Rubrik ini di isi oleh : Herlina, S. Psi
Setiap anak diciptakan unik. Namun sering kali, anak berkebutuhan khusus (ABK) masih dianggap “berbeda” dalam arti yang salah. Padahal, mereka hanya membutuhkan cara yang berbeda untuk mengungkapkan diri dan belajar.
Sebagai guru, orang tua, atau masyarakat umum, kita butuh lebih dari sekadar niat baik. Kita perlu hati yang sabar dan ilmu yang cukup, agar bisa menjadi pendamping yang benar-benar memahami.
Disabilitas intelektual ringan adalah kondisi ketika anak mengalami keterlambatan dalam berpikir, memahami informasi, atau menyelesaikan tugas dibanding anak seusianya.
Namun bukan berarti mereka tidak bisa belajar. Mereka tetap bisa—dengan pendekatan yang tepat, ritme yang lebih lambat, dan dukungan emosional yang konsisten.
Anak dengan kondisi ini biasanya:
Dapat berbicara dan berinteraksi sosial, namun kadang kesulitan memahami instruksi yang panjang
Mampu belajar membaca, menulis, berhitung, tetapi butuh waktu dan pengulangan lebih banyak.
Sering bingung dalam situasi sosial atau perubahan mendadak.
Bukan gelar, bukan jabatan. Yang paling dibutuhkan anak ABK adalah pendamping yang hadir dengan empati dan kesabaran.
Beberapa hal yang bisa dilakukan:
Dengarkan, bukan hanya arahkan. Kadang mereka tak bisa berkata-kata, tapi mereka memberi sinyal lewat ekspresi atau gerakan.
Gunakan bahasa sederhana dan visual. Ulangi instruksi perlahan, dan beri contoh langsung.
Berikan waktu. Tidak semua anak bisa langsung paham. Kadang butuh lima kali ulangan untuk satu hal kecil. Tapi jika kita sabar, hasilnya akan sangat berharga.
Rayakan kemajuan sekecil apa pun. Mampu menyebut nama sendiri, memakai sepatu sendiri, atau berani menyapa orang lain—semua itu layak dirayakan.
Bayangkan diminta menyelesaikan soal rumit saat kita sedang lapar dan kelelahan. Kita bisa frustrasi. Begitu pula anak ABK.
Ketika mereka dipaksa memahami pelajaran yang belum siap mereka terima, tubuh mereka bisa menunjukkan tanda stres: menangis, marah, diam, atau bahkan menolak masuk sekolah.
Yang mereka butuhkan bukan tekanan, tapi dukungan ritme.
Belajar bisa sambil bermain.
Hafalan bisa lewat lagu.
Pengulangan bisa jadi rutinitas yang menyenangkan.
Belajar tidak harus selalu lewat buku. Bisa lewat memasak, menyiram tanaman, atau menyusun balok. Yang penting: mereka merasa dicintai dan diterima dalam prosesnya.
Memahami anak berkebutuhan khusus tidak cukup dengan mata. Perlu hati untuk merasa, dan ilmu untuk menuntun. Dengan itu, kita bisa menciptakan ruang aman bagi mereka untuk tumbuh, berkembang, dan merasa berharga. Karena sejatinya, mereka tidak tertinggal—mereka hanya tumbuh di jalan yang berbeda. Dan kita ada di sini untuk menemani langkah mereka, dengan cinta yang tidak tergesa.
Perlindungan anak penyandang disabilitas bukan hanya soal memberi bantuan, tapi tentang memastikan setiap anak punya kesempatan yang sama untuk tumbuh dan bersuara. Dalam dunia psikologi perkembangan, kita tahu bahwa setiap anak apa pun kondisinya punya potensi unik yang bisa berkembang ketika lingkungannya aman, diterima, dan suportif. Karena itu, menciptakan ruang partisipasi dan kesetaraan bukan sekadar slogan, tapi kebutuhan nyata untuk masa depan mereka.
