MEMAHAMI HAKIKAT DAN MEWUJUDKAN KETAUHIDAN DENGAN SYU'ABUL IMAN (CABANG-CABANG IMAN)
Menganalisis makna syu'abul iman (cabang-cabang iman), pengertian, dalil, macam, dan manfaatnya
Mempresentasikan makna syu'abul iman (cabang-cabang iman)
Meyakini bahwa dalam iman terdapat banyak cabang-cabangnya
Membiasakan sikap disiplin, jujur, dan bertanggung jawab yang merupakan cabang iman dalam kehidupan
Alkisah, dalam peristiwa pembebasan Negeri Syam, tersebutlah seorang panglima perang yang bernama Abdullah bin Hudzafah RA. Misi penting yang harus diemban olehnya adalah memerangi penduduk Kaisariah, sebuah kota benteng pertahanan di Palestina, tepatnya di tepi Laut Tengah. Namun sayangnya dalam misi ini Abdullah bin Hudzafah mengalami kegagalan, sehingga kalah dalam peperangan, kemudian tertangkap dan dijadikan tawanan perang oleh tentara Romawi.
Abdullah bin Hudzafah lalu dihadapkan kepada Heraklius, sang kaisar Romawi yang menjabat waktu itu. Heraklius ingin menguji seberapa kuat kepercayaan dan keyakinan sang panglima perang, dengan memberikan bujuk rayu dan tawaran agar ia melepaskan akidah dan keimanannya terhadap Allah Swt. Heraklius berkata kepada Abdullah bin Hudzafah “masuklah ke dalam agama Nasrani, maka engkau akan memperoleh harta yang engkau inginkan”. Namun dengan tegas Abdullah bin Hudzafah menolak tawaran tersebut. Kemudian Heraklius memberikan penawaran yang kedua “masuklah engkau ke dalam agama Nasrani, maka aku akan menikahkah putriku denganmu”. Dan dengan hati yang teguh Abdullah bin Hudzafah pun kembali menolak. Heraklius kembali memberikan penawaran yang ketiga dengan tawaran yang lebih menggiurkan “masuklah ke dalam agama Nasrani, maka aku akan memberimu jabatan penting di negeri ini”. Tetap dengan pendiriannya Abdullah bin Hudzafah menolak tawaran kembali tawaran kaisar Heraklius. Nampaknya Heraklius menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan bukan sembarang orang. Maka ia pun memberikan penawaran keempat “masuklah ke dalam agama Nasrani, maka aku akan memberikan separuh kerajaanku dan separuh hartaku”. Dan pada tawaran keempat ini Abdullah bin Hudzafah pun memberikan jawaban yang telak “meskipun engkau memberikan semua harta yang engkau miliki dan semua harta orang Arab, aku tidak akan pernah meninggalkan agama yang diajarkan oleh Muhammad Saw.”
Merasa gagal melakukan negosiasi dan penawaran kepada tawanannya, Heraklius pun marah dan semakin menekan Abdullah bin Hudzafah dengan cara menambah siksaan, ancaman dan menganiayanya. Heraklius pun mengancam dengan mengatakan “kalau demikian, saya akan membunuhmu”. Dan Abdullah bin Hudzafah menjawab “silahkan, aku tidak takut”. Lalu ia pun dijebloskan ke dalam penjara dengan siksaan yang begitu menyakitkan. Ia tidak diberi makan dan minum selama 3 hari 3 malam. Pada hari keempat, ia disuguhi arak dan daging babi. Namun ia tetap berpendirian kokoh, enggan memakan makanan dan minuman tersebut sampai berhari-hari hingga ia hampir mati, sampai tiba saatnya ia hendak dieksekusi.
Heraklius pun bertanya kepada Abdullah bin Hudzafah “apa yang membuatmu menolak memakan daging babi dan meminum arak, sedangkan engkau hampir mati kelaparan?” Ia menjawab “ketahuilah Kaisar, dalam kondisi darurat memang diperbolehkan saya memakan dan meminum barang yang haram. Tetapi saya tetap menolak melakukannya, karena saya tidak ingin engkau dan pengikutmu bersorak melihat kemalangan Islam agama saya”.
