HIDUP NYAMAN DENGAN PERILAKU JUJUR
قُلِ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا
"Katakanlah yang benar walaupun itu pahit" (H.R. Ahmad)
3.5 Menganalisis makna syaja’ah (berani membela kebenaran) dalam mewujudkan kejujuran.
4.5 Menyaji-kan kaitan antara syaja’ah (berani membela kebenaran) dengan upaya mewujudkan kejujuran dalam kehidupan
sehari-hari
PERTEMUAN PERTAMA
Dari Anas bin Malik, suatu ketika Rasulullah saw. duduk di Masjid Nabawi dan berbincang-bincang dengan para sahabat. Tiba-tiba beliau bersabda, "Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk kemari" Semua mata pun tertuju ke pinta masjid dan pikiran para sahabat pun membayangkan seorang yang luar biasa. "Penghuni surga, Penghuni surga." Demikian gumam mereka.
Beberapa saat kemudian, masuklah seorang pria dengan air wudhu yang masih membasahi wajahnya. Apakah gerangan keistimewaan orang itu sehingga mendapat jaminan surga? Tidak seorang pun berani bertanya, walau semua sahabat merindukan jawabannya.
Keesokan harinya, peristiwa semua terulang kembali. Bahkan, pada hari ketiga pun terjadi hal yang demikian.
'Abdullah putra Gubernur pertama di Mesir: 'Amr bin al-'Ash, tidak tahan lagi, meski ia tidak berani dan khawatir mendapat jawaban yang tidak memuaskannya. Maka, timbullah suatu ide dalam benaknya. Dia pun mendatangi si penghuni surga sambil berkata, "Wahai saudaraku! Bolehkah aku menginap di rumahmu selama tiga hari?"
"Tentu, tentu," jawab si penghuni surga yang ternyata seorang Anshar bernama Sa'ad bin 'Amr bin al-'Ash. Setelah memperhatikan, mencermati, bahkan mengintip si penghuni surga, ternyata, tak ada sesuatu pun yang istimewa. Tidak ada ibadah khusus yang dilakukan si penghuni surga. Tidak ada shalat malam, tidak ada pula puasa sunnah. Ia bahkan tidur dengan nyenyak hingga beberapa saat sebelum fajar. Memang sesekali ia menyebut nama Allah swt. di pembaringannya, tetapi sejenak saja dan tidurnya pun berlanjut.
Pada siang hari, si penghuni surga bekerja dengan tekun. Ia ke pasar, sebagaimana halnya orang yang ke pasar. "Pasti ada sesuatu yang disembunyikan atau yang tak sempat kulihat. Aku harus berterus terang kepadanya." demikian gumam 'Abdullah bin 'Amr.
"Apa yang engkau lihat, itulah saya." jawab si penghuni surga.
Dengan rasa kecewa, 'Abdullah bin 'Amr bermaksud kembali ke rumah, tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh sang penghuni surga seraya berkata, "Apa yang engkau lihat, itulah yang saya lakukan, ditambahi sedikit lagi, saya tidak pernah merasa iri terhadap seseorang yang dianugerahi nikmat oleh Allah swt. Tidak pernah pula saya berdusta dalam melakukan segala kegiatan saya."
(H.R. Ahmad)
Luangkan waktu 10-15 menit untuk membaca dan memahami materi (halaman 23-27) tentang :
Pentingnya perilaku jujur.
Keutamaan perilaku jujur.
Macam-macam kejujuran.
Hikmah perilaku jujur.
Setelah memahami materi tersebut, jawablah pertanyaan di bawah ini,
Jelaskan 3 macam kejujuran jika dilihat dari tempatnya!
Buatlah contoh perilaku jujur kepada Allah swt., jujur kepada orang lain, dan jujur kepada diri sendiri!
Nb :
Jawaban ditulis di buku, kemudian difoto dan dikirim melalui link di bawah ini.
Ketika mengirim tugas, ada pertanyaan Jenis Tugas, silahkan dipilih : "LITERASI BAB 2"
Setelah mengirim tugas, pastikan tugas kalian sudah terkirim. Untuk melihat tugas kalian sudah terkirim atau belum, silahkan klik link REKAP PENILAIAN di bawah ini!
PERTEMUAN KEDUA
Diceritakan, ada seorang shaleh yang selalu mewasiatkan kepada pekerjanya untuk selalu meminta kepada para langganannya agar diberitahukan kalau ada barang dagangannya yang cacat. Setiap kali ada pembeli datang, ia meminta untuk mengecek barangnya terlebih dahulu.
Suatu hari, seorang Yahudi datang ke tokonya dan membeli sehelai baju yang ada cacatnya. Pada waktu itu pemilik tokok tidak ada di tempat, sementara Yahudi tidak mengecek baju ini terlebih dahulu dan keburu pergi. Tidak lama kemudian, pemilik toko datang dan menanyakan perihal baju yang cacat tersebut. Maka dijawab, "Baju itu telah dibeli oleh seorang Yahudi."
Lalu pemilik toko itu bertanya perihal Yahudi tadi, "A[akah ia sudah mengecek cacat yang ada pada baju itu?" Lalu dijawab, "Belum."
Pemilik toko bertanya lagi, "Sekarang dimana dia?" Dijawab kembali, "Ia sudah pergi bersama rombongan dagang."
Seketika itu pula, sang pemilik toko membawa uang hasil pembayarannya dari baju cacat itu. Lalu ia mencari rombongan dagang yang dimaksud dan baru mendapatinya setelah menempuh perjalanan tiga hari, seraya berkata, "Hai Fulan, tempo hari kamu telah membeli sehelai baju yang ada cacatnya. Ambil uang kamu ini dan berikan baju itu."
Yahudi itu balas menjawab, "Apa yang menyebabkan kamu berbuat sampai sejauh ini?"
Lelaki itu menimpalinya, "Islam dan sabda Rasulullah saw., "Siapa yang menipu bukan berasal dari umatku."
Yahudi balik menimpali, "Uang yang aku bayarkan kepadamu juga palsu. Maka, ambillah uang tiga ribu ini sebagai gantinya dan aku tambahkan lagi lebih dari itu, "Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad itu Rasulullah."
Jujur adalah mengatakan atau melakukan sesuatu dengan kenyataan. Lawan jujur adalah dusta, yaitu mengatakan atau melakukan sesuatu tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya.
Jujur merupakan sebagian dari ruh agama. Barang siapa yang berbuat jujur, ia akan memperoleh kebaikan, dan sedang menuju surga.
Ada beberapa jenis jujur dilihat dari perilakunya, yaitu jujur dalam berbuat, jujur dalam perkataan, jujur dalam niat, dan jujur dalam berjanji.
Kejujuran bisa melemah karena melemahnya tekad, kejujuran juga bisa melemah akibat pergaulan.
Jujur bisa dilakukan dimana saja: di rumah, sekolah, maupun di lingkungan masyarakat.
Setelah kita belajar bersama-sama tentang Berani hidup jujur. Sekarang waktunya kalian untuk mengukur pengetahuan kalian.
Silahkan mengerjakan Ulangan Harian Bab 2 melalui link di bawah ini.
Nb:
Hanya boleh mengerjakan satu kali saja.
Jika dua kali mengerjakan atau lebih dari dua kali, maka nilai yang diambil adalah hasil pengerjaan yang pertama.