Tempat Ibadah
Place of Worship
Place of Worship
Klenteng Hok Tek Tjeng Sin, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Klenteng Hok Tek Tjeng Sin adalah salah satu tempat ibadah Tionghoa tertua di Jakarta yang terletak di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Berdiri sejak abad ke-17, klenteng ini menjadi saksi perjalanan sejarah Batavia ketika banyak komunitas Tionghoa menetap dan berkembang di sekitar pusat perdagangan. Meski tersembunyi di balik deretan kios dan hiruk-pikuk pasar, keberadaan klenteng ini tetap terjaga sebagai ruang spiritual yang penting bagi umat Khonghucu maupun masyarakat Tionghoa setempat.
Seiring waktu, lingkungan sekitar klenteng berubah pesat dengan hadirnya pusat grosir modern dan perkantoran, namun bangunan bersejarah ini tetap berdiri kokoh. Keunikan Klenteng Hok Tek Tjeng Sin tidak hanya pada usianya yang mencapai ratusan tahun, tetapi juga pada suasana asri dan bersih yang terpelihara dengan baik. Meskipun lokasinya berada di tengah kawasan padat, para pengurus dan jemaat menjaga kebersihan serta kesakralan tempat ini, sehingga para pengunjung tetap dapat merasakan ketenangan spiritual ketika memasuki area ibadah.
Bagi masyarakat sekitar, klenteng ini bukan sekadar tempat sembahyang, tetapi juga simbol keteguhan budaya dan identitas yang bertahan melintasi generasi. Ritual-ritual keagamaan yang digelar, terutama pada perayaan Tahun Baru Imlek atau Cap Go Meh, menjadikan Hok Tek Tjeng Sin sebagai pusat kegiatan budaya yang mempererat kebersamaan warga Tionghoa di Tanah Abang. Dengan nilai historis, religius, dan sosial yang kuat, klenteng ini menjadi bagian penting dari mozaik sejarah kota Jakarta.
Gereja Kristus Tuhan Jemaat Bethany, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Gereja Kristus Tuhan Jemaat Bethany (GKT Bethany) merupakan salah satu jemaat di bawah Sinode Gereja Kristus Tuhan yang melayani umat di kawasan Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Gereja ini berlokasi di Jalan H. Fachrudin No. 2, dengan posisi strategis di tengah permukiman padat dan multikultural. Saat ini, pelayanan jemaat dipimpin oleh Pdt. Andrew Koesno sebagai gembala sidang, dengan berbagai kegiatan rohani yang mencakup ibadah umum, doa, persekutuan keluarga, dan pelayanan anak, remaja, serta pemuda. Keberadaannya menjadi pusat persekutuan bagi warga Kristen di daerah tersebut sekaligus memperkuat kehidupan spiritual masyarakat.
Meski data historis mengenai tahun pendirian dan tokoh pendiri jemaat belum tersedia secara publik, GKT Bethany telah dikenal konsisten menjadi wadah pelayanan dan pertumbuhan iman di kawasan Tanah Abang. Identitasnya sebagai bagian dari Gereja Kristus Tuhan menegaskan visi untuk menghadirkan jemaat yang serupa dengan Kristus melalui pelayanan kontekstual di tengah masyarakat urban. Dengan pelayanan yang relevan dan berakar pada nilai iman, GKT Bethany terus meneguhkan perannya sebagai tempat ibadah dan pusat komunitas Kristiani di Jakarta.
GBIS Jatibaru, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Gereja Bethel Injil Sepenuh Jatibaru (GBIS Jatibaru) merupakan salah satu jemaat Pentakosta tertua di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Kehadirannya dimulai sejak tahun 1944, ketika Pdt. Wong Miauw Fa melayani jemaat di Jatibaru X No. 54. Seiring bertambahnya anggota, pada 1961 gereja ini memperoleh tanah dan gedung baru di Jatibaru Gang 10/50A berkat pemberian almarhum Tjo Wie Ho, yang secara resmi dituangkan dalam surat bermaterai tanggal 20 September 1961. Sejak saat itu, aktivitas ibadah jemaat berlangsung secara berkesinambungan hingga kini.
