Perhatikan ayat yang terdapat dalam Q.S. al-Rum/30 : 41 berikut;
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
Peduli terhadap lingkungan merupakan ajaran Islam. Salah satu seperti ayat di atas yang menyatakan bahwa terjadinya banyak kerusakan murupakan akibat dari ketidakpedulian manusia terhadap lingkungan. Oleh sebab itu, kita harus selalu peduli terhadap lingkungan agar tidak terjadi kerusakan, baik didarat maupun dilaut.
Menurut para ahli bahwa lingkungan adalah segala hal yang ada di sekitar makhluk hidup, baik merupakan benda mati ataupun hidup, serta terpengaruh dan memberikan pengaruh terhadap aktivitas manusia. Ada juga yang mengatakan bahwa lingkungan adalah semua benda, kondisi serta keadaanya, yang mana memberikan pengaruh pada tempat dimana manusia tinggal. Begitu pula sebaliknya, lingkungan juga mempengaruhi berbagai aspek kehidupan makhluk hidup, seperti manusia, hewan maupun tumbuhan.
Jadi yang dimaksud dengan lingkungan adalah alam semesta ciptaan Allah Swt., baik berupa benda mati maupun benda hidup, yang terbentang luas sekitar kita untuk dikelola dengan sebaik-baiknya dan menjadi tempat beraktivitas serta memberikan pengaruh dan dapat dipengaruhi oleh manusia.
Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Baqarah/2:29 berikut;
Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Jika dilihat dari komponen yang ada di dalamnya, lingkungan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu lingkungan biotik dan lingkungan abiotik. Lingkungan biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa atau tempat hidupnya makhluk organik, seperti manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, virus, serta makhluk hidup lainnya. Sedangkan lingkungan abiotik merupakan kebalikan dari lingkungan biotik yaitu segala sesuatu yang tidak bernyawa atau anorganik, seperti bebatuan, mineral, tanah, maupun unsur alam lainnya.
Semua jenis lingkungan, berupa lingkungan biotik maupun lingkungan abiotik dapat memberikan manfaat jika dikelola dengan baik serta dapat memberikan mudharat jika manusia tidak bisa mengelolanya dengan baik. Oleh sebab itu kita harus mampu mengelola dan menjaganya dengan baik agar dapat memberikan manfaat kepada manusia, dan juga dapat memberi manfaat untuk makhluk hidup lainnya seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Bab 8 Peduli Lingkungan | A. Konsep Lingkungan | B. Manfaat Kepedulian terhadap Lingkungan | C. Sikap Peduli terhadap Lingkungan
Kita harus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan yang ada disekitar kita agar selalu terjaga kelestariannya. Seperti menanam
tumbuh-tumbuhan agar kita dapat menghirup udara segar dan bebas dari polusi, membuang sampah pada tempatnya, agar terhindar dari berbagai penyakit yang dapat merusak kesehatan kita.
Tahukah kalian bahwa sebagai anak yang taat melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah Swt., kita harus menjaga lingkungan serta mengelolanya dengan baik untuk memenuhi kebutuhan hidup dan makhluk lainnya. Kita dilarang oleh Allah Swt. melakukan perbuatan yang dapat merusak lingkungan. Sebagaimana firman
Allah Swt dalam Q.S. al-‘Araf/7: 56 berikut.
Artinya: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”.
Terdapat beberapa manfaaat apabila kita menjaga lingkungan dengan baik, antara lain;
Sebagai sumber makanan dan mineral
Memberikan kemudahan dan bantuan dalam kehidupan manusia
Sebagai sarana perkembangbiakan makhluk hidup
Menambah penghasilan bagi manusia
Menunjang kesehatan dan kesejahteraan
Sumber: Buku PAI SD Kelas 6 | Halaman 146-147
Peduli lingkungan merupakan sikap dan tindakan mencegah kerusakan alam serta mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi. Peduli terhadap lingkungan termasuk perbuatan yang terpuji atau akhlak mahmudah. Peduli terhadap lingkungan berarti ikut melestarikan lingkungan dengan sebaik-baiknya, bisa dengan cara memelihara, mengelola, memulihkan serta menjaga lingkungan. Lingkungan yang bersih dan sehat adalah dambaan semua makhluk di dunia ini, baik untuk manusia dan juga untuk makhluk hidup lainnya. Apabila lingkungan tidak dijaga dengan baik, maka akan menimbulkan berbagai macam penyakit dan juga bisa menyebabkan bencana. Ada beberapa komponen lingkungan yang membutuhkan kepedulian kita agar tetap terjaga kelestariannya. Diantara komponen lingkungan tersebut antara lain tanah, air, udara, dan tumbuh-tumbuhan. Agar lingkungan kita tetap lestari dan terpelihara, ada beberapa langkah yang harus dilakukan.
Usaha dan langkah tersebut cukup mudah dilakukan, di antaranya:
1. Menjaga kebersihan dan keindahan
2. Melakukan pengolahan tanah dengan baik.
3. Melakukan pengolahan sampah dan limbah dengan baik
4. Menggunakan bahan hasil produksi yang ramah lingkungan
5. Melakukan penghijauan dengan menanam kembali tumbuh-tumbuhan
Lingkungan adalah segala hal yang ada di sekitar makhluk hidup, baik merupakan benda mati ataupun hidup, serta terpengaruh dan memberikan pengaruh terhadap aktivitas manusia.
