Pusat Perbelanjaan
Shopping Center
Shopping Center
Pasar Tanah Abang Blok A, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Pada tahun 1973, di masa Gubernur Ali Sadikin, Pasar Tanah Abang mengalami renovasi besar-besaran dan dibagi menjadi beberapa blok (A sampai D) dengan gedung berlantai empat. Blok A menjadi salah satu pusat utama perdagangan tekstil. Namun, gedung ini tidak lepas dari musibah, salah satunya kebakaran besar pada 19 Februari 2003 yang meluluhlantakkan banyak kios sehingga dianggap tidak layak pakai dan akhirnya dibongkar.
Setelah peristiwa tersebut, pembangunan kembali Blok A dimulai dan selesai sekitar 2005 dengan gedung yang lebih modern. Fasilitasnya diperbarui agar lebih nyaman bagi pedagang maupun pengunjung. Meski begitu, Blok A kembali mengalami insiden kebakaran pada 16 September 2010, yang menghanguskan kios marketing di lantai dasar beserta peralatan kantor di dalamnya.
Kini Blok A memiliki posisi strategis di bagian depan kawasan Kebon Kacang dan berperan sebagai pusat perdagangan pakaian jadi dewasa, tas, sepatu, dan aksesori. Dengan luas sekitar 160.000 meter persegi serta hampir 8.000 kios, blok ini mampu menampung ribuan pedagang dan menarik hingga 80.000 pengunjung per hari pada masa sibuk, menjadikannya salah satu pusat grosir terbesar di Tanah Abang.
Pasar Tanah Abang Blok B, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Blok B Pasar Tanah Abang awalnya dibangun pada masa peremajaan besar tahun 1973, ketika seluruh pasar diganti menjadi gedung modern berlantai empat. Namun, gedung ini sempat mengalami musibah besar, salah satunya kebakaran pada 13 Agustus 1979 yang melanda bagian Blok B, tidak lama setelah peresmian bangunan baru. Insiden ini menjadi salah satu kebakaran besar dalam sejarah Pasar Tanah Abang.
Pada era 2000-an, kebutuhan akan ruang grosir yang lebih modern mendorong pembangunan kembali Blok B. Pembangunan resmi dimulai pada 19 September 2007 di atas lahan seluas 1,2 hektare, dengan kapasitas sekitar 5.000 kios. Desain baru Blok B dilengkapi fasilitas modern seperti atrium lebar, eskalator, lift, serta pendingin udara sentral, sehingga lebih nyaman untuk aktivitas perdagangan dan dianggap sebagai pelengkap Blok A yang lebih dulu selesai dibangun.
Meski demikian, Blok B juga kembali dilanda kebakaran besar pada 11 Oktober 2015, yang menghanguskan sekitar 136 kios dari total lebih dari 400 kios di dalamnya. Peristiwa tersebut menegaskan kerentanan pasar ini terhadap kebakaran, meski gedung sudah modern. Kini, Blok B tetap menjadi salah satu pusat grosir tekstil dan kebutuhan perdagangan lain di Tanah Abang, dengan peran penting bagi pedagang lokal maupun luar kota.
Pasar Tanah Abang Blok E, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Blok E Pasar Tanah Abang, yang berada di Kelurahan Kampung Bali, Jakarta Pusat, dikenal sebagai salah satu pusat grosir tekstil tertua di kawasan pasar. Blok ini mulai berkembang pesat pada abad ke-18 sebagai bagian dari ekspansi pasar Tanah Abang, menjadi tempat pedagang lokal dan perantau menjual berbagai jenis kain, busana, dan perlengkapan fashion lainnya. Berbeda dengan blok lainnya, Blok E dikenal karena struktur ruko-ruko yang padat dan variasi barang dagangan yang luas, menjadikannya destinasi favorit pembeli grosir dari berbagai daerah.
Seiring waktu, Blok E mengalami beberapa perubahan signifikan. Pada era kolonial Belanda, blok ini menjadi salah satu titik utama perdagangan tekstil dan bahan kebutuhan sehari-hari. Setelah renovasi pasar pada tahun 1973, Blok E mempertahankan karakter ruko bertingkatnya, namun beberapa pedagang memilih berdagang di area luar blok karena harga sewa yang tinggi, memengaruhi kepadatan arus lalu lintas di sekitarnya. Blok E tetap menjadi bagian vital dari ekonomi lokal dan pusat perdagangan tekstil hingga kini, meski menghadapi tantangan modern seperti kemacetan dan persaingan perdagangan digital.
Pasar Tanah Abang Blok F, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Pasar Tanah Abang Blok F menjadi salah satu bagian penting dari pusat grosir terbesar di Asia Tenggara. Terletak di Jalan K.H. Fachrudin, Kelurahan Kampung Bali, Jakarta Pusat, blok ini mudah diakses karena posisinya berdekatan dengan Stasiun Tanah Abang. Sejak lama, Blok F dikenal sebagai pusat grosir kain, batik, hingga busana muslim, sehingga selalu ramai terutama menjelang Ramadan dan Lebaran ketika permintaan produk tekstil meningkat tajam.
Selain berisi kios grosir, Blok F juga memiliki gedung parkir bertingkat hingga delapan lantai yang berfungsi ganda. Selain menampung kendaraan pengunjung, fasilitas parkir ini pernah dimanfaatkan pemerintah untuk relokasi sementara pedagang dari blok lain saat dilakukan penataan pasar. Hal ini menunjukkan peran strategis Blok F, bukan hanya sebagai ruang perdagangan, tetapi juga sebagai bagian dari manajemen tata ruang Pasar Tanah Abang secara keseluruhan.
Meski demikian, perjalanan Blok F tidak lepas dari tantangan. Beberapa pedagang sempat mengeluhkan regulasi baru terkait registrasi kios dan biaya penggunaan tempat usaha, sementara akses penghubung seperti skybridge dari stasiun ke Blok F juga sering dikritik karena terlalu sempit untuk menampung pengunjung dalam jumlah besar. Kendati begitu, Blok F tetap bertahan dan terus berkembang sebagai salah satu titik vital dalam denyut perdagangan Tanah Abang hingga hari ini.
Pasar Tanah Abang Blok F2, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Blok F2 Pasar Tanah Abang, yang terletak di Kelurahan Kampung Bali, Jakarta Pusat, memiliki sejarah panjang sejak Pasar Tanah Abang didirikan pada 1735 oleh Yustinus Vinck atas izin Gubernur Jenderal Abraham Patras. Awalnya hanya buka setiap Sabtu dan dikenal sebagai "Pasar Sabtu", pasar ini berkembang pesat pada masa Belanda sebagai pusat tekstil, meski sempat mengalami kerusuhan Chineezenmoord pada 1740. Setelah masa penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang, pasar sempat tidak berfungsi hingga direnovasi menjadi bangunan bertingkat tiga pada 1973. Namun, banyak pedagang memilih berjualan di pinggir jalan karena sewa lapak yang tinggi, sehingga arus lalu lintas menjadi ruwet. Pada 1990-an, perputaran uang mencapai Rp8–10 miliar per hari, meski aktivitas pasar sempat terganggu pada Desember 1996 akibat bentrok antar preman.