Ibu & Inklusivitas
Oleh : Eva Ariyani Muhadi
Kelas Bunda Produktif Batch #3 Institut Ibu Profesional
Oleh : Eva Ariyani Muhadi
Allah menciptakan makhluk dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Artinya, setiap manusia memiliki kelebihan dalam dirinya. Maka tidak tepat kiranya jika membandingkan seseorang dengan yang lain. Yang harus dimunculkan justru sikap tenggang rasa dan saling memahami. Berupaya memberikan ruang kepada siapapun, untuk berkembang dan belajar sesuai dengan karakteristik dan harapan masing-masing.
Itulah inklusivitas yang tidak memandang salah satu golongan itu lebih unggul dibandingkan yang lain. Lingkungan inklusif akan membuat hubungan antar manusia menjadi lebih ramah. Saling menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing. Saling mendukung tercapainya prestasi individu. Sehingga, terciptalah rasa damai dan harmonis.
Wanita atau ibu adalah sosok yang memegang peran penting dalam menjaga semangat inklusivitas dalam keluarganya. Seperti bagaimana dia mempersiapkan buah hati untuk berkiprah di lingkungan yang lebih luas. Diawali dengan Tak bagaimana ibu menganggap dirinya istimewa. Menyadari potensi dirinya dan mencintai dirinya sendiri sehingga merasakan kebahagiaan berlebih dalam dirinya. Maka ibu tunggal, ibu dengan keterbatasan fisik, ibu dengan keterbatasan mental, ibu dengan anak berkebutuhan khusus, dan kondisi lain seorang wanita, adalah tidak berbeda. Mereka sama-sama memiliki hak untuk berkembang dan dihargai oleh orang di luar dirinya.
Dengan mencintai dirinya, ibu telah memberi teladan bagi anak-anaknya. Agar mereka mau mencintai diri masing-masing. Juga menganggap penting pula untuk menghargai orang lain. Dimana orang lain juga pasti punya keistimewaan sebagaimana dirinya.
Namun sayangnya, kenyataan di lapangan berbeda. Banyak fakta meningkatnya angka KDRT dan perceraian. Begitu pula dengan perundungan dan tidak meratanya pendidikan serta hal miris lainnya.
Lingkungan inklusif menjadi semakin semu. Meskipun telah dicanangkan program peduli disabilitas. Namun permasalahan dari dasar belum beres. Yaitu bagaimana tiap-tiap manusia membekali dirinya untuk tidak mengkotak-kotak lingkungan.
Untuk itulah, butuh langkah praktis yang bisa dilakukan dari rumah. Ibu sebagai pembentuk karakter keluarga, butuh menciptakan lingkungan inklusif. Yaitu sikap saling menghargai satu sama lain. Yuk Ibu, dengan penuh kesadaran, mari kita lakukan dengan hati yang bahagia!
1. Memahami sudut pandang yang berbeda
Dengan memahami bahwa tidak ada yang sama di muka bumi ini, kita senantiasa berfikir dari berbagai sudut dalam menyikapi sebuah permasalahan. Yaitu saat kita berhubungan dengan orang lain. Tiap orang pasti punya pandangan dan pendapat yang bisa jadi berbeda dari kita. Jadi kita harus terus melatihkan sikap mau berfikir dan merasakan lebih lama, bahwa orang lain tidak sama dengan kita.
2. Percaya bahwa semua orang terlahir dengan derajat yang sama
Setiap bayi yang lahir adalah selembar kertas putih. Allah menciptakan mereka sama dalam hal hak dan kewajiban ilahiyah. Tinggal bagaimana kemudian orang tuanya menjadikan mereka berbeda dalam kehidupan. Jadi manusia sebenarnya memiliki derajat yang sama. Sama- sama memiliki hak untuk dihargai dan dihormati. Walaupun di masa dewasa mereka berbeda pekerjaan dan status sosial
3. Mencoba memahami latar belakang setiap orang
Setiap manusia tumbuh diiringi dengan berbagai faktor dalam hidupnya. Seperti pola asuh, kondisi perekonomian, lingkungan, bahkan oleh apa yang dibaca dan dipelajarinya, serta lainnya juga. Semua faktor ini membentuk laku dan fikirnya dari hari ke hari. Karena tidak ada yang sama dengan orang lain, ini menyebabkan manusia berbeda satu sama lain. Sehingga wajib kiranya rasa saling menghargai atas perbedaan faktor-faktor pembentuk diri dan sikap setiap orang.
4. Percaya bahwa semua orang 'Sempurna' pada dirinya
Sekali lagi, manusia diciptakan dengan kondisi yang terbaik. Allah telah membekali dengan potensi masing-masing untuk bisa diasah supaya jadi unggul di kemudian hari. Tidak bijak kiranya membandingkan satu orang dengan lainnya. Sebab membandingkan sesuatu yang jelas berbeda itu percuma. Toh mereka memiliki keunggulan sendiri-sendiri yang juga diikuti oleh kekurangan masing-masing. Tidak bisa dibandingkan.
5. Berusaha memahami dan mencintai diri
Yang satu ini sering terlupakan. Di dalam derasnya usaha melakukan banyak hal untuk orang lain, kadang kita lupa mengurus diri sendiri. Mengabaikan kebahagiaan pribadi, seolah bisa menjadikan lebih bermanfaat untuk orang lain.
Padahal sebaliknya. Kebahagiaan dalam diri yang membuncah, akan menjalar ke orang lain tanpa diminta.
Begitu pula saat kita sudah kenal dan paham pada diri sendiri, akan mudah bagi kita mengambil langkah untuk memaksimalkan potensi. Secara mandiri mengatasi kekurangan diri dan memaksimalkan kelebihan diri.
Lingkungan inklusif sangat didamba untuk masyarakat yang harmonis. Karena itu perlu peran kita bersama dalam mewujudkannya. Langkah praktis bisa dimulai dari lingkup keluarga. Dengan mempersiapkan pemahaman dan sikap seorang ibu. Untuk kemudian bisa ditularkan pada buah hati dan anggota keluarga lainnya.