Rumah dengan ketinggian 1,7 meter ini dahulu digunakan sebagai tempat tinggal para raja. Seiring perubahan zaman, rumah ini banyak dibangun sebagai tempat tinggal masyarakat suku Batak. Rumah adat ini kemudian berbentuk rumah panggung, dengan tujuan bagian kolongnya sebagai tempat pemeliharaan hewan seperti kambing atau ayam.
Uniknya dari rumah ini berbentuk rumah panggung, untuk dapat masuk ke rumah adat ini harus menggunakan tangga yang terletak di bagian tengah bangunan, dengan maksud agar tamu yang datang kemudian menunduk atau menghormati sang empunya rumah. Rumah adat Bolon ini memiliki beberapa jenis seperti rumah Bolon Toba, rumah Bolon Pakpak, rumah Bolon Karo, rumah Bolon Simalungun, rumah Bolon Mandailing, hingga rumah Bolon Angkola. Sayangnya, kini jumlahnya berkurang banyak. Sehingga lebih sulit ditemukan.
Jenis-Jenis Rumah Bolon
1.Rumah Adat Karo
Dibandingkan dengan rumah adat lain, rumah ini kemudian termasuk rumah adat paling besar. Tingginya mencapai 12 meter dan dibangun tanpa menggunakan paku, pada setiap bagiannya kemudian dililit menggunakan kayu. Rumah adat Karo atau dikenal juga dengan nama Siwaluh Jabu, atau rumah yang dihuni oleh delapan keluarga dengan perannya tersendiri dalam kehidupan berumah tangga.
Norma-norma adat juga dijaga tetap terjaga. Dapat dilihat dari delapan keluarga yang tinggal ini dipilih berdasarkan kepada keputusan sang pemangku adat setempat.
Suku Mandailing berada di provinsi Sumatera Utara serta berbatasan langsung dengan provinsi Riau. Mandailing yang cukup terkenal dengan wisata alam yang mempesona juga kearifan lokal yang dijaga dengan baik oleh penduduk setempat. Rumah Adat Mandailing juga dapat ditemukan di Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Tapanuli Selatan dan sebagian dari Kabupaten Padang Lawas.
Nama rumah adat Mandailing sendiri adalah Bagas Godang. Bagas yang berarti rumah sementara Godang berarti banyak. Kawasan Mandailing terkenal juga dengan wisata alamnya yang cukup memukau. Rumah Adat Mandailing juga dapat ditemukan di kabupaten Mandailing Natal sebagai bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan dan Padang Lawas.
Rumah adat ini kemudian biasa disebut juga dengan Bagas Godang. Dimana Bagas dalam bahasa mandailing bermakna rumah, sementara godang berarti banyak.
Suku Pakpak hidup di Pakpak Bharat dan distrik Dairi. Kabupaten Pakpak Bharat sendiri kemudian berkembang pesat, bernama Jerro. Bentuk rumahnya umumnya menggunakan tiang juga tangga, bentuknya juga sangat khas sebab terbuat dari kayu dan atap dari bahan ijuk. Bentuk desain rumah selain sebagai wujud budaya dan seni suku Pakpak, pada bagiannya juga memiliki makna tersendiri.
Suku Melayu berada di Kota Medan, Kabupaten Langkat, Kabupaten Serdang Bedagai Kabupaten Batubara, Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Labuhan, Suku Melayu sendiri memiliki peran besar dalam perkembangan Kota Medan sebagai kota terbesar ketiga di Indonesia. Rumah Adat Melayu Deli identik pula dengan penggunaan warna kuning dan hijau.
Sementara pada area dinding dan lantainya terbuat dari atap dan papan yang menggunakan materi ijuk. Rumah Adat Melayu Deli juga memiliki desain yang unik. Kunjungi kawasan Tembung untuk mengamati rumah adat ini secara langsung, selain itu rumah adat ini juga dapat dijumpai di Kecamatan Deli Serdang, Kabupaten Labuhan, Kota Medan, dan Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Batu Bara.
