervisi akademik baik sebagai coach maupun coachee. Dari hasil rekaman percakapan kemudian diberikan kepada CGP untuk diolah sedemikian rupa agar lebih rapi untuk dilaporkan sebagai tugas hasil dari ruang kolaborasi. Pada demonstrasi kontekstual, saya bersama rekan CGP mendapatkan tugas untuk melakukan percakapan coaching alur TIRTA sesuai rubrik penilaian tugas. Pada rubrik tugas ada beberapa ketentuan, diantaranya melakukan percakapan secara triad (tiga orang) dengan kedudukan coach, coachee dan supervisor. Masing-masing anggota bergantian sesuai tahapan siklus untuk memerankan setiap kedudukan. Percakapan tersebut direkam dalam bentuk video kemudian dilaporkan sesuai ketentuan rubrik penilaian.
Feeling (Perasaan)
Perasaan yang saya rasakan ketika mempelajari materi pada modul 2.3 ini yaitu saya merasa tertantang sekali melakukan percakapan coaching sesuai alur TIRTA. Dalam kompetensi ini saya sebagai CGP diminta untuk mampu atau menguasai suatu komunikasi dengan rekan sejawat dalam rangka menyelesaikan suatu masalah. Butuh kesiapan baik mental maupun keahlian bertanya atau membuat pertanyaan yang berbobot untuk menggali potensi orang yang ingin menyelesaikan masalahnya. Dengan begitu perlu perasaan yang tenang dan fokus terhadap masalah yang dihadapi sampai membuat suatu pertanyaan agar percakapan mengalir sampai pada penemuan ide-ide atau solusi dari masalah yang ada.
Finding (Pembelajaran)
Pengalaman pembelajaran yang saya dapatkan banyak sekali, berikut ini hal-hal yang bisa saya temukan selama pembelajaran:
menjelaskan konsep coaching secara umum;
membedakan coaching dengan pengembangan diri lainnya, yaitu mentoring, konseling, fasilitasi, dan training;
menjelaskan konsep coaching dalam dunia pendidikan sebagai pendekatan pengembangan kompetensi diri dan orang lain (rekan sejawat);
menjelaskan paradigma berpikir coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi;
menjelaskan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi;
mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervisi akademik;
membedakan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat;
melakukan percakapan coaching dengan alur TIRTA;
mempraktikkan tiga kompetensi inti coaching: coaching presence, mendengar aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching;
menjelaskan jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana, melakukan refleksi, memecahkan masalah, dan melakukan kalibrasi;
memberikan umpan balik dengan paradigma berpikir dan prinsip dan coaching;
mempraktikan rangkaian supervisi akademik yang berdasarkan paradigma berpikir coaching.
Materi yang sangat menarik untuk diterapkan dalam kita berkomunikasi dengan rekan sejawat untuk menemukan ide atau solusi dari masalah yang dihadapi.
Future (Penerapan)
Penerapan dari pembelajaran coaching untuk supervisi akademik perlu dikuasai oleh setiap guru. Karena proses percakapan coaching, terlebih lagi dengan menggunakan alur TIRTA (Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, dan Tanggung Jawab) sangat membantu sekali dalam melakukan percakapan yang dapat menggali potensi diri untuk bisa menyelesaikan suatu masalah. Namun untuk melakukan percakapan coaching ini perlu latihan dan dilakukan berulang-ulang agar terbiasa sehingga terasa seperti ngobrol santai biasanya namun ada tujuan dan ide-ide yang dapat dimunculkan terkait dengan topik materi yang dibicarakan. Dalam hal ini sebagai tenaga pendidik yang biasa melakukan percakapan dengan banyak orang dengan berbagai permasalahan maka sudah seharusnya kita sebagai calon guru penggerak mempunyai banyak wawasan baik secara khusus dalam ilmu kependidikan maupun pengetahuan umum lainnya. Terlebih lagi jika kita mendapatkan tugas sebagai seorang supervisor untuk melakukan supervisi akademik terhadap rekan kita, maka pengalaman-pengalaman dalam melakukan coaching sangat dibutuhkan sekali agar bisa merefleksikan hasil pengamatan dengan baik.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN
NAMA : DARMAWAN
INSTANSI : SMKN LENGKONG
Dalam menulis jurnal Dwimingguan ini saya menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feeling, Finding, Future). Model refleksi ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway yang merupakan salah satu model dari 9 model Dwi mingguan yang tersedia. 4F (Facts, Feeling, Finding, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Maka dengan 4P ini dapat saya tulis jurnal refleksi sebagai berikut:
Facts (Peristiwa)
Kegiatan pada modul 3.1 ini membahas materi tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin. Kegiatan dimulai dari diri, yaitu dengan mengaktifkan pengetahuan awal (prior knowledge) dan mengamati keterampilan seorang pemimpin dalam pengambilan keputusan dengan berada di antara berbagai pemangku kepentingan, di antaranya murid, orang tua murid, guru, yayasan, dan pihak komunitas sekolah. Pada kegiatan eksplorasi konsep, terdapat beberapa pokok materi yang saya pelajari, antara lain:
Konsep pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin dalam sekolah sebagai institusi moral.