Secara denominasi, GBIS Jatibaru adalah bagian dari Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) yang berdiri secara nasional pada 21 Januari 1952 di Surabaya. Dalam waktu 15 tahun, GBIS berkembang pesat hingga memiliki sekitar 450 jemaat dengan total anggota lebih dari 70.000 jiwa, menjadikannya salah satu gereja Pentakosta terbesar di Indonesia. Warisan sejarah tersebut membuat GBIS Jatibaru bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga bagian dari perjalanan gereja Pentakosta di Indonesia yang terus bertahan dan melayani jemaat di kawasan Tanah Abang.
GKI Wahid Hasyim, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
GKI Wahid Hasyim, dikenal juga sebagai GKI Waha, berlokasi di Jalan KH Wahid Hasyim No. 180-182, Kelurahan Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Gereja ini berada di pusat kota sehingga menjadi salah satu tempat ibadah Kristen yang strategis bagi jemaat yang tinggal maupun bekerja di sekitar Tanah Abang dan Menteng. Gereja ini merupakan bagian dari Sinode GKI Jawa Barat, yang menaungi jemaat-jemaat GKI di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.
Sejarah GKI Wahid Hasyim dimulai dari jemaat CHCTCH (Chinese Christian Church Tanah Abang), yaitu jemaat Kristen Tionghoa di kawasan Tanah Abang. Pada 27 Juli 1956, CHCTCH resmi bergabung dengan THKTKHKHDB (Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Khoe Hwee Djawa Barat), organisasi induk gereja-gereja Tionghoa Protestan di Jawa Barat. Sejak bergabung, jemaat mulai berkembang lebih teratur dan pada tahun 1960 menempati bangunan gereja sendiri di Jalan Tanah Abang Bukit (sekarang Jalan KH Wahid Hasyim No. 180). Nama gereja kemudian berubah menjadi GKI Djawa Barat Jalan Tanah Abang Bukit.
Kini gereja dikenal dengan nama GKI Wahid Hasyim dan melayani jemaat melalui ibadah Minggu, kebaktian doa, dan pelayanan kategorial seperti remaja, pemuda, dan lansia. Selain sebagai tempat ibadah, GKI Wahid Hasyim aktif mengadakan pelayanan sosial dan kegiatan kemasyarakatan yang terbuka bagi warga sekitar. Gereja ini menjadi salah satu pusat kehidupan rohani Kristen di kawasan Tanah Abang dan terus menjaga semangat kebersamaan dalam masyarakat yang beragam.
Masjid Jami' Fatahillah, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Masjid Jami' Fatahillah terletak di atap Gedung Blok B Pusat Grosir Tanah Abang (Pasar Tanah Abang Komplek Blok B). Masjid ini adalah salah satu masjid modern di area pasar, dan baru dioperasikan pada pertengahan 2018.
Gubernur DKI Jakarta saat itu, Anies Baswedan, secara resmi meresmikan Masjid Jami' Fatahillah pada 13 juli 2018. Menurut liputan media, Anies menyebut bahwa masjid ini bukan hanya arena ibadah, tetapi juga dirancang sebagai pusat kegiatan sosial dan pendidikan. Fasilitasnya meliputi ruang belajar, area bermain anak, serta peralatan ibadah yang cukup nyaman, sehingga masjid ini disebut "ramah anak". Dengan konsep semacam itu, Fatahillah diharapkan tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga wadah pemberdayaan warga sekitar pasar Tanah Abang. Demikianlah Masjid Jami' Fatahillah mengambil peran sebagai fasilitas umum baru yang menunjang kegiatan keagamaan dan sosial penduduk Kampung Bali dan kawasan Pasar Tanah Abang.
Masjid Quba, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Masjid Quba Kampung Bali berada di Jl. Kampung Bali Gang 97 dan berstatus masjid jami' (besar). Menurut data yang tercatat di profil masjid online, Masjid Quba didirikan sekitar tahun 2000.