Nias merupakan suku yang mendiami Kepulauan Nias yang juga terkenal sebagai destinasi wisata bahari terbaik di Sumatera. Sebagai ikon pariwisata, Nias banyak dikunjungi karena keindahannya. Tak hanya itu, budaya megalitiknya kemudian diperkirakan tertua di Indonesia. Rumah adat Nias Selatan, Nias Utara, dan Nias Barat hampir serupa hanya berbeda dari bentuk atapnya.
Nama rumah adat Nias diantaranya Omo Sebua. Rumah adat Nias kemudian dinamakan Omo Hada, bentuk rumah ini sendiri sebagai panggung adat masyarakat Nias. Selain itu, terdapat rumah adat Nias dengan desain yang berbeda-beda diantaranya Omo Sebua. Rumah adat ini juga sebagai tempat tinggal bagi para kepala negara (Takenori), bangsawan maupun kepala desa (Salawa). Rumah adat Nias juga dibangun di atas tiang kayu nibung yang tinggi dan besar, serta Rumbia. Bentuk denahnya bulat telu, untuk wilayah Nias Utara, Nias Timur dan Nias Barat.
Rumah adat Angkola ini bangunannya dibuat dari papan kayu untuk lantai dan dinding. Sementara atapnya ada yang dari ijuk dan ada yang menggunakan tanah liat. Rumah adat ini memiliki bentuk yang lebih kotak dengan bagian atap yang besar pada bagian depan, lalu ada atap kecil lainnya di atasnya yang berbentuk segitiga. Rumah adat Angkola juga didominasi dengan warna coklat tua, oranye, dan putih.
Ciri khas dari rumah adat Simalungun diantaranya pada bangunannya yang berbentuk limas dengan tipe rumah panggung. Bagian kolong panggung dibuat setinggi dua meter dengan tujuan untuk menghindari serangan babi hutan serta hewan liar lainnya. Sedangkan pada kaki rumah adat Simalungun terdapat kayu-kayu penyangga yang diukir dan diberi warna.Pada bagian pintunya sengaja dibuat pendek. Hal ini bertujuan supaya tamu menghormati pemilik rumah karena akan sedikit membungkuk ketika masuk rumah.
Rumah Adat Bolon khas Sumatra Utara, umumnya dapat ditempati oleh lima hingga enam keluarga sekaligus didalamnya.
Rumah adat bolon memiliki Banyak Ornamen: Pada rumah ini kita dapat melihat banyak hiasan ukiran khas Batak, seperti tanda-tanda penolak bala seperti penyakit dan bahaya. Ornamen ini kemudian sering juga disebut dengan Gorga yang sering dipasang pada bagian dinding rumah bagian luar, yaitu atas pintu dalam bentuk lukisan berwarna hitam, putih, dan merah. Bentuknya juga terdiri dari beberapa jenis, seperti diantaranya bentuk kerbau, cicak, atau ular. Semua gorga ini kemudian memiliki maknanya masing-masing.Gorga yang dilukis dengan bentuk cicak ini memiliki arti bahwa orang Batak juga memiliki kemampuan untuk bertahan hidup dimanapun ia berada, meskipun merantau di tempat yang sangat jauh.
Orang Batak juga diharapkan mampu memelihara rasa persaudaraan yang tidak terputus dan kuat. Umpama jika bertemu dengan sesama sukunya, meski berada di daerah lain meskipun bukan daerah asal mereka. Gorga berbentuk ular pada rumah terkait dengan kepercayaan masyarakat zaman dahulu. Menurut mereka, rumah yang dimasuki oleh ular kemudian menandakan bahwa penghuninya akan mendapatkan berkah yang berlimpah. Dengan makna gorga berbentuk kerbau sebagai ucapan terima kasih atas kerja keras kerbau yang telah membantu manusia dalam mengerjakan lahan pertaniannya.
Makna Atap Rumah Bolon Rumah Bolon dengan ciri serta keindahan yang khas, yaitu terletak pada bagian atap rumah yang bentuknya lancip di bagian belakang dan depan. Bagian depan atap rumah ini kemudian sengaja dibuat lebih panjang dari bagian belakangnya. Masyarakat Batak sendiri percaya bahwa dengan bentuk atap seperti ini kemudian turut mendoakan keturunan dari pemilik rumah tersebut nantinya akan lebih sukses dari saat ini.