Anak-Anak, tahukah kalian, apakah agama itu?
Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Apakah agama itu?” Beliau menjawab, “Akhlak yang baik.” (H.R. Bukhari)
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa kesalehan seseorang dapat diamati dari perilaku sehari-hari. Semakin saleh seseorang, seyogianya semakin baik pula akhlaknya.
Menyampaikan salam termasuk perilaku yang terbaik. Dikisahkan, seseorang bertanya kepada Rasulullah, mana ajaran Islam yang terbaik? Rasulullah saw. menjawab, “Memberi makan kepada fakir miskin dan memberi salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang belum engkau kenal. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin ‘Amr r.a.).
Rasulullah mendahului menyapa dan menyampaikan salam ketika bertemu dengan siapa pun, laki-laki, perempuan atau anak-anak.
Menurut Rasul, orang yang memulai salam adalah orang yang paling utama disisi Allah.
Rasulullah saw. juga mengajarkan, “Hendaklah orang yang berkendaraan memberi salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan kaki memberi salam kepada orang yang duduk, kelompok orang yang sedikit memberi salam kepada kelompok yang banyak, dan kelompok orang yang muda memberi salam kepada kelompok yang tua.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.).
Rasulullah juga mengajarkan, “Maukah kalian aku tunjukkan suatu perbuatan, jika kalian melakukannya, maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”
Salam berarti ucapan assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam berarti penghormatan atau tabik. Salam juga berarti damai. Ketika mengucapkan assalamu alaikum, di dalam benak kita juga berkata, “Saya menjaga keselamatanmu, maka kamu juga harus menjaga keselamatanku. Mari kita menjaga perdamaian.” Menyampaikan salam hukumnya sunnah. Jika mendengar ucapan salam, maka kita wajib menjawabnya. Berarti, “jika saya mengajak damai, maka kalian wajib menjaga damai juga.” Atau “jika kalian mengajakku damai, maka saya wajib menjaga damai juga.” Negara kita adalah negara yang beragam suku, bahasa, dan agama.
Walaupun berbeda-beda, kita tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu Indonesia yang aman dan damai. Kita wajib menjaga negara kita agar tetap aman dan damai.
Sumber: Buku PAI Kelas 4 | Hal. 132-135
Kalian telah belajar tentang pentingnya salam. Menyebarkan salam menjadikan kita saling menyayangi. kita senang jika memiliki sahabat. Kita hidup bertetangga. Kita juga berada di tengah masyarakat. Seyogyanya kita hidup saling menolong. Rasul saw. memberikan teladan dan contoh. Beliau selalu membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Beliau juga menjenguk anak tetangganya yang sakit. Padahal tetangganya itu berbeda agama dan sangat membenci Nabi.
Allah Swt. memerintahkan kita untuk saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Saling menolong dalam kebaikan berarti saling menolong dalam melakukan yang diperintahkan Allah. Saling menolong dalam takwa berarti saling menolong untuk takut kepada larangan-Nya. Allah Swt. melarang kita untuk saling menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.
Nabi Muhammad saw. berpesan kepada istrinya, Sayyidah Aisyah r.a., ”Wahai Aisyah! Jangan pernah menolak siapa pun yang membutuhkan sesuatu dan membiarkannya pergi dengan tangan kosong meninggalkan pintu rumahmu. Berikanlah sesuatu meskipun yang dapat kauberikan hanyalah separuh buah kurma. Aisyah, cintailah orang-orang miskin. Bawalah mereka ke dekatmu. Allah akan membawamu dekat denganNya di Hari Kebangkitan.” Di saat lain, Nabi saw. mendatangi rumah seorang Yahudi untuk menjenguk anaknya yang sedang sakit. Padahal orang Yahudi itu amat membenci Nabi.
Sumber: Afzalur Rahman, Ensiklopedi Muhammad: Muhammad sebagai Pribadi Mulia, 22-24
Sumber : Buku PAI SD Kelas 4 | Halaman 137-138
Salah satu sikap yang mengakibatkan dosa dan harus dihindari yaitu munafik. Anak-Anak, Rasulullah menjadi teladan dan contoh bagi kita. Beliau selalu berkata jujur dan menepati janji. Jujur merupakan salah satu sifat terpuji yang disukai oleh Allah. Jujur artinya lurus hati, tidak berbohong, atau berkata apa adanya. Jujur juga berarti tidak curang, misalnya dalam permainan, atau menuruti aturan yang berlaku.
Jujur harus dilakukan dalam perkataan maupun perbutanan. Jujur dalam perkataan berarti mengatakan yang sebenarnya, tidak mengada-ada. Jujur dalam perbuatan berarti mengerjakan sesuatu menuruti petunjuk atau aturan yang berlaku. Rasulullah saw. juga selalu menjaga amanah. Amanah artinya sesuatu yang dipercayakan atau dititipkan pada orang lain. Amanah juga berarti keamanan dan ketenteraman. Orang yang mendapat amanah memiliki sifat dapat dipercaya dan setia. Dengan demikian, amanah diserahkan oleh pemiliknya kepada orang yang dipercaya akan memelihara amanah itu. Apa yang diserahkan itu aman ditangan penerima amanah. Jika mendapatkan amanah, kita harus selalu menjaga amanah yang diberikan. Kita juga harus memiliki tanggung jawab atas amanah yang diberikan. Kita juga harus rela mengembalikan amanah kepada pemiliknya. Anak-Anak, ketika menerima amanah, kita harus menyadari akan kemampuan untuk memelihara dan mengembalikannya jika diminta oleh pemiliknya. Begitupun ketika menyerahkan amanah kepada orang lain, kita harus meyakini bahwa penerima memiliki kemampuan itu. Menerima atau menyerahkan amanah kepada orang yang tidak memiliki kemampuan memikulnya akan mengakibatkan kehancuran.
Rasulullah saw. tidak pernah berkata dusta, ingkar janji atau berkhianat jika mendapat amanah. Rasulullah saw. bersabda:
ِArtinya:
Ciri-ciri munafik itu ada tiga, yaitu: jika berkata, ia berdusta, jika berjanji, ia mengingkari, dan jika dipercaya, ia berkhianat. (H.R. Muttafaq Alaih [Bukhari dan Muslim] dari Abu Hurairah r.a.)
Hadis Nabi saw. di atas menyebutkan tiga ciri munafik, yaitu berdusta, ingkar janji dan berkhianat. Tahukah kalian apakah munafik itu? Munafik berarti bermuka dua. Munafik juga berarti berpura-pura percaya atau setia dan sebagainya kepada agama dan sebagainya, tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak.
Perhatikan Gambar Berikut;