Nama "Quba" diambil dari Masjid Quba di Madinah, yang secara simbolis juga mengisyaratkan semangat kebersamaan dalam beribadah. Tidak banyak informasi tertulis mengenai peristiwa pendiriannya, tetapi sebagai masjid jami, Quba telah menjadi pusat shalat Jumat dan pengajian rutin bagi masyarakat sekitar sejak awal milenium. Dengan lahan wakaf seluas 181 m² dan bangunan seluas 168 m², Masjid Quba terus melayani umat Muslim Kampung Bali, menandakan perkembangan komunitas Muslim di area yang padat penduduk ini.
Masjid Al Ihsan, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Masjid Al Ihsan terletak di Jl. Taman Kebon Sirih III/8, Kampung Bali, Tanah Abang. Menurut catatan seorang pengunjung pada 2019, masjid ini sempat menjadi "penginapan para mujahid" ketika demonstrasi besar-besaran Gerakan 212 berlangsung pada Desember 2016. Hal ini menunjukkan bahwa Masjid Al Ihsan pernah berperan sebagai tempat singgah jamaah dari luar Jakarta.
Arsitekturnya sederhana dengan kubah di tengah atap, dan dilengkapi teras tambahan untuk menampung jamaah yang melimpah. Saat ini, Al Ihsan berfungsi sebagai masjid lokal untuk warga Kampung Bali. Masjid ini menyelenggarakan shalat harian, shalat Jumat, serta berbagai pengajian dan kegiatan keagamaan komunitas. Meskipun berdirinya tidak tercatat di publik, jejaknya dalam sejarah aksi sosial lokal menjadikan Al Ihsan bagian penting dari lanskap spiritual kawasan ini.
Selain fungsi ibadah, Masjid Al Ihsan juga menjadi ruang sosial yang memperkuat ikatan masyarakat sekitar. Pada bulan Ramadhan, masjid ini aktif menyelenggarakan buka puasa bersama dan pembagian takjil untuk warga. Fungsi sosial keagamaan semacam ini menjadikan Masjid Al Ihsan bukan hanya sebagai tempat ritual, tetapi juga pusat kebersamaan dan solidaritas warga Kampung Bali.
Di luar kegiatan orang dewasa, Masjid Al Ihsan juga memberi ruang pendidikan agama bagi anak-anak melalui Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Setiap sore selepas Ashar, suara anak-anak belajar mengaji kerap terdengar dari dalam masjid, memperlihatkan peranannya dalam mendidik generasi muda. Kegiatan ini bukan hanya menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta pada masjid sejak usia dini, sehingga keberadaan Masjid Al Ihsan tetap relevan lintas generasi.
Masjid Al Munawaroh, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Masjid Al Munawarah berlokasi di Jalan Kampung Bali V No.15, RT.05/RW.08, Kelurahan Kampung Bali, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Masjid ini menjadi salah satu tempat ibadah penting bagi warga sekitar dan kerap digunakan sebagai titik berkumpul jamaah dari lingkungan padat penduduk di sekitar Tanah Abang. Lokasinya yang mudah dijangkau membuat masjid ini selalu ramai pada waktu shalat, terutama shalat Jumat.
Selain sebagai tempat shalat lima waktu, Masjid Al Munawarah juga digunakan untuk pengajian rutin, majelis taklim, dan kegiatan sosial masyarakat. Perannya menjadikan masjid ini bukan hanya sarana ibadah, tetapi juga pusat pembinaan keagamaan dan tempat silaturahmi warga. Aktivitas seperti santunan anak yatim, buka puasa bersama, dan kajian Ramadan menjadi agenda tahunan yang diikuti jamaah dengan antusias.
Walaupun catatan resmi tentang tahun pendirian dan tokoh pendiri belum banyak dipublikasikan, keberadaan masjid ini sudah lama dikenal masyarakat Kampung Bali.
Masjid Al Munawaroh, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Masjid Jami Hasbiyallah bermula sebagai tempat ibadah sederhana yang dibangun oleh warga setempat untuk memenuhi kebutuhan shalat jamaah dan kegiatan keagamaan sehari-hari. Dari awal, masjid ini menjadi titik pertemuan yang mengikat masyarakat sekitar, tempat warga berkumpul untuk salat, pengajian, dan musyawarah komunitas.
