asyarakat Bugis umumnya menyebut penganan berwarna merah berbentuk seperti jalinan benang ini sebagai Nennu’ Nennu’. Beberapa daerah di Sulawesi Selatan memberi nama berbeda bagi penganan yang sering disebut sebagai biskuit bugis ini. Di Pinrang kue ini disebut Karasa’. “Mungkin karena agak keras (renyah) kalau digigit jadi dinamakan Karasa’,” tutur Ani pembuat kue karasa (32 tahun) kue ini menjadi salah salah satu isi Bosara’ (hantaran pengantin Bugis-Makassar) yang wajib diberikan pihak laki-laki kepada calon mempelai perempuan dalam pernikahan. Dahulu kala, kue bannang-bannang atau nennuk-nennuk merupakan makanan bangsawan Bugis Makassar. Namun, seiring perkembangan zaman, kue yang identik dengan wujud seperi benang kusut tersebut dapat dinikmati oleh semua kalangan tanpa melihat strata sosialnya. wujud kue bannang-bannang atau nennuk-nennuk dibentuk menyerupai benang kusut. Sebab, ada makna filosofi yang terkandung, yaitu menggambarkan tentang satu kesatuan yang saling terkait dan tak akan pernah bisa dipisahkan atau diuraikan. Jadi mereka yang melangsungkan pernikahan setelah mencicipi kue bannang-bannang atau nennuk-nennuk diharapkan akan menjadi keluarga yang utuh dan tidak mudah terpisahkan. Hanya maut yang memisahkan mereka Tak hanya itu, rasa manis gula aren dari kue bannang-bannang atau nennuk-nennuk khas Bugis Makassar juga bermakna manisnya perjalanan rumah tangga pasangan yang melangsungkan hajatan pernikahan.