Dalam hal ini nampaknya Heraklius tidak menyadari, bahwa orang yang tidak tergiur dengan bujukan dan tawaran duniawi, maka tidak pernah takut menghadapi ancaman apapun. Orang yang menginjak dunia dengan kedua kakinya, tidak akan kikir untuk melepaskan nyawa demi agamanya. Heraklius lalu memerintahkan anak buahnya untuk mengikat dan menyalib Abdullah bin Hudzafah dan regu pemanah pun bersiap-siap untuk mengeksekusinya. Namun ia tetap bertahan dengan prinsipnya. Sekali lagi Heraklius menawarkan agar ia masuk Nasrani, namun kesekian kalinya juga ditolak oleh Abdullah bin Hudzafah. Akhirnya ia diturunkan dari tiang salib. Sebagai ganti hukuman panah, Heraklius memerintahkan agar disiapkan kuali besar dengan air yang mendidih.
Lalu di depan Abdullah bin Hudzafah, terlebih dahulu dilemparkanlah seorang tahanan muslim lain ke dalam kuali tersebut, dan seketika dagingnya meleleh hingga tinggal tulang belulang. Selanjutnya Heraklius memerintahkan agar berikutnya yang dilemparkan adalah Abdullah bin Hudzafah. Pada saat tubuhnya sudah dipegang oleh anak buah Heraklius itulah Abdullah bin Hudzafah menangis. Heraklius mengira bahwa ia menangis karena takut dengan kematian serta mundur dari keteguhannya dan akan bersedia meninggalkan keyakinannya kepada Allah Swt. Lalu Heraklius menawarkan sekali lagi kepada Abdullah bin Hudzafah untuk masuk ke agama Nasrani, tetapi ternyata masih ditolak juga olehnya.
Heraklius pun penasaran dan menanyakan “lalu kenapa engkau menangis?” Dan Abdullah bin Hudzafah pun memberikan jawaban yang menakjubkan sehingga menetapkan kegagalan, kelemahan dan kekalahan
Heraklius. “Saya menangis, karena saya hanya memiliki jiwa sebanyak rambut saya, sehingga tidak banyak yang bisa saya korbankan untuk menebus agama saya, meskipun semuanya mati di jalan Allah Swt.” Akhirnya Heraklius pun menyerah dan mengakui kekalahannya terhadap Abdullah bin Hudzafah. Lantas ia pun memberikan penawaran terakhir sebagai bentuk kekalahannya. Demi menjaga martabatnya Heraklius berkata “Abdullah, maukah engkau mengecup kepalaku? Aku akan melepaskan dan membebaskanmu”. Abdullah bin Hudzafah pun menyetujui, dengan syarat Heraklius membebaskan 300 tawanan perang yang lain yang ditahan bersamanya. Mendengar hal tersebut, lantas Heraklius pun berdiri dan mengecup kepala Abdullah bin Hudzafah, sehingga shahabat-shababat yang lain pun mengikutinya.
Carilah satu kisah tentang seseorang yang berjuang mempertahankan keimanannya.
Catatlah di buku kalian.
Buatlah hikmah yang dapat diambil dari sepenggal kisah yang kalian temukan!
Pada dasarnya, setiap manusia dilahirkan dengan memiliki fitrah tentang keyakinan adanya zat yang Maha Kuasa. Keyakinan ini dalam istilah agama disebut dengan iman.
Dalam hal ini manusia telah menyatakan keimanannya kepada Allah swt. sejak masih berada di alam ruh. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Q.S. al-A'raf/7: 172 berikut ini:
وَاِذْ اَخَدَ رَبُّكَ مِنْ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰىٓ اَنْفُسِهِمْ، اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ، قَالُوْا بَلٰى شَهِدْنَا اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ.
Artinya: Dan (ingatlah) Ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah swt. mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman) "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi" (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat tidak mengatakan, "sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini"
Iman berasal dari bahasa Arab dari kata dasar amana - yu'minu - imanan, yang berarti beriman atau percaya. Adapun definisi iman menurut bahasa berarti kepercayaan, keyakinan, ketetapan, atau keteguhan hati. Imam Syafi'i dalam sebuah kitab yang berjudul al-'Umm mengatakan, sesungguhnya yang disebut dengan iman adalah suatu ucapan, suatu perbuatan dan suatu niat, dimana tidak sempurna salah satunya jika tidak bersamaan dengan yang lain.