Pengambilan keputusan seorang pemimpin yang berdasarkan 3 unsur yaitu berpihak pada murid, bertanggung jawab, serta berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal.
Bersikap reflektif, kritis, dan terbuka dalam menganalisis nilai-nilai kebajikan yang terkandung dalam sebuah pengambilan keputusan dilema etika.
Bujukan Moral dan Dilema Etika, 4 Paradigma Dilema Etika, 3 Prinsip Dilema Etika, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
Pada ruang kolaborasi, saya bersama teman-teman calon guru penggerak yang lain membentuk kelompok kecil untuk melaksanakan diskusi, berbagi, berkolaborasi dan menerapkan keterampilan pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Ruang kolaborasi yang pertama para CGP diminta untuk dapat kerja bersama (berkolaborasi), untuk mencapai tujuan bersama yaitu menjadi pemimpin pembelajaran yang bijaksana, cekatan dan mandiri pada sekolah/lingkungan masing-masing dalam keterampilan pengambilan keputusan yang memiliki unsur dilema etika. Pada ruang kolaborasi hari kedua, para CGP diminta untuk masing-masing kelompok akan menyajikan studi kasus pilihan mereka mengikuti persyaratan yang tertera pada rubrik penilaian. Dari hasil presentasi kelompok kemudian dilaporkan sebagai tugas hasil dari ruang kolaborasi. Pada demonstrasi kontekstual, saya melakukan suatu analisis atas penerapan proses pengambilan keputusan berdasarkan pengetahuan yang telah dipelajarinya tentang berbagai paradigma, prinsip, pengambilan dan pengujian keputusan di sekolah asal masing-masing dan di sekolah/lingkungan lain. Dalam kegiatan aksi nyata mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah saya.
Feeling (Perasaan)
Perasaan yang saya rasakan ketika mempelajari materi pada modul 3.1 ini yaitu saya merasa senang dan tertantang sekali melakukan analisis dari suatu situasi yang bisa dikatakan cukup rumit dan pelik dalam menentukan keputusan karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Dengan menggunakan analisis menggunakan 4 Paradigma Dilema Etika, 3 Prinsip Dilema Etika, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan serta apakah itu termasuk bujukan moral atau bukan. Sehingga dalam mengambil keputusan itu lebih bijaksana dan terlebih lagi memperhatikan keberpihakan pada murid dalam proses pembelajaran.
Finding (Pembelajaran)
Pengalaman pembelajaran yang saya dapatkan banyak sekali, berikut ini hal-hal yang bisa saya temukan selama pembelajaran:
Empat Paradigma Dilema Etika
1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)
Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya.
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain.
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.
Tiga Prinsip Berpikir Dilema Etika
Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Suatu pengambilan keputusan, walaupun telah berlandaskan pada suatu prinsip atau nilai-nilai tertentu, tetap akan memiliki konsekuensi yang mengikutinya. Pada akhirnya kita perlu mengingat kembali hendaknya setiap keputusan yang kita ambil didasarkan pada rasa penuh tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal, serta berpihak pada murid.
