Sebagai guru BK di Sekolah Luar Biasa, saya sering melihat perjuangan anak-anak dengan cerebral palsy (CP) dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Mereka bukan hanya berjuang dengan keterbatasan gerak tubuh, tetapi juga menghadapi tantangan emosional dan sosial.
Salah satu bentuk dukungan utama bagi mereka adalah fisioterapi, serangkaian latihan untuk melatih otot, gerak, dan keseimbangan tubuh. Namun dari sisi psikologis, keberhasilan terapi ini tidak hanya ditentukan oleh latihan fisik, tetapi juga oleh dukungan emosional dan lingkungan yang positif.
Cerebral palsy terjadi karena gangguan pada otak yang mengatur gerak dan koordinasi tubuh. Anak CP bisa mengalami kekakuan otot (spastik), kelemahan pada salah satu sisi tubuh (hemiplegi), atau kesulitan menjaga keseimbangan.
Sebagai guru BK, saya belajar bahwa setiap anak CP memiliki cerita dan kemampuan yang berbeda. Ada yang aktif dan ceria, ada juga yang mudah cemas atau minder karena merasa “berbeda” dari teman-temannya.
Tugas kita bukan hanya membantu mereka bergerak, tapi juga membantu mereka percaya bahwa mereka mampu.
Fisioterapi membantu anak:
Menguatkan otot dan memperbaiki postur tubuh agar dapat duduk atau berdiri lebih stabil.
Melatih koordinasi dan keseimbangan, misalnya dengan permainan bola atau berjalan di jalur tertentu.
Meningkatkan kemandirian, seperti berpindah tempat atau mengambil benda sendiri.
Saya sering melihat bagaimana setelah beberapa bulan terapi, anak-anak mulai lebih percaya diri. Mereka bangga ketika bisa berdiri lebih lama atau berjalan beberapa langkah tanpa bantuan. Keberhasilan kecil itu penting bukan hanya bagi tubuh mereka, tapi juga bagi kesehatan mental dan harga diri mereka.
Fisioterapi memang fokus pada gerak tubuh, tetapi semangat untuk berlatih muncul dari dukungan sosial dan emosional. Di sinilah peran guru BK dan orang tua menjadi penting.
Beberapa hal yang bisa kita lakukan antara lain:
Berikan motivasi positif setiap kali anak berlatih.
Katakan “Kamu hebat!” atau “Aku bangga kamu mau mencoba lagi.”
Ciptakan suasana bermain dalam latihan.
Anak-anak belajar lebih cepat saat merasa senang.
Libatkan teman sebaya di kelas.
Misalnya dengan permainan kelompok sederhana agar anak CP merasa diterima dan tidak sendirian.
Bangun komunikasi dengan fisioterapis.
Guru BK dapat memantau perkembangan emosi anak selama terapi dan menyampaikan hal-hal penting kepada tim terapi.
Tak jarang, orang tua merasa lelah atau khawatir karena melihat anaknya berjuang. Dan disini peran kita, kita perlu menjadi teman bicara yang menenangkan.
Kita bisa membantu mereka memahami bahwa perkembangan anak CP tidak selalu cepat, tapi setiap kemajuan kecil adalah pencapaian besar. Dukungan emosional keluarga justru menjadi “terapi” yang paling kuat bagi anak.
Fisioterapi dan dukungan psikologis adalah dua hal yang berjalan berdampingan. Fisioterapi menguatkan tubuh anak, sementara bimbingan dan kasih sayang menguatkan hatinya.
Sebagai guru BK di SLB, saya percaya bahwa setiap anak dengan cerebral palsy memiliki potensi. Dengan latihan yang konsisten, lingkungan yang mendukung, dan hati yang penuh kesabaran, mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berani, dan bahagia.
Novak, I. et al. (2013). A systematic review of interventions for children with cerebral palsy. Developmental Medicine & Child Neurology, 55(10), 885–910.
Rosenbaum, P. & Gorter, J. W. (2012). The “F-words” in childhood disability: I swear this is how we should think! Child: Care, Health and Development, 38(4), 457–463.
Damiano, D. L. (2014). Rehabilitation for children with cerebral palsy: Current approaches and future directions. Developmental Medicine & Child Neurology, 56(5), 463–468.