Anak-anak penyandang disabilitas sering dipandang dari sisi kelemahannya, padahal mereka punya banyak kekuatan yang kadang tidak muncul karena lingkungannya belum ramah. Saat kita memberi mereka ruang untuk mencoba, berpendapat, memilih, atau bahkan membuat kesalahan, sebenarnya kita sedang membangun fondasi kemandirian. Prinsipnya sederhana: anak yang merasa dihargai akan lebih mudah membangun rasa percaya diri, kemampuan sosial, dan keberanian untuk belajar hal baru.
Kesetaraan bukan berarti semua diperlakukan sama, tapi setiap anak diberi apa yang dibutuhkannya agar bisa berkembang secara optimal. Ada yang butuh komunikasi alternatif, ada yang perlu lingkungan belajar yang lebih terstruktur, ada yang perlu waktu ekstra untuk mengolah informasi. Di sinilah peran kita- guru, orang tua, pendamping, dan masyarakat untuk memastikan kebutuhan itu terpenuhi tanpa stigma.
Ruang partisipasi juga penting. Anak penyandang disabilitas punya hak untuk didengar, terlibat dalam keputusan tentang dirinya, dan ikut serta dalam kegiatan sosial. Ketika mereka diberikan kesempatan untuk berpartisipasi, bukan hanya kemampuan mereka yang berkembang, tetapi juga rasa identitas dan harga diri. Mereka merasa “dianggap”, bukan “dititipi”.
Pada akhirnya, masa depan mandiri bagi anak-anak penyandang disabilitas bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia terbentuk dari interaksi positif yang mereka dapatkan setiap hari: lingkungan yang aman, dukungan emosional, kesempatan untuk mencoba, dan penghargaan terhadap keberadaannya. Saat kita bergerak bersama, menciptakan ruang yang inklusif dan setara, kita sedang membuka jalan bagi generasi anak-anak disabilitas yang berani, percaya diri, dan mampu menentukan masa depannya sendiri.
Karena setiap anak berhak tumbuh dengan martabat, setiap suara layak didengar, dan setiap potensi layak mendapatkan tempat untuk berkembang. Mari bersama wujudkan ruang yang benar-benar menerima, mendukung, dan membesarkan kemandirian mereka.
Oleh : Herlina, S. Psi
Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki dunia yang kaya di dalam dirinya—penuh rasa, tanggapan, dan reaksi terhadap lingkungan sekitar. Tapi sering kali, mereka tidak bisa menjelaskan perasaan mereka dengan kata-kata seperti anak-anak lain seusianya.
Bukan berarti mereka tidak merasakan.
Mereka bisa sedih, takut, kecewa, kesal, atau bahagia—namun cara mengekspresikannya bisa sangat berbeda dan sulit dipahami jika kita tidak cukup peka.
Beberapa faktor yang membuat anak-anak ini kesulitan dalam mengekspresikan perasaan:
Keterbatasan bahasa atau komunikasi verbal.
Anak dengan disabilitas intelektual atau autisme mungkin tidak bisa mencari kata yang tepat untuk menjelaskan rasa sakit atau rasa kesal yang mereka alami.
Kebingungan membedakan emosi.
Mereka tahu tubuhnya tidak nyaman, tapi bingung: ini marah? sedih? takut?
Sensitivitas sensorik.
Emosi yang datang bersamaan dengan suara bising, cahaya terang, atau tekanan sosial bisa membuat mereka “shutdown” (menutup diri) atau malah “meluap”.
Alih-alih berkata "aku sedih", anak bisa:
Menangis tiba-tiba tanpa sebab yang jelas
Menolak disentuh atau didekati
Berteriak, melempar barang, atau memukul diri sendiri
Menghindari kontak mata atau menyendiri berjam-jam
Berulang kali melakukan gerakan yang sama (stimming)
Respons ini bukan bentuk kenakalan. Itu cara tubuh mereka berteriak minta dipahami.
Kita bisa bantu mereka mengenali dan mengungkapkan emosi lewat pendekatan yang sederhana namun konsisten:
1. Gunakan Gambar Ekspresi Wajah
Tempel gambar wajah (senang, marah, takut, sedih) di dinding kelas atau rumah.
Tanya: “Sekarang kamu seperti gambar yang mana?”
Ini membantu mereka menunjuk daripada berkata.
