Islam hadir sebagai rahmat untuk seluruh alam, tidak terkecuali bagi mereka yang tidak memeluk agama Islam (non muslim). Islam membawa kedamaian bagi seluruh umat beragama. Umat manusia memiliki teladan mulia yaitu Rasulullah saw. Banyak kisah Rasulullah saw. yang memperlihatkan hubungannya dengan pemeluk agama selain Islam. Ini menjadi teladan bagi kita untuk berteman tanpa membedakan agama. Nah, untuk lebih memahaminya mari kita pelajari materi berikut.
Indonesia terdiri dari beragam agama seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Keragaman tersebut tidak membuat bangsa Indonesia terpecah belah namun menjadikannya bersatu. Persatuan itu tercipta karena adanya sikap saling menerima, menghargai, menghormati, dan saling membutuhkan.
Bangsa Indonesia hidup rukun dan harmonis karena rasa persaudaraan yang kuat sebagai satu bangsa. Persaudaraan inilah yang disebut dengan ukhuwah wathaniyah. Mari kita pelajari lebih dalam tentang persaudaraan (ukhuwah) dalam pandangan Islam.
Persaudaraan dalam Islam disebut ukhuwah. Ukhuwah terbagi atas tiga macam, yaitu:
Ukhuwah Islamiyah artinya persaudaraan karena sama-sama beragama Islam. Di manapun berada, seseorang akan merasa bersaudara ketika sama-sama memeluk agama Islam. Tidak perduli dari suku, bangsa atau dari benua apa, Islam menjadikannya bersaudara.
Wathan artinya tanah air, tempat kelahiran, tanah tumpah darah, atau kampung halaman. Ukhuwah wathaniyah merupakan persaudaraan didasarkan satu bangsa. Seperti halnya kita hidup di Indonesia dengan berbagai suku bangsa, agama, dan adat istiadat yang berbeda tetapi kita tetap bersaudara yaitu saudara sebangsa Indonesia.
Ukhuwah insaniyah yaitu persaudaraan karena sesama manusia, ciptaan Allah. Tidak melihat seseorang karena agamanya, sukunya, bangsanya dan golongannya, tetapi sebagai umat manusia. Suatu bangsa dengan keanekaragaman suka, agama dan budaya seperti Indonesia, maka ukhuwah wathaniyah bisa menjadi jalan pemersatu. Ukhuwah wathaniyah menciptakan persaudaraan sesama warga yang tinggal di wilayah yang sama walaupun tidak seagama ataupun tidak sesuku. Ukhuwah wathaniyah memiliki peranan besar dalam menciptakan persatuan dan kesatuan.
Menjaga persatuan dan kesatuan ini dalam Islam dijelaskan dalam Al-Qur'an Surat AI-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:
Terjemahnya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. AI-Hujurat: 49/13)
Allah menciptakan kita dengan berbagai perbedaan. Namun perbedaan tersebut tidak untuk saling bermusuhan, tetapi agar kita saling mengenal. Yang membedakan manusia di hadapan Allah adalah tingkat ketakwaannya. Maka sikap saling menghargai dalam perbedaan harus terus dijaga agar tercipta hidup rukun dan harmonis.
Sumber: Buku PAI SD Kelas 5 | Hal. 188-190
Rasulullah saw. mengajarkan teladan sikap yang mulia dalam kehidupan sehari-hari. Begitu banyak perilaku dalam kehidupannya yang membuat hati kagum dengan kemuliaannya. Rasulullah memberikan contoh bagaimana sikap kita kepada pemeluk agama lain. Di antaranya adalah kisah Rasulullah saw. dengan pengemis yahudi buta. Mau tau ceritanya? Mari kita baca kisah lengkapnya.
Dahulu ada seorang pengemis yahudi buta yang sering duduk di sudut pasar Madinah. Setiap orang yang mendekat kepadanya, ia selalu mengatakan "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila, seorang pendusta, diajuga seorang tukang sihir, kalian akan dipengaruhinyajika mendekatinya." Hari demi hari ia selalu melakukan hal tersebut. Tanpa sepengetahuannya ternyata Rasulullah saw. adalah orang yang selalu memberikannya makanan setiap pagi. Hal itu dilakukan Rasulullah saw. sampai beliau wafat. Setelah beliau wafat tidak ada lagi yang memberi makan dan menyuapi si pengemis yahudi buta itu.
