LAGU DAERAH
Sumatera Utara (Sumut) adalah Provinsi yang berada di Pulau Sumatera, berbatasan langsung dengan Provinsi Aceh dan Sumbar, beribukota Medan dengan penduduk bersuku Batak terbanyak di Indonesia.
Lagu daerah Sumatera Utara Butet dalam bahasa Batak adalah “Perempuan/Gadis”. Kata Butet dijadikan panggilan untuk anak perempuan, yang belum diberikan nama “resmi”, misalnya baru saja lahir. Selain itu, juga dijadikan panggilan bagi umum bagi orang yang belum dikenal.
Dengan lirik pelan dan tempo yang lambat, Lagu Butet selain dijadikan sebagai lagu dalam kegiatan adat, juga bermakna perjuangan dari rakyat Sumatera Utara dalam merebut kemerdekaan.
Lagu Sinanggar Tulo juga sering dibawakan dalam acara-acara adat, upacara, pesta pernikahan dan lainnya, serta diiringi Tari Tor-Tor yang fenomenal. Meski dalam pertunjukkannya penuh kebahagiaan dan keceriaan, namun maknanya berbeda.
Sejatinya, makna lagu ini berkesan keresahan dari sang laki-laki, yang harus mematuhi permintaan ibunya, dimana si ibu menginginkan
4. Anju Ahu
Lagu Daerah Sumatera Utara terbaik berikutnya berjudul Anju Ahu, yang jika diartikan adalah “Bujuk Aku”, “Rayu Aku” atau bahkan “Maklumi Aku”. Lagu ini cukup populer di kalangan Batak hingga ke pelosok negeri.
Makna lagu Anju Ahu sendiri adalah bercerita tentang sepasang kekasih yang tengah dirundung masalah. Si laki-laki yang kala ini sedang menghadapi suatu persoalan, berharap agar wanitanya bisa mengerti dan memahami, serta menghibur dan memaklumi keadaannya.
putranya punya kekasih yang sesuku dengan ibu itu sendiri.
Arti “Na Donang Do Hita Nadua” diambil dari bahasa Batak yangnartinya adalah “Senangnya Kita Berdua”. Lirik lagunya bersyair Batak Toba, dimana menjadi salah satu etnis yang paling banyak menghasilkan penyanyi-penyanyi ulung di Sumatera Utara.
Makna Lagu Na Donang Do Hita Nadua ini adalah menceritakan suatu pasangan, yang menjalin hubungan asmara dengan penuh kasih sayang, saling setia, berbahagia dan bersama sampai tua.
Meski liriknya cukup pendek, namun pemaknaannya menggambarkan bahwa hubungan cinta yang terjalin baik dan positif, pasti akan bahagia.
Lagu Daerah Sumatera Utara terbaik berikutnya berjudul Anju Ahu, yang jika diartikan adalah “Bujuk Aku”, “Rayu Aku” atau bahkan “Maklumi Aku”. Lagu ini cukup populer di kalangan Batak hingga ke pelosok negeri.
Makna lagu Anju Ahu sendiri adalah bercerita tentang sepasang kekasih yang tengah dirundung masalah. Si laki-laki yang kala ini sedang menghadapi suatu persoalan, berharap agar wanitanya bisa mengerti dan memahami, serta menghibur dan memaklumi keadaannya.
Arti Dago Inang Sarge adalah “Oh Ibu / Wahai Ibu”. Lagu ini berasal dari Kabupaten Tapanuli, dimana penciptanya adalah Nahum Situmorang dan NN (No Name), meski sampai kini belum jelas siapa penciptanya secara valid dan pasti.
Makna Lagu Dago Inang Sarge ini sejatinya lebih mengarah pada rasa sedih dalam sebuah hubungan asmara. Kedua pasangan memang sama-sama menerima keadaan satu sama lain, namun nyatanya ibu mereka tidak merestui, serta memberikan jawaban yang memilukan.
Lagu Tradisional Sumatera Utara berikutnya berjudul “Ketabo”. Arti Ketabo adalah “Ayolah / Marilah”. Lagu ini diciptakan oleh Nahum Situmorang dan berasal dari Kota Padang Sidempuan.
Makna Lagu Ketabo bercerita tentang ajakan atau himbauan kepada para pendengar atau siapapun, untuk bisa mengunjungi kota mereka yakni Sidempuan. Kota ini sangat terkenal dengan Buah Salak mereka yang manis dan enak.
Makanya, dalam lirik lagu Ketabo dijelaskan ketika Sidempuan sedang Musim Buah Salak, maka akan banyak sekali gadis-gadis cantik yang berjualan kesana-kemari. Liriknya juga mengisyaratkan bagi para pengunjung, siapa tahu bisa berkunjung ke rumah gadis-gadis untuk bersilaturahmi.
Bertemu ke rumah si gadis dikenal dengan nama “Markusip”, dimana dalam bahasa Mandailing berarti Memadu Kasih.
Lagu Adat Sumatera Utara terpopuler berikutnya berjudul Lisoi. Lagu yang berasal dari Tanah Batak ini lagi-lagi diciptakan oleh Nahum Situmorang, dan dipopulerkan kembali oleh Grup Band Seringgai.
Makna Lagu Lisoi ini sendiri ialah pendeskripsian bagaimana pergaulan orang-orang Batak, baik di Sumut maupun di luar daerah. Intinya, menceritakan bagaimana orang-orang Batak saat bersikap dan berperilaku dalam pergaulan.
Lagu Daerah Sumatera Utara berikutnya berjudul Madekdek Magambiri. Arti Madekdek Magambiri dalam bahasa Sumut adalah “Jatuhnya Buah Kemiri”. Maksudnya apa? Nah, Makna Lagu Madekdek Magambiri adalah cerita tentang bagaiaman rasa sayang dan cinta orangtua terhadap anaknya.
Selain itu, Arti Lagu Madekdek Magambiri juga menggambarkan tentang bagaimana perilaku anak, pasti tidak jauh berbeda dengan orangtuanya. Bagaikan peribahasa “Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”.
Jadi diibaratkan, Buah Kemiri yang jatuh itu adalah sang anak, dan pohon kemirinya ialah orangtua
Lagu Tradisional Sumatera Utara berikutnya berjudul Maria Tamong, yang berasal dari Tapanuli, Sumut. Lagu ini merupakan jelmaan dari makna Lagu “Nina Bobo” yang kita kenal selama ini.
Pasalnya, Makna Lagu Maria Tamong adalah lagu penghantar tidur anak-anak, yang dinyanyikan oleh ibunya. Sekaligus pencurahan harapan dan do’a dari sang ibu untuk anak, sambil menghantarkannya terlelap.
Berikutnya berjudul A Sing Sing So. Lagu ini pertama kali dipopulerkan oleh Gordon Tobing, seorang penyanyi Batak legendaris. Lirik yang sederhana dengan musik mendayu-dayu menjadikan lagu ini sesuai untuk segala umur.
Lagu legendaris asal Sumut ini lebih sering dinyanyikan dengan Paduan Suara, bahkan tidak jarang pula menjadi juara di Kancah internasional. Kepopuleran lagu ini terus mewabah meskipun usianya sudah cukup tua.
Makna Lagu A Sing Sing So bercerita tentang Kisah seorang Pemuda yang sedang berlayar di Danau Toba, dimana perasaannya diselimuti rasa rindu dan penuh harap, yang memimpikan bahwa kekasihnya yang kini sedang berada jauh, akan jadi jodohnya seumur hidup.