2. Gunakan Boneka atau Alat Bantu Cerita
Anak bisa lebih mudah bercerita lewat boneka. Guru atau orang tua bisa berkata:
"Hari ini si boneka sedih karena nggak diajak main. Kamu pernah merasa begitu?"
3. Latih Emosi Lewat Lagu dan Gerak
Lagu seperti “Kalau kau suka hati tepuk tangan...” bisa dimodifikasi untuk mengenalkan emosi lain: marah, takut, bingung, dan lainnya.
Bisa juga ditambah gerakan tubuh untuk menyalurkan energi emosinya.
4. Berikan Waktu dan Pelukan Aman
Kadang anak tidak butuh solusi. Mereka butuh tempat aman untuk merasa. Pelukan, duduk diam di samping, atau sekadar memegang tangan bisa memberi rasa nyaman.
Kita bisa salah tafsir. Marah karena anak melempar mainan, padahal dia hanya takut ditinggal.
Kita bisa kecewa karena anak menghindar, padahal dia hanya bingung harus berkata apa.
Jangan buru-buru memperbaiki anak.
Perbaiki dulu cara kita merespons emosi mereka.
Anak-anak ABK butuh lebih banyak cinta yang tidak menghakimi, dan pendamping yang bisa membaca hati, bukan hanya mendengar kata.
Karena mereka merasakan.
Kadang lebih dalam daripada yang bisa mereka ungkapkan.
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang memiliki kebutuhan belajar, tumbuh, atau bersosialisasi yang berbeda dari anak pada umumnya. Setiap anak memiliki keistimewaan dan tantangan masing-masing. Dengan pemahaman yang tepat, kita bisa lebih bijak dalam mendampingi dan menghargai mereka.
Berikut ini beberapa jenis anak berkebutuhan khusus yang umum dijumpai di sekolah luar biasa (SLB):
Anak dengan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan belajar yang lebih lambat dibanding anak seusianya.
Ciri umum:
Sulit memahami pelajaran kompleks
Perlu pengulangan dan bantuan dalam aktivitas harian
Bisa belajar dengan pendekatan khusus dan penuh kesabaran
Anak yang kesulitan berbicara, mendengar, atau memahami bahasa lisan.
Ciri umum:
Terlambat berbicara atau sulit mengucap kata
Tidak merespon suara dengan normal
Perlu metode komunikasi alternatif, seperti bahasa isyarat atau gambar
Anak yang mengalami gangguan penglihatan, mulai dari rabun berat hingga buta total.
Ciri umum:
Kesulitan membaca tulisan
Mengandalkan sentuhan dan suara untuk belajar
Menggunakan huruf braille atau alat bantu visual
Anak dengan gangguan gerak atau otot, misalnya akibat cerebral palsy, lumpuh, atau kelainan tulang.
Ciri umum:
Kesulitan berjalan, menulis, atau memegang benda
Memerlukan alat bantu seperti kursi roda atau walker
Tetap memiliki kecerdasan yang baik, hanya geraknya yang terbatas
Anak dengan pola pikir dan perilaku unik, serta kesulitan dalam komunikasi sosial.
Ciri umum:
Terlihat seperti tidak peduli dengan sekitar
Memiliki rutinitas yang harus diulang
Bisa sangat sensitif terhadap suara, cahaya, atau sentuhan
Anak yang mengalami gangguan pendengaran sebagian atau total.
Ciri umum:
Tidak merespons suara panggilan
Sering menonton mulut saat orang berbicara
Menggunakan alat bantu dengar atau bahasa isyarat
Anak yang sering mengalami ledakan emosi, kesulitan mengontrol diri, atau menunjukkan perilaku menyimpang.
Ciri umum:
Cepat marah atau sedih tanpa sebab jelas
Menarik diri atau terlalu agresif
Butuh pendampingan psikososial yang berkelanjutan
Setiap anak punya potensi. Tugas kita adalah melihat mereka bukan dari kekurangannya, tapi dari caranya yang unik untuk tumbuh.
Dengan pengetahuan ini, semoga kita semakin siap menjadi pendamping yang penuh pengertian dan kasih.