Sembilan Langkah Pengambilan Pengujian Keputusan
Terdapat 9 langkah yang harus dilakukan untuk pengambilan keputusan dan pengujian keputusan:
1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
4. Pengujian benar dan salah:
uji legal adalah apakah ada pelanggaran hukum dalam situasi tersebut
uji regulasi atau standar profesional adakah pelanggaran kode etik atau peraturan etik di dalam situasi ini
uji intuisi yaitu mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi kita dalam merasakan apakah ada yang salah dalam situasi ini
uji publikasi yaitu apakah yang akan kita rasakan jika keputusan ini di publikasikan
uji panutan atau idola yaitu kita membayangkan apa yang dilakukan oleh seseorang yang kita idolakan
Dari ketiga prinsip pengujian ada yang memiliki korelasi dalam prinsip pengambilan keputusan yaitu :
uji intuisi berhubungan erat dengan berpikir berbasis peraturan yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam
uji publikasi sebaliknya berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir yang mementingkan hasil akhir
uji panutan atau idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli dimana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta kita untuk meletakkan diri kita pada posisi orang lain
5. Pengujian paradigma benar lawan salah
Individu lawan kelompok
Rasa keadilan lawan rasa kasihan
Kebenaran lawan kesetiaan
Jangka pendek lawan jangka panjang
6. Melakukan prinsip resolusi
Yaitu menggunakan 3 prinsip penyelesaian dilema mana yang harus kita pakai apakah berpikir berbasis hasil, berpikir berbasis peraturan, atau berpikir berbasis rasa peduli.
7. Investigasi opsi trilema dalam pengambilan keputusan seringkali ada dua pilihan yang sudah kita pilih namun terkadang kita juga memerlukan opsi lain di luar dua pilihan tersebut kita bertanya pada diri kita apakah ada cara yang berkompromi dalam situasi ini sehingga memunculkan pilihan baru itulah yang dinamakan investigasi opsi trilema.
8. Buat keputusan
9. Melihat lagi keputusan dan merefleksikannya
Future (Penerapan)
Penerapan dari pembelajaran Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin sangat penting sekali. Karena setiap pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin akan berdampak luas, khususnya pada dunia pendidikan yaitu berdampak pada murid. Dampak yang dimunculkan harapannya tentu yang positif atau yang baik. Untuk penerapan kedepan adalah saya akan memperdalam cara-cara pengambilan keputusan yang bertanggung jawab berdasarkan nilai nilai kebajikan universal berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA
NAMA : DARMAWAN
INSTANSI : SMKN LENGKONG
Dalam menulis jurnal Dwimingguan ini saya menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feeling, Finding, Future). Model refleksi ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway yang merupakan salah satu model dari 9 model Dwi mingguan yang tersedia. 4F (Facts, Feeling, Finding, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Maka dengan 4P ini dapat saya tulis jurnal refleksi sebagai berikut:
Facts (Peristiwa)
Kegiatan pada modul 3.2 ini membahas materi tentang pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Kegiatan dimulai dari diri, yaitu dengan menjawab pertanyaan tentang pengetahuan CGP mengenali ekosistem beserta sumber daya yang ada di sekitar khususnya di sekolah serta terkait juga dengan pengelolaannya dari pemimpin. Pada kegiatan eksplorasi konsep, terdapat beberapa pokok materi yang saya pelajari, antara lain:
Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Approach) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Approach).
Pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development).
Karakteristik komunitas yang sehat dan resilien.
Aset –aset dalam sebuah komunitas.
Pada ruang kolaborasi, saya bersama teman-teman calon guru penggerak yang lain membentuk kelompok kecil untuk melaksanakan diskusi, berbagi, berkolaborasi dan menerapkan sebagai pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Ruang kolaborasi yang pertama para CGP diminta untuk membuat identifikasi aset/modal apa yang dimiliki oleh daerahnya dan menuliskan apa atau bagaimana pemanfaatannya. Pada ruang kolaborasi hari kedua, para CGP diminta untuk masing-masing kelompok akan menyajikan hasil membuat identifikasi aset/modal apa yang dimiliki oleh daerahnya dan menuliskan apa atau bagaimana pemanfaatannya. Dari hasil presentasi kelompok kemudian dilaporkan sebagai tugas hasil dari ruang kolaborasi. Pada demonstrasi kontekstual, saya melakukan suatu bersama-sama berproses, berlatih melihat, dan mengidentifikasi aset serta kekuatan yang dimiliki daerah bersama rekan lainnya, dan menganalisis tayangan video praktik baik yang menggambarkan pemanfaatan sumber daya sekolah untuk peningkatan kualitas pembelajaran murid. Dalam kegiatan aksi nyata yaitu mengidentifikasi secara kolaboratif bersama warga sekolah lainnya tentang aset/kekuatan/sumber daya yang dimiliki sekolah.