Seiring waktu, masjid mengalami beberapa perbaikan dan perluasan sehingga mampu menampung lebih banyak jemaah dan menyelenggarakan kegiatan sosial seperti pengajian anak-anak, baksos, serta perayaan hari besar Islam. Peran masjid tidak hanya ritual, tetapi juga sebagai pusat pendidikan keagamaan dan pembinaan akhlak bagi generasi muda di lingkungan tersebut.
Arsitektur masjid memadukan kesederhanaan dengan sentuhan lokal sehingga terasa akrab bagi masyarakat sekitar. Keberadaan Masjid Jami Hasbiyallah memperkuat ikatan sosial dan spiritual warga, menjadi simbol kebersamaan yang terus dipelihara dari generasi ke generasi.
Musholla Al Ikhwan, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Musholla Al Ikhwan yang terletak di kawasan Kampung Bali, Tanah Abang, telah lama menjadi pusat ibadah harian masyarakat sekitar. Meski ukurannya tidak sebesar masjid jami’, musholla ini berfungsi vital sebagai tempat salat berjamaah, tadarus, hingga kegiatan keagamaan anak-anak seperti mengaji selepas maghrib. Dari catatan warga, Musholla Al-Ikhwan telah berdiri sejak akhir 1980-an, dibangun atas swadaya masyarakat setempat yang ingin memiliki ruang ibadah sederhana di tengah permukiman padat.
Kini, Musholla Al-Ikhwan tidak hanya berperan sebagai rumah ibadah, tetapi juga simbol kekompakan warga Kampung Bali. Melalui gotong royong, musholla tetap terawat meski berada di lingkungan padat penduduk. Kehadirannya menjadi bukti bahwa ruang kecil pun bisa melahirkan ikatan sosial yang besar.
Masjid Al Fatah Jatibaru, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Berawal dari sebuah langgar lingkungan, Masjid Al-Falah Jatibaru kini berfungsi sebagai pusat ibadah yang melayani warga Jatibaru dan area Tanah Rendah di Kampung Bali. Lokasinya yang strategis menjadikannya tempat singgah yang penting bagi para pedagang dan pengunjung pasar untuk melaksanakan salat. Seiring waktu, pengurus masjid telah mengembangkan berbagai program keagamaan, kegiatan sosial, dan layanan ramah jamaah, mengukuhkan perannya sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari komunitas lokal.
Pada hari-hari besar Islam dan selama bulan Ramadan, Al-Falah secara aktif menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama dan pengajian yang melibatkan berbagai kalangan masyarakat. Hal ini memperkuat fungsi sosial dan keagamaan masjid dalam membina kerukunan dan kebersamaan di antara warga sekitar.
Masjid Al Barokah, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Masjid Al Barokah berada di Kelurahan Kampung Bali, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Lokasinya tercantum dalam daftar fasilitas publik Kelurahan Kampung Bali dan mudah diakses dari titik-titik transportasi sekitar Tanah Abang.
Dalam praktiknya masjid ini berfungsi sebagai pusat ibadah sehari-hari dan kegiatan keagamaan bagi warga sekitar. Sejumlah kegiatan sosial dan kemanusiaan pernah berlangsung di lokasi ini, misalnya program Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang menghadirkan kegiatan “Humanity Food Truck” untuk masyarakat setempat. Keterlibatan organisasi kemanusiaan dan pengajian rutin menunjukkan peran masjid sebagai ruang sosial selain tempat shalat.
Masjid Jami' Al Ma'mur, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Masjid Jami’ Al-Ma’mur, yang sering disebut Masjid Al-Makmur, memiliki sejarah panjang sebagai salah satu masjid sentral di kawasan Tanah Abang. Sejak didirikan, masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pertemuan penting bagi para tokoh dan pemuda setempat dalam berbagai peristiwa sosial.
