Berdasarkan keterangan dari masyarakat, pada mulanya kerajaan Balusu diperintah oleh keturunan Raja-raja Gowa. Ketika rakyat Balusu sudah tidak mau lagi diperintah oleh keturunan Raja Gowa, maka hadat (keluarga) kerajaan Balusu kemudian memohon kepada kerajaan Soppeng (Datu Soppeng) untuk memberikan atau memperistrikan keturunannya (anaknya) menjadi Raja Balusu. Oleh karena Datu Soppeng tidak mempunyai anak laki-laki yang belum memangku jabatan, maka diutuslah anak perempuannya yang bernama Tenri Kaware untuk menjadi Raja Balusu. Tenri Kaware digantikan oleh puteranya bernama Labandu, kemudian Labandu digantikan oleh puteranya bernama Andi Muhammad Saleh Daeng Parani Arung Balusu. Raja ini berjasa dalam mempertahankan kerajaan Soppeng. Beliau diberi gelar Petta Sulle Datue, yang berhak menggantikan Datu Soppeng bila berhalangan dan diserahi tanggung jawab sebagai Panglima Perang di bagian barat kerajaan Soppeng. Ketika Belanda bermaksud menguasai kerajaan Balusu, terjadilah perang Balusu 1905. Di Istana La Pinceng inilah dipersiapkan segala sesuatunya untuk menghadap Belanda.
Rumah adat Lapinceng merupakan rumah jenis rumah panggung. Tangga naik berada di depan dan di belakang. Bangunan ini terdiri dari serambi (lego-lego), rumah induk (ale bola) dengan ukuran panjang 23,50 m, lebar sekitar 11 m. Jumlah tiang penyangga 35 buah (7x5), tiang serambi 6 buah. Rumah induk terbagi menjadi ruang tamu, ruang keluarga, ruang kerja raja, dan kamar tidur. Di ruang keluarga terdapat tangga menuju suatu ruangan di atas langit-langit. Rumah dapur berukuran panjang 11 m, lebar sekitar 8 m. Jumlah tiang 20 buah (5x4), ditambah dengan dua tiang antara ale bola dengan rumah dapur yang berfungsi sebagai penyangga dapur dan tempat penyangga tangga belakang. Atap terbuat dari seng. Serambi dan dapur memiliki atap tersendiri yang terpisah dengan bangunan induk. Bangunan ini telah memiliki SK penetapan dengan Nomor : 240/M/1999, tanggal 4 Oktober 1999 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Juwono Sudarsono.