Catatan Seorang Guru BK dan Terapis Psikologi di SLB Al-Falah Sembayat
Setiap pagi, saat saya melangkah masuk ke gerbang SLB Al-Falah Sembayat, saya disambut oleh tawa, pelukan hangat, atau kadang hanya tatapan penuh makna dari anak-anak yang istimewa. Sebagai seorang guru Bimbingan Konseling sekaligus terapis psikologi, disini saya juga belajar. Belajar memahami dunia yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Di sinilah saya mengenal mereka: anak-anak dengan autisme, Down syndrome, cerebral palsy (CP), dan lainnya. Di mata sebagian orang, mereka dianggap “berkebutuhan khusus”. Namun, di mata saya, mereka adalah anak-anak yang luar biasa dengan potensi yang sering kali terhalang bukan oleh kondisi mereka, melainkan oleh cara kita memandang mereka.
Saya teringat pada Ahmad, seorang anak laki-laki berusia 9 tahun yang memiliki spektrum autisme. Awalnya, Ahmad nyaris tak pernah menatap mata siapa pun. Ia lebih suka duduk menyendiri, menggerak-gerakkan jari di udara, dan kadang menutup telinga saat suasana kelas terlalu ramai.
Bagi yang belum memahami, Ahmad mungkin terlihat ‘tidak sopan’ atau ‘tidak mau bersosialisasi’. Tapi seiring waktu, saya menyadari bahwa Raka sebenarnya sedang berusaha keras, hanya saja dengan cara yang berbeda. Melalui terapi perilaku dan pendekatan yang sabar, Ahmad mulai membuka diri. Kini ia bisa mengenal nama teman-temannya, ikut menyanyi dengan keterbatasan fungsi indera pencecapnya, bahkan tertawa saat mendengar cerita lucu.
Autisme bukanlah penyakit. Ini adalah cara otak yang bekerja dengan pola unik. Mereka bukan tidak bisa bersosialisasi, mereka hanya perlu diajari dengan metode yang sesuai.
Siska (bukan nama sebenarnya) adalah salah satu siswi kami yang paling ceria. Ia memiliki Down syndrome, dengan ciri wajah khas dan pembawaan yang lembut. Tapi jangan salah, di balik senyumnya yang manis, ia sangat gigih.
Siska menyukai lagu, Ia bisa mengingat lirik lagu dengan sangat baik, bahkan sebelum bisa membaca dengan lancar. Kami pun menggunakan lagu-lagu sebagai media pembelajaran. Dengan bernyanyi, Siska belajar membaca suku kata, menebak emosi, dan mengenal angka.
Sayangnya, banyak anak dengan Down syndrome tidak mendapatkan kesempatan seperti Siska karena masyarakat bahkan keluarga sendiri kadang sudah lebih dulu menyerah. Label seperti “tidak bisa”, “kasihan”, atau “malu” sering kali lebih cepat diberikan daripada dukungan.
Reza, anak laki-laki berusia 13 tahun, mengalami cerebral palsy. Gerak tubuhnya terbatas, ia berjalan dengan bantuan alat bantu dulu, dan berbicara dengan artikulasi yang tidak jelas. Tapi orang tua Reza punya semangat besar. Ia rajin membawa Reza untuk terapi dan bersekolah di SLB. Pada perkembangannya, Reza sudah mulai bisa berjalan sendiri tanpa alat bantu, dan mengikuti kegiatan pembelajaran.
Banyak yang mengira anak dengan CP tidak bisa belajar karena fisik mereka lemah. Tapi kenyataannya, CP tidak selalu memengaruhi kemampuan kognitif.
Yang ia butuhkan bukan simpati, tapi akses ke pendidikan, ke alat bantu, ke lingkungan yang menerima dan memahami.
Sayangnya, meskipun zaman terus berkembang, stigma terhadap anak-anak berkebutuhan khusus masih sangat kuat. Banyak orang tua yang ragu menyekolahkan anaknya karena takut dihakimi. Tak sedikit anak-anak kami yang pernah dikucilkan di lingkungan rumah, dianggap “tidak normal”, atau bahkan dijauhi oleh teman sebayanya.
Padahal, pendidikan inklusif bukan hanya soal menyediakan sekolah. Lebih dari itu, ini tentang menciptakan masyarakat yang mampu hidup berdampingan, tanpa prasangka.
