Kalau kalian pergi jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, pernahkah kalian melihat papan atau spanduk yang bertuliskan "Buy 1 Get 1" atau "Beli 2 Gratis 1"? Saya yakin kalian pasti pernah melihatnya. Artinya apa? Jika kalian membeli satu atau dua produk akan mendapat bonus satu produk lagi yang didapatkan gratis.
Pada libur natal kemarin saya membeli kaos yang bertuliskan beli 2 gratis 1. Benar saja kemarin saya hanya membayar 2 produk, namun diberi kebebasan memilih satu produk lagi dengan harga yang sama. Saya merasa mendapat keuntungan dari bonus tersebut karena mendapat satu kaos gratis. Namun di sisi lain, saya juga harus spend money lebih banyak. Sebenarnya saya hanya membutuhkan 1 kaos baru, namun saya harus membeli 2 kaos untuk mendapatkan bonus tersebut.
Jadi, bisa dikatakan bahwa bonus itu adalah sebuah keuntungan yang didapat, namun saya juga mengatakan bahwa untuk mendapatkan bonus tersebut perlu adanya pengorbanan/harga yang harus dibayarkan. Lalu apa hubungannya dengan dinamika kependudukan? Apakah ada keuntungan dari dinamika kependudukan? Tentu saja ada. Contohnya, dulu pada kurun waktu 1960-1970an sedang trend sebuah keluarga memiliki anak yang banyak (baby boom), bahkan satu keluarga dapat memiliki anak antara 5-10 anak. Bonus demografi yang didapat adalah 25 tahun kemudian yaitu sekitar tahun 1990-2000 Indonesia memiliki banyak tenaga kerja karena anak-anak yang lahir pada tahun 1960-1970an sedang berada pada usia produktif. Namun, konsekuensi yang harus dibayarkan adalah perlu adanya penambahan jumlah sekolah dan lapangan kerja untuk meningkatkan kualitas serta penyaluran tenaga kerja yang tersedia.
Contoh kedua adalah yang sedang kalian alami saat ini, ketika jumlah anak-anak yang lahir sebagai generasi Z (lahir sudah mengenal dunia digital). Anak-anak yang lahir pada kurun waktu 2000-2010an terlahir dengan kemajuan teknologi yang luar biasa. Saat balita sudah diperkenalkan dengan gawai oleh orang tuanya. Hal tersebut di prediksi akan menjadi pemicu peningkatan kualitas pengetahuan anak karena sudah tidak ada lagi batasan untuk mendapatkan informasi maupun ilmu pengetahuan. Harapannya 25 tahun yang akan datang anak-anak tersebut akan menjadi sumber daya manusia yang sangat pintar dan terampil dalam segala hal. Bahkan beberapa waktu lalu pernah muncul tagline "Menuju Indonesia Emas 2045" karena diharapkan anak-anak yang pintar dan terampil tersebut akan menjadi pemimpin pada segala bidang kehidupan di Indonesia pada tahun 2045 nanti.
Tabel disamping menunjukkan jumlah penduduk pada usia produktif dan tidak produktif dari tahun ketahun. Menurut perhitungan angka ketergantungan (Penduduk tidak produktif/penduduk produktif dikali 1000) dari data di samping, dapat disimpulkan bahwa 1 orang usia produktif menanggung kurang lebih 2 orang saja. Angka ketergantungan tersebut tergolong rendah karena hanya 2 orang saja yang ditanggung oleh penduduk produktif.
Rendahnya angka ketergantungan tersebut diharapkan akan meningkatkan kemajuan sebuah negara. Hal tersebut dikarenakan produktifitas negara akan meningkat jika negara tersebut memiliki sedikit beban yang ditanggung. Itulah mengapa bonus demografi sangat diharapkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2045 mendatang. Jumlah tenaga kerja yang berkualitas tinggi dan rendahnya angka ketergantungan akan menjadi pemicu Indonesia sebagai negara maju. Di sisi lain, mesti ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh Negara Indonesia untuk mencapai Indonesia Emas. Oleh karena itu, perlu diketahui bahwa Bonus Demografi membawa dampak positif dan negatif.