Jika dilihat dari komponen yang ada didalamnya, lingkungan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu lingkungan biotik dan lingkungan abiotik.
Lingkungan biotik adalah segala sesuatu yang bernyawa atau tempat hidupnya makhluk organik, seperti manusia, hewan, tumbuhtumbuhan, virus, serta makhluk hidup lainnya.
Penggunaan Kecerdasan Artifisial (AI) dalam dunia pendidikan saat ini ibarat pedang bermata dua yang menawarkan peluang besar sekaligus tantangan serius bagi pelajar. Berikut adalah rincian manfaat dan risiko AI bagi pelajar berdasarkan sumber yang tersedia:
Pembelajaran yang Dipersonalisasi: AI memiliki kemampuan untuk menganalisis data setiap siswa, seperti tingkat pemahaman dan gaya belajar, sehingga kurikulum serta materi dapat disesuaikan secara individual. Hal ini memungkinkan pelajar belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan mereka sendiri.
Meningkatkan Aksesibilitas: Teknologi AI mendukung lingkungan belajar yang lebih inklusif, terutama bagi siswa berkebutuhan khusus. Contohnya, AI dapat menyediakan terjemahan teks ke bahasa isyarat bagi siswa dengan gangguan pendengaran atau mengubah teks menjadi audio bagi siswa dengan gangguan penglihatan.
Pengembangan Keterampilan Masa Depan: Pelajar dapat mempelajari keterampilan teknis yang relevan dengan tuntutan pasar kerja masa depan, seperti pengodean (coding), analisis data, dan pemrosesan bahasa alami. Selain itu, belajar AI mengasah kemampuan berpikir kritis, logika, dan pemecahan masalah.
Bantuan Belajar Real-Time: Pelajar dapat memanfaatkan tutor virtual atau chatbot untuk mendapatkan bantuan instan saat kesulitan memahami materi tertentu, seperti matematika atau fisika, kapan pun dan di mana pun.
Metode Belajar Interaktif: Penggunaan gim edukasi dan simulasi berbasis AI membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik, menyenangkan, dan meningkatkan keterlibatan siswa secara langsung.
Ketergantungan pada Teknologi: Penggunaan AI yang berlebihan berisiko membuat pelajar kehilangan kemampuan untuk memecahkan masalah secara mandiri dan menghambat kreativitas mereka. Pelajar mungkin menjadi terlalu bergantung pada chatbot untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka.
Masalah Privasi dan Keamanan Data: Sistem AI mengumpulkan data pribadi yang mendalam, seperti nama, usia, hingga catatan akademik siswa. Jika tidak dikelola dengan kebijakan privasi yang ketat, terdapat risiko serius berupa kebocoran data atau penyalahgunaan informasi pribadi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Kesenjangan Digital: Penerapan AI dapat memperlebar jurang kualitas pendidikan antara sekolah yang memiliki akses teknologi canggih dan sekolah di daerah terpencil yang minim fasilitas.
Bias dan Masalah Etika: Algoritma AI dikembangkan berdasarkan data manusia yang mungkin mengandung prasangka, sehingga AI rentan terhadap bias yang dapat menghasilkan keputusan atau evaluasi yang tidak adil bagi pelajar tertentu.
Keakuratan Informasi: AI tidak selalu benar dan dapat memberikan hasil yang menyesatkan jika dilatih dengan data yang salah atau tidak lengkap. Oleh karena itu, pelajar tetap perlu melakukan pengecekan ulang terhadap informasi yang dihasilkan AI.
Kurangnya Interaksi Manusia: Pengajaran yang terlalu terfokus pada teknologi dapat mengurangi nilai interaksi manusia dan empati yang sangat penting dalam proses pendidikan karakter.
Untuk meminimalkan dampak negatif ini, penting bagi pelajar, guru, dan orang tua untuk memiliki literasi digital yang baik dan menggunakan AI secara bijak sebagai alat bantu, bukan pengganti pemikiran kritis manusia.
Penerapan etika penggunaan AI yang bertanggung jawab di sekolah melibatkan integrasi prinsip moral, kebijakan perlindungan data, dan pengembangan literasi digital bagi seluruh warga sekolah. Berdasarkan sumber-sumber yang tersedia, berikut adalah langkah-langkah utama dalam menerapkannya:
Sekolah perlu mengadopsi empat prinsip etika dasar dalam penggunaan teknologi AI:
Transparansi: Setiap keputusan yang dihasilkan oleh sistem AI (misalnya penilaian ujian) harus dapat dijelaskan dan dipahami oleh siswa serta guru.
Akuntabilitas: Harus ada pihak (seperti sekolah atau pengembang) yang bertanggung jawab jika terjadi kesalahan pada sistem AI; teknologi tidak bisa disalahkan atas keputusannya sendiri.