Pilar-pilar keimanan tersebut terdiri dari enam perkara yang dikenal dengan rukun iman yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Beriman tanpa mempercayai salah satu dari enam rukun iman tersebut maka gugurlah keimanannya, sehingga mempercayai dan mengimani keenamnya bersifat wajib dan tidak bisa ditawar sedikit pun.
Enam pilar iman itu antara lain adalah:
iman kepada Allah swt.
meyakini adanya rasul-rasul utusan Allah swt.
mengimani keberadaan malaikat-malaikat Allah swt.
meyakini dan mengamalkan ajaran-ajaran suci dalam kitab-kitab-Nya
meyakini akan datangnya hari akhir
mempercayai qada' dan qadar Allah swt.
Menurut Syeikh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi dalam kitab Qamiuth-Thughyan 'ala Manzhumati Syu'abu al-Iman, iman yang terdiri dari enam pilar seperti tersebut diatas, memiliki beberapa bagian (unsur) dan perilaku yang dapat menambah amal manusia jika dilakukan semuanya, namun juga dapat mengurangi amal manusia apabila ditinggalkannya.
Terdapat 77 cabang iman, dimana setiap cabang merupakan amalan atau perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang yang mengaku beriman (mukmin). Tujuh puluh tujuh cabang itulah yang disebut dengan Syu'abul iman. Bilamana 77 amalan tersebut dilakukan seluruhnya, maka telah sempurnalah imannya, namun apabila ada yang ditinggalkan, maka berkuranglah kesempurnaan imannya.
Jika setiap muslim mampu menghayati dan mengamalkan tiap-tiap cabang iman yang berjumlah 77 tersebut, maka niscaya ia akan merasakan nikmat dan lezatnya mengimplementasikan hakikat iman dalam kehidupan.
Amalan-amalan yang merupakan cabang dari iman sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Hurairah ra.
عَنْ اَبِيْ هُرَوْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلْاِيْمَانَ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ اَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً فَاَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاَدْنَاهَا اِمَاطَةُ الْاَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْاِيْمَانِ. (رواه مسلم)
Artinya : "Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: Iman itu 77 (tujuh puluh tujuh) lebih cabangnya, yang paling utama adalah mengucapkan laa ilaaha illallah, dan yang paling kurang adalah menyingkirkan apa yang akan menghalangi orang di jalan, dan malu itu salah satu dari cabang iman (HR. Muslim)
Para ahli hadits menjelaskan dan merangkum 77 cabang keimanan tersebut menjadi 3 kategori atau golongan berdasarkan pada hadits Ibnu Majah berikut ini:
عَنْ عَلِيِّ بْنِ اَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اَلْاِيْمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَقَوْلٌ بِاللِّسَانِ وَعَمَلٌ بِالْاَرْكَانِ. (رواه ابن ماجه)
Artinya: "Dari Ali bin Abi Thalib ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda: iman adalah tambatan hati, ucapan lisan, dan perwujudan perbuatan." (H.R. Ibnu Majah)
Dengan kata lain, dimensi dari keimanan itu menyangkut tiga ranah yaitu:
Ma'rifatun bil qalbi yaitu meyakini dengan hati.
Iqrarun bil lisan yaitu diucapkan dengan lisan.
'Amalun bil arkan yaitu mengamalkannya dengan perbuatan anggota badan.
Dari pengelompokan berdasarkan dimensi keimanan tersebut, maka syu'abul iman dibagi menjadi tiga bagian yang meliputi:
Niat, akidah, dan hati
Lisan / ucapan
Seluruh anggota badan
Buatlah presentasi dengan menggunakan tema di bawah ini:
Cabang iman dalam hal niat, akidah, dan hati.
Cabang iman yang berkaitan dengan lisan.
Cabang iman tentang perbuatan anggota badan.
NB:
Presentasi dibuat dalam bentuk PPT (powerpoint)
Iman adalah sesuatu yang abstrak dan tidak mudah diukur. Pada umumnya nilai-nilai keimanan seseorang akan nampak dan mengejawantah dalam bentuk tingkah laku dan habituasi atau kebiasaan seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga erat sekali kaitannya antara keimanan dan tingkah laku seseorang. Semakin baik kualitas imannya, maka akan semakin baik pula perilaku dan akhlaknya dalam kehidupan.