Suatu hari sahabat nabi, bernama Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. berkata kepada anaknya yang juga istri tercinta Rasulullah saw., Aisyah ra., "Anakku, adakah perbuatan baik keseharian Rasulullah yang belum kukerjakan?". Aisyah menjawab ayahnya, "Ayahku, Rasulullah setiap pagi selalu pergi ke ujung pasar dengan membawa makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana."
Keesokan paginya Abu Bakar ra. melakukan hal yang sama seperti Rasulullah saw. lakukan. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah karena ia merasa ini bukan orang yang biasa menyuapinya. Abu Bakar ra. masih belum mengakui jika ia memang bukanlah orang yang biasa menyuapi pengemis itu.
"Bukan, kau bukan orang yang biasa menyuapiku. Aku tahu, karena orang yang selalu menyuapiku, dia menghaluskan dahulu makanan itu di mulutnya lalu diberikan padaku," kata pengemis itu. Abu Bakar ra. tidak dapat menahan tangisnya, sambil berkata "Aku memang bukan orang itu, orang mulia itu sudah wafat. Beliau adalah Muhammad saw." Mendengar hal itu si pengemis terkejut dan merasa bersalah karena selama ini telah menghina dan memfitnah Rasulullah saw. Hal itu membuat si pengemis menangis tersedu-sedu. Ia sadar betapa mulia orang yang selama ini dimaki maki tak pernah membalasnya dengan perbuatan yang sama melainkan tetap berlaku kasih. Karena terketuk kemuliaan akhlak Rasulullah saw. Akhirnya si pengemis yahudi buta tersebut menyatakan masuk Islam dengan bersyahadat di hadapan Abu Bakar ra. Dalam cerita di atas mengajarkan kita tentang berbuat baik kepada siapa saja. Tidak perduli dengan agama mereka, jika mereka membutuhkan bantuan maka harus kita tolong. Begitu juga dengan berteman, kita tidak boleh membeda-bedakan teman karena berbeda agama. Mari kita bersikap baik dan lemah lembut kepada siapa saja. Seperti akhlak yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. pada kisah di atas. Berikut ini adalah pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah Rasulullas saw. dan pengemis yahudi buta, dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Menolong orang lain adalah perbuatan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim yang baik senantiasa menolong orang lain yang kesusahan, sekalipun berbeda agama. Sikap saling menolong antar sesama ini menciptakan kerukunan antar umat beragama. Seperti halnya Rasulullah saw. yang senantiasa menolong siapa saja tanpa membedakan. Pergaulan Rasulullah saw. kepada pemeluk agama lain sangat mengutamakan akhlak yang baik.
Dalam berteman kita tidak boleh membeda-bedakan teman karena berbeda agama. Kita tidak boleh menjauhi apalagi memusuhi teman yang berbeda agama dengan kita. Kita harus tetap berbuat baik kepada siapa saja tanpa membedakannya. Tapi tentunya kita harus berteman dengan orang yang berakhlak baik. Menjauhi teman yang bisa mengajak/mempengaruhi kita kepada perbuatan yang tercela.
Berteman dengan baik kepada pemeluk agama lain adalah ajaran Rasulullah saw. Memaksakan kehendak kepada orang lain untuk memeluk agama Islam bukanlah sikap muslim yang baik. Rasulullah saw. tidak pernah memaksa orang lain untuk masuk agama Islam. Kelembutan dan akhlak yang baik dalam bergaul membuat banyak orang mencintai beliau. Bahkan dengan kelembutannya banyak yang simpatik dan tertarik dengan Agama Islam. Itulah cara rasul mengenalkan Islam. Bagaimana dengan kalian? Ayo tunjukkan pribadi muslim yang ramah, santun, dan penuh kasih sayang.