Adil dan Nondiskriminatif: Memastikan algoritma AI bebas dari bias yang dapat merugikan kelompok siswa tertentu berdasarkan latar belakang atau kemampuan mereka.
Privasi: Menjamin bahwa data pribadi siswa—seperti nama, usia, dan catatan akademik—dilindungi dengan ketat agar tidak disalahgunakan oleh pihak luar.
Sekolah memiliki kewajiban etis untuk mengelola informasi sensitif siswa dengan cara:
Kebijakan Privasi yang Ketat: Memilih platform AI yang memenuhi standar keamanan tinggi dan memberikan kontrol penuh kepada orang tua serta siswa untuk mengakses atau menghapus data mereka.
Persetujuan Orang Tua: Memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai cara data anak mereka digunakan dan mendapatkan persetujuan sebelum proses pengumpulan data dimulai.
Etika AI bukan hanya soal kebijakan, tetapi juga tentang bagaimana teknologi tersebut diajarkan:
Diskusi Terbuka: Mengajak siswa berdiskusi tentang tanggung jawab sosial, privasi, dan dampak AI terhadap lingkungan agar mereka memiliki pemikiran kritis.
Literasi Digital: Memberikan pemahaman kepada guru dan siswa bahwa AI hanyalah alat bantu. Siswa harus diajarkan untuk selalu memeriksa ulang (cross-check) informasi dari AI karena sistem tersebut bisa melakukan kesalahan (disclaimer).
Metode Unplugged: Mengajarkan logika AI melalui simulasi tanpa perangkat digital (unplugged) untuk membantu siswa memahami cara kerja algoritma secara konkret tanpa menciptakan ketergantungan pada teknologi.
Meskipun AI memberikan banyak kemudahan, teknologi ini tidak boleh menggantikan peran guru dalam memberikan pendidikan karakter dan empati. Guru tetap menjadi aktor utama yang memastikan bahwa penggunaan teknologi di sekolah tetap selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan dan tidak mengabaikan interaksi sosial yang penting.
Strategi mitigasi risiko AI yang efektif bagi pelajar berfokus pada pengembangan literasi digital, kesadaran etika, dan kebiasaan berpikir kritis untuk memastikan teknologi digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti pemikiran mandiri. Berikut adalah strategi-strategi utamanya:
Pelajar harus menyadari bahwa AI tidak selalu benar dan dapat memberikan hasil yang menyesatkan jika dilatih dengan data yang salah atau tidak lengkap. Strategi mitigasi yang utama adalah selalu melakukan pengecekan ulang (cross-check) terhadap informasi yang dihasilkan AI dan tidak memercayainya 100%. Pelajar perlu diajarkan bahwa AI hanyalah sistem yang meniru pola, sehingga kreativitas asli, empati, dan pemahaman kontekstual mendalam tetap merupakan keunggulan manusia yang tidak bisa digantikan.
Karena sistem AI mengumpulkan data pribadi yang sensitif seperti nama, usia, hingga catatan akademik, pelajar dan sekolah harus menerapkan langkah pengamanan berikut:
Memilih platform yang aman: Menggunakan aplikasi AI yang memiliki kebijakan privasi ketat dan standar perlindungan data yang tinggi.
Kontrol data: Memastikan pelajar dan orang tua memiliki hak untuk mengakses, mengubah, atau menghapus data pribadi yang telah dikumpulkan oleh sistem AI.
Persetujuan sadar: Memberikan pemahaman kepada pelajar tentang bagaimana data mereka digunakan sebelum mereka memberikan izin akses kepada suatu aplikasi.
Pelajar perlu dibekali pengetahuan tentang bias algoritma, yaitu ketika AI menghasilkan keputusan yang tidak adil karena data pelatihannya tidak seimbang. Strategi mitigasinya adalah:
Literasi Etika: Mengajarkan prinsip transparansi dan akuntabilitas, sehingga pelajar mampu mempertanyakan alasan di balik keputusan yang diambil oleh AI.
Eksperimen Data: Melakukan praktik langsung (seperti melalui AI for Oceans atau Teachable Machine) untuk memahami bahwa jika data yang dimasukkan bias, maka hasil prediksinya pun akan diskriminatif.
Untuk mencegah ketergantungan berlebihan pada perangkat digital yang dapat menghambat kemampuan pemecahan masalah secara mandiri, sekolah dapat menerapkan metode pembelajaran unplugged. Strategi ini melibatkan:
Belajar logika tanpa komputer: Menggunakan permainan algoritma, cerita bergambar, atau simulasi peran untuk menanamkan logika berpikir komputasional melalui pengalaman konkret.
Simulasi AI manual: Melakukan simulasi proses kerja AI berbasis perintah "jika-maka" secara luring untuk menyadari batasan sistem AI yang hanya bekerja sesuai input data.
Strategi mitigasi yang paling krusial adalah memastikan teknologi tidak menggantikan interaksi manusia. Guru harus tetap menjadi aktor utama dalam memberikan pendidikan karakter dan nilai-nilai humanistik, serta mengawasi penggunaan AI agar tetap selaras dengan etika yang bertanggung jawab.