RANGKUMAN MATERI
Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, baik terhadap diri sendiri, oranglain, maupunTuhan. Namun, tidak semua orang bila melakukan kesalahan cepat-cepat meminta maaf atas kesalahannya.
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan orang sulit memaafkan atau juga orang sulit meminta maaf atas kesalahannya, antara lain:
keinginan untuk mempertahankan “harga diri” atau wibawa,
Karena gengsi,
Karena sikap egois dan mau menang sendiri.
Ketidakmampuan memaafkan atau mengampuni dapat berakibat:
Menumbuhkan rasa dendam yang sesungguhnya dapat merugikan diri sendiri.
Bagi orang yang bersalah akan menanggung rasa bersalah secara berkepanjangan.
Menumbuhkan permusuhan dan kebencian.
Ketidakberanian mengakui kesalahan dapat menjadikan hati nurani tumpul sehingga kesalahan apa pun dapat dianggap biasa. Lama kelamaan kesalahan besar pun, termasuk yang merugikan orang lain, akan dianggap biasa pula.
Lewis B. Smedes di dalam bukunya yang berjudul “Mengampuni & Melupakan (Forgive and Forget)” menuliskan bahwa ada empat tahap pemberian maaf, yaitu:
Tahap pertama sakit hati Ketika seseorang secara curang menyebabkan kita sakit hati begitu mendalam sehingga kita tidak dapat melupakannya, maka kita terdorong ke tahap pertama krisis pemberian maaf.
Tahap kedua membenci Kita tidak dapat mengenyahkan ingatan tentang seberapa besar rasa sakit hati dan kita tidak dapat mengharapkan dia baik-baik saja. Kadang kita menginginkan orang yang menyakiti itu juga menderita.
Tahap ketiga menyembuhkan Pada tahap ini, kita diberi sebuah “mata ajaib” untuk melihat orang yang menyakiti hati dengan pandangan baru. Kita disembuhkan, menolak kembali aliran rasa sakit dan bebas kembali.
Tahap keempat berjalan bersama; Pada tahap ini, kita mengundang orang yang pernah menyakiti hati itu memasuki kembali dalam kehidupan kita. Kedatangannya yang tulus membuat kita akan menikmati hubungan yang dipulihkan kembali.
Meminta maaf atau pun memberi pengampunan, sesungguhnya dapat menguntungkan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain terlebih bagi orang yang bersalah.
Tindakan meminta maaf atau pun memaafkan akan menjadikan hati kita tenang, tenteram, damai, jauh dari segala permusuhan dan dendam.
Tindakan memaafkan atau meminta maaf akan menjadikan relasi kita dengan sesama dan dengan Tuhan akan tetap terjalin dengan harmonis dan menyenangkan.
Kepada setiap pendosa yang bertobat, Yesus selalu membukakan pintu maaf dan pengampunan. Yesus bahkan mengajak murid-murid-Nya untuk selalu mengampuni tanpa batas, seperti diungkapkan dalam Matius 18:21-22 yaitu mengampuni bukan hanya sampai tujuh kali tetapi tujuh puluh kali tujuh kali. Kepada perempuan yang berdosa, Yesus tidak mengadili, tetapi memberi kesempatan kepada perempuan tersebut untuk berubah dan tidak melakukan dosa lagi. Yesus memberi kesempatan kepada pendosa itu untuk bertobat.
Bagi Petrus, mengampuni sebanyak 7 (tujuh) kali sudah merupakan perbuatan yang sangat luar biasa, namun Yesus mengajarkan mengampuni tidak hanya tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali. Artinya, Yesus mengajak murid-murid-Nya selalu mengampuni tanpa bilangan dan tanpa batas.
Menurut orang banyak pada zaman Yesus, perempuan yang berzina harus dihukum rajam (dilempari batu sampai mati). Sedangkan Yesus tidak bersikap mengadili, tetapi memberi kesempatan kepada perempuan tersebut untuk bertobat dan tidak melakukan dosa lagi. “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (bdk. Yohanes 8: 2-11).
VIDEO PENJELASAN MATERI