Fasilitas Umum
Public Facilities
Public Facilities
ShaoLin Indonesian Kungfu QiGong Taiji, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Shaolin Indonesia Kungfu berlokasi di Jalan Hati Suci No. 2, Kelurahan Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tempat ini menjadi pusat latihan bela diri dan budaya yang terbuka untuk masyarakat dari berbagai usia. Program yang diajarkan mencakup Kungfu, Qigong, Taiji, serta meditasi untuk kesehatan dan keseimbangan diri.
Shaolin sendiri adalah tradisi bela diri yang berasal dari Kuil Shaolin di Provinsi Henan, Tiongkok, yang sudah berdiri lebih dari seribu lima ratus tahun. Tradisi ini mengajarkan seni bertarung sekaligus membentuk disiplin, fokus, dan pengendalian diri. Filosofi Shaolin menekankan keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan jiwa sehingga latihan yang diberikan tidak hanya untuk ketangkasan fisik tetapi juga untuk membangun karakter yang baik.
Shaolin Indonesia didirikan pada 14 Juni 2018 dengan misi menyebarkan nilai budaya Shaolin kepada masyarakat Indonesia. Di Kampung Bali, komunitas ini rutin mengadakan latihan, ujian tingkat Duanpin, dan kegiatan sosial seperti pembagian sembako bagi warga sekitar. Kehadiran Shaolin Indonesia Kungfu di wilayah ini menjadi ruang pembinaan mental dan fisik sekaligus mempererat hubungan sosial di lingkungan Tanah Abang.
Kantor Kelurahan Kampung Bali, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Kantor Kelurahan Kampung Bali dibentuk pada tahun 1966 melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta yang mengatur pembentukan Kecamatan dan Kelurahan di Ibukota. Sebelum pembentukan resmi, wilayah Kampung Bali tergabung dalam Kelurahan Tanah Abang. Nama “Kampung Bali” menurut cerita masyarakat setempat berasal dari zaman Hindia Belanda, saat sekelompok orang dari Pulau Bali diangkut ke Batavia untuk kerja paksa dan menetap di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kampung Bali.
Kantor Kelurahan pertama berada di Jl. Kampung Bali I/318 sejak sekitar tahun 1968, dibangun atas swadaya masyarakat, meskipun kondisi fisiknya belum memenuhi standar kantor kelurahan. Kemudian, pada tanggal 1 Agustus 1990, berdasarkan Instruksi Walikota Jakarta Pusat Nomor 1966 Tahun 1990, Kantor Kelurahan dipindahkan ke gedung baru di Jalan Kampung Bali V No. 8. Perpindahan ini dilakukan agar kantor memenuhi standar pelayanan administrasi publik dan agar dapat melayani masyarakat dengan lebih baik.
Selain fungsi administratif, Kantor Kelurahan Kampung Bali menjadi pusat kegiatan sosial dan pembangunan lingkungan. Dalam sejarahnya, wilayah kelurahan ini juga termasuk dalam proyek peremajaan lingkungan berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 820 Tahun 1986 yang menetapkan penguasaan tanah rawan kumuh di Tanah Abang seluas ±40 hektar untuk ditata ulang. Peremajaan ini mulai berjalan sejak tahun 1983, dan secara bertahap menghasilkan lingkungan fisik yang lebih tertata, pengurangan permukiman kumuh, dan peningkatan fasilitas publik di sekitarnya, termasuk kantor kelurahan, jalan, dan fasilitas umum lainnya.
(Sumber: situs resmi Kelurahan/Kecamatan Jakarta Pusat — Profil & Sejarah Kelurahan Kampung Bali; artikel “Asal Usul Nama Kampung Bali” di Historia.id)
Silat Harimau Minangkabau, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Silat Harimau Minangkabau berasal dari Agam, Sumatera Barat, khususnya dari suku Sikumbang di daerah Balingka. Ilmu bela diri ini sudah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun dan dulu hanya diajarkan dalam garis keturunan keluarga tertentu. Gerakannya terinspirasi dari perilaku dan kelincahan harimau, dengan teknik khas seperti serangan rendah, kuncian, dan cakar.