Feeling (Perasaan)
Perasaan yang saya rasakan ketika mempelajari materi pada modul 3.2 ini yaitu saya merasa senang karena menjadi orang yang beruntung dan bisa bergabung dalam komunitas yang seindah ini. Karena melalui kegiatan ini saya jadi tahu bagaimana menjadi pemimpin yang mampu mengelola Sumber Daya yang ada di sekolah. Hal ini tidak hanya berguna bagi saya, namun berguna juga bagi murid, teman sejawat, kepala sekolah dan orang-orang di sekitar saya. Pada materi ini membutuhkan kerjasama yang baik dengan berbagai pihak agar aset sekolah yang ada bisa dimaksimalkan pemanfaatannya.
Finding (Pembelajaran)
Pengalaman pembelajaran yang saya dapatkan banyak sekali, berikut ini hal-hal yang bisa saya temukan selama pembelajaran:
Sekolah sebagai ekosistem
Ekosistem merupakan sebuah tata interaksi antara makhluk hidup dan unsur yang tidak hidup dalam sebuah lingkungan. Sebuah ekosistem mencirikan suatu pola hubungan yang saling menunjang pada sebuah teritorial atau lingkungan tertentu. Jika diibaratkan sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan harmonis. Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling mempengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya.
Pendekatan Berbasis Kekurangan/Masalah (Deficit-Based Approach) dan Pendekatan Berbasis Aset/Kekuatan (Asset-Based Approach)
Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik.Pendekatan berbasis aset (asset-based approach) adalah sebuah konsep yang dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukenali hal-hal yang positif dalam kehidupan.
Pendekatan ABCD (Asset-Based Community Development)
Asset-Based Community Development (ABCD) yang selanjutnya akan kita sebut dengan Pengembangan Komunitas Berbasis Aset (PKBA) merupakan suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh John McKnight dan Jody Kretzmann, di mana keduanya adalah pendiri dari ABCD Institute di Northwestern University, Amerika Serikat ABCD dibangun dari kemampuan, pengalaman, pengetahuan, dan hasrat yang dimiliki oleh anggota komunitas, kekuatan perkumpulan lokal, dan dukungan positif dari lembaga lokal untuk menciptakan kehidupan komunitas yang berkelanjutan (Kretzman, 2010).
Karakteristik komunitas yang sehat dan resilien
Mempraktikkan dialog berkelanjutan dan partisipasi anggota masyarakat
Menumbuhkan komitmen terhadap tempat
Membangun koneksi dan kolaborasi
Mengenal dirinya sendiri dan membangun aset yang ada
Membentuk masa depannya
Bertindak dengan obsesi ide dan peluang
Merangkul perubahan dan bertanggung jawab
Menghasilkan kepemimpinan
Aset –aset dalam sebuah komunitas
Modal Manusia
Modal Sosial
Modal Politik
Modal Fisik
Modal Finansial
Modal Lingkungan/Alam
Modal Agama & Budaya
Future (Penerapan)
Penerapan dari keterampilan Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya sangat penting. Kedepannya saya akan mencoba menerapkan dalam situasi nyata yang saya temukan saat saya menjalankan tugas sebagai pendidik. Bukan hanya untuk saya tapi saya akan menularkannya pada murid, teman sejawat, kepala sekolah dan orang–orang disekitar saya. Selanjutnya setelah saya mampu menerapkannya dalam situasi nyata saya akan melakukan refleksi dan kolaborasi untuk terus meningkatkan keterampilan saya dalam mengelola sumber daya yang dimiliki komunitas.
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID
JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID
NAMA : DARMAWAN
INSTANSI : SMKN LENGKONG
Dalam menulis jurnal Dwimingguan ini saya menggunakan Model 1: 4F (Facts, Feeling, Finding, Future). Model refleksi ini dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway yang merupakan salah satu model dari 9 model Dwi mingguan yang tersedia. 4F (Facts, Feeling, Finding, Future) dapat diterjemahkan menjadi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, Penerapan). Maka dengan 4P ini dapat saya tulis jurnal refleksi sebagai berikut:
Facts (Peristiwa)
Kegiatan pada modul 3.3 ini membahas materi tentang pengelolaan program yang berdampak positif pada murid. Kegiatan dimulai dari diri, yaitu dengan menjawab pertanyaan untuk melakukan refleksi terhadap pengalaman belajar mereka di masa lalu untuk menyimpulkan apa yang dimaksud dengan program yang berdampak pada murid. Pada kegiatan eksplorasi konsep, terdapat beberapa pokok materi yang saya pelajari, antara lain:
Kepemimpinan Murid
Kepemimpinan Murid (Student Agency)
Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid
Kepemimpinan Murid dan Profil Pelajar Pancasila
Contoh Program atau Kegiatan Sekolah
Kepemimpinan Murid
Lingkungan yang Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid
Peran Keterlibatan Komunitas dalam Menumbuhkembangkan Kepemimpinan Murid.
