Transportasi
Transportation
Transportation
Transjakarta Tanah Abang 2, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Transjakarta Tanah Abang 2 adalah halte bus pengumpan yang terletak di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Halte ini tidak termasuk halte koridor utama Transjakarta; melainkan hanya melayani armada mikrotrans Jak Lingko Artinya, hanya bus-bus kecil (mikrotrans) berbasis Jak Lingko yang berhenti di sini, sehingga halte ini berfungsi menghubungkan warga Kampung Bali dengan jaringan angkutan publik lebih luas. Sebagai bagian dari integrasi moda transportasi Jakarta, halte pengumpan seperti Tanah Abang 2 muncul untuk mendukung akses warga ke terminal atau stasiun kereta utama. Misalnya, rute mikrotrans JAK09 (Roxy-Karet) dan JAK10 (Tanah Abang-Kota) berawal atau berakhir di lokasi Jak Lingko Tanah Abang yang berdekatan, sehingga keberadaan Halte Tanah Abang 2 mempermudah penumpang lokal berpindah moda di simpul transportasi Tanah Abang.
Pada tahun 2018-2019 kawasan Tanah Abang mengalami penataan transportasi publik yang intensif. Dinas Perhubungan DKI bersama PD Pembangunan Sarana Jaya membangun beberapa halte Transjakarta pendukung di dekat Stasiun Tanah Abang, terintegrasi dengan fasilitas penyeberangan seperti skybridge (Jembatan Penyeberangan Multiguna). Meski nama "Tanah Abang 2" sendiri jarang disebut dalam laporan resmi, pembenahan infrastruktur ini menunjukkan bahwa halte-halte kecil seperti Tanah Abang 2 dirancang sebagai titik koneksi warga Kampung Bali dengan moda angkutan massa. Dengan demikian, walaupun sederhana, keberadaan halte mikrotrans di Tanah Abang melengkapi jaringan transportasi publik Jakarta serta mendukung kelancaran mobilitas lokal.
Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Stasiun Tanah Abang adalah salah satu stasiun kereta api tertua dan terpenting di Jakarta. Stasiun ini pertama kali diperkenalkan kepada publik pada tanggal 1 Oktober 1899 oleh perusahaan kereta api kolonial Hindia Belanda, Staatsspoorwegen Westerlijnen, sebagai bagian dari jalur baru Batavia-Angke-Rangkasbitung. Sejak awal, stasiun ini berfungsi menghubungkan kota Batavia (sekarang Jakarta) dengan wilayah pesisir barat Jawa. Seiring waktu, volume penumpang dan kargo yang semakin besar membuat Stasiun Tanah Abang ramai. Beberapa perubahan fisik awal tercatat setelah Indonesia merdeka, misalnya, atap peron lama yang dipasang setelah kemerdekaan dibawa dari Stasiun Secang untuk menutup peron stasiun ini. Bentuk bangunan aslinya akhirnya digusur untuk digantikan gedung dua lantai modern yang lebih besar, dilengkapi tangga penyeberangan dan eskalator. Renovasi besar ini diresmikan pada 3 Juni 1997 oleh Menteri Perhubungan waktu itu, Haryanto Dhanutirto 6, menandai transisi Stasiun Tanah Abang menjadi stasiun komuter modern yang melayani KRL Jabodetabek.
Memasuki era milenium kedua, Stasiun Tanah Abang kembali mengalami pengembangan infrastruktur skala besar. Pada 2016-2017 dibangun Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) baru untuk menghubungkan sayap utara dan selatan stasiun, dilengkapi eskalator dan fasilitas akses difabel. Kemudian pada 2018, DKI Jakarta meluncurkan proyek penataan kawasan Stasiun Tanah Abang berupa Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) sepanjang 400 meter yang menghubungkan stasiun dengan Pasar Tanah Abang Blok G7 Gubernur Anies Baswedan meresmikan jembatan ini pada Desember.
2018. JPM tersebut dilengkapi 446 kios pedagang kaki lima, sehingga tidak hanya memudahkan mobilitas pejalan kaki dari dan menuju stasiun, tetapi juga menjadi wadah relokasi PKL dari badan jalan. Upaya penataan TOD (Transit Oriented Development) yang diusulkan kemudian semakin menegaskan posisi Stasiun Tanah Abang sebagai simpul transportasi strategis yang terus berkembang untuk melayani kebutuhan warga DKI Jakarta.