Perkembangan Silat Harimau memasuki babak baru pada tahun 2006 ketika Edwel Dt. Rajo Gampo Alam mendirikan Perguruan Silat Harimau Minangkabau. Langkah ini menjadikan ilmu yang sebelumnya eksklusif bisa dipelajari oleh masyarakat luas. Perguruan ini mulai membuka sasaran di berbagai daerah termasuk di Jakarta, sehingga tradisi ini tetap hidup di perantauan.
Di Jakarta Pusat, sasaran Silat Harimau hadir di beberapa lokasi, salah satunya di wilayah Kampung Bali, Tanah Abang. Sasaran ini menjadi tempat bagi generasi muda Minangkabau dan masyarakat umum untuk mengenal kembali warisan budaya leluhur. Keberadaan sasaran ini juga menjadi bukti bagaimana tradisi dari Sumatera Barat mampu bertahan dan berkembang di tengah kehidupan kota besar.
Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Polsek Metro Tanah Abang, yang meliputi wilayah Kelurahan Kampung Bali, merupakan bagian dari struktur Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya). Polda Metro Jaya memiliki status A+ (A Khusus) karena perannya dalam menjaga keamanan dan ketertiban di ibu kota negara, Jakarta . Sebagai unit pelaksana tugas Polda Metro Jaya, Polsek Metro Tanah Abang bertanggung jawab atas wilayah hukum yang mencakup Kelurahan Kampung Bali.
Di Kelurahan Kampung Bali, Polsek Metro Tanah Abang aktif melakukan berbagai kegiatan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Misalnya, pada 13 Agustus 2025, Kasubnit Binpolmas Ipda Gapar bersama Bhabinkamtibmas Aipda Beny Hidayat melaksanakan kegiatan sambang dan cooling system di wilayah RW 03, Jalan Tanah Rendah Seberang I, Kelurahan Kampung Bali. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat keamanan lingkungan dan meredam potensi konflik sosial menjelang dinamika sosial dan politik yang berkembang di masyarakat .
Selain itu, Polsek Metro Tanah Abang juga terlibat dalam berbagai upaya preventif dan edukatif di Kelurahan Kampung Bali. Misalnya, Bhabinkamtibmas memberikan penyuluhan kepada siswa baru dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran hukum dan membangun hubungan yang lebih dekat antara polisi dan masyarakat, khususnya generasi muda .
Gang Warna-Warni Kampung Bali, Jakarta Pusat.
Sumber: Survei tim Triventa
Sumber: Survei tim Triven
Gang Warna-Warni di Kampung Bali muncul sebagai inisiatif warga dan pemerintah kelurahan pada awal Desember 2022. Kegiatan ini dilakukan di gang pinggir kali di Kampung Bali, Tanah Abang, dengan pengecatan dinding rumah, pagar pembatas, dan bibir kali menggunakan warna-warna cerah. Tujuannya untuk memperindah lingkungan, meningkatkan kebersihan visual, dan menumbuhkan rasa kepedulian bersama terhadap estetika pemukiman.
Selain pengecatan, warga juga membangun pojok baca sederhana di salah satu sudut gang. Pojok baca ini menyediakan buku-buku untuk anak-anak dan remaja, sekaligus menjadi tempat belajar dan berkumpul bagi masyarakat sekitar. Kehadiran pojok baca meningkatkan nilai edukasi di lingkungan tersebut dan mendorong minat baca generasi muda sekaligus memperkuat kebersamaan antarwarga.
Sejak digagas, Gang Warna Warni dengan pojok baca ini menjadi simbol perubahan positif di Kampung Bali. Lingkungan yang tadinya terlihat monoton kini tampak lebih hidup dan ramah anak. Meski belum menjadi destinasi wisata formal, keberadaan gang dan pojok baca ini menunjukkan bahwa perbaikan lingkungan dapat dimulai dari upaya sederhana dan kolaborasi warga.