Sebagai guru dan terapis, saya sering ditanya: “Apa yang bisa kami lakukan sebagai masyarakat umum?”
Jawaban saya sederhana:
Perlakukan mereka dengan hormat, seperti Anda memperlakukan anak-anak lain.
Jangan menjauh ketika melihat anak dengan perilaku berbeda. Tersenyumlah, beri ruang aman.
Jangan menyebarkan mitos atau label negatif. Belajarlah dari sumber yang benar.
Dukung orang tua mereka. Terkadang, satu kalimat seperti “anakmu luar biasa” bisa menjadi kekuatan untuk satu minggu penuh.
Di SLB Al-Falah Sembayat, setiap hari kami melihat keajaiban. Keajaiban kecil seperti anak yang akhirnya mau bersalaman, bisa mengucapkan “terima kasih”, atau berani tampil di depan kelas. Keajaiban itu terjadi bukan karena mukjizat, tapi karena penerimaan dan pendekatan yang tepat.
Anak-anak ini tidak meminta untuk dilahirkan berbeda. Tapi mereka hadir di dunia ini sebagai pengingat: bahwa keberagaman adalah bagian dari keindahan hidup.
Mereka tidak butuh dikasihani.
Mereka hanya butuh pengertian.
Dan pengertian itu bisa dimulai dari Anda.
Penulis adalah seorang Guru BK dan Terapis Psikologi di SLB Al-Falah Sembayat.
Setiap hari mendampingi anak-anak luar biasa dengan penuh cinta, belajar dari mereka tentang kesabaran, harapan, dan arti sebenarnya dari kata "pendidikan."
Anak dengan gangguan emosi dan perilaku, atau yang dikenal sebagai tunalaras, sering kali menjadi tantangan tersendiri di ruang kelas maupun di lingkungan sosial. Mereka bisa tampak mudah marah, menolak perintah, bertindak impulsif, atau mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan aturan yang berlaku. Namun, di balik perilaku itu, ada dunia batin yang rapuh dan sering kali terluka yang membutuhkan lebih dari sekadar hukuman untuk “menjadi disiplin”.
Menurut American Psychiatric Association (DSM-5, 2013), gangguan emosi dan perilaku mencakup kondisi seperti Oppositional Defiant Disorder (ODD), Conduct Disorder (CD), dan gangguan emosi lainnya yang memengaruhi cara anak bereaksi terhadap stres dan interaksi sosial.
Dalam konteks pendidikan luar biasa di Indonesia, tunalaras mencakup anak yang menunjukkan kesulitan mengontrol emosi dan perilaku hingga mengganggu proses belajar baik bagi dirinya maupun orang lain.
Anak-anak ini bukan “nakal”, melainkan berjuang memahami dan menata emosi mereka sendiri. Maka, mendisiplinkan mereka bukan sekadar menegakkan aturan, melainkan membantu mereka belajar mengatur diri.
Disiplin sering disalahartikan sebagai hukuman. Padahal, akar katanya dari bahasa Latin disciplina berarti “pengajaran” atau “pembelajaran”.
Pada siswa tunalaras, hukuman keras justru dapat memperkuat perilaku negatif karena mereka merespons emosi, bukan logika. Sebaliknya, pendisiplinan yang efektif berfokus pada konsistensi, kejelasan aturan, dan kehangatan dalam penegakan batas.
Contohnya, ketika seorang siswa meluapkan amarahnya dengan melempar benda, yang dibutuhkan bukan bentakan, tetapi:
Menenangkan suasana (memberi waktu “cool down”),
Menyebut perilaku yang tidak boleh dilakukan dengan jelas (“melempar itu berbahaya”),
Dan menawarkan alternatif perilaku yang tepat (“kalau marah, kamu bisa bilang ‘saya kesal’ dulu”).
Pendekatan ini dikenal sebagai “behavioral redirection” mengarahkan ulang tanpa mempermalukan.
(*Sumber: Walker, R. E., & Severson, H. H., 2018. *Effective School Interventions for Emotional and Behavioral Disorders.**)
Sebagian besar perilaku bermasalah muncul karena pemicu tertentu (trigger): rasa ditolak, cemas, lelah, atau frustrasi karena tidak memahami pelajaran. Guru atau orang dewasa perlu belajar membaca pola-pola ini.