Struktur dan fungsinya telah mengalami beberapa kali renovasi untuk memenuhi kebutuhan jamaah modern, namun perannya sebagai pusat koordinasi sosial dan pengajaran agama tetap terpelihara. Beberapa catatan sejarah lokal mendokumentasikan peran vital masjid ini dalam perjuangan dan pembinaan masyarakat Betawi di Tanah Abang.
Masjid Al Huda, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Masjid Al-Huda di Kelurahan Kampung Bali merupakan salah satu masjid yang menjadi pusat kegiatan ibadah dan pembinaan umat di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat. Masjid ini dibangun pada awal 1980-an oleh masyarakat setempat dengan semangat gotong royong. Pembangunan masjid dilakukan secara bertahap, dimulai dari lahan wakaf warga, kemudian diperluas seiring bertambahnya jumlah jamaah. Nama "Al-Huda" yang berarti petunjuk, dipilih sebagai doa agar masjid ini menjadi tempat yang memberi pencerahan bagi masyarakat sekitar.
Seiring berjalannya waktu, Masjid Al-Huda tidak hanya berfungsi sebagai tempat salat berjamaah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial dan pendidikan. Di sini rutin diadakan pengajian anak-anak, remaja, hingga majelis taklim ibu-ibu setiap pekan. Masjid ini juga aktif mengadakan peringatan hari besar Islam dan kegiatan santunan anak yatim yang melibatkan warga sekitar. Dengan adanya kegiatan ini, masjid berperan penting dalam mempererat silaturahmi serta menjaga nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
Saat ini Masjid Al-Huda telah mengalami beberapa renovasi agar mampu menampung jamaah yang semakin banyak. Renovasi meliputi perluasan ruang utama salat, perbaikan tempat wudhu, dan penambahan fasilitas seperti sound system serta pendingin ruangan. Dengan wajah baru yang lebih nyaman, Masjid Al-Huda terus menjadi pusat ibadah sekaligus tempat pembinaan moral bagi warga Kelurahan Kampung Bali.
Masjid Al Mu'awanah, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Masjid Al Mu’awanah terletak di Kelurahan Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Masjid ini menjadi salah satu pusat kegiatan ibadah warga sekitar yang padat penduduk dan berada tidak jauh dari kawasan perdagangan Tanah Abang. Lokasi masjid yang strategis membuatnya menjadi tempat shalat berjamaah utama bagi warga dan pekerja yang beraktivitas di lingkungan sekitar.
Masjid ini berdiri di atas tanah wakaf yang dimanfaatkan untuk kepentingan umat. Meskipun catatan tahun pendirian belum terdokumentasi secara luas di arsip publik, keberadaannya sudah lama menjadi bagian dari sejarah sosial Kampung Bali. Masjid ini juga menjadi tempat diselenggarakannya pengajian, kajian keagamaan, serta kegiatan sosial seperti santunan dan buka puasa bersama pada bulan Ramadan.
Seiring waktu, Masjid Al Mu’awanah terus dipelihara dan direnovasi agar dapat menampung jamaah lebih banyak. Fasilitasnya ditingkatkan melalui gotong royong warga dan donasi dari masyarakat. Keberadaan masjid ini memperkuat kehidupan religius dan kebersamaan warga Kampung Bali, sekaligus menjadi salah satu penanda identitas kawasan ini.
Masjid Jami Al Hidayah, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Masjid Jami Al Hidayah terletak di Kelurahan Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Bangunan ini tercatat sebagai salah satu masjid jamaah di kawasan perdagangan Tanah Abang dan berdiri di atas tanah wakaf yang melayani jamaah lokal serta pekerja sekitar pasar.
Seiring waktu masjid berfungsi bukan hanya untuk shalat berjamaah tetapi juga sebagai pusat pertemuan dan pengajian bagi warga setempat. Aktivitas yang tercatat meliputi jadwal shalat, kajian, dan acara komunitas yang membantu memperkuat ikatan sosial di lingkungan padat penduduk ini. Keterlibatan pengurus setempat terlihat dari pencatatan kegiatan dan upaya pemanfaatan lahan wakaf untuk kepentingan jamaah.