Anak dengan hambatan pendengaran, atau yang dikenal sebagai tunarungu, termasuk ke dalam kelompok Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang memerlukan dukungan pendidikan, komunikasi, dan sosial yang sesuai. Gangguan pendengaran bisa bersifat sebagian (hard-of-hearing) atau total (tuli), dan dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam menerima informasi melalui suara. Karena itu, selain metode komunikasi alternatif seperti bahasa isyarat, tulisan, atau membaca bibir, penggunaan alat bantu dengar juga penting.
Di sekolah khusus seperti Sekolah Luar Biasa (SLB), sistem pembelajaran harus disesuaikan agar anak tunarungu dapat belajar dengan optimal. Beberapa pengarahan untuk SLB antara lain:
Kurikulum yang Disesuaikan dan Setara
Kurikulum di SLB bagi anak tunarungu perlu disesuaikan dari segi metode dan media pengajaran, tapi tetap setara dalam kompetensi dan tujuan akhir pendidikan dengan sekolah reguler. Materi pelajaran harus dirancang agar bisa diakses melalui bahasa isyarat, teks, gambar, serta alat visual lainnya. indonesiadevelopmentforum.com
Penggunaan Bahasa Isyarat sebagai Bahasa Pengantar
SLB harus menyediakan pengajar yang mampu menggunakan bahasa isyarat (bahasa isyarat Indonesia atau bahasa isyarat lokal) sebagai bahasa pengantar, sehingga anak tunarungu bisa memahami materi secara maksimal. Jika memungkinkan, pendekatan dwibahasa (bahasa isyarat + bahasa lisan/tertulis) sangat dianjurkan agar anak memiliki kecakapan ganda.
Fasilitas dan Alat Bantu
Alat bantu dengar dan perangkat bantu teknologi seperti FM system, sound field, atau sistem amplifikasi suara agar suara guru sampai dengan jelas pada siswa.
Ruangan kelas yang dirancang agar minim kebisingan latar belakang dan pencahayaan mendukung sehingga anak bisa melihat bibir guru, ekspresi wajah, dan gerakan bahasa tubuh.
Media visual: gambar, video dengan teks, alat peraga, dan materi cetak ditampilkan dengan ukuran dan kontras yang memadai.
Pelatihan dan Kompetensi Guru
Guru SLB harus terlatih khusus dalam pengajaran anak tunarungu: memahami aspek linguistik bahasa isyarat, strategi pengajaran yang inklusif, penggunaan alat bantu pendengaran, serta memahami tantangan psikologis dan sosial yang dialami siswa.
Pendekatan Individual dan Kolaboratif
Penerapan IEP (Individualized Education Program) yang merinci kebutuhan unik masing-masing siswa tunarungu, termasuk gaya belajar, kemampuan bahasa, dan kecepatan belajar.
Kolaborasi antara guru, tenaga ahli (terapis wicara, audiolog, psikolog), orang tua, dan siswa untuk merumuskan rencana belajar dan evaluasi berkala.
Lingkungan Sekolah yang Inklusif dan Mendukung
Membina budaya sekolah yang menghormati perbedaan, mengurangi stigma, dan mempromosikan interaksi sosial antara siswa tunarungu dengan teman sebaya yang tidak tunarungu.
Menyediakan ruang istirahat atau ruang tenang agar siswa bisa mengatur kelelahan yang bisa muncul akibat usaha mendengar atau berkomunikasi.
Dengan pengaturan yang tepat di SLB, mulai dari kurikulum, metode pengajaran, fasilitas, hingga dukungan emosional dan sosial anak tunarungu dapat meraih perkembangan bahasa, kognisi, dan sosial yang optimal. Sehingga mereka memiliki akses yang adil terhadap pendidikan dan dapat berkontribusi sepenuhnya dalam masyarakat.
Deaf-friendly teaching for education professionals — panduan praktis tentang bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang mendukung anak-anak tunarungu, termasuk penggunaan visual, pengaturan kelas, dan strategi komunikasi. ndcs.org.uk
The implementation of inclusion services and social interaction for deaf students at Perwira Bogor city elementary public school — studi kasus di sekolah umum di Bogor tentang bagaimana layanan inklusi dan interaksi sosial diterapkan untuk siswa tunarungu. UAD Journals
Teacher’s Strategies in Teaching English to Deaf Students in A Special School Sorong — penelitian tentang strategi pengajaran guru Bahasa Inggris di SLB yang melayani siswa tunarungu, menunjukkan adaptasi metode dan media agar materi lebih mudah diserap. UIAD Sinjai Journal