Jumlah Tenaga Kerja Melimpah
Terbentuknya Generasi Emas yang Aktif Berkarya
Tingkat Produktivitas Tinggi yang Memicu Peningkatan Perekonomian Indonesia
Peningkatan Kualitas dan Pemerataan Pendidikan
Kesehatan Meningkat
Rakyat Sejahtera
Siap Bersaing dalam Dunia Internasional
Semakin Sempitnya Lapangan Pekerjaan dan (mungkin) meningkatkan pengangguran
Jika banyak pengangguran, maka Kemiskinan Meningkat
Pendidikan Rendah akibat Perekonomian Rendah Menyebabkan SDM Rendah
Jika banyak pengangguran, maka produktivitas menurun
Kestabilan ekonomi sulit dikendalikan
Kurangnya Lahan Tempat Tinggal Akibat Pertambahan Penduduk Yang Tidak Terkendali
Timbulnya Kawasan-Kawasan Slum Area (area kumuh) Akibat Kemiskinan Yang Menjamur
Kriminalitas Meningkat akibat Pengangguran yang Meningkat
Jika slum area banyak, maka kualitas kesehatan menurun
Sisa dari kurun waktu Pembangunan Jangka Panjang Nasional (PJPN) 2005-2025 perlu diarahkan untuk merancang konsep kebijakan makro yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan bagi mereka yang masuk kedalam usia produktif terutama untuk penyiapan memasuki dunia kerja. Guna memastikan bahwa lulusan pendidikan dapat diserap oleh dunia kerja, maka tidak ada jalan lain bahwa dalam waktu yang bersamaan rancangan kebijakan untuk layanan pendidikan harus diarahkan pada perluasan akses, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan yang mampu memberikan dukungan terhadap penguatan daya saing.
Dalam hal ini pemerintah harus mampu menjadi agent of development dengan cara memperbaiki mutu modal manusia, mulai dari pendidikan, kesehatan, kemampuan komunikasi, serta penguasaan teknologi. Solusi lainnya bisa dengan memberikan keterampilan kepada tenaga kerja produktif sehingga pekerja tidak hanya bergantung pada ketersediaan lapangan pekerjaan tapi mampu menciptakan lapangan pekerjaan itu sendiri. Selain itu pemerintah juga harus mampu menjaga ketersediaan lapangan pekerjaan, menjaga aset-aset Negara agar tidak banyak dikuasai pihak asing yang pastinya akan merugikan dari sisi peluang kerja.
Pemerintah perlu melakukan penyuluhan, sosialisasi, serta pelatihan guna meningkatkan sikap dan sifat produktif dalam diri masyarakat. Kemudian mengajak masyarakat untuk berpikir kreatif serta menanamkan semangat: “membuat lapangan kerja sendiri tanpa harus mencari”. Hal tersebut secara langsung maupun tidak langsung dapat dilaksanakan di berbagai lembaga khususnya lembaga pendidikan serta berbagai sarana seperti reklame, iklan, siaran televisi, siaran radio, dan lain-lain. Dengan adanya kegiatan tersebut diharapkan banyak masyarakat yang termotivasi dan bergerak untuk menciptakan lapangan kerja sehingga nantinya dapat mengatasi masalah kurangnya lapangan pekerjaan dengan sendirinya.
Terwujudnya keluarga sehat yang ditopang oleh kecukupan nutrisi yang memadai akan memberikan pondasi yang kokoh bagi terwujudkan kualitas sumber daya manusia yang dapat menjawab tantangan dalam periode demografi yang langka tersebut. Keluarga sehat dengan nutrisi yang baik memainkan peran fundmenal karena berfungsi sebagai fondasi bagi pencapaian tujuan-tujuan pembangunan lainnya. Para ahli mengidentifikasi bahwa gizi dapat membantu memutus lingkaran kemiskinan dan meningkatkan PDB negara 2 hingga 3 persen per tahun.
Bukan hanya pemerintah, masyarakat juga harus menjadi pendukung utama pembangunan mutu manusia dengan cara menyadari pentingnya arti pendidikan, kesehatan dan aspek-aspek yang dapat mengembangkan kualitas manusia itu sendiri.Pemuda sebagai generasi penerus bangsa diharapkan dan harus siap dalam menghadapi bonus demografi supaya bangsa dapat memperoleh manfaat dan dampak yang positif dari bonus demografi.Pemuda perlu dibimbing dan diarahkan supaya berperilaku baik,dapat dibimbing di sekolah melalui peran guru,ataupun di lingkungan keluarga oleh orang tua.