Ketika kita membahas perjuangan kemerdekaan Indonesia, seringkali kita fokus pada perlawanan melawan penjajahan Belanda. Namun, ada periode penting dalam sejarah Indonesia yang kadang terlupakan: masa penjajahan Jepang selama Perang Dunia II. Di masa ini, bangsa Indonesia telah melakukan berbagai upaya untuk menanggapi kebijakan Jepang. Bagaimana sikap kaum pergerakan terhadap penjajahan yang dilakukan Jepang? Artikel ini akan mengungkapnya secara mendalam.
Saat Jepang datang sebagai penjajah baru, tokoh-tokoh perjuangan Indonesia seperti Sukarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan K.H. Mas Mansyur menghadapi dilema besar. Mereka menyadari bahwa Jepang adalah penjajah baru yang menggantikan Belanda. Namun, mereka juga cerdas dalam memanfaatkan situasi ini sebagai "batu loncatan" untuk meraih kemerdekaan Indonesia.
Kaum pergerakan tidak membiarkan propaganda Jepang memengaruhi mereka begitu saja. Mereka tidak mudah percaya dan segera menyadari bahwa Jepang juga merupakan penjajah. Namun, mereka mengambil langkah diplomatik dengan memanfaatkan organisasi-organisasi bentukan Jepang, seperti Putera, sebagai sarana komunikasi dengan rakyat. Mereka menggunakan hal ini untuk mempromosikan nasionalisme dan semangat kemerdekaan. Dengan kata lain, mereka menjadikan organisasi-organisasi ini sebagai alat diplomasi untuk menggerakkan masyarakat.
Dalam sejarah, seringkali kelompok ini disebut kolaborator karena kerja sama mereka dengan penjajah. Namun, sebenarnya, ini adalah salah satu bentuk perjuangan yang cerdik. Putera, yang awalnya dianggap sebagai alat Jepang, justru diubah menjadi ajang kampanye nasionalisme oleh para pemuda Indonesia. Pemerintah Jepang menyadari hal ini dan akhirnya membubarkan Putera dan menggantikannya dengan Barisan Pelopor, yang juga terus mengampanyekan perjuangan kemerdekaan.
Masa pendudukan Jepang di Indonesia juga melibatkan larangan berdirinya partai politik, yang mendorong sebagian tokoh perjuangan untuk menjalankan gerakan bawah tanah. Gerakan ini dilakukan melalui kegiatan-kegiatan tidak resmi, tanpa sepengetahuan Jepang. Kaum pergerakan beroperasi secara rahasia, terus melakukan konsolidasi untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
Tempat-tempat strategis, seperti asrama pemuda, menjadi markas rahasia untuk melakukan pertemuan dan penggalangan semangat kemerdekaan. Para tokoh pergerakan menggunakan metode ini untuk merancang rencana dan memantau perkembangan Perang Pasifik melalui radio bawah tanah. Pada saat itu, Jepang melarang bangsa Indonesia memiliki pesawat komunikasi, sehingga radio bawah tanah menjadi saluran vital untuk berita dan informasi.
Para tokoh yang terlibat dalam gerakan bawah tanah, seperti Sutan Sjahrir, Achmad Subarjo, Sukarni, A. Maramis, Wikana, Chairul Saleh, dan Amir Syarifuddin, adalah individu yang tegas dalam perjuangan mereka. Mereka sering disebut sebagai golongan radikal atau keras karena mereka tidak mengenal kompromi dengan Jepang. Gerakan bawah tanah adalah bukti keteguhan hati kaum pergerakan dalam mencapai kemerdekaan, meskipun harus beroperasi dalam keadaan yang penuh risiko.
