Pernahkah kalian mengalami atau merasa suatu daerah yang awalnya masih lahan kosong atau masih sepi kemudiaan berubah menjadi ramai dan banyak bangunannya? Jika iya, kira-kira apa penyebab perubahan tersebut? Bisa jadi perubahan tersebut disebabkan karena adanya perubahan jumlah penduduk baik kelahiran maupun kematian atau bisa juga disebabkan oleh perpindahan penduduk. Hal tersebut banyak terjadi di berbagai wilayah saat ini, misalkan saja di Indonesia.
Grafik disamping menunjukkan perubahan jumlah penduduk di Indonesia sejak tahun 1930. Pada tahun 1930 penduduk Indonesia hanya sekitar 60,7 juta jiwa menjadi sekitar 237,6 juta jiwa pada tahun 2010. Berdasarkan data sensus tahun 1961 hingga 2010, secara bertahap jumlah penduduk Indonesia mengalami peningkatan kisaran 20-30 juta penduduk setiap 10 tahunnya. Bagaimana dengan tahun 2020, 2030, 2040, dan seterusnya?
Diprediksi angka tersebut akan terus bertambah untuk tahun-tahun yang akan datang. Berapakah jumlah penduduk pada tahun-tahun tersebut? Kita dapat menghitung perkiraan jumlah penduduk dimasa yang akan datang menggunakan perhitungan Proyeksi Penduduk. Proyeksi penduduk merupakan perhitungan ilmiah yang didasarkan pada asumsi dari komponen-komponen laju pertumbuhan penduduk, yaitu kelahiran, kematian, dan perpindahan (migrasi). Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara menghitung proyeksi penduduk tersebut? Terdapat 4 rumus yang umum digunakan dalam perhitungan proyeksi penduduk. Keempat rumus tersebut adalah proyeksi penduduk aritmatik, geometrik, eksponensial, dan double time.
Laju pertumbuhan penduduk suatu wilayah dituliskan dalam satuan persen dari jumlah penduduk awal. Misal pada contoh soal Aritmatik, tertulis angka pertumbuhan penduduk adalah 3,8%. Hal tersebut berarti perubahan jumlah penduduknya adalah 3,8% dari jumlah penduduk awal (jika di soal tersebut tertulis 812.591 jiwa). Laju pertumbuhan penduduk tersebut berbeda-beda setiap tahunnya. Pada perhitungan 2015 laju pertumbuhan penduduknya 3,8%, bisa jadi pada tahun 2016 akan turun menjadi 3,2%. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyaknya kelahiran, kematian, maupun migrasi ditempat tersebut.
Rumus aritmatik, geometrik, dan eksponensial merupakan rumus untuk menghitung jumlah penduduk pada tahun tertentu di masa yang akan datang. Lalu apa perbedaan dari ketiga rumus tersebut? Perbedaannya terletak pada asumsi angka pertumbuhan penduduknya. Contohnya:
Aritmatik : Angka pertumbuhan penduduk dianggap sama dari tahun ke tahun. Pada contoh soal tertulis 3,8%, maka selama kurun waktu 3 tahun kedepan (lihat soal contoh) angka pertumbuhan penduduknya sama 3,8%.
Geometri : Angka pertumbuhan penduduk dianggap mengalami peningkatan dengan cara dijumlahkan menggunakan angka yang sama. Pada soal contoh tertulis angka pertumbuhan penduduknya 1% (dalam bilangan desimal menjadi 0,01). Jika perhitungan untuk 5 tahun kedepan, maka angka pertumbuhan penduduknya menjadi 0,05.
Eksponensial : Angka pertumbuhan penduduk dianggap mengalami peningkatan dengan cara dikalikan menggunakan angka yang sama. Berdasarkan rumus logaritma matematika, bilangan eksponensial itu adalah angka tetap yang bernilai 2,718281828 (seperti bilangan phi pada perhitungan lingkarang)
Double Time merupakan rumus yang digunakan untuk menghitung jumlah penduduk untuk mencapai 2x dari jumlah penduduk awal. Dalam soal contoh dimisalkan jumlah penduduk awal adalah 431.939jiwa, maka double time digunakan untuk menghitung kapan jumlah penduduk kota yogyakarta menjadi 863.878jiwa.
Memperkirakan ketersediaan sarana dan prasarana seperti jalan, tempat tinggal, lapangan pekerjaan, dll. Kita tahu bahwa luas tanah di permukaan bumi kita tidak bertambah, namun jumlah manusia terus bertambah setiap tahunnya. Di masa yang akan datang ketersediaan tempat tinggal menjadi masalah yang penting untuk diperhatikan.
Mempersiapkan kebutuhan makanan di masa yang akan datang. ketersediaan bahan makanan menjadi penting diperhatikan. Kebutuhan makan akan lebih banyak jika jumlah penduduknya semakin banyak juga.
Mempersiapkan fasilitas kesehatan di masa yang akan datang. Kesehatan menjadi hal penting bagi manusia, semakin padatnya suatu daerah maka akan semakin sulit menyelenggarakan kualitas kesehatan yang baik bagi manusia di wilayah tersebut. Contoh kongkrit adalah wilayah pemukiman yang padat penduduk biasanya memiliki fasilitas kebersihan yang terbatas, kapasitas rumah sakit juga menjadi semakin terbatas.
Mempersiapkan fasilitas pendidikan di masa yang akan datang. Seperti halnya sektor kesehatan, sektor pendidikan pun sangat terpengaruh oleh jumlah penduduk. Semakin banyak jumlah penduduk di suatu tempat maka kebutuhan sekolah semakin meningkat. Jika sekolah tidak dapat memenuhi kebutuhan jumlah penduduk, maka akan semakin banyak anak-anak yang tidak bersekolah.