Pada ruang kolaborasi, saya bersama teman-teman calon guru penggerak yang lain membentuk kelompok kecil untuk melaksanakan diskusi, berbagi, dan berkolaborasi dalam memahami konsep kepemimpinan murid. Ruang kolaborasi yang pertama para CGP akan bekerja dalam kelompok membuat gambaran umum sebuah program/kegiatan sekolah yang mempromosikan suara, pilihan, kepemilikan murid. Pada ruang kolaborasi hari kedua, para CGP diminta untuk masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya kepada kelompok lain dan saling memberikan umpan balik. Dari hasil presentasi kelompok kemudian dilaporkan sebagai tugas hasil dari ruang kolaborasi. Pada demonstrasi kontekstual, saya mengembangkan ide dari ruang kolaborasi menjadi sebuah prakarsa perubahan dalam bentuk rencana program/kegiatan yang memanfaatkan model manajemen perubahan BAGJA. Dalam kegiatan aksi nyata yaitu menjalankan tahapan B (Buat Pertanyaan) & A (Ambil Pelajaran) berdasarkan model prakarsa perubahan B-A-G-J-A yang telah dibuat sebelumnya pada tahapan Demonstrasi Kontekstual dalam sebuah aksi nyata.
Feeling (Perasaan)
Perasaan yang saya rasakan ketika mempelajari materi pada modul 3.3 ini yaitu saya merasa termotivasi mengintegrasikan materi yang telah dipelajari dari modul-modul sebelumnya ke dalam praktek nyata. Namun, saya juga merasa sedikit cemas karena tanggung jawab yang diemban sebagai seorang guru penggerak. Saya merasa tertantang untuk menghadirkan perubahan yang positif bagi murid-murid saya, dan juga saya merasa yakin bahwa pengalaman ini akan menjadi pembelajaran yang berharga bagi saya sebagai seorang pendidik. Sebagai seorang pendidik yang terus berusaha menjadi lebih baik, menghadirkan diri dan memberikan yang terbaik untuk peserta didiknya.
Finding (Pembelajaran)
Melalui proses refleksi dan introspeksi, saya menyadari betapa pentingnya mempertimbangkan kebutuhan dan potensi siswa dalam merancang program sekolah. Saya juga menyadari bahwa keberlanjutan dalam pendidikan merupakan faktor krusial yang perlu diperhatikan dalam setiap langkah yang kita ambil. Dalam tahap ini, merencanakan suatu program yang ada di sekolah dengan memperhatikan banyak aspek yang telah dipelajari pada modul-modul sebelumnya menjadikan saya bisa belajar banyak hal dan kompleks agar program tersebut bisa diterima, terlaksana, dan berdampak positif pada murid. Selain itu, saya menemukan pengalaman pembelajaran yang berharga melalui kolaborasi dengan rekan-rekan guru dan berbagai pihak sehingga menghasilkan ide-ide kreatif dan solusi-solusi inovatif dalam mengelola program sekolah.
Future (Penerapan)
Penerapan pengelolaan program yang berdampak positif pada murid berdasarkan pengalaman pembelajaran yang didapat harus bisa dilaksanakan atau diwujudkan dalam suatu bentuk program kegiatan. Pada tahap ini saya akan menerapkannya dengan merencanakan suatu program ekstrakurikuler di bidang komputer dan teknologi informasi untuk mengembangkan pengetahuan dan melatih keterampilan murid agar mampu bersaing di luar sekolah. Dengan tahapan-tahapan yang ada dalam perencanaan tentunya sudah dapat diukur bagaimana program tersebut akan berjalan dan tercapai, serta selalu dievaluasi untuk tindak lanjut berikutnya. Dengan meningkatnya kompetensi murid maka akan ada peluang untuk mendapatkan prestasi bilamana ada kompetisi atau lomba sesuai bidang komputer dan teknologi informasi. Dan penerapan-penerapan dari hasil pembelajaran ini dapat juga dikembangkan pada program kegiatan lainnya yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan murid, berpihak dan berdampak positif pada murid.