Selain perjuangan diplomatis dan gerakan bawah tanah, ada juga upaya perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh bangsa Indonesia selama masa pendudukan Jepang. Ini adalah bentuk perlawanan langsung terhadap penjajah baru. Beberapa contoh perlawanan bersenjata yang patut dicontohkan adalah:
Perlawanan Rakyat Aceh: Pada tanggal 10 November 1942, seorang ulama bernama Tengku Abdul Djalil di Cot Plieng Aceh melakukan perlawanan terhadap peraturan-peraturan Jepang. Meskipun berakhir tragis dengan kematian Tengku Abdul Djalil, perlawanannya menjadi tanda bahwa beberapa individu bersedia mengorbankan segalanya demi kemerdekaan.
Perlawanan Singaparna, Jawa Barat: Dipelopori oleh K.H. Zainal Mustofa, perlawanan ini meletus pada tanggal 24 Februari 1944, sebagai bentuk penentangan terhadap seikerei, yaitu menghormati Kaisar Jepang. Kiai Haji Zainal Mustofa dan beberapa pengikutnya ditangkap Jepang dan dihukum mati. Ini adalah contoh nyata bahwa beberapa tokoh perjuangan Indonesia lebih memilih mati daripada hidup dalam penindasan.
Perlawanan Indramayu, Jawa Barat: Pada bulan Juli 1944, rakyat di Lohbener dan Sindang di Indramayu memberontak terhadap Jepang. Para petani yang dipimpin oleh H. Madrian menolak pungutan padi yang terlalu tinggi. Meskipun akhirnya perlawanan mereka dipadamkan oleh Jepang, perlawanan ini menunjukkan keberanian rakyat Indonesia untuk berjuang meskipun dalam situasi yang sulit.
Perlawanan PETA di Blitar, Jawa Timur: Perlawanan PETA merupakan salah satu perlawanan terbesar yang dilakukan rakyat Indonesia selama pendudukan Jepang. Perlawanan ini dipimpin oleh Supriyadi, seorang Shodanco (Komandan pleton). Pada tanggal 14 Februari 1945, perlawanan dipadamkan Jepang karena persiapan mereka kurang matang. Para pejuang PETA yang berhasil ditangkap kemudian diadili di mahkamah militer di Jakarta. Beberapa di antaranya dihukum mati, seperti dr. Ismail, Muradi, Suparyono, Halir Mangkudidjaya, Sunanto, dan Sudarmo. Supriyadi, sebagai pemimpin perlawanan, tidak diketahui nasibnya, tetapi kemungkinan besar dia berhasil ditangkap dan dihukum mati sebelum diadili.
Mengakhiri penjajahan Jepang adalah bagian penting dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia. Kaum pergerakan melakukan berbagai tindakan, baik diplomatis, gerakan bawah tanah, maupun perlawanan bersenjata, untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka tidak hanya bersikap pasif terhadap penjajahan Jepang, tetapi terus berjuang untuk mempersiapkan diri menghadapi situasi pasca-penjajahan Jepang.
Kebijakan Jepang yang semakin merosot di kancah Perang Dunia II membuka peluang bagi bangsa Indonesia untuk menyusun rencana kemerdekaan. Dalam proses ini, kaum pergerakan memainkan peran kunci. Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pun diumumkan oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945.
Bagaimana sikap kaum pergerakan terhadap penjajahan yang dilakukan Jepang? Mereka menjalani masa yang penuh dengan dilema, tantangan, dan risiko. Mereka tidak hanya bersikap pasif terhadap penjajahan Jepang, tetapi dengan cerdik menggunakan semua sumber daya yang ada untuk memajukan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Diplomasi, gerakan bawah tanah, dan perlawanan bersenjata menjadi instrumen perjuangan yang mereka manfaatkan.
Perjuangan ini tidak hanya mencerminkan keteguhan hati mereka, tetapi juga komitmen mereka terhadap cita-cita kemerdekaan. Masa penjajahan Jepang adalah salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia yang menunjukkan kekuatan dan tekad rakyat Indonesia untuk meraih kemerdekaan mereka. Artikel ini hanya sebagian kecil dari kisah panjang perjuangan bangsa Indonesia, dan merupakan penghormatan kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk Indonesia merdeka.