Contohnya, seorang anak yang tiba-tiba berteriak saat pelajaran bisa jadi bukan menentang guru, tapi sedang panik karena merasa gagal memahami tugas.
Maka, pendekatan disiplin yang berhasil selalu diawali dengan pemahaman emosi, bukan asumsi tentang niat buruk.
Dalam dunia psikologi perilaku, ini sejalan dengan prinsip Functional Behavioral Assessment (FBA) yaitu mencari fungsi dari perilaku sebelum memutuskan strategi intervensi.
(*Sumber: Sugai, G. & Horner, R., 2021. Schoolwide Positive Behavioral Interventions and Supports (PBIS).)
Anak tunalaras seringkali tidak percaya pada figur otoritas karena pengalaman sebelumnya mungkin sering dimarahi, dibandingkan, atau ditolak. Karena itu, membangun rasa aman menjadi pondasi utama.
Disiplin tanpa relasi hanya akan menimbulkan perlawanan, sedangkan relasi tanpa disiplin membuat anak kehilangan arah.
Kuncinya ada pada konsistensi dan kehadiran emosional. Anak perlu tahu:
“Guru tidak akan membiarkan saya berbuat salah, tapi juga tidak akan meninggalkan saya ketika saya salah.”
Kalimat seperti ini, meski tidak diucapkan secara verbal, akan terbaca oleh anak melalui ekspresi, nada suara, dan cara guru menegur.
Berbeda dari hukuman, penguatan positif (positive reinforcement) lebih efektif dalam membentuk perilaku baru.
Pujian yang spesifik (“kamu bisa menahan diri tadi, bagus sekali”) atau sistem token sederhana dapat menumbuhkan rasa berhasil.
Selain itu, guru atau orang tua dapat mengajarkan strategi regulasi diri, seperti:
Teknik pernapasan,
“Sudut tenang” (tempat khusus untuk menenangkan diri),
Visual schedule (urutan kegiatan yang jelas),
Penggunaan kartu emosi atau skala perasaan.
Pendekatan ini terbukti menurunkan frekuensi perilaku agresif dan meningkatkan keterlibatan belajar.
(*Sumber: Simonsen, B. & Myers, D., 2021. Classroom Management and Positive Behavior Support.)
Mendisiplinkan anak tunalaras tidak hanya tugas sekolah. Masyarakat perlu memahami bahwa perilaku mereka bukan sekadar kenakalan, melainkan bentuk komunikasi yang tidak terlatih. Dukungan sosial bukan stigma sangat membantu proses pemulihan perilaku.
Sementara mahasiswa psikologi perlu melihat bahwa teori perilaku dan emosi tidak hanya berada di ruang kuliah, tapi hidup di ruang kelas: dalam tatapan anak yang mencoba menahan amarah, atau dalam diamnya yang penuh kecemasan.
Intervensi yang manusiawi dimulai dari empati yang terlatih.
Mendisiplinkan siswa tunalaras menuntut keseimbangan antara ketegasan dan kasih sayang. Tujuannya bukan membuat anak patuh, tapi menumbuhkan kemampuan mengatur diri.
Setiap kali kita menegakkan aturan dengan empati, kita sedang membantu anak belajar hal paling sulit dalam hidup mengendalikan diri ketika dunia tidak berjalan sesuai keinginannya.
Tidak mudah memang menerima ini, tapi dengan tekad dan keyakinan, pasti bisa.
Walker, R. E., & Severson, H. H. (2018). Effective School Interventions for Emotional and Behavioral Disorders. Guilford Press.
Sugai, G., & Horner, R. H. (2021). Schoolwide Positive Behavioral Interventions and Supports (PBIS): Implementers’ Blueprint. University of Oregon.
Simonsen, B., & Myers, D. (2021). Classroom Management and Positive Behavior Support: Theory and Practice. Pearson Education.
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed.).
Hidayat, A. (2020). Pendekatan Pendidikan untuk Anak dengan Gangguan Emosi dan Perilaku. Direktorat Pendidikan Khusus, Kemendikbud.
Penulis : Bu Herlina