Adapun tanda-tanda orang yang beriman diantaranya dijelaskan sebagai berikut:
Jika mendengar nama Allah swt. disebut, maka bergetar hatinya, dan jika dibacakan ayat-ayat al-Qur'an maka bergejolak hatinya untuk segera mengamalkannya.
Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Anfal/8: 2 berikut ini:
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah swt. gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal.
Senantiasa bertawakkal setelah bekerja keras dan berdoa kepada Allah swt. Hal ini dijelaskan dalam Q.S. at-Taghabun/64: 13
(Dialah) Allah swt. tidak ada Tuhan selain Dia. Dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah swt.
Selalu tertib menegakkan dan menjalankan shalatnya.
Seorang mukmin, seberapa pun sibuk dengan aktivitas dan urusan duniawinya, ia akan senantiasa memprioritaskan ibadah dan shalat untuk menjaga kualitas imannya. Sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Mukminun/23: 2
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam shalatnya.
Menafkahkan sebagian rezeki dan hartanya di jalan Allah swt.
Seorang mukmin memiliki keyakinan bahwa harta yang dinafkahkan di jalan Allah swt. merupakan wujud implementasi keimanan untuk pemerataan ekonomi, agar tidak terjadi kesenjangan antara aghniya dan dhuafa. Sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S. al-Anfal/8: 3
(yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka.
Menghindari perkataan yang tidak berguna
Seorang mukmin akan selalu mempertimbangkan sesuatu sebelum mengucapkannya. Apabila ucapannya bermanfaat, maka akan ia lanjutkan perkataannya, namun apabila mendatangkan madharat maka ia akan menghindarinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt. Q.S. al-Mukminun/23: 3 - 5
Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna.
Memelihara amanah dan menepati janji
Seorang mukmin, akan senantiasa memegang amanah dan menepati janji yang telah dibuatnya serta tidak akan berkhianat kepada siapapun yang mempercayainya. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt. dalam Q.S. al-Mukminun/23: 6
Sesungguhnya Allah swt. menyuruhmu menyampaikan amant kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh Allah swt. sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat
Berjihad di jalan Allah swt. dengan jiwa dan harta yang dimiliki
Makna jihad bagi seorang muslim dalam hal ini bukanlah jihad dan mengangkat senjata di medan pertempuran semata. Juga bukanlah jihad yang secara ekstrim menyatakan permusuhan kepada orang-orang atau golongan yang tidak sepaham dengannya. Tetapi jihad dalam hal ini adalah bersungguh-sungguh dalam menegakkan ajaran Allah swt. baik dengan harta, benda maupun nyawa yang dimilikinya. Sebagai contoh jihadnya seorang pelajar adalah kesungguhannya menuntut ilmu. Jihadnya seorang guru adalah kesungguhannya mendidik siswanya, dan lain sebagainya. Hal tersebut sesuai dengan Q.S. at-Taubah/9: 41 yaitu
Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah swt. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Berikut ini, beberapa hikmah dan manfaat serta pengaruh iman pada kehidupan manusia.
Iman menghilangkan sifat kepercayaan manusia terhadap makhluk
Orang yang beriman hanya percaya kepada Allah swt. Jika Allah swt. berkehendak memberikan pertolongan maka tidak ada kekuatan apapun yang mampu menghalangi-Nya, sebaliknya jika Allah swt. berkehendak menimpakan bencana, maka tidak ada kekuatan apapun yang sanggup menahan-Nya. Iman mampu menghilangkan perilaku syirik, percaya terhadap kesaktian benda-benda keramat, tahayul, khurafat dan sebagainya.
Iman menanamkan sikap tidak takut menghadapi kematian
Dalam kehidupan saat ini, banyak manusia yang takut menyampaikan kebenaran karena takut menghadapi resiko termasuk resiko kematian. Dalam hal ini, orang yang beriman yakin sepenuhnya bahwa kematian adalah hak prerogatif Allah swt. sehingga berani mengatakan kebenaran, meskipun terasa pahit, bahkan beresiko menghadapi kematian sekalipun.
Iman akan membuat seorang mukmin memiliki jiwa yang tenang
Tidak ada seorang pun yang akan luput dari ujian dan musibah dalam kehidupan. Dalam hal ini akan nampak sekali perbedaan menghadapi musibah dan ujian bagi orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Orang beriman akan cenderung bersikap tenang (sakinah) dan tenteram (muthmainah) dalam menghadapi masalah. Kedekatan dan tawakkalnya kepada Allah swt. akan menumbuhkan sikap penyerahan diri kepada Allah swt. dan senantiasa sabar dalam kondisi seberat apapun.
