7 SURAT IGNATIUS DARI ANTIOKHIA
7 SURAT IGNATIUS DARI ANTIOKHIA
Apostolic Fathers, Lightfoot & Harmer, 1891, Translation.
IGNATIUS DARI ANTIOKHIA
Peringatan Gereja Orthodox: 2 Januari [kalender sipil] / 20 Desember [kalender Julian]
Hieromartir Kudus Ignatius Pembawa-Allah lahir di Siria dan merupakan murid Rasul Yohanes Sang Teolog, sama seperti sahabatnya, Polikarpus Uskup Smirna. Eusebius dalam Historia Ecclesiastica mencatat Ignatius sebagai uskup ketiga Antiokhia setelah Rasul Petrus dan Evodius. Ketika masih kanak-kanak, Sang Juruselamat sendiri menaruhnya di tengah para Rasul, memberkatinya, dan bersabda bahwa jika seseorang tidak menjadi seperti anak kecil itu, ia tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Sebagai uskup, Ignatius menetapkan kidungan antifon dalam ibadah berdasarkan penglihatan para malaikat yang memuliakan Allah dalam dua kelompok secara berbalas-balasan, sebuah warisan liturgis yang bertahan hingga kini.
Sekitar tahun 106 M, Kaisar Trajan memerintahkan penyembahan kepada ilah-ilah kafir di seluruh kekaisaran dan menjatuhkan hukuman mati bagi orang Kristen yang menolak. Pada tahun 107 M, ketika Trajan melintasi Antiokhia dalam pergerakan militernya, Uskup Ignatius diadukan oleh orang-orang kafir. Demi melindungi jemaatnya dari penganiayaan, Ignatius secara sukarela menghadap kaisar. Ia dengan tegas menolak meninggalkan Kristus dan menyembah berhala.
Ia pun dijatuhi hukuman untuk dikirim ke Roma dan dihabisi oleh binatang buas di amfiteater. Perjalanan panjangnya sebagai terhukum dari Antiokhia ke Roma membawanya melintasi berbagai gereja di Asia Kecil. Di Smirna ia bertemu kembali dengan sahabatnya Polikarpus, dan para klerus serta umat dari kota-kota lain datang menemuinya. Ignatius menasihati mereka agar tidak takut pada kematian dan tidak berduka untuknya.
Setibanya di Roma, umat Kristen menyambutnya dengan sukacita dan duka yang mendalam. Beberapa di antaranya berusaha mencari cara untuk meringankan atau membatalkan hukumannya, namun Ignatius memohon agar mereka tidak melakukannya karena ia mendambakan mahkota kemartiran.
Pada hari raya kafir, Ignatius digiring ke arena. Sepanjang waktu ia tak henti-hentinya mengulangi Nama Yesus Kristus. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa Nama itu terukir di dalam hatinya. Singa-singa menerkam dan mengoyak-ngoyak tubuhnya, tetapi hatinya tidak tersentuh. Setelah ia wafat, orang-orang kafir membelah hatinya dan mendapati Nama Yesus Kristus tertulis dalam huruf-huruf emas di dalamnya. Malam harinya, Ignatius menampakkan diri kepada banyak orang Kristen dalam mimpi untuk menguatkan mereka, dan sebagian lagi menyaksikannya dalam penglihatan sedang berdoa.
Mendengar keberanian Ignatius, Kaisar Trajan merasa kagum dan menghentikan penganiayaan terhadap umat Kristen. Relikwi sang martir kemudian dipindahkan ke Antiokhia, dan kelak dikembalikan dengan penuh kemuliaan untuk ditaruh di sebuah gereja yang dinamai menurut nama Hieromartir Kudus Klemens dari Roma.
Sumber: Synaxarion Gereja Orthodox Indonesia
KETERANGAN DARI SURAT-SURAT IGNATIUS
Surat-surat (epistel) Ignatius merupakan salah satu dokumen paling terkenal dari masa Kekristenan awal, dan memiliki sejarah sastra yang rumit sekaligus menarik. Eusebius dalam bukunya [Historia Ecclesiastica, Buku III, Pasal 36] menuturkan bahwa selama perhentian di Smirna, Ignatius menulis surat kepada gereja di Efesus, Magnesia, Tralles, dan Roma; kemudian setelah tiba di Troas, ia menulis kepada jemaat di Filadelfia, Smirna, dan kepada Polikarpus, uskup Smirna. Eusebius menetapkan tahun kemartirannya pada 108 M, dan meskipun para kritikus modern tidak sepenuhnya sepakat, ada kecenderungan kuat untuk menerima bahwa Ignatius martir di Roma pada masa pemerintahan Trajan [98-117 M].
TUJUAN DARI SURAT-SURAT
Tujuan langsung dari setiap surat (kecuali kepada jemaat Roma) adalah untuk mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang telah ditunjukkan kepada Ignatius.
Surat kepada gereja Roma secara unik bertujuan mencegah mereka mencampuri proses hukumannya, karena ia tidak ingin kehilangan mahkota kemartiran.
Selain itu, tiga motif lain menjiwai surat-suratnya:
Memperkuat penghormatan terhadap uskup dan para presbiter, dengan memberikan wewenang ilahi penuh pada organisasi gerejawi.
Memprotes ajaran sesat doketisme (yang menganggap penderitaan Yesus hanyalah penampakan) serta kecenderungan pada praktik Yudaistik.
Membujuk jemaat-jemaat lain untuk mengirimkan pembantu demi masa depan jemaat di Antiokhia.
TIGA REFERENSI SURAT IGNATIUS
Resensi Panjang
Berisi tiga belas surat: tujuh surat yang disebut oleh Eusebius, ditambah enam surat lainnya (termasuk korespondensi dengan Maria dari Kasobola, surat-surat dari Filipi, Tarsus, Antiokhia, dan Hero), serta lampiran surat dari/ke St. Yohanes dan Perawan Maria dalam versi Latin Grosseteste. Susunan kronologisnya: dari Antiokhia, Smirna, Troas, Filipi, dan Italia.
Resensi Pendek
Hanya memuat tujuh surat Eusebian, dan diakui lebih awal sebagai bentuk yang lebih murni. Naskah-naskahnya tidak sepenuhnya murni karena telah tercampur dengan materi resensi panjang, namun kelas naskah tertentu melestarikan teks tujuh surat asli tanpa interpolasi sehingga dapat digunakan untuk merekonstruksi teks aslinya.
Dari Smirna ada [4 surat yang dikirim]
Efesus
Magnesia
Tralles
Roma
Dari Troas ada [3 surat yang dikirim]
Filadelfia
Smirna
Polikarpus [individu]
Ringkasan Suryani
Ditemukan oleh Dr. Cureton pada tahun 1845, hanya memuat tiga surat [Efesus, Roma, dan Polikarpus] dalam versi ringkas dari teks Suryani resensi pendek. Kini hanya bernilai sebagai bukti tambahan untuk rekonstruksi teks resensi pendek.
Sumber: Kirsopp Lake's The Apostolic Fathers [published London 1912]