Iman mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan berkualitas
Kehidupan yang baik bagi seorang mukmin adalah kehidupan yang senantiasa hanya berisi hal-hal yang baik. Iman akan menuntun seseorang untuk menyeleksi perbuatan baik yang patut dilakukan, dan perbuatan buruk yang harus dihindari. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt. dalam Q.S. an-Nahl/16: 97 berikut ini:
Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
Iman menumbuhkan sikap ikhlas
Keyakinan terhadap ridha Allah swt. akan mempengaruhi seseorang untuk senantiasa melakukan sesuatu dengan penuh keikhlasan. Iman akan menuntun seseorang untuk senantiasa hanya berharap ridha Allah swt. sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S. al-An'am/6: 162 berikut ini:
Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah swt. Tuhan seluruh alam."
Iman mendatangkan keberuntungan
Orang yang beriman adalah orang yang beruntung dalam hidupnya karena selalu berjalan di arah yang benar. Orang beriman selalu mengikuti petunjuk dan larangan Allah swt. sesuai dengan firman Allah swt., dalam Q.S. al-Baqarah/2: 5 berikut ini:
Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Iman mencegah penyakit jasmani dan rohani
Kristalisasi dari iman adalah akhlak seorang mukmin. Oleh karena itu, akhlak, tingkah laku, dan perbuatan seorang mukmin akan senantiasa dikendalikan oleh iman. Orang yang beriman akan memiliki self security system atau sistem keamanan diri manakala ia dihadapkan pada godaan maksiat, godaan mengonsumsi makanan dan minuman yang haram, kesulitan mengendalikan emosi dan lain sebagainya. Sehingga dengan sistem keamanan dan pengendalian diri yang baik itulah, akan mencegah datangnya penyakit, baik penyakit jasmani maupun penyakit rohani bagi seorang mukmin.
Setiap manusia dilahirkan dengan fitrah yang sama yaitu memiliki keyakinan tentang zat Yang Maha Kuasa, yang dalam istilah agama disebut dengan iman.
Iman adalah suatu niat, ucapan dan perbuatan di mana tidak sempurna iman itu jika tidak bersama yang lain.
Pilar iman terdiri dari enam perkara yang disebut dengan rukun iman yaitu: 1) iman kepada Allah swt., 2) meyakini adanya rasul-rasul utusan Allah swt., 3) mengimani keberadaan malaikat-malaikat Allah swt., 4) meyakini dan mengamalkan ajaran-ajaran suci dalam kitab-kitab-Nya, 5) meyakini akan datangnya hari akhir dan 6) mempercayai qada dan qadar Allah swt.
Iman yang terdiri dari enam pilar tersebut, memiliki beberapa bagian (unsur) dan perilaku yang dapat menambah amal manusia jika dilakukan semuanya, namun juga dapat mengurangi amal manusia apabila ditinggalkannya.
Terdapat 77 cabang iman, dimana setiap cabang merupakan amalan atau perbuatan yang harus dilakukan oleh seseorang yang mengaku beriman (mukmin). Cabang yang 77 itulah yang disebut dengan syu'abul iman.
Untuk mempermudah memahami dan mempelajari Syu'abul iman, dibagi menjadi 3 (tiga) bagian yang meliputi:
Niat, akidah dan hati terdiri dari 30 cabang iman
Lisan/ucapan terdiri dari 7 cabang iman
Seluruh anggota badan terdiri dari 40 cabang iman
Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara jika terbentuk dari kumpulan orang-orang yang beriman, niscaya akan terbentuk masyarakat yang aman, tenteram, damai, sejahtera, dan berlimpah berkah dari Allah swt.
Setelah kita belajar bersama-sama tentang Syu'abul iman. Sekarang waktunya kalian untuk mengukur pengetahuan kalian.
Silahkan mengerjakan Ulangan Harian Bab 2 melalui link di bawah ini.
Nb:
Hanya boleh mengerjakan satu kali saja.
Jika dua kali mengerjakan atau lebih dari dua kali, maka nilai yang diambil adalah hasil pengerjaan yang pertama.